Perjalanan Si Ulat Gemas #8: My Buddy, My Mirror


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pekan yang berat. To do list mengular tapi tak tersentuh. Tubuh mulai ngos-ngosan minta rehat. Suara mulai menghilang, batuk bertubi-tubi. Bersyukur dengan kemudahan yang Allah berikan dalam menjalani tugas terakhir di tahap ulat gemas.
Carilah buddy yang akan menjadi teman perjalanan di akhir tahap ini sebelum menuju tantangan 30 hari pada tahap kepompong.
Kak Peni menyampaikan bahwa Buddy System telah dijalankan oleh keluarga beliau sejak Mbak Enes, Mbak Ara dan Mas Elan masih kecil-kecil. Jadi di setiap proyek yang dijalankan oleh anggota keluarga, mereka harus didampingi oleh seorang buddy yang tidak hanya sekedar menjadi teman main, namun juga menjadi pengawas, bahkan teman curhat.
The buddy system is a procedure in which two individuals, the "buddies", operate together as a single unit so that they are able to monitor and help each other. (Wikipedia)

Diperkenalkan oleh Merriam-Webster pada 1942, Buddy System tidak hanya digunakan pada kesatuan militer Amerika, namun juga digunakan di sekolah-sekolah. Memasangkan dua orang dalam satu tim untuk saling membantu dan mengawasi satu sama lain adalah tujuan dari sistem ini.

Wow, menarik sekali sistem ini! Awalnya kupikir para ulat harus mencari satu buddy untuk dirinya dan juga harus siap untuk menjadi buddy buat orang lain. Ternyata tidak. Para ulat harus berpasangan. Jika sudah dilamar menjadi buddy dan kita menerima lamaran tersebut, kita tidak boleh melamar orang lain menjadi buddy kita, kecuali sudah berpisah baik-baik dengan buddy sebelumnya.

Aku Dilamar… and I Say Yes!

Terbersit tiga nama di pikiranku dalam proses pencarian buddy ini. Sengaja setelah video Kak Peni selesai kusimak di Kamis malam itu, aku tak langsung menjapri nama-nama yang kuincar. Kubiarkan pagi memberikan jawaban atas kegalauanku memilih buddy. Dan tanpa dinyana, Jumat pagi aku sudah mendapat lamaran dari seseorang yang masuk dalam daftar incaran buddy-ku.

Tanpa berpikir panjang aku langsung menerima lamaran mbak Wita Maulida dari IP Sulawesi untuk membangun buddy system.

Kami sama-sama sedang membangun konsistensi di bidang tulis-menulis. Kami sama-sama sedang membangun ritme jadwal yang khas sebagai penulis agar lebih produktif.
Kesamaan itulah yang kemudian menggiring kami membangun a solid buddy system. Meski sudah sempat saling berkisah satu sama lain tentang perjalanan kami dalam menemukan keluarga pada sesi camping ground, kali ini kami lanjutkan celoteh-celoteh panjang yang terkirimkan lewat aksara demi aksara.

Ketika pencinta aksara bertemu, tanpa perlu obrolan yang panjang, kami saling membaca dan mencoba memahami refleksi yang dikirimkan satu sama lain. Jujur aku takjub dengan perjalanan mbak Wita di kelas Bunda Cekatan ini. Begitu fokus dan detail. Dari awal hingga akhir, mbak Wita tahu banget apa yang dia butuhkan.


Dari sesi ngobrol lebih dekat, aku jadi tahu kalau ternyata mbak Wita sudah menekuni dunia tulis-menulis cukup lama. Bahkan sudah menerbitkan dua buku solo dan beberapa buku antologi. Hal ini yang kemudian justru membuatku heran. Dengan prestasi tersebut, seharusnya produktivitas menulis sudah bukan lagi menjadi kendala.
Masih on off dan masih merasa menulis menjadi hobi.
Itulah jawaban yang diberikan oleh mbak Wita menjawab keherananku atas goal dari mindmapnya yang diberi judul ‘Be Pretty Owl.’ Namun mbak Wita memang berbeda dari kebanyakan ulat yang kutemui. Tidak hanya ingin terampil dalam urusan mengelola waktu produktif untuk menulis, mbak Wita juga berencana akan membukukan hasil belajarnya selama di buncek dalam sebuah jurnal spesial.


Saat kutanya sih katanya nanti jurnal tersebut akan dibukukan dalam bentuk e-book. Nice idea. Aku sempat menyarankan kenapa tidak dicetak saja sebagai buku. Buku-buku mengenai teknik menulis sudah sangat banyak di pasaran. Namun buku tentang mengelola waktu produktif menulis rasa-rasanya aku belum menemukan. Insya Allah aku akan menjadi pembeli pertama jika buku tersebut terbit.

Bekal untuk Mbak Wita, Bekal untukku Juga

Btw, sebagai sesama ibu rumah tangga dengan bejibun aktivitas domestik yang tidak bisa dielakkan, aku tahu bahwa waktu terbaik untuk menulis adalah di malam hari, tepatnya dini hari hingga menjelang subuh. Selain karena suasana begitu senyap sehingga lebih mudah konsentrasi dalam merangkai kata-kata. Menulis saat dini hari jauh lebih menyehatkan daripada begadang. Untuk bisa bangun dini hari, maka kita harus tidur lebih awal.

Nah, mbak Wita bercerita bahwa kendalanya untuk bisa produktif di malam hari yaitu susahnya bangun. Bahkan meski alarm dipasang, seringkali terlewat.

Jadwal idealnya saya atur jam 2 - 4, mba. Kalau sudah rutin 2-3 hari maka lancar seterusnya. Tapi kalau sudah sempat terputus siklusnya misal karena bepergian, maka harus butuh usaha lebih lagi untuk memulai siklus itu, dan begitu seterusnya. Jadi jadwalnya belum merasuk ke alam bawah sadar gitu, mbak.
Aah, membaca kalimat yang terkirim lewat WA dari mbak Wita tersebut, aku seperti sedang bercermin. Seperti itulah aku. Seringkali on - off. Apalagi jika menjalankan proyek pribadi, karena merasa tidak ada yang mengawasi, tidak ditunggu siapa-siapa, jadilah santuy. Beda ketika menjalankan proyek dari klien, mau tak mau harus tepat waktu.

Dari situlah kemudian aku mencoba menyusun 5 bekal yang ingin kubagikan untuk mbak Wita. Meski sejatinya bekal-bekal ini juga kubutuhkan dalam prosesku menjaga konsistensi dan komitmen menjadi seorang Enlightening Blogger.



1. Doa

Tidak ada bekal terbaik untuk menjalani tahap kepompong selain doa. Selengkap apapun amunisi yang telah disiapkan, doa adalah senjata pamungkas yang akan menjadi peluru kebaikan dan keberkahan atas setiap rencana yang telah tersusun.

Proyek Be A Pretty Owl -nya mbak Wita sungguh inspiring. Aku berharap jurnalnya nanti akan menginspirasi dan memberikan manfaat bagi banyak orang, khususnya bagi mereka yang menjalani peta hidup seperti kami. Tetap konsisten menulis pada waktu dini hari yang telah ditentukan bukanlah hal mudah. Ilmu pun dibutuhkan di sini. Jurnal mbak Wita pastinya bisa menjadi asupan bergizi untuk banyak orang yang ingin produktif menulis di dini hari.

2. Menjadi Polisi dan Alarm


Menjalani proyek sendirian itu tak mudah, apalagi proyek pribadi yang tidak ada pengawas. Ketika bekerja dengan klien atau editor, biasanya kita akan diingatkan bahwa ada batas waktu yang sudah disepakati. Mau tak mau kita jauh lebih terarah dan terencana.

Nah, aku sih jujur pengen kami bisa saling menjadi polisi dan alarm. Dengan jarak yang terbentang di antara kami, sederhana saja sih cara menjadi polisi dan alarmnya, misal dengan saling membangunkan di dini hari.

Kalau aku bangun jam 12 atau 1 dini hari, aku akan mengirim pesan WA pada mbak Wita, menanyakan apakah siap menulis. Lalu mungkin kami juga bisa saling berkirim target masing-masing di awal bulan atau pekan, saling mengingatkan apakah target tersebut sudah tercapai. Nanti di akhir bulan atau pekan kami saling memberikan review dan apresiasi.

3. Printable Schedule

Aku sendiri tak punya printable schedule, biasanya hal-hal yang harus kulakukan di pekan tertentu kutulis di buku agenda. Sedangkan untuk jadwal menulis harian di blog, kubuatkan jadwal di spreadsheet. Ini membantuku memantau apakah target menulisku tercapai. Selain itu dengan menyusun tema harian, aku jadi tak bingung saat memulai tulisan.

Melihat cukup pentingnya sebuah jadwal, aku mencoba membuatkan printable template schedule untuk mbak Wita. Siapa tahu dengan adanya template ini bisa membantu dan jadi lebih semangat menulis.



4. Rekomendasi Buku

Untuk urusan teknis menulis, aku yakin mbak Wita sudah jago di luar kepala. Namun tidak ada salahnya terus memperbaiki ilmu dan wawasan di bidang ini, selain juga memperkaya wawasan terkait produktivitas. Aku merekomendasikan 3 judul buku untuk mbak Wita; 101 Dosa Penulis Pemula dan Cara Menulis Novel besutan Isa Alamsyah, serta Creative Writing dari A.S Laksana.


Mbak Wita sempat bercerita kalau sudah baca ulasannya tapi belum membaca secara detail. Baiklah, kapan-kapan aku akan buatkan resume-nya untuk Mbak Wita deh. Biar aku juga ikutan belajar lagi.

5. Mengirimkan Semangat

Selain doa, untuk menjaga konsistensi dibutuhkan semangat yang tidak on off. Writer’s block biasanya menjadi momok bagi penulis. Writer’s block ini bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya adalah jam produktif yang masih on off dijalani. Karena aku pun mengalaminya.

Menurut pengalaman untuk bisa membuat sebuah jadwal merasuk ke alam bawah sadar, minimal jadwal itu harus dijalankan selama 40 hari tanpa bolong. Jika sebelum 40 hari jadwal tersebut bolong, maka harus diulang lagi prosesnya. Dan menuju pembiasaan 40 hari ini, dibutuhkan kawan yang siap mentransfer semangat agar proses ini berjalan lancar. Aku berharap kami bisa saling mentransfer semangat agar sama-sama bisa konsisten menjaga produktivitas menulis. Aamiin.

Caranya gimana?

Seperti bekal yang dibawakan mbak Wita kepadaku ini;


Buatku ini adalah transfer semangat yang manis, menginspirasi dan bermanfaat. Saling berkirim infografis dari buku atau artikel seperti ini adalah cara termudah untuk transfer semangat satu sama lain.

Makasih ya mbak Wita untuk bekalnya yang jleb banget.

Begitulah bagaimana semesta mendukung perjalanan ini. Dari yang gagal bertumbuh di keluarga manajemen emosi dan memilih membesarkan potensi di keluarga WeBS, dan sedikit mendua ke Vloglicious. Hingga dipertemukan dengan seorang buddy yang sejatinya memiliki tantangan sama dalam proses menjadi lebih produktif pada bidang tulis menulis.


Jelas bukan kebetulan, Allah telah mengatur sedemikian rupa agar kami tetap pada track yang telah dipilih. Membagikan secercah cahaya lewat aksara-aksara yang tersusun. Bismillah, bersama buddy-ku di pekan ini, aku siap menjadi kepompong! Akan ada tantangan apakah di 30 hari ke depan? Penasaran? Tunggu saja kejutan-kejutan selanjutnya dari Kak Peni!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. wah senangnya dapet printable gitu, jadi makin semangat ya mba <3 semoga lancar selalu ya tahap kepompongnya ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter