MaritaPalace

Surat untuk Ibu…


Bu, meski dunia kita sudah berbeda
Aku masih mengingat tanggal istimewa ini
Engkau sangat suka memberi kado
Juga suka menerima kado
Aku bahkan masih menyimpan dompet pertama
Yang kau belikan untukku
Saat aku mulai menerima uang saku pertama bulananku
Dan engkau pun menyimpan semua kado pemberianku
Bahkan lengkap dengan kartu ucapannya
Semua masih tersimpan dengan sangat rapi.


Saat hari itu kau berpulang padaNya
Aku membuka semua barang-barang yang kau simpan
Sungguh terharu rasanya saat melihat
Semua yang pernah kuberi, kau simpan sangat rapi
Padahal barang-barang yang kuberikan untukmu
Sama sekali bukan hal-hal mewah
Bukan hal-hal besar
Namun engkau menyimpannya dengan begitu indah
Engkau selalu tahu bagaimana memperlakukanku dengan istimewa
Meski saat engkau masih ada, aku seringkali tak memahaminya


Kita malah lebih sering berdebat
Atau berperang mulut
Tak jarang kau memilih mengalah
Lalu kita saling berdiam diri berhari-hari


Bu,
Di tanggal kelahiranmu tahun ini
Aku meradang karena rindu
Tahun ini sungguh berbeda
Menyeramkan…
Rasa-rasanya aku ingin bersembunyi di balik pelukanmu
Aku rindu kau mengelus rambutku, sambil berkata…
“Nggak apa-apa Nduk, semua akan baik-baik saja.”


Lima hari lagi puasa, Bu…
Ini akan menjadi ramadhan kelimaku tanpa kehadiranmu
Juga ramadhan pertama yang akan dilakukan dengan cara yang sangat berbeda
Tarawih dan sholat ied kemungkinan besar tidak akan bisa dilaksanakan, Bu
Covid membuat kami harus di rumah saja
Belajar, bekerja dan beribadah di rumah saja


Bu,
Kondisi ini semakin membuatku rindu padamu
Lebaran yang biasa menjadi pelipur lara
Karena bisa berkumpul dengan Bani Soenardhi
Kini kemungkinan harus kulewati bersama keluarga kecilku sendiri
Andai saja masih ada dirimu…


Ah, tidak Bu..
Bukankah berandai-andai hal yang tak baik
Hanya menjadi angan kepanjangan
Tanpa penyelesaian.

Takdir Allah senantiasa yang terbaik
Termasuk juga kepergianmu waktu itu
Satu minggu setelah cucu laki-laki yang kau harapkan lahir
Belum sempat kau memeluknya
Belum sempat kau melihatnya
Belum sempat kau mengusap tubuh kecilnya
Kau pergi dalam senyum terbaik
Sudah tak sakit lagi ya, Bu…


Jujur di masa pandemic ini aku banyak bersyukur, Bu
Sungguh sudah tepat sekali takdir Allah
Apa jadinya jika hingga detik ini Engkau masih ada, Bu
Dengan badan ringkihmu
Dengan penyakitmu
Tahun ini engkau memasuki angka ke-60
Usia rentan terhadap wabah yang sedang menerjang negeri ini


Aku tak bisa membayangkan jika harus melepaskan
Orang-orang terkasih pergi di masa pandemic ini
Sungguh menyayat, protokol pemakaman yang berbeda
Memang sungguh takdir Allah yang paling tepat
Karena tahu aku tak akan kuat
Meski kini aku merindumu dengan sedemikian dahsyat


Bu,
Sekali saja hadirlah di mimpiku
Kadang aku bertanya-tanya
Apakah engkau tak ridho padaku bu?
Hingga tak pernah sekalipun datang di mimpiku?
Aku ingin melihat senyummu
Aku ingin mendengar suaramu memanggilku
Aku ingin sekali memastikan kalau engkau bahagia


Tapi,
Sudah pasti engkau bahagia kan Bu?
Karena tak sakit lagi
Karena tak perlu lagi menghadapi anakmu yang nakal ini
Karena telah bersamaNYA
Engkau perempuan terhebat, terbaik, terluarbiasa
Semoga Allah lapangkan kuburmu..
Semoga Allah hapuskan dosa-dosamu..
Semoga Allah terima semua kebaikanmu..


Ibu,
Ini hari lahirmu
Dan aku rindu..
Al fatihah kukirimkan untukmu
Semoga sampai padamu, bu

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email