10 Lagu Ini Mengingatkanku pada Mereka yang Telah Pergi


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Masih dalam nuansa-nuansa mellow penuh rindu. Biasanya kalau lagi kangen begini, playlist di Deezer saat aku sedang mengetik juga kuganti dengan lagu-lagu kenangan gitu deh. Wkwk, bukannya bikin playlist biar semangat malah tambah mellow yaks.


Tapi kadang meski nggak nyetting playlist apapun dan sengaja mainin secara acak pun. Kok ya bisa pas aja gitu, tanpa sengaja tiba-tiba dengar lagu-lagu yang bikin teringat pada almarhum dan almarhumah. Mau tahu lagu-lagu apa yang bikin aku jadi semakin kangen pada mereka yang telah tiada? Ini dia!

1. Hanya Rindu




Tahu dong ya ini lagu siapa? Lagu yang sempat booming di tahun 2019 lalu merupakan besutan dari tangan dingin pemenang Rising Star season kedua, Andmesh Kamaleng. Aku sendiri nggak begitu mengikuti perjalanan karirnya sih, tiba-tiba aja Cinta Luar Biasa dan Hanya Rindu sering mampir di telinga. Karena easy listening ya jadi mudah terekam di ingatan.

Lirik Hanya Rindu memang dalam banget, menceritakan kerinduan Andmesh pada sosok ibunya. Dan aku tak bisa pungkiri, setiap mendengar lagu ini, ingatanku tentang ibu langsung menguar. Tak bisa dibendung air mata pun segera tumpah, banjir. Aaah, ibu… miss you a lot.

2. Kamu dan Kenangan




Ini juga salah satu lagu yang magis banget. Setiap kali mendengar lagu ini, bukan hanya teringat pada Eyang Habibie dan Ainun. Namun mampu membuatku mengingat kebersamaanku dengan mereka yang kini hanya bisa kurindukan. Liriknya dalam banget, khas tangan dingin dari Melly Goeslaw. Aku nggak menyangka Maudy Ayunda bisa membawakannya dengan begitu apik dan pas. Kalau kalian suka lagu ini nggak, pals? Bikin ingat sama siapa?

3. Bunda




Ini adalah salah satu lagu legenda yang dihasilkan dari tangan dinginnya Melly Goeslaw. Saat ibu masih ada saja, menyanyikan lagu ini rasanya penuh haru mengingat betapa besar perjuangan beliau mengasuhku. Apa lagi ketika ibu telah tiada, semakin dalam saja rasanya. Dulu ibu kalau lagi kangen Yangti juga suka menggumamkan lagu ini. Lalu perlahan air mata menitik di pipinya. Sekarang aku yang begitu.

4. Asmara




Ini salah satu lagu favorit ibu. Lagu yang tenar pada tahun 1997 ini dinyanyikan oleh Novia Kolopaking Dulu aku tak tahu kenapa ibu sangat sekali suka menyanyikan lagu ini. Setelah aku duduk di bangku SMA, aku baru tahu alasan itu.

Haruskah aku mengemis cinta, untuk menghilangkan duka
Asmara ke mana lagi akan kucari…
Siapa yang kan mengusir sepi di saat kusendiri…

Pada akhirnya ibu tiba di satu titik bahwa tidak ada cinta terbaik selain cintaNya. Tidak ada tempat terbaik untuk bergantung, selain DIA.

5. Gubahanku




Bapak sama ibu dulu suka banget karaoke. Dulu kan ada kaset yang memang khusus untuk karaoke gitu kan? Nah berhubung koleksi mereka adalah lagu-lagu macam begini. Aku jadi terkontaminasi. Sampai kalau ikut lomba karaoke, yang lain nyanyinya lagu hits pada zamannya. Aku nyanyi tembang kenangan macam begini. Eh, tapi malah jadi favoritnya bapak ibu guru, hehe.

Lagu Gubahanku ini awalnya dinyanyikan oleh Johan Untung, lalu diremake oleh Broery Marantika dan Yuni Shara.

Jangan sampai kau tergoda, mulut manis yang berbisa..

Aku baru sadar kenapa kalau bapak lagi berangkat kerja nyopir ke Sumatera, yang kurang lebih butuh waktu satu minggu untuk pulang pergi, ibu sering banget nyanyiin lagu ini. Ternyata semacam pesan terselubung, hehe.

Btw, ada yang tahu nggak lagu ini?

6. Cinta Sejati




Setiap lagu ini diputar, ingatanku melayang pada adikku satu-satunya. Beberapa hari sebelum dia tutup usia, lirik lagu ini ditulis di note facebooknya. Ya, saat itu Habibie Ainun 1 sedang mengudara dan booming di pasaran. Aku pun jadi tertarik nonton film itu karena adikku. Saat dia bilang filmnya bagus, aku lalu meminta dia menjaga Ifa di rumah biar aku bisa nonton sama suami. Dia menyanggupi dengan satu syarat, minta dibelikan apa gitu.

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak menegaskan kucinta padamu
Terima kasih pada Mahacinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian

Adikku meninggal mendadak. Kami yang ditinggalkan nggak punya persiapan apapun. Paginya pamit berangkat sekolah dengan baju seragam warna putih, dan beberapa jam kemudian ia telah diantar ke rumah berbalut kain kafan.

Lagu Bunga Citra Lestari ini sampai sekarang masih terasa magisnya. Entah kebetulan atau tidak, namun liriknya “aku tak pergi, selalu ada di hatimu” seakan menegaskan bahwa dunia kami memang berbeda, namun di hati kami, ia akan tetap hidup.

“Saat aku tak lagi di sisimu, kutunggu kau di keabadian..”

Semoga kelak bisa berkumpul lagi di jannahNya ya, dik. Maaf belum bisa jadi mbak terbaik. Aku kangen, dik…

7. Perahu Kertas




Original Soundtrack dari film berjudul sama yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda ini merupakan salah satu lagu favorit almarhumah adikku. Bahkan aku menemukan beberapa rekaman videonya sedang menyanyikan lagu ini. Hmm, sayang rekamannya ada di laptopku yang rusak. Dulu kalau aku sedang kangen, aku suka memutar video itu.

8. Yang Terbaik Bagimu




Lagu ini pertama kali sukses membuatku menangis pada sesi renungan Mawapres 2006 di Bandungan. Saat itu dosen-dosen dan para panitia acara mengumpulkan peserta di ruang tengah. Lampu sengaja dimatikan. Lalu kalau nggak salah Pak Tyas, wakil rektor bidang kemahasiswaan saat itu, bercerita sebuah kisah tentang pengorbanan seorang ayah.

Cinta ibu seluas samudera. Ibu akan selalu diingat karena mau tak mau ibu memang selalu punya waktu lebih banyak bersama anak-anaknya. Namun ayah seringkali dilupakan. Padahal di balik kerasnya para ayah bekerja, ada mimpi-mimpi untuk anak-anaknya. Ada rindu-rindu yang tak pernah sanggup mereka katakan. Dalam diam mereka ada doa.

Renungan malam itu sukses bikin semua para peserta mawapres menangis tersedu-sedu mengingat para ayah masing-masing. Apalagi aku yang saat itu hubunganku dengan bapak semakin menjauh. Ada angkuh, ada amarah, ada juga rindu. Tapi aku janji hari itu akan kubuktikan aku akan jadi yang terbaik baginya. Dan kubawakan pulang sebuah piala keesokan paginya; juara pertama Mawapres Udinus 2006. Setahun kemudian kubawakan lagi mahkota kebanggaan untuk beliau; lulusan terbaik se-fakultas Bahasa dan Sastra 2007.

Lagu yang dinyanyikan Ada Band dan Gita Gutawa ini selalu sanggup membuatku lupa bahwa ada benci dan luka yang menganga. Karena bagaimanapun, beliau bapakku. Sosok yang membuatku ada. Makasih untuk semua pelajaran hidupnya, Pak.

9. Ayah



Aku tahu lagu ini jauh setelah bapak meninggal. Namun Ivan Seventeen mampu menggubah lagu yang sangat luar biasa. Banyak lagu tentang ibu, namun tak banyak lagu tentang ayah. Begitu kata Ivan menjelaskan alasan di balik proses kreatif lagu ini.

Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah

10. Widuri




Lagu yang pernah tenar pada zamannya ini dulu dibawakan oleh Bob Tutupoli, lalu pernah juga dibuat versi remake-nya oleh Broery Marantika. Bapakku itu penggemar beratnya Broery. Jadi kalau 17an tiba, zaman dulu kan suka ada lomba karaoke. Dijamin kalau bapakku pas di rumah, beliau pasti ikut lomba karaoke, dan bisa ditebak lagu ini yang dinyanyikannya. Tahu lagunya nggak?

10 lagu di atas selalu sukses membuat ingatanku terlempar pada mereka yang telah pergi. Kalau kalian punya lagu kenangan nggak sama orang-orang tercinta, pals? Ceritain dong lagu apa saja.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter