Imperfect: Dari Insecure Menjadi Bersyukur

review film imperfect; cinta, karir dan timbangan
Kuakui film-film besutan Ernest Prakasa selalu memiliki daya tarik tersendiri, termasuk juga Imperfect. Cerita-cerita yang diangkat Ernest selalu ada nilai yang dikandungnya. Sebenarnya secara plot sih endingnya sudah bisa tertebak, namun enak saja menikmatinya. Ringan, pas dan nggak perlu banyak mikir saat menonton, tapi kita bisa sambil senyum-senyum sendiri, manggut-manggut lalu bilang, ah iya juga ya.

Film yang rilis pada 19 Desember 2019 ini sedikit berbeda dari film Ernest lainnya. Perbedaannya karena film ini diambil dari novel sang istri tercinta, Meira Anastasia berjudul Imperfect: A Journey to Self-Acceptance. Bahkan skenario film ini pun banyak ditulis oleh Meira ketimbang Ernest. Makanya sentuhan rasa dari sisi ceweknya dapat banget. Apalagi film ini memang menceritakan tentang insecurity dari kebanyakan para perempuan.

Berbeda dengan novelnya, judul film ini diubah menjadi Imperfect: Karir, Cinta dan Timbangan. Dari judulnya sendiri sudah sangat menggambarkan apa saja yang akan dibahas di film ini. Namun lagi-lagi harus kutekankan, meski alurnya sangat mudah tertebak, endingnya pun sudah bisa diterka arahnya seperti apa, namun film ini sangat layak dinikmati karena banyak nilai yang bisa membuat kita tersadar untuk melakukan perubahan dalam hidup.

Di Balik Layar Imperfect


sutradara imperfect, ernest prakasa dan meira anastasia, istrinya
Film yang diangkat dari novel Meira Anastasia ini sejatinya ditulis berdasarkan pengalaman Meira sendiri. Bagaimana awalnya Meira pernah merasa insecure dengan kondisinya dan saat menemani Ernest yang semakin meroket karirnya. Namun karena dukungan Ernest, Meira pun menemukan potensi dirinya dan tak lagi mengkhawatirkan omongan orang tentang dirinya.

Sounds familiar, isn’t it? Insecurity hampir selalu membayangi perempuan. Apalagi sebagai perempuan seringnya kita dinilai dari penampilan. Perempuan dikatakan cantik jika memiliki standar seperti ini; rambut hitam lurus, kulit putih mulus, badan tinggi dan kurus. Padahal Allah saja menciptakan manusia aneka rupa. Nggak semua manusia lahir dengan warna kulit putih. Banyak manusia lahir dengan rambut ikal dan keriting. Ada manusia yang memang sejak lahir sudah memiliki genetik gemuk. Apa mereka tak layak disebut cantik?

Tema itulah yang coba diangkat oleh Meira dan Ernest di film ini. Terbukti tema ini laris manis. Didukung dengan alur yang menarik dan kualitas para aktor yang jempolan, di hari ke-26 film ini tayang berhasil mengalahkan Dua Garis Biru sebagai film terlaris di peringkat kedua. Film ini juga mendapat beberapa penghargaan, antara lain; Maya Award for Best Adapted Screenplay, Maya Award for Best Makeup & Hairstyling. Keren kan?

Dua pemeran utama film ini dimainkan oleh Jessica Mila yang juga bermain di Bridezilla dan aktor seribu film, Reza Rahadian. Untuk memerankan tokoh Rara di film ini Jessica Mila melakukan effort yang berkali lipat karena dia harus menaikkan berat badannya. Sebuah usaha yang maksimal dan nggak main-main.

pemeran utama dan pendukung imperfect
Sementara Reza? Rasanya nggak ada yang bisa meragukan kepiawaian akting doi. Meski mungkin kadang kita merasa bosan karena hampir semua film ada si Reza, tapi ya mau gimana lagi… memang kece sih aktingnya. Jujur aku seneng sih lihat akting Reza di sini. Karena kemarin-kemarin lihat doi di Habibie Ainun dan sempat kelihatan terjebak pada karakter Habibie. Di film ini, akting Reza sebagai Dika terlihat ringan.

Selain dua aktor kenamaan tersebut, film terakhir Ernest dengan Starvision Plus juga didukung oleh nama-nama yang tak kalah keren, sebagai berikut:

  • Yasmin Napper sebagai Lulu
  • Dion Wiyoko sebagai Kelvin
  • Karina Suwandi sebagai Debby
  • Kiki Narendra sebagai Hendro
  • Shareefa Daanish sebagai Fey
  • Dewi Irawan sebagai Ratih
  • Ernest Prakasa sebagai Teddy
  • Clara Bernadeth sebagai Marsha
  • Boy William sebagai George
  • Karina Nadila sebagai Irene
  • Devina Aureel sebagai Wiwid
  • Kiky Saputri sebagai Neti
  • Zsazsa Utari sebagai Maria
  • Aci Resti sebagai Prita
  • Neneng Risma sebagai Endah
  • Uus sebagai Ali
  • Diah Permatasari sebagai Nora
  • Wanda Hamidah sebagai Magda
  • Olga Lydia sebagai Monik
  • Asri Welas sebagai Siska
  • Tutie Kirana sebagai Melinda
  • Cathy Sharon sebagai Sheila
  • Reza Nangin sebagai Dokter IGD

Pemeran pendukung di film ini meskipun beberapa banyak yang tampil sebentar-sebentar, namun kekuatan karakternya membuat pesan film ini semakin menghebat. Aku sih paling suka dengan 4 gadis yang tinggal di kos-kosan ibunya si Dhika; Neti, Maria, Prita dan Endah. Celotehan-celotehan dan tampilnya mereka di film ini tuh natural, tapi jleb banget.

Sinopsis Singkat Imperfect

sinopsis imperfect tentang insecurity rara
Film ini bercerita tentang Rara yang sejak lahir memang secara genetik lebih mirip dengan ayahnya, berambut keriting, badan berisi dan berkulit hitam. Berbeda dengan Lulu, adiknya, yang sejak baby sudah menarik perhatian orang karena kulit putihnya, mirip seperti sang ibunda.

Sang Ayah selalu menguatkan Rara bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Namun di satu sisi, sang ibu yang mantan model sangat memperhatikan penampilan. Rara tidak boleh makan terlalu banyak, nggak boleh sering-sering makan cokelat. “Awas pahamu, Ra,” kalimat kesayangan sang ibunda yang selalu mampir ke telinga Rara. Kalimat yang mungkin terdengar biasa buat sang ibu, namun sangat menusuk di hati Rara.

Selama masih ada ayahnya, Rara merasa aman karena sang ayah selalu membela dan menguatkannya. Namun suatu hari, sang ayah meninggal dalam sebuah kecelakan di tol Jagorawi. Rara pun kehilangan pelindungnya. Dia merasa semakin terkucil dan tersudutkan dengan sikap ibunya. Di matanya sang ibu hanya sayang pada Lulu, adiknya yang putih dan cantik.

Rara dewasa tumbuh menjadi sosok yang tidak memperhatikan penampilan. Berteman dengan Fey yang tomboy, bagi mereka, isi otak jauh lebih penting daripada penampilan. Selain Fey, pendukung utama Rara adalah kekasihnya, Dhika. Cowok yang nggak pernah mempermasalahkan rambut, badan dan warna kulit Rara. Namun Rara masih merasa hidupnya kurang.

dhika dan rara dalam imperfect the movie
Salah satunya karena merasa tidak disayang oleh ibunya, selalu dibandingkan dengan adiknya. Apalagi kalau teman-teman mamanya yang mantan model datang ke rumah. Rara seperti berada di neraka.

Ia semakin merasa hidup tak adil untuk dirinya ketika Kelvin, bos tempat dia bekerja sebenarnya menunjuk dirinya sebagai manajer pemasaran yang baru karena kualitas kinerjanya mumpuni. Namun karena penampilannya yang ala kadarnya, Kelvin nggak berani mengambil resiko. Malathi, tempat Rara bekerja, adalah brand make up lokal yang sedang turun pasarannya. Apa jadinya ketika manajer pemasarannya adalah ‘itik buruk rupa’?

Inilah titik balik insecurity Rara. Dia merasa harus berubah. Dia nggak mau hanya karena penampilannya orang-orang meremehkan kemampuan dirinya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa. Dia memohon kepada Kelvin untuk memberinya kesempatan. Dalam jangka waktu sebulan, Rara harus menunjukkan perubahan tersebut. Akhirnya dibantu oleh sang adik, dia diet super ketat dan mencapai apa yang diharapkannya.

Lantas apakah perubahannya bisa membuat Rara bahagia? Apakah Dhika menerima perubahan yang terjadi pada diri Rara. Nggak seru lah ya kalau diceritakan komplet. Cuzz cari deh filmnya. Katanya sih sudah tayang di Netflix sejak 9 Juli 2020.

Insight yang Kudapat dari Imperfect

Drama keluarga dan drama komedi adalah dua genre film favoritku. Meskipun aku juga suka sih nonton film dengan genre thriller, asal bukan horor, wkwk. Intinya aku suka nonton film yang sarat dengan hikmah dan nilai, nggak sekedar tayangan yang bisa menghibur.

Nah, dari film yang salah satu original soundtracknya dinyanyikan oleh Fiersa Besari dan sekarang menjadi salah satu lagu favoritku, aku mendapat beberapa insight keren berikut ini:

1. Stop Membandingkan Anak

hentikan membandingkan anak dengan anak lain
Dibandingkan dengan orang lain itu sama sekali nggak enak. Apalagi ketika dibandingkan dengan saudara kandung sendiri. Ih, kok adiknya lebih putih ya. Ih, kok kakaknya lebih cantik ya. Kakaknya pintar, kok adiknya bodo sih.

Celotehan-celotehan yang nggak punya akhlak begini sering banget keluar dari emak-emak rumpi. Kadang ringan banget nggak sih keluar dari mulutnya, tanpa berpikir panjang bahwa celotehan tersebut bisa menyakiti hati orang lain. Apalagi jika hal tersebut keluar dari orangtua kandung, dan terjadi bertahun-tahun.

Itulah yang dialami oleh Rara. Meski sang ibundanya tak bermaksud demikian, namun Rara melihat semua sikap ibunya lebih sayang kepada Lulu. Hal ini menjadi pengingat buat diriku sebagai orangtua agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan apresiasi. Bahwa saat mengapresiasi anak, akan lebih bijak ketika kita mengapresiasi usahanya, bukan mengapresiasi fisiknya.

Fisik itu adalah anugerah Allah. Apapun yang ada di dalam diri kita itu sudah yang paling pas. Sebagai orangtua kita harus menerima anak-anak selengkapnya, mau mereka hitam putih, lurus keriting, kurus gendut. Nilai anak-anak bukanlah ditentukan pada fisik mereka.

2. Kualitas Diri Ditentukan Oleh Isi Otak dan Hati

beauty inside and outside should be balance
“Andai saja kamu sama Marsha bisa merger. Pasti kece nggak sih? Otaknya dari kamu, penampilannya dari Marsha.” Celetukan Kelvin kepada Rara bikin gemes banget. Memang kalau sudah jadi bos kudu banget ya ngomong tanpa mikir dulu begitu?

Jadi si Marsha and the gank ini karyawan-karyawan kantor yang setiap jalan ke kantin selalu jadi pusat perhatian cowok-cowok. Mereka adalah perempuan-perempuan yang menghamba pada penampilan, namun secara isi otak kalah telak dengan Rara dan Fey.

Di film ini ditampilkan pula bagaimana ketika Rara lagi cari tempat duduk untuk makan dan ditolak hanya karena tubuhnya. Sementara Marsha tanpa harus mencari, sudah banyak yang menawarkan. Lagi-lagi sounds familiar ya?

Dan film-film begini sih dari zaman SMA sudah jadi favorit banget sih. Itik buruk rupa yang terkenal pintar, lalu di-make over, jadi cantik deh. Bikin aku ingat pada film She’s All That.

Sebenarnya nggak ada yang salah kok dengan menjadi cantik, atau memperhatikan penampilan. Yang salah itu ketika kita mengejar penampilan luar, tapi lupa bahwa inner beauty itu yang sejati. Saking mengejar penampilan, banyak yang mengejar nilai-nilai luar saja. Bajuku udah kece belum, alisku udah bener belum, gimana nutupin pipi chubby dan masih banyak lagi.

Padahal dunia dan seluruh permasalahannya itu butuh solusi yang lebih dari baju kece, sepatu high heel 7 senti, tapi butuh otak dan hati kita. Nggak apa-apa juga kalau kita mau jadi orang yang memperhatikan penampilan, namun tetap perhatikan isi otak dan hati agar seimbang. Agar yang cantik nggak cuma luarnya aja, tapi dalamnya juga.

3. Cantik Tak Selalu Bahagia

semakin cantik semakin insecure dengan segala hal
Saat Rara sudah kembali sadar bahwa kualitas otak dan hati jauh lebih penting dari penampilan luar, ia hanya senyum saja ketika teman-teman mamanya datang ke rumah dan berceloteh, “Kok kamu gendut lagi Ra? Nggak olahraga lagi ya? Di-PHK? Duh kamu cantikan waktu kurus lo, Ra.”

Rara lalu bilang, “Masih olahraga kok tante, cuma kan tujuannya olahraga buat sehat, bukan buat kurus. Lagipula yang cantik nggak selalu bahagia, kan?”

Lulu, Mama, dan Dhika pun tersenyum mendengar jawaban Rara yang menohok tersebut. Jawaban Rara itu memang cocok sih karena di scene sebelum-sebelumnya para perempuan yang sudah dinilai cantik oleh lingkungannya saja masih merasa kurang.

Misal Lulu selalu insecure dengan pipi chubby-nya, lalu teman-teman mamanya yang sibuk tanam benang dan botox demi menolak tua. Lalu saat Rara sudah mencapai body goalnya, nyatanya bukan tambah bahagia yang ada ia tambah insecure. Ketika perubahan tubuhnya ternyata juga berbanding lurus dengan gaya hidupnya yang ternyata setelah dijalani tak membuatnya bahagia.

4. Ketika Kita Mengejar Sesuatu, Bersiaplah Pula Kehilangan Sesuatu

siap kehilangan ketika mengejar sesuatu
Masih berhubungan dengan insight pada nomor 3. Ketika Rara mencapai body goal yang diinginkan, gank-nya Marsha pun mendekat, Rara populer dan menjadi pusat perhatian. Tanpa disadari semua perubahan itu telah mengubah perilaku Rara.

Rara tak lagi mau membonceng Dhika naik motor, karena takut kepanasan. Rara tak lagi menikmati kerja sosialnya mengajar anak-anak di area sekitar tempat penampungan sampah. Kesibukannya sebagai manajer pemasaran membuatnya tak punya waktu mendengar curhatan sang kekasih. Bahkan hubungannya dengan Fey, sahabatnya, menjauh.

Puncaknya ketika Rara melakukan kesalahan dengan telat datang ke pesta ulang tahun yang telah disiapkan Dhika dengan murid-muridnya. Rara malah kumpul dengan gank Marsha sampai lupa waktu karena mabuk wine. Ya, perubahan fisik Rara ternyata telah merubah karakternya juga. Inilah yang fatal.

Fey lalu menegurnya dengan kalimat yang indah, “Apa sih yang kamu cari Ra? Jangan sampai kamu terlalu fokus mengejar sesuatu dan malah membuatmu kehilangan yang telah kamu miliki saat ini.”

5. Perbedaan itu Indah

perbedaan itu indah dan fitrah
Apa jadinya kalau di dunia ini, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sama. Semua manusia berkulit putih, berambut lurus, berbadan kurus dna tinggi, bermata belo’? Apa indahnya? Apa bagusnya ketika isi dunia ini sama?

Allah menciptakan perbedaan-perbedaan di dunia untuk membuatnya berwarna, beragam dan tidak seragam. Ketidakseragaman itulah yang membuat dunia ini indah. Sayangnya manusia terlalu picik dengan membuat standar kecantikan yang terbatas. Inilah PR kita saat ini untuk menyuarakan kepada dunia, bahwa perbedaan itu indah dan luar biasa. Tak mengapa menjadi berbeda, selama itu tidak keluar dari norma-norma yang ada.

6. Bersyukur: Menerima Ketidaksempurnaan

“Jika memang kesempurnaan membuatmu bahagia, berikan aku waktu untuk belajar memahaminya. Karena aku terlanjur mencintai ketidaksempurnaanmu.”
Sebuah tulisan di belakang foto yang dikirimkan Dhika kepada Rara tersebut sangat menyentuh. Bahkan mama dan Lulu, adiknya pun bersorak, “So sweet. Beruntung deh Rara memiliki Dhika.”

kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaannya
Dhika sendiri di satu sisi juga mendapat nasehat dari ibunya. Sesaat setelah berseteru dengan Rara yang berubah drastis perilakunya, Dhika berkeluh kesah pada sang ibu. Betapa menyebalkannya kekasih hatinya sekarang, yang diperhatikan cuma penampilannya, padahal menurut Dhika Rara sudah sangat sempurna.

Lalu ibu Dhika pun menasehatinya dengan lembut, “Memang apa salahnya berubah? Ya nggak apa-apa dong kalau Rara mau berubah selama itu bisa membuatnya bahagia. Kamu egois kalau nggak mau menerima hal tersebut.”

Lantas meluncurlah kalimat di atas dari jari-jemari Dhika kepada Rara. Disertai dengan selembar foto Rara yang diambil secara candid saat sedang mengajar anak-anak di area tempat pembuangan sampah. Ini adalah titik bagi Rara bahwasanya ketidaksempurnaan itu adalah manusiawi. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Justru kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaan tersebut.

Tak masalah berambut ikal dan susah diatur, kualitas diri kita tak ditentukan dari hal tersebut. Tak masalah punya gigi gingsul atau tonggos, karena nilai diri kita tak dilihat dari bentuk gigi tersebut. Tak masalah jika kita punya tompel besar di jidat, nilai diri kita masih jauh lebih besar dari tompel tersebut.
Sayangnya semua pemberian Allah kepada diri kita tersebut akan terlihat sebagai kekurangan, ketika kita gagal mensyukurinya.
Maka kunci utama untuk keluar dari insecurity adalah BERSYUKUR. Allah menciptakan kita sempurna dengan hidung pesek atau mancung, kulit putih atau hitam, rambut ikal atau lurus. Allah sudah menciptakannya dengan ukuran yang pas dan seimbang. Kenapa Allah memberi ukuran hidung sedemikian rupa, rambut dengan model begitu, karena itulah yang memang paling pas.

Kita melihat tidak pas karena standar yang dibuat manusia. Sedangkan standar Allah bukanlah ditentukan oleh itu semua. Nilaimu ada di dalam dirimu sendiri, dari otak dan isi hati, termasuk di dalamnya keimanan dan ketaqwaan kita.

karena bersyukur kau tak lagi perlu insecure
Indah. Film ini sederhana, tapi penuh makna. Cuzz buat yang masih sering merasa insecure sepertiku, nonton film ini bisa bikin kita bangun dari mimpi panjang kita. Dan hey, kita berharga. Kita bernilai.

So, sudah siap untuk menjadi versi terbaik diri kita? Siap untuk mengubah insecure menjadi bersyukur? Kalau sudah, mari rayakan ketidaksempurnaan diri dengan memberikan apresiasi atas prestasi-prestasi kecil yang telah kita buat.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Aku udah nonton, setuju dengan plot yang emang udah ketebak tapi ceritanya tetep asyik, bikin ketawa sendiri, ngerasa "eh iya juga ya", terus sangat disarankan ditonton orang banyak. Tapi aku kalau bikin review kayaknya gak sampe ada insight sebanyak itu deh. Keren emang Mbak Mar ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email