Mentadabburi Quran Surat An Naml: 62 dan Kaitannya dalam Menghadapi Wabah Corona

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pagi ini aku tak begitu fokus saat mendengarkan kajian Sapa Pagi Ustaz Budi Ashari. Menyimak kajian sembari menyelesaikan beberapa desain flyer, banyak poin-poin yang terlewat kucatat. Namun meski sedikit aku tetap ingin mencoba membagikan apa yang kutangkap dari kajian pagi ini.

Ustaz Budi menceritakan sebuah kisah tentang beberapa orang yang berlayar di lautan. Orang-orang ini awalnya adalah orang-orang musyrik, tak percaya pada kebesaran Allah. Hingga di tengah perjalanan, ada badai yang sangat besar. Orang-orang tersebut pun merasa sangat ketakutan, lalu mereka pun dengan khusyuk berdoa bersama.

Melihat kekhusyukan dan kesungguhan doa-doa mereka, Allah pun menyelematkan orang-orang tersebut. Namun setelah diselamatkan hingga ke daratan dan aman dari badai, orang-orang yang tadi begitu khusyuk berdoa kembali kepada kesyirikan.

Dari kisah tersebut seharusnya kita berkaca. Bisa dikatakan wabah corona adalah badai di tengah lautan pada kisah di atas. Sementara orang-orang yang berlayar di atas kapal itu adalah kita, manusia di bumi. Lihatlah bagaimana corona mampu membuat orang yang awalnya lupa bagaimana berdoa, mulai memohon kepada Allah. Mereka yang sempat menjauh, mulai mendekat kepadaNya.

Namun apakah kita juga akan berakhir seperti orang-orang di kapal tersebut? Setelah Allah mendengarkan doa-doa kita, Allah selamatkan dan nantinya akan kembali pada rutinitas duniawi dan menomorduakan Allah lagi?

Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari sikap seperti itu ya. Semoga saat ini kita benar-benar khusyuk berdoa, bermunajat dan memohon setulus-tulusnya hingga Allah mencabut corona dari bumi ini. Namun nanti ketika corona telah pergi, semoga kita akan tetap menjadi hamba-hambaNya yang taat dan berdoa sebagaimana saat corona menghampiri.
Nikmat itu begitu mudah pergi, tak butuh waktu panjang bagi Allah untuk menghentikan semua rencana-rencana kita. Maka syukurilah setiap waktu yang kita punya, karena hanya dengan bersyukur nikmat itu akan terus ditambah berkali lipat olehNya.
Setelah diajak mendengarkan kisah di atas, ustaz Budi membacakan Quran Surat An Naml: 62,


Ayat tersebut seakan menjadi intisari dari kisah yang disampaikan ustaz Budi di awal kajian sekaligus memiliki benang merah dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Ada empat hal bisa kita ambil dari tafsir ayat ini:

1. Orang-orang yang berada dalam kesulitan atau masalah berat, akan dibebaskan dari kesulitan tersebut asalkan mereka berdoa dengan bersungguh-sungguh.

2. Tidak hanya dibebaskan dari kesulitan, manusia pun akan dijadikan khalifah di bumi.

3. Namun untuk bisa menjadi khalifah, sudah sepantasnya setelah kita dilepaskan dari kesulitan, kita tetap khusyuk beribadah dan berdoa. Di saat menjelaskan bagian ini, Ustaz Budi menjabarkan perbedaan antara Ilah dan Rabb. Dua istilah tersebut sama-sama mengacu pada Allah. Namun ada perbedaan makna. Ilah biasanya berkaitan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang peribadatan, sementara digunakan kata Rabb jika ayat-ayat tersebut berhubungan dengan penciptaan. Di ayat ini Ilah yang digunakan, maka secara tersirat kita diminta untuk memperbanyak ibadah dari sebelum-sebelumnya.

4. Di bagian akhir ayat dikatakan “Amat sedikitlah kamu mengingatNya,” maksudnya yaitu kita lebih sering berhubungan dengan Allah ketika membutuhkanNya, saat sedang kesulitan, banyak masalah, dsb. Namun ketika sedang dihujani nikmat-nikmat kebaikan, kita lebih sering lupa pada Sang Pemberi. Yang lebih banyak kita ingat adalah kesulitan-kesulitan di depan mata. Padahal kalau kita mau menyadari kesulitan yang Allah berikan di muka bumi hanya sedikit. Bahkan tak lebih banyak dari nikmat yang Allah berikan. Jadi akankah kita terus-terusan sedikit mengingatNya? 

Pantas saja kalau kita semakin mudah merasa panik dan lelah di masa-masa yang sulit. Kita terlalu mengedepankan ilmu dan data, namun lupa menyeimbangkannya dengan iman. Padahal ilmu tanpa iman bisa membuat kita lebih mudah terpeleset dalam kesesatan. Ilmu itu perlu, wajib malah, karena hanya dengan ilmu kita bisa beramal dengan tepat.

Namun jangan lupa pentingnya membingkai keilmuan yang kita miliki dengan keimanan yang kokoh, sehingga ilmu-ilmu yang kita miliki bisa semakin berkah, manfaat dan mendekatkan diri kita pada Allah, Sang Pemilik Segala Ilmu.

Cuzz, buat yang mau bebas dari rasa khawatir, panik dan lelah di masa wabah corona ini, yuk mulai hari ini hadirkan kembali Allah di dalam hati-hati kita, di dalam hari-hari kita. Mari jadikan ibadah-ibadah kita bukan sekedar aktivitas ritual, namun sebuah suntikan yang akan mengokohkan ruhiyah.

Salam santuy mantuy dari Kota Lunpia! Apaan itu santuy mantuy? Tetap santai tapi juga bermanfaat. Maksa banget nggak sih? Udah biarin aja, biar aku happy, wkwk. See you soon, pals!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter