Menggugat Peran Ayah bersama Ustaz Bendry Jaisyurrahman



Anak adalah Nafas Kita
Bukanlah tanpa sebab Allah menitipkan amanah itu kepada kita
Karena setiap anak pastilah berharga
Setiap anak adalah istimewa
Kepayahan kita hari ini kebahagiaan kita nanti
Tak lelah dalam mendidik, tak henti mendampingi
Bulir-bulir air mata dan peluh yang membasahi
adalah wewangi surga yang menggiring kita
Ke dalam rumah-Nya
(Bendry Jaisyurrahman)

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Seperti yang kujanjikan kemarin malam, bahwa akan ada materi spesial untuk teman-teman hari ini. Sebenarnya aku mendapat materi ini sudah sangat lama, yaitu saat Seminar Islamic Parenting bersama Teh Kiki Barkiah dan Ustaz Bendri Jaisyurrahman. Diadakan oleh Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN), atau yang sekarang rebranding dengan nama Homeschooling Muslim Indonesia (HSMI).

Materi Teh Kiki Barkiah sudah kubagikan tak lama setelah acara usai, yang belum baca, bisa klik di sini. Saat itu aku berjanji akan membagikan juga materi dari Ustaz Bendri, tetapi terlalu lama menunda hingga jeda sampai 3 tahun lamanya. Ya, seminar yang kuikuti kala itu berlangsung pada 1 Oktober 2016. Demi membayar hutangku pada teman-teman yang sudah setia menanti dan membaca celoteh-celotehku di istana ini, maka izinkan aku membagikan materi Ustaz Bendri hari ini. Insya Allah masih dan akan selalu relevan.

Berbicara parenting maka tidak hanya membicarakan tentang kewajiban ibu. Parenting berasal dari kata parent yang artinya orangtua. Orangtua adalah ayah dan ibu. Jika Teh Kiki Barkiah dalam seminar tiga tahun lalu menyoroti tugas seorang ibu sebagai pendidik utama anak-anaknya, maka Ustaz Bendri menyampaikan materi untuk menggugat peran ayah.



Mengapa Harus Ayah?


Disampaikan oleh Ustaz Bendry bahwasanya sedekat apapun anak pada ibunya, ia tetap membutuhkan kehadiran ayahnya. Ustaz Bendry kemudian mengisahkan tentang kehidupan Umar bin Abdul Aziz, Gubernur Mesir pada zamannya, sekaligus cicit dari Umar bin Khattab. Dikisahkan bahwa Ayah Umar bin Abdul Aziz yang bernama Abdul Aziz bin Marwan sesibuk-sibuknya beliau menjadi Gubernur Mesir, tetaplah selalu memantau anak-anaknya. Para putra mahkota dan bangsawan di masa itu akan dikirimkan untuk berguru kepada para ulama. Abdul Azin bin Marwan selalu menyempatkan untuk menanyakan perkembangan sang anak kepada para gurunya. Saat di rumah, beliau pun selalu berbincang dengan putranya tentang tugas sekolah dan apa saja yang terjadi.

Sekelas Gubernur Mesir saja masih sempat mengurusi anaknya, bagaimana dengan ayah-ayah zaman now? Berdalih sibuk mencari nafkah, lalu lupa dengan kewajiban utamanya. Kan sudah ada ibu sebagai guru utama, ayah mah urusannya duit saja. Begitukah? 

Ternyata tak sesederhana itu, fergusso. Ustaz Bendri membagikan enam alasan mengapa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak.

1. Penyimpangan Anak Terutama Dipengaruhi Ayahnya




Hadits ini pastinya sering kita dengar, kan?

Tidaklah seorang bayi yang lahir kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR Bukhari)

Dalam hadits ini Rasulullah menggunakan kata abawahu yang berasal dari kata abuna bukan wallidaani untuk menyebut orangtua. Mengapa? Wallidaani mengacu pada istilah orangtua yang berperan melahirkan anak saja. Sementara makna abawahu/ abuna lebih dalam. Orangtua di sini tidak sekedar melahirkan, namun juga harus memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak. Jika pengasuhan dan pendidikan yang diberikan tidak tepat, fitrah-fitrah kebaikan yang telah ada di dalam diri anak bisa tercerabut. Kata abawahu/ abuna juga menyorot pada peran ayah/ abi. Maka, jikalau di rumah-rumah kita ada anak yang perilakunya menyimpang, sebelum menuding anak itu nakal, bandel, dsb… silakan cek dulu bagaimana hubungan si anak dengan ayahnya.

2. Anak Punya Hak terhadap Ayahnya




Untuk menjelaskan tentang poin ini, Ustaz Bendri menceritakan sebuah kisah yang mungkin sudah tak asing lagi buat kita.

Seorang lelaki pernah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra kedua orangtua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudian anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orangtuanya?”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik dan mengajarkannya Al Quran,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang Majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al Quran,” kata anak itu.
Umar segera memandang orangtua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu. (Tarbiyatul Awlad Fiil Islam - Abdullah Nashih ‘Ulwan)

Dari kisah tersebut sangat jelas sekali ya pesannya, pals? Jangan mudah menuduh seorang anak durhaka sebelum kita mematut diri di depan cermin, sudahkah menjadi orangtua yang saleh untuk anak-anak kita? Atau jangan-jangan kita telah dulu menjadi orangtua yang durhaka. 

3. Islam Mewajibkan Ayah untuk Menjaga Diri dan Keluarganya dari Api Neraka




Kelak di akhirat laki-laki yang akan dihisab pertama kali. Bukan hanya tentang kehidupannya secara individu, namun termasuk juga harus bertanggungjawab terhadap anak dan istrinya.

Termaktub dalam Al Quran Surat At Tahrim: 6;

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…

Juga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim;

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.

4. Al Quran Bicara tentang Ayah Lebih Banyak Dibandingkan Ibu




Dialog pengasuhan dalam Al Quran terdiri dari 17 dialog yang tersebar di 9 surat; 14 dialog antara ayah dan anak. 2 dialog antara ibu dan anak, 1 dialog antara orangtua tanpa nama dan anaknya.

5. Tokoh Hebat Tak Lepas dari Sosok Ayah




Sosok ayah di sini bukan hanya ayah kandung, namun figur keayahan, bisa juga didapat dari ayah lingkungan. Rasulullah SAW yatim sejak dari dalam kandungan, namun memiliki sosok ayah dalam diri kakeknya, Abdul Muthollib, dan pamannya, Abu Thalib. Maryam yatim sejak lahir namun memiliki ayah pengganti dalam diri Nabi Zakaria. Imam Syafi’I sejak kecil dididik oleh Imam Waki’i, guru yang menggantikan sosok ayahnya. 

Anak yatim yang tidak bisa bertemu dengan ayahnya, maka menjadi kewajiban ibunya untuk menceritakan figur ayah. Begitu juga dengan pasangan yang menjalani Long Distance Marriage, sang ibu wajib menceritakan sosok ayah kepada anak-anaknya. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang jarang pulang menemui Siti Hajar dan Ismail, tetapi doa-doa beliau senantiasa membersamai keluarganya, yang kemudian diabadikan dalam Quran Surat Ibrahim 37 - 41.

Kehadiran ayah bukan hanya secara biologis, namun juga harus hadir secara psikologis. Ayah di dalam Islam boleh sibuk dengan segala aktivitasnya di luar rumah, namun harus tetap peduli pada anak-anaknya. Caranya; berkomunikasi secara rutin, apalagi di zaman modern seperti ini, komunikasi bisa dilakukan via telepon, video call, dsb. Cara berikutnya yaitu dengan selalu mendoakan keluarganya.

6. Anak itu Milik Ayahnya



Kamu dan hartamu miliki bapakmu. (HR Ibnu Majah)

Panggillah mereka dengan (memakai) nama ayah-ayah mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah. (QS Al Ahzab: 5)

Dari hadits dan ayat Quran di atas, Ustaz Bendry memberikan simpulan bahwasanya anak bernasab kepada ayah bukan ibunya. Nasab ini menunjukkan adanya hak dan kewajiban yang harus ditunaikan.

7. Ketiadaan Ayah Berakibat Rusaknya Anak




Ketiadaan ayah dalam diri anak terbagi menjadi tiga hal, cuek dan tidak peduli terhadap urusan anak, tidak mendidik anak dalam urusan adab dan tidak memfasilitasi syahwat anak. Sebagaimana Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah berkata;

Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika kita amati kerusakan pada anak-anak, umumnya berasal dari sisi ayah. (Tuhfatul maudud bi ahkamil maulud).

Ustaz Bendri mengungkapkan dampak terbesar dari ketiadaan ayah atau yang biasa disebut dengan istilah fatherless/ father hunger adalah kerusakan psikologis yang diderita anak-anak. Akibatnya:

  • Rendahnya harga diri anak.
  • Bertingkah kekanak-kanakan.
  • Terlalu bergantung.
  • Kesulitan menetapkan identitas seksual (cenderung feminin atau hipermaskulin).
  • Kesulitan dalam belajar.
  • Kurang bisa mengambil keputusan.
  • Bagi anak perempuan, ketika dewasa akan kesulitan menentukan pasangan yang tepat untuknya, dan bisa jadi kemudian salah memilih pria yang layak.

Contoh nyata dampak fatherless yang kini banyak terlihat; banyak munculnya kasus LGBT salah satunya disebabkan oleh peran ayah yang sangat kurang dalam pengasuhan anak-anak. Anak-anak cowok yang melambai biasanya kurang sentuhan dari ayahnya, sehingga sisi tegas dan macho/ maskulinitas tidak muncul. Sementara itu, anak-anak perempuan yang kurang vitamin A(yah) biasanya akan tumbuh menjadi sosok perempuan yang mudah memberikan tubuhnya kepada orang lain, rapuh dan tidak tegas.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak


Setelah kita mengetahui alasan dan dasar-dasar hukum mengapa ayah harus terlibat dalam pengasuhan anak, kini saatnya mengulik apa sajakah peran ayah dalam pengasuhan anak.

1. Sebagai Kepala Sekolah



Ibu memang madrasah pertama seorang anak, namun ayah adalah kepala sekolahnya.

Tugas dasar dari seorang kepala sekolah:

a. Membuat Nyaman Sekolah

Tugas seorang ayah untuk membahagiakan ibunya anak-anak dengan memenuhi kebutuhan dasarnya. Ayah juga sebaiknya memberi kesempatan istri untuk banyak bicara dan bercerita setiap malam, berikan hadiah kejutan, bersabar saat istri marah dan membagi waktu untuk istri.

b. Menentukan Visi Misi

Termaktub dalam Quran Surat Al Hasyr: 18;

Hai orang-oang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayah juga bisa belajar dari visi pengasuhan Nabi Ibrahim yang bisa ditengok di Al Quran Surat Ibrahim: 35 37 yaitu menyelamatkan aqidah, membiasakan ibadah, mengajarkan perilaku simpatik/ akhlak mulia dan memiliki lifeskill.

c. Melakukan Evaluasi

Ayah bisa belajar dari Quran Surat Al Baqarah: 133;

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.

Dalam melakukan evaluasi, ayah bisa memberikan challenge. Silakan belajar dari kisah Ibrahim dan Ismail. Lalu diskusikan tahapan perkembangan anak dengan pasangan.

d. Menegakkan Aturan

Aturan bisa mulai ditegakkan ketika anak sudah bisa membedakan kanan dan kiri. Ayah yang menegakkan aturan, ibu yang memberikan rasa nyaman, bukan sebaliknya. Agar aturan mudah dipahami anak, sosialisasikan aturan secara sederhana, bukan borongan.

2. Sebagai Pendidik Utama



Sebuah penelitian diungkapkan oleh Ustaz Bendri bahwa anak yang dibangunkan oleh ayahnya setiap subuh jauh lebih berprestasi. Usia psikologis anak sekarang biasanya separuh dari usia biologisnya. Misal usia biologisnya 20 tahun, namun bisa jadi usia psikologisnya masih 10 tahun. Kenapa? Karena pola asuh yang tidak tepat, terutama anak laki-laki. 

Untuk mendidik anak laki-laki, ayah harus menjaga bahasanya (berkata yang baik), carikan tempat magang agar anak belajar bertanggungjawab dan seringlah ajak anak untuk traveling.

Beberapa referensi terkait ayah sebagai pendidik utama sebagai berikut:

Al Manawi berkata, “Sebagaimana kedua orangtua anda memiliki hak yang menjadi kewajiban anda, maka demikian pula anak-anak anda, mereka memiliki hak yang menjadi kewajiban anda. Hak-hak mereka banyak, di antaranya mengajarkan mereka kewajiban-kewajiban pribadi, mengajarkan adab-adab syar’i, adil di antara mereka dalam hal pemberian, apakah berbentuk hadiah, wakaf atau sumbangan lainnya.” (Faidhul Qadhir. 2/ 574)

An Nawawi berkata, “Seorang ayah harus mendidik anaknya terhadap apa yang dia butuhkan dalam kewajiban agama. Pendidikan seperti ini wajib bagi seorang ayah dan siapa saja yang menjadi walinya sebelum putra-putrinya mencapai usia baligh.” (Syarah Nawawi ala Shahih Muslim, 8 / 44)

Abdullah bin Umar RA berkata, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah Al Maudud, hal 123)

Belajar dari Nasehat Luqman Al Hakim:
  • Menjauhkan syirik
  • Berbakti kepada orangtua
  • Muroqobatulllah 
  • Sholat
  • Amar ma’ruf nahi mungkar
  • Akhlaq berekspresi (mimik wajah)
  • Akhlaq gestur tubuh
  • Akhlaq berkomunikasi

3. Sebagai Pahlawan dan Rujukan Nilai di Saat Krisis




5 masa krisis anak meliputi:

  • Awal sekolah
  • Menjelang pubertas
  • Pubertas
  • Persiapan nikah
  • 10 tahun pertama usia pernikahan

Di 5 masa krisis tersebut, ayah berperan penting sebagai pahlawan yang menyelamatkan.

Untuk memahami peran ini lebih dalam, ayah bisa belajar dari kisah Yusuf AS; 

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang (mukhlash) terpilih.” (QS Yusuf: 24)

Beberapa tafsir surat ini sebagai berikut:
  • Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Abusy Syekh meriwayatkan dari Qotadah bahwa “Yusuf melihat tanda kekuasaan Rabb-nya, yang dengan izinNya, Allah jauhkan ia dari maksiat, telah disampaikan kepada kami bahwa muncul wajah Ya’qub yang sedang mengigit kedua jarinya seraya berkata: “Yusuf! Apakah kau hendak mengerjakan amalnya orang-orang yang bodoh, padahal dirimu telah tercatat sebagai salah satu Nabi!” Maka itulah petunjuk yang dimaksud dan Allah mencabut setiap syahwat yang ada di setiap persendiannya.” (Adhwaul Bayaan - Syaikh Amin Asy Syingithi)
  • Mujahid berkata, Yusuf melihat gambar ayahnya - Ya’qub AS - di dinding.
  • Muhammad bin Sirin berkata, “Ya’qub AS terlihat sedang menggigit kedua jarinya sambil berkata: Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilur Rahman (Kekasih Allah yang Maha Rahman), namamu tercatat di antara para Nabi, sementara kamu sekarang melakukan perbuatan orang-orang bodoh.”

Dari kisah Nabi Yusuf AS kita belajar bahwa kedekatan emosional antara ayah dan anaknya bisa menjadi rujukan bagi sang anak ketika ia tergoda. Rasa tidak ingin mengecewakan sang ayah akan timbul di dalam diri anak sehingga ia kemudian mengurungkan keinginan untuk berbuat maksiat.


4. Sebagai Tempat Anak Berbagi Rahasia




Kembali belajar dari Quran Surat Yusuf, kali ini dari ayat keempat:

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Dari surat tersebut kita belajar bahwasanya anak jika percaya kepada ayahnya akan berbagi hal paling rahasia. Sebagaimana Yusuf AS menceritakan mimpinya. Mimpi adalah sesuatu yang sangat pribadi, namun Yusuf tak sungkan menceritakan kepada ayahnya. 

Tugas orangtua di masa cyber seperti sekarang adalah menjebol privasi anak sehingga anak bisa lebih percaya kepada orangtuanya dibandingkan teman-temannya. Jika anak bisa lebih percaya kepada kita, maka akan lebih mudah kita menginstal software-software kebaikan.

5. Sebagai Referensi Anak Perempuan dalam Mencari Jodoh




Bagi anak wanita, ayah adalah cinta pertama baginya. Anak wanita yang dekat dengan ayahnya akan berpengaruh terhadap dua hal:

  • Tidak mudah jatuh cinta kepada sembarang lelaki saat ABG
  • Tidak mudah menggugat cerai suami jika sedang menghadapi konfik rumah tangga

Kita juga bisa belajar dari kisah putri Nabi Syuaib dalam Al Quran Surat Al Qoshos: 23 - 27.


6. Sebagai Role Model dalam Perilaku Anak




Pernah mendengar ungkapan “Like Father Like Son”? Karena anak meniru apa yang dilihat dari ayahnya (langsung) dan apa yang ia dengar tentang ayahnya (tak langsung). Maka ayah harus tetap menjaga kredibilitas dan meski sedang berada di luar rumah.

Belajar dari Nabi Ibrahim yang berhasil menjadi role model bagi putranya dalam tiga hal; Tauhid (QS Ibrahim: 35), Ibadah (QS Ibrahim: 40) dan kepemimpinan (QS Al Baqarah: 124).


Panjang dan dalam banget ya materinya, pals. Biasanya setelah baca beginian, para emak suka asal share ke suami dengan caption capslock jebol, “BACA NIH.” Mengantisipasi hal tersebut, satu pesan dari Ustaz Bendri,

Perempuan nggak boleh hanya menuntut suami, karena telah dipilih oleh para suami untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.

Berharap pada makhluk itu melelahkan, jeng. Daripada kita menghabiskan waktu dengan harapan-harapan palsu, lebih baik fokus untuk memperbaiki diri. Karena lelaki saleh diperuntukkan bagi wanita saleh. Jika ingin suami saleh, maka mari kita bertransformasi menjadi istri yang saleh. Insya Allah kebaikan akan senantiasa berbuah manis. 



Jangan lupa selalu selipkan doa-doa kita untuk suami. Agar para suami yang belum mau ikutan belajar parenting dan belum sadar akan kewajiban utamanya sebagai qowwam, lama-lama akan mendapat hidayah dan terbuka hatinya. Mari kita doakan agar suami-suami kita senantiasa menjadi ayah yang hebat yaitu ayah yang senantiasa dirindukan oleh anak-anaknya. Agar anak-anak merindukan ayah bukan hanya di saat jauh, tetapi juga ingin selalu nempel di saat dekat. Agar anak-anak tak sekedar kangen dompet ayahnya, namun juga pelukan dan nasehatnya.

Salam semangat dan jangan lupa besok kembali lagi ke sini karena insya Allah akan selalu ada celoteh-celoteh seru untuk camilan harian teman-teman. 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

3 Comments

  1. MasyAllah..keren banget materinya. Setelah membaca celoteh emak yang satu ini makjleb banget. Sering nuntut suami ini itu. Jadi malu...mg selalu diberikan waktu belajar dan istiqomah menjalani

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah setiap kali singgah kesini niat may berkeluarga Makin mantap 😍

    ReplyDelete
  3. seneng banget sama materinya, semoga dibetkahkan ilmunya ya mba,

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com