Cerita Asyik dari Seminar Anak Mandiri, Titik Awal Karir Anak



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Seminar Anak Mandiri, Titik Awal Karir Anak berlangsung pada hari Minggu, 14 Juli 2019. Sudah cukup lama ya? Sebenarnya sudah masuk ke list posting dari beberapa bulan lalu, namun baru berhasil tereksekusi hari ini. Insya Allah meski sudah terjadi sekian bulan lalu, namun ilmunya masih sangat relevan.

Seminar ini dilakukan dalam rangka wisuda matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #7. Sangat berkesan. karena pada seminar ini aku tidak duduk di kursi tamu, namun menjadi bagian dari panitia inti, bahkan jadi ketua kegiatan. Alhamdulillah dengan kerjasama yang luar biasa dari tim panitia, acara bisa berlangsung dengan sangat lancar.

seminar anak mandiri wisuda offline Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 7
merah-merah nih yang diwisuda

Btw
, kali ini aku mau berbagi tentang materi-materi yang aku dapatkan dari dua narasumber kece pada hari itu. Narasumber pertama ada Pak Ruruh dan narasumber kedua ada mbak Mira Julia atau biasa dikenal dengan Mbak Lala. Yuk, kepoin lebih lanjut tentang bagaimana melatih anak mandiri versi kedua narasumber.


Menggali Informasi Langit; Melatih Kemandirian Versi Pak Ruruh

Terdengar begitu berat ya? Namun kalau teman-teman hadir langsung di acara, sesuatu yang berat tersebut terasa sangat ringan didengarkan. Pak Ruruh menyampaikan materi dengan sangat runtut, tidak membosankan dan begitu semangat.

CV Pak Ruruh

Buat yang belum kenal beliau, aku informasikan kalau Pak Ruruh ini sekarang sedang naik daun di kalangan para homeschooler dan para orangtua peminat parenting di Semarang dan sekitarnya. Beliau mempunyai putra yang saat ini berusia 15 tahun, bernama Fatihan Akbar. Mas Akbar ini merupakan penyandang dyslexia. Yang mau tahu lebih lanjut tentang dyslexia, bisa baca postinganku review film Wonderful Life.

Pak Ruruh pada hari itu menceritakan bagaimana jatuh bangunnya beliau dalam mendidik mas Akbar sampai hari ini putranya tersebut telah menjadi seorang peternak domba yang sukses. Ini sedikit gambaran kesuksesan mas Akbar:

peternak muda Fatihan Akbar

Bukan hal yang mudah menerima bahwa anak pertamanya mengalami dyslexia. Pak Ruruh sempat memasukkan Mas Akbar ke pondok pesantren tanpa berdiskusi dari hati ke hati dengan putranya. Mas Akbar sempat dalam kondisi tertekan, hingga akhirnya Pak Ruruh bertemu dengan Ustaz Harry Santosa, dan beliau belajar mengenai fitrah based education.

Dari situ Pak Ruruh kemudian memutuskan untuk mendampingi proses belajar Mas Akbar. Pak Ruruh sadar bahwa sebagai bapak harus mau berperan lebih dalam pendidikan dan pengasuhan anaknya, apalagi anak laki-laki. Setelah berhenti dari pondok pesantren, Pak Ruruh mulai mengajak ngobrol Mas Akbar lebih banyak dan sering. Pak Ruruh menggali apa yang ada di hati Mas Akbar.

Dalam proses ngobrol ini, Pak Ruruh mengingatkan pentingnya menerapkan komunikasi efektif pada anak. Bangun bonding dengan anak kita; tanyakan kesenangan anaknya, tanyakan apa yang dirasakannya dan tanyakan apa keinginan terdalam anak-anak. Semakin sering orangtua ngobrol dengan anak, semakin anak akan merasa nyaman menceritakan segala hal yang ada di hatinya.Kalau Mas Akbar katanya paling senang diajak ngobrol tentang sahabatnya yang bernama Jack. Fyi, Jack ini seekor kambing, hehe.

Pak Ruruh saat menyampaikan materi pada seminar anak mandiri
Pak Ruruh saat menyampaikan materi

Setelah hati Mas Akbar telah mampu terisi dengan kehadiran bapaknya, barulah Pak Ruruh memasukkan one day one value dalam setiap obrolan mereka. Tak lupa Pak Ruruh mengingatkan jika anak sudah baligh, mereka tak lagi sekedar anak-anak kita, namun sudah menjadi saudara kita. Oleh karenanya teknik dan gaya komunikasinya harus berbeda, tidak bisa disamakan saat mereka masih di usia anak-anak sebelum baligh.

Jika ingin menanamkan value pada diri anak, pastikan bonding kita dengan anak telah terbangun dengan baik.

Pak Ruruh menyampaikan bahwa wejangan seorang ayah itu yang paling utama. Ayah harus yang paling didengar kata-katanya. Ibu cukup menambahi untuk menguatkan kata-kata sang ayah. Kenapa? Karena ayah adalah umaro/ pemimpin.

Tentu saja untuk bisa menuju kekompakan antara suami dan istri dalam pengasuhan, diperlukan adanya proses menyatukan visi-misi. Bagi keluarga muslim, penting sekali untuk menyusun visi yang tak sekedar visi dunia, namun harus memiliki visi akhirat.

Untuk bisa menemukan kesatuan dalam visi misi antara suami istri, maka keduanya perlu membuang misi dan ambisi pribadi. Yang tertinggal hanyalah keinginan untuk membesarkan keluarganya.

anak mandiri ala pak Ruruh Chandra
tips memandirikan anak ala Pak Ruruh

Membicarakan soal melatih kemandirian, bisa jadi Pak Ruruh adalah ahlinya. Bagaimana tidak? Saat ini Mas Akbar sudah tidak tinggal bersama orangtuanya. Kedua orangtuanya berada di Semarang dan Mas Akbar tinggal di peternakan kambingnya yang berlokasi di Purwodadi. Amazing kan?

Menurut Pak Ruruh, melatih kemandirian anak bukan soal caranya. Namun tentang keyakinan orangtua kepada Allah. Ingat slogan ini; Allah lagi, Allah terus, dan hanya Allah.

Hukuman dalam proses memandirikan anak tidak selalu memberikan efek jera. Tiga hal penting yang harus diperhatikan orangtua saat memandirikan anak yaitu ikat hatinya, arahkan, dan berikan beban/ tanggung jawab.

Meski begitu Pak Ruruh mengingatkan bahwa sebagai orangtua kita harus sadari bahwa yang memandirikan anak itu bukan orangtua, yang memandirikan anak itu Allah. Ketika anak sudah on the track pada misi spesifik hidupnya, anak akan belajar bertanggungjawab. Saat itulah, kemandiriannya perlahan akan tumbuh.
Maka jika ingin anak mandiri, PR kita sebagai orangtua yaitu membantu anak untuk menemukan misi spesifik hidupnya. Menurut Pak Ruruh, untuk bisa menemukan misi spesifik hidupnya, anak harus dilatih untuk bisa mendengarkan informasi langit.

Informasi langit ini nantinya berisi bashiroh dan nadhiroh dari Allah. Biarkan anak memilih dan mengikuti misi tersebut, jangan paksa anak untuk mengikuti keinginan kita.


Di akhir kesempatan Pak Ruruh menyampaikan materinya, beliau mengatakan bahwa mendidik anak itu 50% spiritualitas. Anak-anak sejatinya adalah makhluk spiritualitas. Maka orangtua wajin untuk memperbanyak informasi langit, alias arahan/ petunjuk langsung dari Allah. Baru setelah itu mencari guru-guru terbaik yang dibutuhkan.

Pada saat Mas Akbar menceritakan keinginannya untuk menjadi peternak, pak Ruruh mendukungnya. Tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Semua hal dipasrahkan pada Allah. Lalu satu per satu guru yang dibutuhkan mas Akbar pun berdatangan.

Perjalanan mas Akbar tentu saja tidak mulus. Bahkan ia pernah mengalami bully. Dianggap aneh karena tidak sekolah dan malah beternak kambing. Namun Pak Ruruh menguatkan putranya. Untuk menangkis bullyan diperlukan adanya pembuktian. Tak perlu banyak bicara, cukup buktikan dengan prestasi dan hasil. Dan kini semua prestasi Mas Akbar sudah cukup membungkam bully-an yang pernah datang.


Homeschooling; Salah Satu Langkah Memandirikan Anak versi Mbak Lala


Berbeda dengan Pak Ruruh yang suaranya menggelegar dengan pilihan diksi cukup rumit, butuh pemikiran untuk memahami tapi asyik didengar. Mbak Lala menyampaikan materi dengan cukup sederhana, cepat dipahami dan sama-sama asyik didengar juga.

mbak Mira Julia pada seminar anak mandiri Ibu Profesional Semarang
mbak Mira Julia in action

Kalau mbak Lala pasti bukan sosok yang asing ya buat teman-teman? Terutama buat pegiat homeschooling, website yang dikelolanya bersama sang suami, Pak Sumardiono atau yang biasa disebut Pak Aar, sering menjadi rujukan bagi para homeschooler. Tahu dong Rumah Inspirasi?

Mbak Lala yang nama panjangnya Mira Julia ini memiliki tiga anak. Kesemuanya menjalani homeschooling. Mbak Lala menyampaikan salah satu kunci untuk menjadi homeschooler adalah kemandirian. Kenapa? Karena sebagai homeschooler, anak-anak harus tumbuh menjadi pembelajar mandiri. Tidak seperti di sekolah yang harus disuapi oleh para guru, menjalani homeschooling, anak-anak dibebaskan mencari ilmu sendiri sesuai yang mereka butuhkan.

CV mbak Mira Julia narsum Seminar anak mandiri ibu profesional semarang
CV Mbak Lala

Menjalani homeschooling itu layaknya anak-anak yang merasa lapar, tidak langsung disodorin makanan, namun diajak untuk mencari sumber makanannya. Diajarkan untuk berburu sendiri sumber makanan tersebut. Sejalan dengan yang disampaikan oleh Pak Ruruh, dengan anak dilatih tanggungjawab, maka anak belajar tentang keterampilan self management (mengelola diri sendiri).

Untuk bisa membentuk kemandirian, anak harus diajari mengenali dirinya sendiri. Apa maunya dan misi spesifik yang Allah kasih. Sejatinya Allah menurunkan anak-anak ke dunia ini dengan paket yang lengkap. Lengkap dengan segala potensi yang ada di dalam dirinya. Anak bukan kertas kosong. Anak adalah individu yang terus bertumbuh.


Untuk bisa menemukan misi spesifik hidupnya, anak harus merasa nyaman dengan diri sendiri terlebih dahulu. Di sinilah perlunya ada pendampingan dari orangtua.

Dalam proses melatih kemandirian diperlukan juga adanya kesepakatan terhadap batasan-batasan tertentu. Memampukan anak mengurus dirinya yaitu dengan cara melatihnya untuk melakukan kebutuhan-kebutuhannya secara mandiri.Jangan lupa selalu sediakan waktu untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri.

Because raising children, raising ourselves.

Sesi Tanya Jawab yang Seru

Begitu kedua narasumber selesai menyampaikan materinya, tibalah sesi tanya jawab. Ternyata materi dari Pak Ruruh dan Mbak Lala benar-benar menimbulkan rasa ingin tahu yang sangat tinggi dari peserta. Terlihat dari banyaknya peserta yang mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan.

Namun karena waktu yang terbatas, hanya 6 orang yang diberikan kesempatan. Berikut ini daftar pertanyaan dan jawaban di sesi tersebut:

1. Pertanyaan dari Mbak Dian Eka:

Bagaimana peran bu Ruruh dalam melepaskan Mas Akbar tinggal sendirian di peternakan kambingnya?

Pak Ruruh berkisah, istrinya adalah seorang perempuan bersahaja yang bekerja di rumah. Beliau juga mengajarkan istrinya untuk menjadi terapis pijat. Pak Ruruh mengingatkan para istri bahwa kedudukan istri adalah sebagai makmum, maka penting untuk merapikan barisan/ shaf. Makmum juga harus pandai mengingatkan imam dengan cara yang tidak menyalahkan karena sudah fitrahnya ego laki-laki itu tinggi.

Seorang istri seharusnya jangan terlalu banyak bicara. Kenali bahasa cinta pasangan. Jika sudah mengenalinya, insya Allah istri memberikan kode pun, suami sudah memahaminya. Istri juga memiliki fungsi sebagai rem untuk suaminya. Di saat suami mengegas mobil terlalu kencang dan bahkan hampir keluar jalur, maka tugas istri adalah menghentikan mobil tersebut.


Setiap kali istri menasehati anaknya, sebaiknya selalu libatkan ayah di dalamnya. Bahkan meskipun sang ayah sedang tak ada di sekitar mereka. Pak Ruruh menceritakan bagaimana Mas Akbar ketika menelepon ibunya, sang ibu selalu menyisipkan wejangan dengan berkata, “Kata bapak… kamu harus bla bla bla.” Sebagaimana yang tadi kutulis di bagian materi Pak Ruruh, bahwa anak itu lebih mendengarkan ayah. Untuk keluarga yang menjalani LDR, bisa belajar dari kisah Nabi Ibrahim dalam mengasuh Ismail.

Peran istri lainnya yaitu istri harus selalu berkomunikasi dengan Allah. Doa-doa ibu selalu menjadi penggetar arsy-nya Allah. Maka, wahai para ibu, jangan pernah berhenti doakan anak-anak.

Berhubungan dengan kasus mertua dan menantu, istri juga harus ingat bahwa laki-laki akan selalu berhubungan dengan ibunya. Jadi jangan pernah membuat laki-laki memilih antara istri atau ibunya.

Ayah sang raja tega, ibu si pembasuh luka. Jangan sampai terbalik, pals. Ayah adalah sumber sisi maskulinitas pada diri anak. Sedangkan ibu adalah sumber sisi feminitas pada diri anak.


2. Pertanyaan dari Bu Zhakiya:


Bagaimana cara menekan ego dan ambisi pribadi?

Mbak Lala menyampaikan bahwa proses deschooling memang tidak mudah. Misal 7 tahun sekolah formal, maka proses deschooling yang dijalani minimal 7 bulan.

Baik Mbak Lala dan Pak Ruruh sepakat bahwa dibutuhkan modal hati yang besar untuk menekan ego dan ambisi pribadi. Apalagi sudah dijamin praktisi homeschooling adalah sosok-sosok yang keras kepala. Kalau nggak keras kepala, nggak mungkin menjalani homeschooling.

Untuk mendobrak keras kepala tersebut dibutuhkan power dan keberanian. Apapun pencapaian anak di hari itu harus disyukuri. Keras kepala harus diolah agar lebih sabar. Harus mau berdamai dengan proses. Perfeksionis itu bagus, jika diletakkan pada caranya bukan hasilnya.


Untuk membuat anak belajar tanpa terpaksa, maka orangtua harus mampu menumbuhkan cintanya hingga kemudian menjadi habit. Jangan lupa untuk menurunkan ekspektasi pada anak. Lakukan refleksi diri dan buat tangga dulu sebagai alat bantuan anak.

3. Pertanyaan dari mbak Bunga:

Bagaimana mengatasi anak berusia 6 tahun yang karakternya kritis dan ngeyelan dalam hal memandirikannya?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mensyukuri bahwa kita punya anak kritis.Ketika anak bisa ngeles, artinya ia telah mampu membuat kesepakatan. Namun dengan usianya yang masih 6 tahun, ekspektasi jangan terlalu tinggi.


Sering ajak si anak ngobrol dan buat kesepakatan sederhana. Lakukan kesepakatan itu dengan konsisten dan berikan apresiasi.

Jangan gunakan budaya orang lain ke keluarga kita. Bangun budaya kita sendiri .

4. Pertanyaan dari mbak Happy:

Bagaimana cara bersosialisasi untuk anak-anak homeschooling?

Kata Pak Ruruh, bebaskan anak. Dengan catatan bekal saat dibebaskan sudah kuat. Saat anak dibebaskan namun bertanggungjawab, nanti anak akan punya cara menemukan teman yang sekufu.

Sementara mbak Lala menambahkan bahwa homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga, tapi bukan berarti anak ada di dalam rumah terus. Anak homeschooling selalu haus berburu ilmu. Dalam perburuan itulah, kemampuan sosialisasi anak-anak homeschooling justru teruji, karena mereka nggak cuma bertemu yang seumuran, namun juga bertemu dengan banyak orang dalam beragam usia.

Mbak Lala dan Pak Ruruh di Sesi Tanya Jawab


5. Pertanyaan dari Bapak Afif:

Bagaimana membantu anak menemukan misi spesifik hidupnya?

Yakin pada Allah bahwa kita sudah diberi kemampuan untuk menemukan tanda. Dan lalukan komunikasi secara aktif dengan anak. Dalam proses menemukan misi spesifik hidupnya, anak yang membaca tanda dan orangtua yang merapikan bacaannya. Tugas orangtua adalah selesaikan aqidah anak pada usia 0-7 tahun, baru anak bisa membaca tandanya.

6. Pertanyaan dari Bu Rayna

Apakah bisa kemandirian anak dilatih sejak bayi?

Pak Ruruh menjawab bahwa terkait dengan batasan/ aturan,  tidak ada komitmen bagi anak-anak di bawah 7 tahun. Dilatih boleh, tapi tidak diharuskan. Pada usia di bawah 7 tahun anak harus dituntaskan dulu egonya.

Mbak Lala menyampaikan bahwa bisa. Caranya yaitu dilatih dengan pemberian pilihan. Misal sejak bayi ajak anak ngobrol saat akan memilih baju, mana yang kamu suka nak? Kaos warna biru ini atau warna merah. Pakaikan baju yang disentuh oleh si anak. Nantinya ketika anak semakin besar, ia akan tumbuh jadi anak yang berani menentukan pilihan.


Lalu berikan kepercayaan pada anak, jangan terlalu banyak membantunya.Misal saat anak belajar merangkak, belajar berjalan, belajar makan. Cukup berikan pengawasan yang memadai, dan percayalah bahwa anak mampu mengatasi tantangannya sendiri. Jika terlihat kesusahan, tanyakan apakah ia butuh dibantu, bukan langsung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.


Saat ini masih tinggal dengan mertua, dan sering terjadi konflik. Bagaimana memahamkan homeschooling kepada mertua?

Pak Ruruh menjawab dengan singkat namun tegas, jangan lakukan banyak perlawanan, cukup berikan bukti. Bukti tersebut yang akan memahamkan mertua atas pilihan kita.

Sementara Mbak Lala menyampaikan bahwa yang terpenting kita jalani homeschooling dengan bahagia. Ketika orangtua ataupun mertua melihat kita bahagia dalam menjalani dan menikmati proses tersebut, perlahan mereka akan paham dengan pilihan yang kita ambil.

me dan teman-teman panitia

Alhamdulillah, menuliskan kembali catatan ini di blog serasa mengulang sesi belajar pada hari itu. Semoga bermanfaat.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email