Puasa di Masa Covid-19 vs Puasa di Masa Non Covid-19

puasa di masa covid-19

Assalammualaikum, pals!

Puasa di masa covid-19 berat atau tidak, pals? Bisa jadi berat. Bisa jadi justru jauh lebih enteng dalam beribadah karena gangguan duniawi jadi lebih sedikit. Yang biasanya ada undangan buka bersama di sana-sini, saat masa seperti ini, buka bersama tentu saja di rumah saja kan? Namun bisa juga terasa lebih berat. Pastinya setiap individu punya pendapat dan pandangannya masing-masing.

Kalau menurutku sih, ada beberapa perbedaan yang kurasakan antara puasa di masa covid-19 dengan puasa di hari-hari biasa.

Pertama, Tidak Ada Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Ada tradisi di masyarakat Jawa menjelang ramadhan yaitu berziarah kubur menjelang ramadhan datang. Namun pada ramadhan kali ini aku skip melakukannya untuk menghindari kerumunan. Karena makam tempat bapak ibu dan adikku bersemayam terletak di kampung yang masih sangat menjunjung tinggi adat ini. Plus di kampung ini masih banyak yang belum teredukasi tentang covid-19 dengan baik. Jadi bisa kutebak pasti menjelang ramadhan kemarin, komplek pemakaman tersebut pasti ramai dikunjungi.

Selain ziarah kubur, ada tradisi unik lainnya yaitu padusan. Kalau orang kota mungkin padusannya di kolam renang ya, hehe. Dulu sewaktu masih tinggal di Salatiga, biasanya warga melakukan padusan di Senjoyo, mata air terkenal di kota tersebut. Airnya segar dan bening. Aku pernah sekali diajak padusan ke Senjoyo oleh mbak yang kerja dengan ibu waktu aku masih duduk di bangku SD. Sampai rumah aku dan si mbak dimarahi karena pergi nggak izin, hehe.

Kedua, Tidak Bisa Ngabuburit dan Buka Bersama

Perbedaan mencolok lainnya yaitu aku nggak bisa ngabuburit. Biasanya di saat weekend, suami suka ngajak cari buka bersama di luar rumah. Namun dengan adanya covid-19, kami buka bersama di rumah saja deh dengan menu seadanya juga.

Oh ya, di kantor suami juga biasanya tiap ramadhan mengadakan buka bersama, namun tahun ini buka bersama tentu saja ditiadakan. Sedih sih, soalnya momen buka bersama ini jadi ajang ngumpul semua keluarga besar SIM RSWN. Nggak cuma karyawan, namun juga dengan seluruh keluarganya. Dari yang awalnya masih single, sampai sekarang sudah punya ‘buntut’. Setiap tahun selalu ada anggota keluarga baru, seru. Semoga saja next year bisa kumpul-kumpul lagi ya teman-teman keluarga besar SIM RSWN.

puasa di masa pandemi covid

Ketiga, Tidak Bisa Tarawih di Masjid

Meski ada beberapa masjid yang masih mengadakan tarawih, namun aku memilih bertarawih di rumah, berjamaah dengan suami dan anak-anak. Kalau kata ustaz Budi Ashari, jangan melakukan sesuatu berdasarkan keragu-raguan. Jadi karena yakinnya di rumah saja, ya sudah shalat di rumah saja deh.

Selain itu di beberapa masjid yang melaksanakan tarawih, ada beberapa yang sengaja melebarkan shaf demi menjaga jarak. Sementara dari kajian Ustaz Adi Hidayat, aturan shaf dalam sholat tidak bisa diganti, harus tetap rapat meski ada pandemi. Jika memang khawatir dengan adanya virus, lebih baik melaksanakan shalat di rumah saja. Karena hal itu jugalah, aku memilih sholat di rumah saja.

Keempat, Tidak Ada Sekolah Ibu

Sudah beberapa tahun ini, di lingkunganku setiap ramadhan mengadakan Sekolah Ibu. Yaitu kajian khusus muslimah yang dilakukan kurang lebih 7 hari di awal ramadhan. Materi dan narasumbernya selalu keren dan ndaging banget, sehingga sayang untuk dilupakan. Namun karena situasi ini, Sekolah Ibu tidak diadakan pada ramadhan 1441 H.

Kelima, Tidak Bisa I’tikaf

Pada 10 hari terakhir ramadhan yang lalu aku sangat senang karena bisa menjalani i’tikaf di masjid untuk pertama kalinya dalam hidup. Kupikir akan ribet I’tikaf bareng anak-anak, masya Allah ternyata anak-anak sangat menikmati. Kami sudah berencana untuk beri’tikaf lagi di ramadhan ini. Namun ternyata Allah belum mengabulkannya karena tahun ini kami harus menikmati ramadhan di rumah saja.

Itulah 5 hal yang kurasakan sangat berbeda selama puasa di masa covid-19. Kalau kalian punya cerita apa di bulan puasa selama pandemi ini, pals?

Wassalammualaikum.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. alhamdulillah.. di masjid saya masih bisa tarawih

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email