MaritaPalace

My Book Worm’s Journey

kutu buku sekarat mengaku suka membaca tapi jarang


Membicarakan buku tak akan pernah ada habisnya. Buku adalah teman perjalanan. Buku adalah sahabat setia membunuh waktu saat menunggu. Buku adalah loncatan-loncatan cerita yang selalu mampu menghadirkan warna-warni dalam imaji. Buku buatku adalah cinta, namun juga sekaligus rindu. Ya, kemudahan teknologi terkadang menyekapku.

Aku seringkali lupa dengan wangi kertas yang selalu kusukai, dan memilih melihat gambar-gambar bergerak yang tayang di layar ponselku. Jauh di dalam hatiku… aku rindu. Rindu bahwasanya hidup bisa lebih sederhana seperti dulu. Tak perlu hingar bingar media sosial, tak perlu keinginan menengok grup-grup whatsapp berkali-kali. Dan inilah cerita tentang kutu buku yang hampir sekarat.

Menumbuhkan dan Menjaga Habit Membaca

Dari kecil aku cukup akrab dengan aktivitas membaca. Almarhumah ibuku yang seorang guru SD mungkin tak punya banyak teori soal pentingnya membaca, ibuku juga tak perlu banyak perintah untuk mengajakku mencintai kegiatan membaca.

Cukup dengan sering melihat beliau membaca buku, majalah, dan tabloid di waktu-waktu senggangnya, juga saat sedang bepergian naik bus atau menunggu antrian di ruang-ruang publik, aku pun mengikuti kebiasaan itu.

Aku menguasai skill membaca beberapa bulan setelah duduk di bangku sekolah dasar. Guru kelas 1 SD-ku yang begitu sabar menyempurnakan latihan membacaku di rumah bersama ibu. Sebagaimana janji ibu padaku, jikalau aku telah bisa lancar membaca, ibu akan berlangganan Bobo untukku. Aah, senangnya hatiku setiap kali jadwal Bobo terbit. Bagaikan ketemu pangeran tampan yang turun dari kuda putih.


Begitu Bobo sampai di tanganku, aku selalu tak sabar untuk segera menghabiskan setiap lembarannya. Bahkan meski sudah tiba waktu tidurku, dan ibu mengubah lampu kamar menjadi redup, aku diam-diam membaca di dalam temaramnya malam. Rasanya tak bisa tidur nyenyak kalau Bobo tak dituntaskan malam itu juga. Akibatnya? Mataku rusak.

Bu Sri, guru kelas 1 SD-ku yang sabar itu, rupanya mengamati gerak-gerikku dalam keseharian. Aku seringkali tak berhasil membaca tulisan di papan tulis saat mendapat jatah duduk di bangku belakang. Bu Sri lalu memberitahu ibu tentang hal ini dan aku diajak menemui dokter mata. Voila, aku harus pakai kaca mata. 1/2 dan 3/4 adalah minus mata pertamaku. Bagaimana sekarang? Jangan tanya, nanti kalian kaget! Wkwk.

Selain Bobo, ibu juga sering membawakan buku-buku dari perpustakaan sekolahnya ke rumah. Tak hanya ibu, eyang putriku juga rajin membawakan oleh-oleh buku saat berkunjung ke rumah. Bahkan seringkali memintaku menceritakan ulang buku yang sudah kubaca. Lalu tak jarang eyang putri juga memberiku beberapa pertanyaan terkait isi buku tersebut. Buat anak-anak lain mungkin membosankan, tapi tidak untukku. Buatku itu semacam quiz yang menantang.

Sampai duduk di sekolah lanjutan bahkan kuliah, buku tak pernah lepas dari tangan. Buku dan majalah sastra, Horison salah satunya, adalah bacaan-bacaan favorit zaman sekolah dan kuliah. Bacaan-bacaan itu sangat mendukung aktivitasku, karena saat SMA dan kuliah mengambil jurusan bahasa sebagai jalan ninjaku. Selain itu aku juga aktif berteater, buku membantuku dalam mendalami karakter peran-peran yang akan kumainkan.

Setelah bekerja pun, aku masih rutin menyambangi Gramedia, dan setiap bulan menyempatkan membeli satu buah buku ataupun Horison, yang kini sudah tak terbit. Meski jam membacaku tentunya tak sepadat saat masih kuliah. Namun titik sekaratku sebagai kutu buku terjadi saat aku bermetamorfosa menjadi ibu.

Urusan domestik yang tiada habisnya hingga sempat mengalami gejala post-partum depression, membuatku berjarak dengan buku-buku. Namun kemudian aku kembali berdekatan dengan buku lebih intens saat tertarik pada buku-buku anak yang sangat menarik. Buku-buku yang dulu hanya bisa menjadi impianku, dan yang saat itu dengan sedikit menabung dari hasil berjualan buku, bisa kuhadirkan untuk anakku. Senangnya bisa membangun perpustakaan mini untuk si kecil.


Aku mulai rajin membaca kembali. Lebih tepatnya sih membacakan buku untuk anakku. Ifa, anak pertamaku, tak akan bisa tidur nyenyak jika belum dibacakan cerita. Tak hanya satu atau dua buku, kadang aku dan ayahnya harus membacakan 10 buku anak-anak sampai akhirnya berhasil membuatnya tertidur pulas. Sampai sekarang, alhamdulillah Ifa masih senang membaca. Dari pengalaman masa kecilku dan juga saat membersamai Ifa, aku bisa menyimpulkan bahwa untuk menumbuhkan minat baca pada anak dibutuhkan keteladanan dari orangtuanya.

Karena tetap ingin menjadi teladan bagi anak-anakku, aku kembali mengikuti Reading Challenge. Aku sadar diri punya jiwa yang senang berkompetisi. Dengan adanya tantangan membaca, aku jadi bisa menggugah motivasi membacaku yang mulai redup. Terkadang memang untuk menjaga minat membaca dibutuhkan paksaan, hingga nanti bisa kembali menjadi habit seperti sebelumnya.

Penulis Buku Favorit


Membicarakan tentang penulis buku favorit, sebenarnya sangat beragam. Zaman kuliah dulu, salah satu penulis favoritku adalah Seno Gumira Ajidarma. Tahu dong pastinya sosok fenomenal satu ini? Buatku tulisan-tulisan Seno sangat asyik dibaca, butuh sedikit menelaah, namun pilihan diksinya tak terlalu rumit pula.

Selain Seno, aku juga menyenangi karya-karya dari Hanum Rais dan Tere Liye. Karya Hanum Rais buatku memiliki magis tersendiri. Entah sebagai buku bacaan ataupun ketika dibentangkan sebagai karya lebar, Hanum Rais selalu mampu mengemasnya dengan begitu menarik. Aku tak pernah bosan membaca buku-bukunya, seperti tak pernah bosan menikmati film-filmnya.

Tere Liye juga termasuk penulis favorit yang karya-karyanya selalu bisa membuatku angkat topi. Setiap kali membaca hasil karyanya, aku tak pernah bisa berhenti sejenak. Selalu penasaran apa yang akan terjadi dengan para tokohnya. Aku juga selalu dibuat misuh-misuh, dalam arti kata positif tentunya, saking gemes membaca bagaimana Tere Liye menyusun alur dalam karya-karyanya.

Qodarullah saat di satu titik aku pernah berencana menggantungkan sepatu dari dunia tulis-menulis dan melupakan impian untuk menerbitkan buku solo, aku bisa mendengar wejangan dari Tere Liye secara langsung. Meski tak sempat meminta foto ataupun tanda tangan, namun wejangannya hingga kini masih terngiang-ngiang.
“Yakinlah, kalau kalian semua yang ada di sini kelak akan duduk di tempat saya duduk.”
Itu salah satu yang kukenang. Tere Liye juga mengajarkan tentang pentingnya riset sebelum menulis. Bahkan katanya, waktu yang digunakan untuk riset jauh lebih panjang daripada proses menulisnya. Aah, lalu apa kabar dengan riset untuk buku soloku yang tak juga mulai?

Sementara untuk ranah non fiksi, saat ini aku selalu dibuat kagum dengan tulisan-tulisan Ustaz Budi Ashari, Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Teh Kiki Barkiah dan Ustaz Fauzil Adhim. Tulisan-tulisan mereka sangat bernas dan menenangkan hati. Selalu pas untuk dibaca ulang saat jiwa sedang kering kerontang dan butuh siraman menyejukkan.

Genre Buku Favorit

Bisa dikatakan ada perubahan signifikan yang kurasakan sejak menjadi ibu. Jika dulu aku sangat menikmati karya-karya fiksi, kini aku sedikit gagap berdekatan bersama mereka. Rasanya aku butuh membaca dua hingga tiga kali baru benar-benar bisa memahami dan memaknai isi cerita. Beda saat masih kuliah atau sekolah dulu, rasanya lebih mudah mencerna pilihan-pilihan diksi yang kadang membuat kening berkerut, tapi asyik dan menarik.

Kini aku lebih menikmati membaca buku-buku non fiksi dengan genre parenting ataupun self improvement. Padahal dulu saat sekolah buku non fiksi terasa menjemukan, namun kini justru menjadi jendelaku untuk tahu lebih banyak tentang dunia-dunia yang memang sangat dekat dengan hari-hariku.

Sekarang ini mengasuh anak dan membasuh luka adalah tema-tema favorit saat aku bergerilya buku baru. Butuh inspirasi soal parenting? Cuzz tengok tujuh buku parenting favoritku.

Sekilas tentang Buku Favoritku

Meski aku kini lebih menikmati dan menjiwai buku-buku bergenre parenting, namun Tentang Kamu besutan Tere Liye tetap menjadi buku favorit hingga hari ini. Buku ini mampu menggeser kedudukan kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma di hatiku.

Saat membaca Tentang Kamu, aku dibuat terperangah oleh susunan kata yang menjadi alur begitu indah. Ada beberapa tebakanku yang meleset dan membuatku terperangah. Kok bisa sih Tere Liye berpikir sedemikian runtut. Buku ini juga berhasil membuatku lupa makan, lupa minum, bahkan lupa anak dan suami, saking fokus ingin menuntaskan isinya hanya dalam sehari. Dan memang akhirnya buku setebal 524 halaman itu berhasil kutuntaskan dari pagi hingga menjelang dini hari.

Meski dalam sehari tuntas, namun aku gagal move on dari buku itu hingga berhari-hari. Cerita kehidupan Sri Ningsih terasa begitu nyata dan membuatku merasa sosok itu benar-benar ada. Tak hanya Tentang Kamu, karya Tere Liye yang lainnya, Rindu, juga salah satu buku yang mampu menggedor-gedor kalbuku.

Dari Rindu aku belajar bahwasanya hidup selalu penuh dengan pertanyaan dan rahasia-rahasia. Apakah kita berani menjawab semua pertanyaan itu dan juga beranikah kita mengungkap setiap rahasia yang kita genggam?

Buku yang mampu membuatku meneteskan air mata saat membalik lembar demi lembarnya. Seperti ada yang menusuk-nusuk jiwaku. Setiap kisahnya entah kenapa begitu relate dengan apa yang kurasa saat itu.

Aaah, benarkan menceritakan buku dan membaca itu akan susah untuk berhenti. Bahkan untuk kutu buku yang sedang sekarat sepertiku, membaca tetap menjadi aktivitas yang selalu istimewa. Sudahlah, kita ketemu kapan-kapan lagi ya… ada banyak buku yang tiba-tiba melambaikan tangannya padaku. Mereka sepertinya rindu kusentuh dan kueja abjad demi abjadnya. Apalagi itu yang di sebelah sana, masih rapi dalam bungkusan. Meringkuk, seperti merasa tak dicintai. Seakan-akan berkata…
Kenapa sih kau beli aku, jika pada akhirnya tak ada waktu untuk bercengkrama denganku?
Kalau kalian kutu buku full energy atau typical kutu buku sekarat sepertiku nih, pals? Yang jam bacanya sudah susah diprediksi, sering terkalahkan dengan gadget dan drama korea.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email