-->

Belajar Hidup dari Dokter Tirta: Gaya Boleh Slengekan, Totalitas Jempolan

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Covid-19 masih tetap jadi perbincangan utama hingga detik ini, mungkin sampai sebulan atau dua bulan ke depan. Waah, jangan deh yaa.. semoga sih sebelum ramadhan wabah ini sudah hilang or at least mereda. Masih nggak bisa bayangin bagaimana rasanya lebaran tanpa kumpul-kumpul keluarga. Baiklah, nggak usah bayangin yang nggak enak-enak macam begini, mending kita ngobrol yang bikin semangat aja yuuuk.

Nah, akhir-akhir ini.. ada sesosok manusia unik yang namanya dan penampakannya sering bersliweran di lini masa. Pertama kali lihat bentukannya, aku takjub! Apalagi setelah tahu beliau adalah seorang dokter. Asli nggak nyangka casingnya yang kaya gitu ternyata dokter, hihi.. maaf, Dok! Wuih, unik banget pokoknya sosok ini.

Pertama kali lihat sosok nyentrik ini di explore instagram. Waktu itu video ngegasnya terkait orang-orang Indonesia yang terlalu cuek pada corona lagi heboh-hebohnya dibagikan oleh akun lambe-lambean.

Semakin kepo sama sosok dokter bergaya slengekan ini saat diundang oleh Deddy Corbuzier di Podcast Closed The Door. Boleh juga nih dokter. Langsung nyari-nyari info tentang dokter ini, dan nemu deh akun instagram, akun twitter, juga channel YouTube-nya. Ternyata di channel-nya, hampir semua videonya hanya tentang SEPATU!

Jadi ini sebenarnya dokter atau penjual sepatu?

Dokter yang Pengusaha Jasa Cuci Sepatu


Nama lengkapnya adalah Tirta Mandira Hudhi, namun lebih sering dipanggil dengan sebutan dr.Tirta atau Cipeng. Penasaran dengan arti Cipeng? Sama, aku juga. Yuk, lanjutkan baca kisah tentang doi dulu… biar dapat jawabannya.

Dokter Tirta dilahirkan di Kota Surakarta atau Solo, Jawa Tengah pada 30 Juli 1991. Owner dari SAC (Shoes and Care) ini merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran, Universitas Gadah Mada (UGM) Yogyakarta. Saat kuliah, pak dokter slengekan ini memilih jurusan dokter umum. Penampilannya yang unik sekarang ini pasti bikin kita menganga kalau tahu fakta bahwa doi lulus S1 cumlaude dengan IPK 3.76!

Nggak cuma IPK-nya yang bikin melongo, doi lulus FK UGM dalam waktu 3.5 tahun, pals. Diceritakan olehnya dalam Youtube Channel-nya Rico Huang, doi masuk FK UGM tahun 2009, menjalani perkuliahan teori selama 3.5 tahun dan lanjut koas 1.5 tahun. Mendapat gelar Sarjana Kedokteran pada 2013 dan menjalani sumpah dokter pada 2015. Mantap banget ya?

Di balik penampilan slengekannya, ternyata prestasi akademisi doi nggak main-main. Dari sini aku diingatkan lagi tentang “don’t judge the book by its cover!” Bahkan kalau nggak salah pernah dengar dia cerita sebenarnya dia sempat dapat beasiswa untuk lanjut ke luar negeri, tapi nggak diambil karena memilih fokus membesarkan bisnisnya. Sebelum dikenal menjadi Tirta yang sekarang, doi sempat praktek sebagai tenaga medis di Puskesmas Turi dan RS UGM Yogyakarta. Pada 2019, Tirta memilih untuk off dari praktek dokter dan fokus pada bisnisnya. 

Mendengar penuturan dr. Tirta tentang perjalanan hidupnya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Kerja keras, konsistensi dan keinginan doi untuk terus belajar memaknai hidup adalah beberapa hal yang bisa kudapat dari kisahnya.

Oh ya, aku tulis kisah dr. Tirta ini berdasar hasil nonton obrolannya dengan Rico Huang, video di Makna Talks dan baca beberapa artikel di media online. Karena kagum dengan perjalanan hidupnya yang menurutku inspiratif banget, makanya kutulis di blog, biar one day bisa dibaca anak-anakku, wkwk. Dan siapa tahu ada yang ingin kenal lebih lanjut dengan sosok dokter antik satu ini.

Diceritakan oleh dr. Tirta, ia bukanlah anak orang kaya sebagaimana gosip yang banyak beredar di masyarakat. Doi merupakan anak tunggal dari bapak ibu yang bekerja sebagai karyawan di bank swasta. Kedua orangtuanya sama sekali nggak paham tentang memulai usaha apapun. Awalnya dr. Tirta tertarik belajar di kedokteran karena sejak kecil sudah biasa ditarget di bidang akademisi oleh orangtuanya. Bahkan sejak SD sudah biasa ranking 1 dan ikut beberapa olimpiade. Wow! Dia menyebut dirinya sendiri sebagai nerd, tapi suka ngeband, wkwk. Saking pinternya, doi diterima di FK UGM dan UNDIP! Weladalah, di saat orang lain bingung mo kuliah di mana, dr. Tirta tinggal pilih aja, pals!

Sebelum Usaha Sepatu, Pernah Jual Gorengan!

Nah, setelah masuk fakultas kedokteran, dr. Tirta baru menyadari bahwa jalan menjadi dokter itu sangat panjang. Kalau mau spesialis harus nyediain ratusan juta. Belum lagi saat lagi proses spesialis, harus siap nggak digaji. Belum beli buku-bukunya, ikut seminar, dsb. Dia juga didoktrin oleh para seniornya bahwa dokter itu bukan profesi untuk mencari penghasilan tinggi, dokter itu punya tugas mulia untuk menolong pasien. Jadi salah kaprah kalau ada yang bilang dokter itu banyak duitnya. Duit yang dikeluarkan untuk pendidikan juga nggak kalah banyak, pals. Langsung mendadak kepala puyeng, mengingat si anak wedhok pernah bilang cita-citanya jadi dokter, wkwk.

Pada saat mendengar jalan panjang menjadi dokter tersebut, dr. Tirta terus mikir, bagaimana caranya menolong orang kalau sekarang saja duit nggak punya. Selain itu juga karena hobinya beli sepatu sudah tak terbendung lagi. Sejak SMP, dr. Tirta sudah hobi banget sama sepatu, namun orangtuanya nggak semudah itu membelikan sepatu-sepatu mahal. Orangtua membelikannya sepatu seadanya, bapaknya bilang kalau pengen sepatu mahal, ya silakan beli pakai uang sendiri.

Dari situlah dr. Tirta mulai berpikir untuk mencari uang sendiri. Melihat kondisi di depan matanya saat menjalani kuliah, ada banyak mahasiswa yang nggak pernah sarapan. Kondisi tersebut dijadikannya sebagai peluang bisnis. Sejak semester 1 ia memulai awal perjalanan bisnisnya dengan berjualan gorengan! Jam 4 pagi ia kulakan gorengan dan jam 7 dijual di kampus. Laris manis! Selama tiga bulan jualan gorengan, dr. Tirta mengaku bisa mengumpulkan uang sebanya 16.5 juta! 

Tak sedikit yang mengejeknya karena jual gorengan. Nggak umum aja mahasiswa kedokteran kok jual gorengan. Namun Tirta nggak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang serius, hanya sekedar becandaan biasa saja. Bahkan gara-gara suksesnya doi berjualan gorengan, ia diajak berorganisasi karena dianggap pintar untuk mengarahkan orang lain. Dia sempat menjadi senat. Saat bertugas menjadi senat, ia berbagi tips sukses berjualan gorengan. Eh setelah itu jadi banyak mahasiswa yang ikutan jual gorengan, hehe.

Dokter Tirta Mualaf?

Terkait soal religi, ada hal yang unik juga dari dirinya. Dilahirkan dari kedua orangtua yang berbeda agama, dr. Tirta mengaku bahwa dia sempat atheis selama belasan tahun. Ayahnya yang asli Jawa beragama Islam dan ibunya merupakan keturunan etnis Cina yang beragama Katolik. Karena sekolah di yayasan Katolik, maka literally KTP nya dulu tertulis agamanya Katolik.

Namun dr. Tirta cerita pernah di sebuah masa pada hari Jumat ia pergi ke masjid, dan hari Minggunya ia pergi ke gereja. Saat bapaknya bertanya, “kok beribadah di dua tempat seperti itu kenapa?” Doi hanya menjawab, “biar dapat tiket ke surga lebih cepet.” Ada-ada aja nih pak dokter, wkwk. Hingga akhirnya di masa kuliah, tepatnya di usia 20 tahun, ia memutuskan menjadi muallaf. Barakallah fiik. 

Dari kisah religinya ini, dia selalu sedih kalau lihat orang bertikai karena masalah agama. Merasakan pernah beribadah di masjid dan di gereja, dia selalu ingin jadi orang pertama yang mendamaikan orang bentrok karena agama. Dia juga nggak ingin setelah mualaf lalu menjelekkan agama sebelumnya atau agama-agama lainnya. Jempool lagi buat pak dokter. 

Sukses dan Di Atas Angin

Nah lanjut lagi ke kisah perjalanannya membangun usaha ya, pals. Setelah mendapat uang 16.5 juta dari hasil berjualan gorengan, doi cerita saat itu belum bisa mengelola duit dengan benar. Lalu dari uang tersebut ia menjadi reseller Power Balance. Btw, aku nggak ngerti itu produk apaan. Setelah denger cerita dokter Tirta baru cari tahu apa itu Power Balance. Ternyata itu gelang kesehatan gitu, pals. 

Power Balance dan Jam Monol

Dari pengalamannya menjadi reseler gelang yang katanya bisa mengoptimalkan aliran energi di dalam tubuh ini, dia belajar kemampuan menjual sugesti dan teknik berkomunikasi yang oke. Yang tentunya hal ini sangat membantu perjalanannya sebagai pengusaha dan konsultan bisnis saat ini. Dokter Tirta menyadari bahwa bisnis Power Balance ini hanya berlangsung musiman dan bisa jadi chaos. Doi mulai mikir untuk mencari peluang bisnis lainnya.

Btw, dari berjualan Power Balance, dr. Tirta berhasil mendapat uang sebanyak 25 juta! Kemudan dari uang yang ada, dia pindah berjualan jam monol. Di masa jual jam monol, ia sempat sewa mobil untuk jualan di dalam kampus, tapi diusir satpam karena bikin kampus jadi gaduh, wkwk. Lalu akhirnya dia memilih jualan di samping pos satpam. Kalau satpamnya menegur, dikantongi satu jam monol untuk pak satpamnya, sambil bilang, “Buat istrinya nih, Pak.” Wah, pinter juga tekniknya Pak Dokter yaa?

Saat itu dokter Tirta merasakan life skill-nya berkembang dengan pesat. IPK hampir selalu 4, duit banyak.. apa yang nggak bisa dia dapatkan? Ia bercerita sempat tumbuh menjadi sosok yang arogan. Hingga akhirnya ia ditegur oleh Allah dan menjadikan masa itu sebagai titik balik. Saat itu dr. Tirta sudah mulai berjualan sepatu, dan sepatu yang datang kiri semua! Hilang sudah uang sekitar Rp 30jutaan!

Bangkrut, Sebuah Titik Balik

Uang yang ada hanya tersisa Rp 700ribu. Mau curhat ke orangtua malu, apalagi sejak sukses berbisnis, dr. Tirta sudah nggak pernah minta uang saku dari orangtua. Akhirnya dia makan sisa-sisa jualannya warmindo dekat kampus. Dia minta langsung sama yang punya, bilang kalau lagi bangkrut dan nggak bisa bayar makanan. Setiap dua minggu sekali ia bayar Rp 100ribu untuk semua makanan itu. Sampai sekarang hubungannya dengan ibu pemilik warmindo masih baik lo.

Beberapa kali juga doi makan roti tawar basi, makan indomie dibagi dua dan dicampur dengan nasi aking! Perjuangan yang sungguh berat, Ferguso! Sampai akhirnya ia sudah nggak tahan dan curhat ke bokapnya. Bukannya diceramahin atau dikasihani, sama bapaknya malah diketawain. Bapaknya bilang, “Kamu harus bersyukur. Banyak orang malah menanti momen-momen bangkrut, karena dari titik ini nanti mereka bisa bertumbuh jauh lebih besar.”

Karena saat itu kuliahnya kurang dua semester lagi, bapaknya kasih syarat ke dokter Tirta untuk fokus kuliah dulu dan harus lulus dengan cumlaude. Karena merasa sudah mengecewakan kedua orangtuanya, ia menjadikan titik kebangkrutannya ini sebagai turning point.

Selain akhirnya bisa lulus cumlaude. Dari titik bangkrut itulah dr. Tirta menemukan peluang bisnis yang sekarang membesarkan namanya. Saat bangkrut itu, ia hanya punya sepatu bekas. Saat nyuci sepatu, banyak teman-teman yang ikut nitip sepatunya untuk dicuciin juga. Pada akhirnya lahirlah Shoes and Care, jasa pencucian sepatu pertama di Indonesia. Saat ini sudah punya 47 cabang di 22 kota. Dan sama sekali tidak franchise.

Dia memulai bisnisnya ini tanpa hutang. Cabang-cabang di kota lain pun dibangun hanya dengan mengandalkan teman-teman akrabnya. Dokter Tirta mengajari bagaimana cara menyuci sepatu yang benar dan mengelola usaha, lalu bagi hasil. Wah, mau dong Dok diajarin juga…

Pada 2014, Tirta nekat ke Jakarta untuk membuka cabang Shoes and Care di sana. Ia menyewa ruko di Blok M. Saking mahal harga sewanya, ia sampai nggak punya duit dan sempat nggembel di area Blok M dan nggak bisa pulang! Dari sinilah ia mengenal teman-teman yang kemudian menjadi pegawainya. Ada orang yang nggak selesai sekolah, mantan preman, anak punk sampai kuli bangunan! Dia mulai dapat tato-tato di tubuhnya juga saat menggelandang ini.

Di sini juga ia mendapat sebutan Cipeng, yang ternyata berarti Cina Gepeng. Ya, dia memang keturunan Cina, tapi ngomongnya Jawa medhok, badan selalu kurus dan bergaya preman. Terjawab sudah ya apa itu Cipeng, wkwk.

Dari pengalaman bertemu orang-orang kelas bawah inilah yang menjadikan jalan hidupnya berubah. Ia pengen mengamalkan UUD Pasal 34. Seharusnya kan orang-orang miskin dan terlantar dipelihara oleh negara, tapi nyatanya nggak to? Makanya, dia mulai mempekerjakan orang-orang tersebut. Dikasih kepercayaan untuk nyuci sepatu dan mengelola gerai SAC di Jakarta.

Sejak saat itu di tiap tokonya harus menerima fresh graduate, boleh menerima orang yang nggak lulus sekolah dan juga mantan anak punk. Syaratnya cuma satu: jauhin alkohol! Dokter Tirta menceritakan kalau anak buahnya ada yang berhasil berkarya dengan membuat perpustakaan jalanan. Ada yang sudah memulai usaha sendiri. Bahkan ada yang dapat beasiswa S2 di UK! 
Ini baru namanya leader. Konon katanya, leader yang sukses adalah mereka yang mampu melahirkan leader-leader baru. Dan kita bisa temukan dari sosok Dokter Tirta. Doi nggak cuma mengembangkan dirinya sendiri, tapi juga menumbuhkan orang lain di sekitarnya. Angkat topi buatmu, Dok!


Titik Balik yang Lain

Dokter Tirta melanjutkan ceritanya lagi. Pernah di suatu masa, ia menjadi orang kaya pada umumnya. Menghamburkan uang untuk benda-benda mahal. Tahun 2016, ia pernah membeli Ducati, punya 4 motor gede dan 8 mobil. Saking seringnya buang-buang uang untuk hal yang kurang bermanfaat, ia mulai merasakan ada jarak dengan karyawannya.

Apalagi mulai ada slentingan yang sampai ke telinganya dari beberapa karyawan. “Enak ya jadi bos, duit banyak bisa beli macam-macam. Nasib karyawan yang cuma kerja, ya gini-gini aja, gaji nggak naik-naik.” Dari sini dia belajar satu hal bahwa bisnis yang keren itu dibangun dari tim yang keren. Bukan karena leadernya aja. Dia mulai belajar menghargai karyawan. Apalah artinya punya banyak barang mahal, kalau apresiasi ke karyawan kurang? Gaji nggak pernah dinaikkan, dan sebagainya.

Lalu semua barang-barang mahal miliknya dijual! Hanya menyisakan Vario 1 dan 2 buah motor Supra. Sisa duit dari hasil jual barang-barang itu digunakan untuk membuat digital start up yang bernama Tukutu.id. Yaitu sebuah startup yang fokus di jasa titip jual sepatu. Selain itu dr. Tirta juga mulai membuat gerakan Local Pride. Sebuah gerakan agar bisa bangga dengan produk lokal. Sebenarnya ini bukan gerakan baru, sejak zaman Pak Harto dan Maspion sudah pernah mengkampanyekan soal local pride ini.

Tapi kali ini dr. Tirta lebih fokus untuk campaign tentang sepatu lokal. Alasannya sederhana, kalau banyak yang beli sepatu lokal nanti akan semakin banyak yang nyuci di Shoes and Care (SAC). Namun dia nggak nyangka kalau campaignnya jadi sangat massive.  Penjualan sepatu brand internasional sempat berkurang banget. Sampai akhirnya banyak brand lokal yang dekat dengan dia. Makanya kemudia tujuan campaignnya nggak lagi fokus pada SAC, tapi lebih ke social campain yaitu mengenalkan sepatu-sepatu brand lokal.

Selain karena sudah hobi sama sneakers, fakta bahwa sepatu adalah salah satu komoditi ekspor kedua terbesar di Indonesia setelah gas dan minyak bumi adalah alasan kenapa dokter Tirta fokus banget membesarkan bisnis sepatu. Selain itu sebenarnya brand sepatu internasional sebagian besar dibuat di Indonesia! Jadi kenapa nggak kita fokus saja mengembangkan brand local?

Kecintaannya pada sepatu juga didasari pada pemahaman bahwa menurutnya sepatu itu cerminan diri. Sepatu itu bisa menjadi cerita ke mana saja kita pernah melangkah. Mungkin nggak ada orang yang tahu kita pernah kabur dari rumah, tapi sepatu kita tahu. Wuis, daleem ya filosofinya. Lalu apa kabar aku yang cuma punya satu sepatu dan satu sandal tanpa merk yang jelas, wkwk.

Dari perjalanannya membesarkan usaha, dia juga jadi dekat dengan media. Dokter Tirta sadar pentingnya memiliki relasi yang baik dengan media. Media is a friend. Pada 2015 ia mulai diliput oleh HAI dan Kompas, juga beberapa stasiun TV. Karena jejak di media inilah, ia bisa kenal dengan Pak Jokowi dan Sandiaga Uno.

Dengan Mas Gibran, putranya Pak Jokowi, kerja sama untuk membuat jaket buat Jokowi. Dokter Tirta saat itu juga mengatur campaign terkait local brand untuk Pak Jokowi. Lalu pada 2018, ajudan Sandiaga Uno mengundangnya ke sebuah acara. Dipuji langsung oleh Pak Sandi bahwa doi adalah sosok dokter yang unik.

Dia diajak bekerja sama untuk menjadi bagian dari tim Rumah Siap Kerja dan brand lokal milik Sandiaga Uno. Istilahnya menjadi konsultannya Pak Sandi, termasuk konsultan penampilannya. Jadi setiap Pak Sandi mau manggung ke mana, Pak Sandi konsul ke Dokter Tirta baiknya pakai baju brand local yang mana, sepatunya brand local yang mana. Hingga nama dr. Tirta semakin melejit ketika Pak Sandi diundang ke Mata Najwa tentang pajak impor, Pak Sandi memakai sepatu brand lokal yang dikelola oleh pak dokter nyentrik ini.

Memaknai Hidup dan Impian

Saat ini Dokter Tirta bukan CEO apapun, namun lebih fokus menjadi konsultan brand lokal. Diceritakan olehnya bahwa mentor bisnisnya berkata, “kalau mau punya bisnis keren, harus belajar juga printilan terkait usaha yang sedang dijalani.” Nah, karena sudah punya Jasa Cuci Sepatu, dia mulai bikin toko sepatunya. Dijual lewat Communion Studio. Lalu dia juga bergerak menjadi event organizer dan membuat acara-acara terkait sepatu, Solevacation. Saat ini juga dia bekerjasama dengan 17 brand sepatu lokal. 

Banyak yang bertanya lalu bagaimana dengan karir dokternya? Dokter yang katanya punya rambut terinspirasi Atta Halilintar ini mengatakan kalau doi punya cita-cita untuk memiliki klinik. Belum terwujud, namun sejak dia aktif lagi memberikan edukasi terkait kesehatan di masa-masa corona ini, klinik yang diimpikan sedikit tercapai karena dengan kerja sama berbagai pihak, ia membangun rumah sakit darurat untuk pasien-pasien yang memiliki gejala Covid-19.

Saat Dokter Tirta memutuskan untuk tidak lanjut studinya sebagai dokter spesialis, saat itu ia memilih untuk mendedikasikan dirinya untuk membuka lapangan kerja. Dia memilih bisnis sepatunya karena saat itu kalau ditinggal anak buahnya belum siap.
Dokter Tirta mengatakan bahwa ia tidak ingin dikenang hanya sebagai orang sukses lalu mati tanpa meninggalkan apapun. Ia ingin memberikan manfaat bagi orang banyak.
Salah satu kunci suksesnya untuk bangkit dari keterpurukan adalah ketika ia paham bahwa anak adalah aset orang tua. Saat dirinya bangkrut, ia sadar sudah mengecewakan orang taunya, saat itulah ia memotivasi dirinya untuk bangki. Kalau kita niat pasti punya rezeki.
Orang sukses akan yakin dirinya sukses!
Begitu juga saat dalam perjalanan cintanya, ia pernah sempat mengalami kegagalan berumahtangga. Dia tahu artinya pernah mengecewakan keluarga kecilnya. Meski begitu hubungannya dengan sang mantan istri dan anaknya tetap baik. Dia juga bangkit dari kegagalannya dan yakin nanti bakal ketemu calon baru.
Hidup sudah serius, jadi mari kita bikin hidup lebih fun.
Prinsipnya dokter Tirta adalah fokus untuk membahagiakan orangtuanya, taat pada Tuhan dan selalu bersyukur. Dia juga yakin bahwa orang baik akan selalu dipertemukan dengan orang baik. Makanya dia bisa bertemu dengan Pak Jokowi dan Pak Sandi, pasti ada rencana Allah yang membuatnya banyak belajar sesuatu.

Baik Pak Sandi dan Pak Jokowi, cara hidupnya pun sama. Target hidup mereka dalam hdiup tak hanya mengejar urusan duniawi saja. Dokter Tirta juga menceritakan betapa kagumnya doi pada Pak Sandi saat kalah pilpres, Pak Sandi tetap senyum dan santai. Dari situlah, dr. Tirta memandang hidup jadi lebih berbeda.

Termasuk akhirnya tertarik menjadi influencer. Berawal dari kegelisahannya karena banyak influencer yang asal pamer dan suka menginjak orang lain. Kenapa kok mereka nggak sadar bahwa mereka besar karena followers-nya. Seharusnya para influencer bisa memberikan feedback pada followers. Caranya dengan sharing yang mereka bisa.

Jadi influencer nggak cuma hanya fokus cari cuan, tapi juga harus mau sharing sesuatu yang bermanfaat untuk followernya. Maka dr. Tirta pun mulai sharing tentang bisnisnya, tentang tips-tips terkait sepatu dan memulai usaha. Dia yakin bahwa dengan kita menolong dulu, action dulu, rezeki nanti akan datang.
Saat Indonesia mengalami pandemic seperti sekarang, dia mulai memutar otak apa yang bisa dilakukan untuk Indonesia. Dengan kapasitasnya sebagai dokter yang belum bisa praktek lagi, dia memilih jadi garda depan di bidang edukasi dan informasi. Awalnya sih doi share dengan cara yang baik-baik, tapi karena nggak banyak yang dengar, dia mulai sharing dengan cara ngegasnya yang khas. Eh, malah jadi viral dan banyak yang nonton. Seingatku, aku follow dokter Tirta itu followersnya masih 500rb atau 700rb, eh sekarang udah 1jutaan aja. Mantaaap.
Diungkapkan pula oleh Dokter Tirta, salah satu kunci suksesnya adalah meskipun pendapatannya naik, gaya hidup harus tetap. Beli barang mewah boleh-boleh saja, asal barang tersebut ada value dan produktif. 

Contohnya, untuk barang-barang yang nggak bergerak, semacam baju, mobil, motor, ia tak masalah memakai barang second. Namun untuk barang yang bisa menjadi aset, semacam rumah dan tanah, bolehlah jika beli barang baru.
Jangan jadi orang kaya bermental miskin, pendapatan banyak tapi buat nyicil sana sini dan selalu merasa kurang dengan apa yang dimiliki. Jadilah orang yang bermental kaya, selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan bersyukur.
Orang yang beneran kaya bisa jadi bukanlah mereka yang punya banyak mobil. Bapak penarik becak yang selalu merasa cukup dengan penghasilannya dan selalu bisa bersyukur dengan rizki yang diperolehnya adalah orang kaya yang sebenarnya.

Kenapa mendadak jadi Tirta Teguh begini ya, hehe.

Untuk menutup kisah dokter nyentrik yang ternyata nggak sadar udah sepanjang gerbong kereta ini, aku mau menuliskan quote kece darinya untuk anak-anak muda di luar sana:
Passion itu hanyalah tren. Jangan terlalu mengagungkan passion dan idealisme. Passion sebenarnya ya proses itu sendiri. Passion bisa tumbuh dengan memulai apa yang kita suka. Namun bisa juga bermula dari menikmati apa yang sedang kita kerjakan. Jangan terlalu banyak melihat ke atas, banyak-banyak bersyukur dengan posisi kita sekarang dan lihatlah ke bawah. Banyak orang di bawah kita yang mungkin sangat menginginkan apa yang kita miliki saat ini.
Percayalah bahwa gagal bukanlah kesuksesan yang tertunda. Namun gagal adalah proses menuju sukses itu sendiri. 
Jangan lihat Dokter Tirta dari yang sekarang kita tahu. Dari kisah hidupnya, kita tahu sendiri bahwa ada banyak kegagalan yang dia alami. Pernah bangkrut, pernah gagal berumah tangga, pernah ditolak jadi asisten dosen dan ditolak pertukaran pelajar, bahkan sering ditolak jadi karyawan karena ide-ide di kepalanya yang terlalu liar.

Namun apakah ia menyerah? Tidak! Ia terus bangkit setiap kali mengalami kegagalan.

Semoga bermanfaat ya… dan semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi dan motivasi buat semua yang baca. Juga bisa menghilangkan negative thinking ke dr. Tirta yang katanya doi cebonglah, doi kampretlah. Woooy, udah selesai kali pilpresnya… Setop gitu loo, mup on mup on!

Indonesia lagi butuh kita bersatu. Sudah nggak masanya lagi cebong-cebongan dan kampret-kampretan, pals. Noh, lihat pak dokter nyentrik ini sampai masuk rumah sakit karena bener-bener turun ke lapangan bantuin negara ngurusin covid. Lah kita yang cuma bisa komen kok ya masih aja berkutat dengan cebong dan kampret. Gemees deh eike!

Daripada kebanyakan komentar, mending yuuk gaskeeun apa aksi yang bisa kita lakukan untuk Indonesia menghadapi corona. Kalau memang nggak bisa bantu pakai duit, ya pakai tenaga. Nggak bisa juga bantu pakai tenaga? Ya sudah bantu saja pakai #dirumahaja, nggak usah sebar-sebar hoax biar nggak bikin orang cemas, kasih edukasi yang kita tahu dan bisa. 

And at last but not least, BERDOA! Doakan negara ini, doakan para tenaga medis, doakan masyarakat Indonesia biar selalu diberi ketenangan dan kesabaran dalam menjalani masa pandemi covid-19. Gampang to cara bantu Indonesia?

Mohon maaf kalau dalam penyampaian ada salah-salah kata. Sampai jumpa lagi dalam episode ngegas lainnya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

  1. Kayak biografi yak ini jatohnya WKWK. Tau dr Tirta dari lama. Zuzur pas awal males gitu dia orangnya ngegas-an kan. Lah kok ternyata orang Solo :)) trus mulai respek di wabah corona ini dia sering banget speak up. Aku udah pernah nyuciin sepatu di SAC juga loo hahaha *penting* pelayanannya bagus. Fast respon. Ada antar jemput pula jd ga repot huehehehe

    ReplyDelete
  2. Pas musim corona ini br tahu dia. Tapi pas baca bisnis cuci sepatu di jogja...ooo dulu aku pernah baca ttg dia. ini to orangnya. hahaha...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter