Jurnal Puasa 3 Bunda Cekatan; Perjalanan Menjadi Ibu yang Lembut

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Puasa nggak marah-marah bin ngomel alias berusaha melembutkan suara di pekan ketiga ini cukup terbantu karena pekan lalu aku jatuh sakit. Karena sakit, manalah kuat badan buat ngomel, wkwk. Tapi ya masa untuk bisa lembut ke anak-anak harus nunggu badan sakit dulu yaks?


Kamis, 9 April 2020

Sebenarnya badanku mulai mengeluarkan alarm sakit sejak hari Selasa, 7 April 2020. Aku punya kebiasaan jelek ketika kesibukan mengular pasti lupa makan. Nah, saat itu aku juga lupa makan plus kurang istirahat, jadilah kepala rasanya cenat-cenut nggak tertahankan. Alhamdulillah setelah dikerokin sama suami udah mendingan.

Hari Rabu badan udah enakan, jadi ‘bertempur’ lah seperti biasa. Bertempur dengan keyword yang ada di depan mata. Kamis malam hingga Jumat pagi pun masih berkutat dengan pekerjaan seperti biasa. Selama kakak sekolah di rumah, aku belajar banyak mengontrol untuk nggak banyak ngomel. Dan alhamdulillah pekan ini memang sudah membaik. Kakak juga udah mulai paham apa saja yang harus dilakukan tanpa harus didikte ini itu.

Jujur, selama badai Covid 19 ini datang, screen time anak-anak memang jadi bertambah. Yang biasanya hanya dua kali dalam seminggu, kini jadi setiap hari ada jatah screen time. Terutama ketika aku harus berteman dengan laptop di siang hari, ada kalanya anak-anak bosan main sendirian, jadilah merengek minta screen time. Karena memang nggak bisa menemani ya sudah, mau tak mau harus dikasih screen time. Barulah saat 1821, kami puas-puasin main bersama ayahnya juga. Mainan favorit anak-anak selama di rumah adalah main petak umpet.


Jumat, 10 April 2020 

Jumat siang badanku mulai nggak karuan. Badan tiba-tiba panas, tapi menggigil. Aku tidur berteman selimut tebal. Alhamdulillah hari itu kantor libur, jadi ayah ada di rumah. Mulai dari laptop kumatikan, aku hanya tiduran saja di kamar. Semua urusan anak-anak dihandle suami. Otomatis dong seharian itu aku nggak ngomel apapun. Badan panas, kepala pusing, buka mata saja aku nggak kuat, apalagi mau ngomel.

Jumat sore sempat takut kalau kena Covid-19, duh deg-degan banget deh hari Jumat itu. Sampai udah ngasih wejangan ke kakaknya kalau misal aku dibawa ke rumah sakit, nanti harus begini begitu ya. Kakak cuma mengangguk-angguk sambil bilang ke adiknya, “nanti Affan harus manut sama kakak lo kalau ditinggal ayah bunda.” Dan tiap kali si kakak ngegas ke adiknya aku hanya bisa menahan tawa. Gayanya persis banget sama emaknya. Memang ya, anak-anak itu cermin.

Sabtu, 11 April 2020 

Hari Sabtu pagi badan sudah agak mendingan. Tapi kepala tetep pusing. Jadilah yang tadinya mau menyelesaikan beberapa kerjaan harus tertunda. Gluntungan aja di kasur. Semua urusan anak-anak masih ayahnya yang ngerjain. Bahkan termasuk tumpukan piring-piring kotor juga disikat dengan tuntas oleh ayah. Alhamdulillah bersyukur dikasih suami yang nggak segan-segan turun tangan ngerjain domestic stuff. Hari ini juga nggak banyak drama karena anak-anak lihat emaknya sakit juga jadi kalem.


Minggu, 12 April 2020

Hari Minggu pagi sudah agak mendingan tapi tetap masih belum kuat beraktivitas berat. Seharusnya hari Minggu adalah jatah ke pasar untuk mengisi kulkas yang semakin kosong, tapi karena kepala masih berat jadilah jadwal ke pasar di-skip. Hari itu aku melakukan self-talk, bahwa hari ini adalah hari terakhir boleh sakit, besok kakak sudah mulai sekolah di rumah lagi, ayah juga udah ngantor lagi seperti biasa, jadi sehat is must!

Alhamdulillah Minggu siang sudah sangat membaik. Demam sudah hilang. Pusing sudah lenyap. Bahkan sudah bisa berhadapan lagi dengan laptop dan menyelesaikan beberapa tulisan. Tapi sore harinya, tiba-tiba paha bagian kiri seperti tersengat sesuatu. Kupikir karena kesetrum headset yang memang ada bagian agak terbuka, kadang suka nyetrum pipi saat dipakai. Saat itu headset sedang tak dipakai, tapi menjulur ke bawah di bagian paha. Tapi entahlah paha tiba-tiba sakit karena kesetrum atau ada serangga kecil yang mengigit area tersebut.

Badan yang tadinya udah enakan mendadak jadi pating greges lagi. Paha rasanya seperti terbakar. Lalu memerah. Akhirnya kupakai untuk beristirahat lagi.

Senin, 13 April 2020

Alhamdulillah Senin sudah membaik, cuma area merah di paha semakin meluas dan meradang. Rasanya juga sangat gatal. Semakin digaruk, semakin melebarlah area yang meradang. Cari-cari info di beberapa web kesehatan, kemungkinan kondisi seperti itu karena digigit tomcat. Meski gatalnya tak tertahankan, tapi aku bersyukur karena badan sudah bisa diajak beraktivitas. Pagi itu hanya berharap semoga dengan badan yang sehat, mulutnya juga nggak jadi semangat ngomel lagi, wkwk.

Hari Senin seperti biasa Kak Ifa memulai sekolah di rumah dengan beberapa aktivitas: murojaah, setoran hafalan, menulis ayat, mendengarkan kisah dan khusus di hari Senin ada tugas life skill membantu orangtua di rumah.

Hari itu kak ifa memilih sendiri mau merapikan kamar, mencuci piring dan menemani Affan main. Semua tugas sekolah di rumah hari ini berjalan dengan lancar. Nggak terlalu banyak drama. Ifa dan Affan juga nggak banyak bertengkar hari ini. Alhamdulillah bisa tahan untuk nggak ngomel hari ini.

Selasa, 14 April 2020

Masih dengan tugas sekolah yang secara kasat mata sama, tapi sedikit berbeda. Hari Selasa ini Kak Ifa mendapat jatah setoran hafalan via video call dengan ustazah. Waktu hafalan denganku, alhamdulillah sudah bisa lancar. Namun mulailah drama… entahlah aku juga heran, Kak Ifa kalau disuruh video call ke ustazahnya langsung mengkeret begitu. Suaranya yang menggelegar tiba-tiba hilang.

Sampai kadang aku sengaja menjauh dulu, siapa tahu dia nggak pede gara-gara kehadiranku, ternyata setelah aku pergi sama saja suaranya nggak keras. Sampai ustazahnya minta ulang berkali-kali karena nggak kedengaran Ifa ngomong apaan. Duh, biasanya kalau pas dapat jatah setor hafalan begini, mulutku sudah nggak bisa tahan ngoreksi ini begini, ini begitu. Tapi alhamdulillah hari itu aku bisa tahan nggak ngomel. Wow, itu prestasi.

Saat video call usai, kulihat kak Ifa manyun. Sebelum masuk ke sesi belajar berikutnya, kuapresiasi dulu karena dia berhasil dan berani video call ke ustazah. Kuberikan senyum ceria dan menahan keinginanku untuk ngomel. Alhamdulillah nggak lama kemudian kak Ifa sudah senyum lagi dan siap belajar materi lain. Dan aku bahagia karena berhasil menahan lidah, yippie.

Rabu, 15 April 2020

Hari ini juga alhamdulillah nggak banyak drama. Semua berjalan dengan smooth dan lancar. Lidah pun bisa dikekang untuk nggak ngomel meski rumah berantakan agak di atas rata-rata hari ini. Alhamdulillah artinya anak-anak hari ini nggak banyak di depan laptop dan anak-anak sehat walfafiat, makanya gerak terus dari pojok depan ke pojok belakang.

Puasa pekan ketiga kubilang cukup berhasil. Meski bisa dikatakan berhasilnya karena separuhnya terbantu oleh badan yang drop. Namun selanjutnya cukup baiklah untuk nggak ngomel berlebihan alias ngegas tak pada tempatnya.

Baru aja puasa pekan ketiga selesai, hari Kamisnya aku ngegas lagi ke kak Ifa. Gara-garanya karena waktu setor hafalan dan ada yang nggak benar, diminta ulang nggak mau. Udah gitu tangannya usil gangguin adiknya, alhasil adiknya nangis. Emak yang spaneng karena hari itu jatah setoran ke ustazah, sementara anaknya malah lagi bad mood gitu, jadi lepas kontrol deh.

Wuih, memang yaaks merubah karakter yang udah mendarah daging itu susah beneer, latihannya nggak bisa sepekan dua pekan. Maka next week, di puasa pekan terakhir aku masih akan fokus pada menahan lidah yang tak bertulang untuk nggak ngegas ke anak-anak.


Btw, tantangan 30 hariku masih terus berlanjut, meski masih tetap tak tercatat jurnal hariannya. Aslik bisa konsisten nulis sehari satu post di sela-sela ngerjain artikel klien saja sudah prestasi tersendiri buatku, jadi sungguh ku kibar bendera putih kalau harus bikin jurnal hariannya juga. #alesan!

So, apakah aku bisa lolos ke tahap berikutnya, entahlah… kok aku nggak yakin. Ini jurnal aja udah mepet banget dibuatnya, sempet setor ke formnya nggak ya?

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter