Stop Assuming!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hari ini mau cerita yang receh-receh saja deh. Sebenarnya sudah menyiapkan materi lain untuk postingan hari ini, tetapi karena baru bisa khusyuk di depan laptop jam segini, kayanya nggak bakal nyandhak untuk menulis materi tersebut. Disimpan buat besok pagi saja deh ya.

Aku mau cerita saja soal apa yang baru saja kualami petang ini. Beberapa waktu lalu aku pernah membagikan informasi tentang visi misi keluarga yang kudapat dari Majelis Hajar. Nah, setelah suami menghadiri Majelis Ibrahim dan aku melengkapinya dengan hadir di Majelis Hajar, kami merasa tercerahkan mengenai pentingnya dan bagaimana merumuskan visi misi keluarga.

Malam-malam setelah Majelis tersebut, kami semakin intens berdiskusi terkait hal ini. Secara poin-poin sih sebenarnya kami sudah klik dan sepakat. Diawali dengan “menjadi keluarga yang lebih baik dari keluarga yang membesarkan kami,” menuju pada beberapa rencana jangka pendek dan panjang yang diagendakan. 

Meski untuk rencana jangka panjang suami belum benar-benar say yes. Aku paham sih, suami sebenarnya ingin fokus pada keluarga inti dulu sebelum kami melebar ke mana-mana. Sementara plan-ku sudah sampai terlalu jauh. Ya, it’s okay. Justru begitulah seharusnya. Suami tukang rem buat istrinya yang suka lebay, dan aku jadi motivator buat suami yang kadang perlu di puk-puk biar percaya dirinya keluar.




Secara garis besar sebenarnya visi misi keluarga kami sudah kelihatan, namun ketika aku mengajak suami untuk membicarakan lebih detail terkait family branding, filosofi dan beberapa rencana ke depan. Suami maju mundur ganteng melulu, wkwk. Setiap kali aku buka diskusi masalah itu, langsung dialihkan ke tema lain. 

Sampai akhirnya suatu hari kuberanikan diri untuk menyodorkan sebut saja sebuah proposal kepadanya. Tentang family branding dan pijakan kurikulum home based education untuk anak-anak. Sejatinya aku pun belum terlalu klik dengan apa yang kusodorkan ke doi, hanya semacam kode dan pancingan buat si ayah. 

Namun apa yang terjadi?

Sehari, dua hari… dokumen yang kukirim lewat whatsapp itu tidak direspon sama sekali. Bahkan setiap kutanyakan, doi seperti nylimur dan mengajak ngobrol ke topik yang lain. Sampai entah sudah seminggu atau dua minggu baru deh doi bilang bahwa ‘proposal’ yang kukirimkan sudah dibacanya.




Lalu?

Sudah begitu saja. Tidak ada obrolan lebih lanjut. Suami pun nampak ogah meneruskan obrolan terkait tema itu. Mangkel banget deh pokoknya. Sampai akhirnya aku memutuskan ya sudah lah woles saja. Daripada makan hati saben hari ngajak ngobrol tema itu dan itu lagi, tapi nggak direspon. Mending fokus saja lah sama yang ada di depan. Kami pun berjalan kembali seperti apa adanya. Toh sudah punya patokan intinya mau ngapain.

Jum’at, 4 Oktober 2019 yang lalu, ada SoTD bersama mbak Dessy Heppy di WAG Ibu Profesional. Mbak Dessy yang juga ketua kelas Bunda Sayang Jateng batch #5 ini membagikan tentang family branding beserta filosofinya. Aku takjub dengan proses mbak Dessy dan suami yang notabene jauh lebih muda dariku dan suami. Lalu aku iseng mengirimkan infografis family branding mbak Dessy ke suami. 

Tetap dong no respon, wkwk.




Tanpa dinyana… malam ini saat menemani kakak Ifa murojaah dan si adik main truk semen favoritnya, si ayah tiba-tiba bilang, “Aku udah nemu nama yang cocok deh kayanya. Tapi terlalu sederhana nggak ya… filosofinya…. bla bla bla…” Suami menceritakan tentang sebuah nama yang dia pikir cocok sebagai branding keluarga kami, beserta filosofi dan detail lainnya. Lengkap dari A to Z. Speechless. Aku takjub mendengarnya.

Saat anak-anak sudah tertidur lelap, seperti biasa kami menyempatkan ngobrol berdua sambil menikmati secangkir kopi. Aku dengan kopi hitamku, dan dia dengan kopi jahe merahnya. Juga sebungkus biskuit yang sengaja ia beli untuk teman bicara kami malam itu. Aku bertanya padanya, “Dapat nama itu sejak kapan, Yah?”




Suami menjawab, “Sebenarnya udah dari kemarin-kemarin sih, waktu bunda kirim gambar yang keluarga air itu (family branding-nya Mbak Dessy). Entah kenapa setiap kali baca family branding keluarga lain selalu nampak ‘besar’ dan ‘wah’. Ayah pengen sesuatu yang dekat. Sesuatu yang nggak muluk-muluk. Lalu terpikirlah, RUMAH KITA.”


Behind of RUMAH KITA


Ya, RUMAH KITA adalah nama pilihan suami untuk family branding kami. Sederhana kan? Tapi filosofinya tak sesederhana itu, gaess. Mau tahu? 



Dalam kata KITA tersimpan makna keterlibatan dan saling. KITA di dalam keluarga kami dimulai dari kesadaran bahwa ada ‘masalah’ di depan mata. Masalah yang harus kami hadapi dan harus ketemu solusinya. Namun jalan keluar itu tak bisa ditemukan jika masih menjadi aku dan kamu. Aku dan kamu harus disingkirkan dan mau tak mau harus berkolaborasi menjadi kita. Seperti yang pernah kuceritakan dalam banyak postingan bahwa aku dan suami besar dari keluarga yang sama-sama tak sehat. Kami tak punya role model seperti apakah keluarga yang baik itu. Background inilah yang menuntun kami untuk terus belajar dan mencari tahu bagaimana menjadi keluarga yang baik.




Untuk bisa terlibat dengan masyarakat yang lebih luas, suami ingin kami fokus menguatkan keluarga inti terlebih dahulu. Suami tidak mau menjadi keluarga yang menginspirasi orang lain, namun sebenarnya keropos di dalamnya. Sharing parenting sana-sini, namun bonding dengan anak-anak tak terjalin dengan baik. Membangun keluarga yang solid serta menciptakan rumah yang akan selalu menjadi tempat pulang ternyaman bagi tiap keluarganya. Kami ingin anak-anak nantinya lebih nyaman berada di rumah, bersama kedua orangtua dan saudaranya, dibandingkan dengan teman-temannya di luar sana. Kami ingin tidak sekedar menjadi orangtua, namun juga bisa menjadi sahabat untuk mereka.

Jikalau suatu saat nanti Allah memberikan jalan bagi kami untuk bisa menebarkan manfaat yang lebih luas kepada keluarga-keluarga lain di sekitar mengenai parenting, pernikahan dan lainnya, kami tidak ingin menjadi fasilitator ataupun inspirator. Kami ingin mengajak mereka atau kalian untuk sama-sama menjadi bagian dari RUMAH KITA, menjadi KITA itu sendiri; belajar bersama, saling menguatkan, saling menasehati, saling berbagi kisah dan saling-saling lainnya. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa berdiri sendiri, harus saling membantu satu sama lain.

Semua guru, semua murid.




Kami ingin menjadi sahabat diskusi dan teman perjalanan bagi sesiapapun yang mau terlibat. Terlibat untuk sama-sama membangun peradaban yang lebih baik. Mengasuh generasi ini bersama-sama. Because it takes a village to raise a kid.

Waaah, saat aku mendengar penjelasan panjang lebar dari suami. Sungguh kuterharu. Kupikir selama ini doi cuek dan nggak peduli. Ternyata bukan seperti itu. Dia justru memikirkannya dengan matang-matang makanya nggak mau terburu-buru menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang seringkali terdengar menghakimi dan menyudutkan. Alih-alih terbawa emosi, dia mending mengalihkan alur diskusi kami ketika aku mulai membahas tema tersebut.

Dari sini aku jadi belajar bahwa jikalau suami tak segera merespon atau terlihat cuek akan sebuah hal/ masalah yang kita sedang membutuhkan solusi, bukan berarti dia benar-benar cuek. Bisa jadi dia diam dan tak langsung merespon karena sedang berproses mencari solusi. Karena sebenarnya laki-laki tidak mau asal memberi jawaban, semua dipikirkan secara matang dan penuh pertimbangan. Sebagai istri, kita wajib sabar dalam mendampingi segala prosesnya.



Selain itu penting banget untuk tidak larut dalam asumsi. Aah, suami nggak peduli. Cuek. Dan asumsi lainnya. Pastikan untuk selalu clear & clarify. Jika tidak memungkinkan clear & clarify dengan bertanya langsung, karena mungkin doi selalu menghindar. Ada kalanya kita hanya perlu memberikan jeda. Jeda untuk kita memberikan kepercayaan sepenuhnya pada suami. Tidak langsung menghakimi doi dengan segala macam asumsi.

Juga jeda untuk dia berproses dengan dirinya dan menemukan solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada. Tempatkanlah suami sebagai sebenar-benarnya qowwamah, insya Allah kita akan menjadi cintanya yang tak tergantikan, sebagaimana Khadijah yang selalu ada di hati Rasulullah.




Semoga bermanfaat obrolan receh malam ini. Kalau teman-teman sudah punya family mission and branding belum? Yang belum, semoga segera menemukannya ya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

4 Comments

  1. Baca cerita ini jadi pengen punya rumah Dan anak-anak tapi belum nemu yang menahkodai 😅😅😅😅

    ReplyDelete
  2. selalu sukaaa baca tulisan mbak marita :)

    ReplyDelete
  3. Mau coba ya Mbak. Terima kasih.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com