Hanya Rindu


Assalammualaikum warohmatullahi Wabarokatuh.

Disengaja atau tidak setiap kali memasuki Bulan Desember - Maret, mendadak hatiku lebih mellow dari biasanya. Apalagi tahun ini bulan-bulan itu disusul dengan Ramadhan dan lebaran, berlipat rasa sendu ini. Bukan tanpa sebab. Meski ada cerita-cerita indah, ada kehilangan yang sangat besar kurasakan di bulan-bulan tersebut.

Tanggal-tanggal Duka

Sabtu, 3 Desember 2016…

Tak ada yang lebih pedih daripada kehilangan dirimu.

Sudah 3 tahun, namun rasanya baru kemarin. Bahkan setiap kali aku sedang mengetik pada jam-jam dini hari, aku masih sering menengok ke tempat ibu biasa berbaring. Bahkan meski desain rumah kuganti, kenangan itu tak akan pernah hilang.

Selasa, 1 Februari 2011…

Perempuan terhebat kedua dalam hidupku berpulang selamanya. Setidaknya aku masih sempat berpamitan dengan beliau. Bahkan aku sempat lelap tertidur di sampingnya, dan seakan berjalan-jalan bersamanya.



Jum’at, 8 Februari 2013

Adik kandung satu-satunya pergi mendahuluiku. Sudah hampir 9 tahun dan aku kadang masih salah memanggil anakku dengan namanya. Mungkin karena ada banyak hutangku padanya. Hutang yang tak akan lagi bisa kubayar karena ia telah terlanjur tiada.

Senin, 21 Maret 2011

Laki-laki yang pernah jadi patah hati pertamaku pergi untuk selama-lamanya. Bahkan meski tanpa air mata, namun harus kuakui tetap saja ada hal-hal yang kurindukan. Rasanya belum puasa menjadi anak bapak. Ada banyak hal yang masih ingin kutanyakan. Masih ada banyak hal yang ingin kukerjakan bersamanya.

Minggu, 30 Maret 2014

Sosok tegas penuh wibawa itu menutup netra untuk selama-lamanya. Dan kini rumah itu tak lagi sama. Setelah kehilangan sentuhan Yangti, kepergian Yangkung semakin membuat ‘ruh’ di dalam rumah itu kian memudar. Tidak ada lagi ‘Sunan Kalijaga’ yang senantiasa menjaga sungai tanpa paksaan dari siapapun. Hanya karena niat ingin menjaga lingkungan agar bersih dan sehat.

Izinkan Aku Merindu

Begitulah Desember, Februari dan Maret sering kudihantui rindu yang menggebu. Rindu yang tak bisa lagi diutarakan secara langsung pada yang dirindukan, apalagi menghamburkan pelukan. Seringkali ketika rindu bergemuruh di dada, aku hanya ingin menulis apa yang kurasakan. Entah itu di status whatsapp, facebook atau instagram. Kadang aku suka risih dengan komentar semacam ini, “Sabar. Didoakan saja,” dan komentar lain sejenis.

Bukannya diri ini tak terima kenyataan, hati ini hanya rindu…

Ketika orangnya masih ada, rindu bisa diungkapkan dengan lebih mudah. Cepat-cepat menemui mereka. Mencium tangan dan kening. Namun saat yang kita rindukan sosoknya tak lagi ada, rindu ini hanya bisa dinikmati, dirasakan dan diterima.

Apakah menikmati rindu pada mereka yang telah tiada itu tak dizinkan? Apakah artinya ketika kita sedang menebar kata rindu artinya tiada doa dikirimkan? Ah, mengapa seringkali terlampau mudah bagi kita menebak-nebak pikiran dan maksud orang lain.


Tahukah kalian ketika rindu itu hadir memenuhi hati dan jiwa, tanpa kalian ingatkan pun doa-doa terbaik akan mengalir di bibir ini. Karena aku tahu tak ada jalan lain untuk menyampaikan rindu ini selain munajat-munajat panjang. Namun jikalau aku masih ingin menguntai rindu dalam sebait puisi, seutas cerita untuk mengenang mereka, apa tak boleh?

Mengenang tak selalu merintih.
Mengenang tak selalu mengaduh.
Mengenang adalah bagian dari penghormatanku atas mereka yang tak lagi bisa ditatap.

Mengenang adalah caraku untuk tetap menjaga mereka di dalam ingatan. Tahukah kalian rasanya terbangun dan tiba-tiba tak lagi bisa mengingat wajah ibunda dan adinda tercinta? Lalu menatap setiap gambar diri yang ada menjadikan kenangan jauh lebih nyata.

Biar, biarkan saja rindu itu hadir dan biarkan saja aku menikmatinya. Aku toh juga tak melarang kalian untuk merasai rindu. Mengenang nostalgi. Bukan untuk hidup pada masa lalu. Namun agar aku yakin hari ini ada karena mereka yang telah berlalu.

Seusai itu senja jadi sendu Awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku
Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu Sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku… kesepian

4 Perkara yang Selalu Diingat Saat Rindu Pada Mereka yang Telah Tiada

Teruntuk buat kalian yang sama sepertiku, sedang merindu mereka yang telah kembali pada Sang Pemiliki Hidup, meski seringkali mellow menghujam jantung. Aku yakin 4 perkara ini tak akan pernah kita lupakan:


1. Mendoakan dan memohonkan ampun bagi mereka yang telah tiada.

Allāhummaghfir lahum, warhamhum, wa ‘āfihim, wa‘fu ‘anhum. Allāhumma anzilir rahmata, wal maghfirata, was syafā’ata ‘alā ahlil qubūri min ahli lā ilāha illallāhu Muhammadun rasūlullāh.

Ya Allah, berikanlah ampunan, kasih sayang, afiat, dan maaf untuk mereka. Ya Allah, turunkanlah rahmat, ampunan, syafa’at bagi ahli kubur penganut dua kalimat syahadat.”

2. Melaksanakan wasiat yang ditinggalkan.

Selama wasiat yang ditinggalkan oleh mereka pendahulu kita tidak memerintahkan untuk kemaksiatan dan tidak melawan syariat, melainkan untuk kebaikan, maka lakukanlah.

Aaah, aku jadi ingat ada wasiat-wasiat ibu yang belum bisa kujalankan. Semoga dimudahkan untuk bisa melakukan wasiat tersebut.

3. Selalu menyambung silaturahmi dengan kerabat, teman, dan sahabat dari mereka yang telah tiada.

Rasanya senang lo bisa bersilaturahmi dengan mereka yang mengenal orang-orang yang kita cintai. Rasanya bergelora ketika mendengar cerita-cerita lama tentang kebaikan hati, kekuatan jiwa dan segala hal baik tentang mereka yang telah tiada. Ada rasa harus sekaligus bangga karena telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

4. Bersedekahlah atas nama mereka.

Cara termudah untuk menuntaskan rindu selain berdoa. Menyedekahkan sebagian rizki yang kita miliki atas nama orang-orang tercinta yang telah tiada.

Semoga kita selalu bisa menjaga rindu-rindu ini dengan cara yang manfaat ya, pals. Acapkali air mata akan jatuh saat mengenang yang telah pergi, namun aku tahu itu bukan untuk meratapi kepergiannya. Hanya rindu yang sangat dalam. Rindu yang pasti akan selalu dialiri dengan doa-doa terbaik bagi mereka.



Semoga selalu dikuatkan untuk menjalani kerinduan-kerinduan yang hadir. Semoga dipertemukan kembali dengan mereka di jannahNya. Bisa kembali berkumpul dan bercengkrama, bercerita segala hal sambil menikmati durian-durian termanis dariNya. Insya Allah.. tunggu aku ya, Pak.. Bu.. Yangti.. Yangkung.. Dik Tyas. Terima kasih untuk segala kenangan yang ada. Tanpa kalian tak ada aku di hari ini.

Buat kalian yang orangtuanya masih lengkap, yang masih bisa berkumpul dengan saudara-saudara kandungnya dengan lengkap… jangan sia-siakan waktu-waktu terbaik itu. Seringkali saat mereka masih ada, kita kurang menghargai kebersamaan tersebut. Namun ketika harus dihadapkan dengan perpisahan, barulah terasa betapa tiada yang lebih berharga daripada menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta. Sampaikanlah rindu selagi bisa. Tunjukkanlah cinta selagi mampu.

Selamat menghabiskan waktu bersama keluarga.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email