Ibu Bahagia, Anak Cerdas… Apa Hubungannya?



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Setiap kali mengikuti blog challenge, hal paling menantang adalah ketika tema yang diberikan sudah pernah beberapa kali ditulis di postingan-postingan terdahulu. Termasuk juga topik ke empat di seri Indscript Writing “Perempuan Menulis Bahagia” ini.

Namun memang nggak bisa dipungkiri, ini topik yang menarik. Semua orangtua pasti ingin anaknya cerdas, meski kemudian kecerdasan itu akan diarahkan ke mana, bisa jadi berbeda-beda. Kalau generasi orangtua zaman old, biasanya memberikan wejangan kepada anak seperti ini, “Jadi anak yang pintar, biar kelak bisa jadi orang dan punya banyak uang.” Selalu diarahkan pada kesuksesan material. Apakah kelak anak-anak yang kemudian menjadi ‘orang’ dan banyak uang, benar-benar bahagia? 

Tentu saja tidak. Survey membuktikan banyak anak-anak yang terpaksa menghentikan mimpi-mimpinya demi mengikuti keinginan orangtuanya. Banyak anak-anak bercita-cita menjadi atlet namun harus mengubur impiannya dalam-dalam karena kata orangtuanya, “Nanti mau makan apa? Sudah kuliah ekonomi saja!” 

Cerdas Menuju Sukses atau Bahagia?




Jujur, aku pun dulu sebelum banyak belajar tentang parenting, beranggapan yang sama. Meski kedua orangtuaku masih sangat demokratis dalam membiarkanku memilih jurusan sekolahku, namun tak bisa kupungkiri bahwa rumus M - M - M - H yang ditanamkan oleh generasi old sangat terekam. Apaan itu rumus M - M - M - H?

Money - money - money - happy!

Bahwasanya untuk bahagia, manusia membutuhkan uang. Tidak sepenuhnya keliru. Bukankah memang hidup penuh biaya yang harus dibayar, dan untuk membayar biaya-biaya itu kita memang butuh uang? Namun toh ternyata rumus tersebut justru banyak melahirkan orang-orang gagal, saat hadir di seminarnya Ayah Edy, aku mendapat rumus yang membuatku berbinar. 

Yakni rumus H - T - E - M! Apalagi ini?

Happy - totality - expert - money!

Ternyata untuk bisa sukses, anak-anak harus menjadi pribadi yang bahagia dulu. Anak-anak yang bahagia akan menemukan passion dan potensinya, lalu mengerjakan aktivitasnya secara total. Totalitas tersebut akhirnya akan menjadikan mereka ahli di bidangnya. Dengan menjadi ahli, materi akan mudah didapat di tangan.

BAHAGIA ternyata adalah kunci! Bahagia akan melahirkan anak-anak yang jiwanya selalu ceria, sehingga kecerdasan-kecerdasan yang ada di dalam diri mereka akan terstimulasi dengan optimal. Hal ini kemudian mengingatkanku pada Workshop Grow Happy Parenting beberapa waktu lalu. Bahwa ada tiga hal yang menunjang kecerdasan anak; stimulasi, nutrisi dan keterlibatan orangtua.




Ada banyak teori mengenai kecerdasan, silakan teman-teman cari yang paling cocok. Dari 12 kecerdasan majemuk ala Howard Garner, atau teori fitrah ala Ustaz Harry Santosa. Basically, anak-anak bukanlah kertas kosong. Sejak di dalam kandungan, Allah sudah menginstal fitrah-fitrah di dalam dirinya. Fitrah-fitrah ini selalu mengacu pada kebaikan, tak ada satupun yang membawa anak pada keburukan. Jikalah ada anak-anak yang kemudian tumbuh sebagai preman, gank motor, bukan salah lingkungan semata, namun juga bagaimana campur tangan orangtua di masa pengasuhannya.




Setiap anak pasti terlahir cerdas. Namun bebek tak akan pernah menjadi burung. Sebagaimana kuda bukanlah macan. Mereka memiliki potensi uniknya masing-masing. Potensi setiap anak berbeda-beda, maka tak bisa kecerdasan anak disamaratakan. Ada anak yang cerdas kesenian, ada anak yang cerdas akademis. Semua membutuhkan stimulasi yang tepat sehingga potensi di dalam diri anak-anak ini bisa melesat secara maksimal.




Stimulasi yang tepat jika tidak diimbangi dengan nutrisi yang cukup juga tak baik. Apalagi ternyata kesehatan pencernaan seorang anak itu berpengaruh dengan kesehatan mentalnya. Anak yang mudah murung, tantrum biasanya akan susah untuk diberikan stimulasi yang tepat. That’s why penting sekali bagi orangtua untuk tahu nutrisi apa yang dibutuhkan oleh anak-anak di masa pertumbuhan.




Stimulasi dan nutrisi tidak akan tersampaikan pada anak ketika tidak ada keterlibatan dari kedua orangtuanya. Namun di era sekarang ini banyak sekali orangtua yang tak mau terlibat secara aktif, khususnya orangtua di kota besar yang sibuk bekerja dan merasa sudah memberikan fasilitas terbaik kepada anak-anaknya. Masalah stimulasi dipasrahkan ke pihak sekolah, sementara masalah nutrisi dipasrahkan kepada ART di rumah. Akankah anak bahagia? Yang ada nantinya akan lahir anak-anak yang BLAST; boring, lonely, angry, stress dan tired.

Terlibat itu artinya bukan sekedar memberikan fasilitas atau ada di dekat anak. Terlibat artinya orangtua melakukan aktivitas bersama anak. Ngobrol bareng, main bareng, jalan bareng. Keterlibatan orangtua dalam proses pengasuhan anak akan menjadi stimulasi terbaik bagi mereka. Keterlibatan orangtua juga akan melahirkan anak-anak yang bahagia karena mereka merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan. Anak-anak yang tangki cintanya penuh, akan melejit potensinya secara maksimal dan tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang bahagia.




4 Tips Melatih Kebahagiaan


Dalam proses keterlibatan inilah, dibutuhkan orangtua yang bahagia, khususnya ibu. Padahal ibu yang notabene perempuan adalah kaum rawan stress dan baper. Dalam artikel yang membahas khusus tentang keterlibatan orangtua, aku pernah membagikan tips dari mbak Lizzy, psikolog cantik yang berhasil membuatku berderai air mata di salah satu sesi workshopnya.

Satu, banyak melakukan hal-hal positif. Lebih banyak mencintai, selalu merasa dicintai, memperhatikan sesama, banyak tertawa dan tumbuhkan kepercayaan diri.
Dua, kurangi hal-hal negatif yang bisa membuat stres, marah, kesepian dan sakit hati.
Tiga, perbanyak syukur. Bersyukur dengan pekerjaan kita, keluarga kita dan seluruh kehidupan kita.



Itulah kunci yang diberikan kepada mbak Lizzy. Terdengar sederhana, namun dalam prakteknya lumayan menantang. Untungnya pada sesi itu, mbak Lizzy juga tahu banget bahwa tiga hal di atas terlihat sangat mainstream. Maka dengan pembawaannya yang asyik, beliau mengajak kami untuk melatih menumbuhkan kebahagiaan. 

Jadilah hal-hal yang tadinya terlihat abstrak, terlihat semakin mudah dipraktekkan.




Hal pertama kami diajak untuk membuat jurnal syukur. Sebelum memejamkan mata di malam hari, tulis setidaknya 5-10 hal yang kita syukuri di hari itu. Sesederhana apapun. Bahkan kalau bisa antara hari ini dan besok tidak boleh menulis hal yang sama. Jika dilakukan secara rutin, kita akan jadi lebih mudah fokus pada hal-hal positif dalam hidup.

Hal kedua, kami diajak untuk menulis pencapaian-pencapaian dalam hidup. Ya, seringkali kita lupa mengapresiasi hal-hal baik yang sudah kita capai. Maka ini wajib diagendakan. Bahkan meski hal-hal tersebut terasa sangat sederhana dan terlalu kecil untuk orang lain, nggak apa-apa. Misal, aku selalu memberikan hadiah kecil untuk diriku ketika dalam sehari itu aku berhasil memasak untuk keluargaku. Maklum aku termasuk ibu yang nggak suka dapur, maka memasak menjadi salah satu hal yang kalau bisa akan kuhindari. Namun kalau menghindar terus, dompet tekor bo! Maka ketika hari itu aku berhasil memasak, aku akan tulis hal tersebut sebagai pencapaian terbaikku.Kalau teman-teman apa pencapaian terbaik hari ini?

Hal ketiga adalah ngobrol! Perempuan itu butuh dua puluh ribu kata setiap harinya. Mau nggak mau harus dikeluarkan, kalau jatah 20ribu kata ini nggak dikeluarkan, bakal keluar dengan ngomelin anak-anak dan suami. Berabe kan? Untuk mengatasinya, kita bisa bergabung dengan komunitas-komunitas hobi yang disukai. Jika suka menanam, bisa gabung sama komunitas berkebun. Jika suka menulis, bisa gabung ke grup kepenulisan. Di sinilah nanti kebutuhan 20ribu kata bisa disalurkan. Kalau aku sih penting banget punya sesi ngobrol bareng suami. Jadi setiap kali anak-anak sudah tidur, kami punya sesi ngobrol dari hati ke hati smabil ngopi gitu deh.

Hal keempat yang diajarkan Mbak Lizzy adalah rutin berolahraga. Ternyata olahraga itu bisa melahirkan hormon endorphine yang bisa bikin kita bahagia. Dengan rutin mengalokasikan waktu untuk berolahraga minimal 15 menit sehari, kita sudah menabung kebahagiaan lo! Olahraga pun nggak harus yang mahal-mahal, bisa dengan jogging bersama keluarga tiap pagi atau zumba sendiri di rumah dengan personal trainer YouTube, wkwk. 

Coba deh dipraktekkan 4 hal di atas, moms... jangan lupa bagikan pengalamannya setelah praktek 4 hal tersebut ya! Apakah setelah rutin melakukan 4 hal di atas, kita jadi lebih happy saat mengasuh anak-anak? Lalu ketika kita bisa lebih happy, apakah anak-anak juga jadi lebih mudah diatur dan distimulasi? Kutunggu lo cerita-ceritanya! Come on, dare to be a happy mom whatever you are!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter