-->

Jangan Rubah Takdirku


Bukan. Ini bukan judul lagu Andmesh yang kondang itu. Hmm, meski jujur, aku menuliskannya memang terinspirasi dari lagu itu sih.

Ah, entah sudah sejak bulan purnama keberapa aku telah lupa mengirimkan sajak kepadamu. Sudah terlalu lamakah waktu memasung biasa pada kita. hingga rutinitas kadang menjadi belenggu. Malam ini hampir tutup usia, aku hanya ingin bilang terima kasih sudah menemukanku dan membawaku ke hatimu.

Bau tanah basah yang terguyur hujan selalu membawa aroma tersendiri. Bagai candu untukku. Selalu kuhirup berulangkali.Tiada bosan. Begitu juga denganmu, yang selalu membawa kisah tersendiri.Bagai penawar untukku.
Selalu kucecap, saat air mata meluap. Pun mulut terbahak atas semua tanda tanya. Hujan bagaikan cintaku padamu, yang senantiasa basah dan merekah.
Dan lalu ingatanku terlempar pada sebuah masa…

Pada sebuah detik
di saat mataku pertama kali
bersitatap pada matamu
ada desir halus yang merasuk
di seluruh penjuru hatiku.

Dan kini ketika detik telah beranak pinak
menjadi menit, lalu jam, hingga hari,
bulan bahkan tahun
desir-desir halus itu seringkali tak lagi terasa.

Namun jiwa sudah terlalu terpatri
ada atau tiada desir di hati,
jantungku berdegup hingga hari ini karenamu.

***

Ingatkah kau untaian sajak ini?
Ijinkan aku mengukir pagi, di tengah belantara harimu. Dan serahkan setiap detik yang tersisa, 'tuk bersemayam pada dermaga hatimu. Bilapun harus kupancang layar, biar aku nikmati gelombang-gelombang kehidupan di atas kapal yang kau nahkodai. Ada kalanya kita akan tumbang, tapi jangan pernah hilang arah. Pun 'kan tiba saat kita layu, namun yakinkanku kita masih bisa berarah tentu. Dan kala senja itu tiba, menantilah pagi bersamaku; "SETIA PADA JANJI"
Aku membacanya di hari pernikahan kita. Tahukah kamu aku selalu menggigil saat membacanya ulang. Sajak yang serupa janji itu pernah kupatahkan sendiri.


Jika ditanya, aku yang memilihmu atau kau yang memilihku?

Entahlah...

Yang aku ingat kau hadir menghapus keputusasaanku.
Pada jalan hidup yang kala itu seakan-akan tak bersahabat padaku.
Kau hadir di tengah kebimbangan dan ketakpercayaan diri tentang cinta dan kasih sayang.

Kisah kita bukan dongeng romantis bak drama Korea yang mendayu-dayu. Meski kalau diingat-ingat, ada banyak fragmen yang lebih drama dari drama apapun di dunia.

Aku berjumpa denganmu di akhir usia belasanku. Saat itu usiamu hampir menuju seperembat abad. Bersamamu, aku merasa menemukan payung yang lapang untukku menikmati hujan lebat. Bersamamu, hujan yang acapkali terasa sendu dan kelabu perlahan berubah menjadi syahdu.

Tidak mudah lika demi liku yang terlalui. Namun jiwamu yang seluas samudera mampu membuktikan pantas menjadi akhir tujuan. Nyatanya aku sempat berharap terlalu banyak padamu. Harapan yang justru membuatku juga membuatmu terluka berkali-kali. Seiring berjalannya waktu harapan tetap ada, sekaligus empati sehingga bisa semakin memahami dan mengerti.

Kini tahun keenambelas aku mengenalmu.Kau semakin matang, bertumbuh menjadi teman perjalanan. Meski kadang tak selalu menyenangkan, namun tak bisa kupungkiri.Yang selalu kubutuhkan.

Buatku, kau tak sekedar teman hidup.
Atau teman mencecap kopi di saat mata kita sama-sama sedang tak bisa terpejam.
Kau adalah alasanku untuk terus bertumbuh. Untuk terus tak berhenti belajar. Untuk terus memantaskan diri menjadi sigaraning nyawamu.

Meski seringkali kita asyik terpekur dengan pekerjaan masing-masing, namun menikmati ocehan lucumu saat menghadapi kode-kode yang belum terpecahkan membuatku tenang. .

Tak jarang kau akan tertidur lebih dulu. Lalu dengkuran halusmu perlahan membahana. Aku dulu terusik, kini justru menyukainya. Bagai alunan hujan malam ini. Selalu kurindukan.

Jika jarak harus terbentang di antara kita karena tugas atau aktivitas, dengkur halusmu tiba-tiba jadi irama yang kunantikan. Seperti hujan yang kadang lupa menyapa dan membasahi tanah. Aromanya sungguh membuatku rindu. Rasanya tenang mendengar dengkuran itu, sama halnya tenang saat mendengar rintik hujan yang jatuh ke tanah

Aku pernah mabuk pada hujan sejak luka demi luka hadir menyayat kehidupanku. Dalam hujan aku bebas berairmata tanpa ada satu orang pun yang tahu. .
Lalu aku mabuk padamu, dan semakin mabuk setiap harinya, karena kau punya penawar atas luka-luka atas kehidupanku. Denganmu aku bebas berairmata tanpa perlu menjelaskan kenapa.
Denganmu aku bebas menjadi aku, denganmu aku bisa tumbuh menjadi versi terbaikku. Denganmu, aku berani kembali bermimpi. Denganmu aku bisa menikmati hujan sambil mencecap aroma kopi nan wangi lalu bersenandung tanpa merasa sepi lagi.


Hujan, basah dan cintaku padamu adalah satu kesatuan yang indah dalam catatan romansa hidup ini. Terima kasih telah mengisi halaman-halaman buku kehidupanku.

Dan hari ini, tahun keenambelas aku mengenalmu. Ada kalanya aku sudah benar-benar memahami, namun ada kalanya aku masih harus menggali lagi ke kedalaman hatimu. Rasanya bahkan hingga habis usia, masih banyak yang harus kutahu tentangmu.

Sudah terlalu banyak lakumu yang mengguratkan senyum. Meski ada pula lakumu yang menyisakan air mata, namun aku memilih untuk melupakan.. bukankah tak baik mengingat keburukan terlalu banyak? Hanya membuat hal-hal baik susah diingat. Kini sudah waktunya bagimu tersenyum lebih banyak. Dan izinkanku menjadi bagian dari senyumanmu.
Terima kasih Allah telah membawanya padaku. 17 April, 16 tahun yang lalu... Berkahi dan rahmatilah kehidupannya. Jaga pahlawan keluarga kami selalu.Dan.. jangan rubah takdirku. Aku hanya ingin bersamanya hingga akhir nafasku.
Terima kasih untuk 16 tahun perjalanan yang luar biasa. Tak akan semenantang ini jika bukan denganmu. Semoga suka dengan hadiahnya, maaf ya suaranya kacau, wkwk. Uhibbuka fillah, zauji...
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter