MaritaPalace

Bincang Pulih: Tak Sekadar Launching Antologi

1 comment
bincang pulih: tak sekedar launching antologi
Bincang Pulih pada hari Sabtu, 17 Oktober 2020 lalu berhasil membuatku tergugu. Sebuah quote yang disampaikan oleh mbak Intan Maria, salah satu narasumber malam itu kucatat besar-besar. Bahkan sempat kubagikan di status Whatsapp-ku. Aku merasa quote tersebut tepat untuk jiwa rapuhku.
Bukan salah kita ketika jiwa kita terluka atau mengalami trauma. Namun untuk pulih dari luka dan trauma adalah tanggungjawab diri kita sendiri.
Rasanya hatiku seperti tertusuk-tusuk belati saat mendengar quote tersebut diucapkan mbak Intan Maria. Aah, benar adanya. Sampai kapan aku terus playing victim, padahal aku sebenarnya sudah tahu bagaimana caranya untuk bangkit dan pulih. Namun hingga detik ini, aku masih terus saja memilih menjadi korban, meratapi luka dan mengkambinghitamkan trauma.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk IIDN yang bekerjasama dengan Ruang Pulih untuk bincang-bincang malam yang begitu luar biasa. Seusai malam itu, seperti ada bara di dada yang kemudian mampu membuatku berani menegakkan wajah dan melangkahkan kaki semakin mantap.

Apa Itu Bincang Pulih?

Event yang digelar oleh IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) berkolaborasi dengan Ruang Pulih ini merupakan grand launching diterbitkannya buku Pulih. Sebelum diadakannya event pada tanggal 17 tersebut, bertepatan pada Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2020, IIDN juga sudah mengadakan event bincang-bincang membahas tentang pentingnya Kesehatan Mental.

Senang sih ya, sekarang ini kesehatan mental telah mendapat cukup banyak perhatian khalayak. Artinya tingkat awareness masyarakat terhadap kesehatan mental sudah lumayan baik. Jika dulu orang konsultasi ke psikolog atau membahas tentang post partum depression mungkin akan dianggap tabu, membuka aib sendiri atau malah dituduh tidak beriman, kini bahasan tersebut mudah ditemui di lini masa. Mencari support group tentang kesehatan mental juga tak lagi susah. 

fakta kesehatan jiwa dipaparkan oleh mbak Intan Maria
Salah satu support group tersebut adalah Ruang Pulih. Tempat bicara yang tepat bagi perempuan yang mengalami KDRT, depresi pasca melahirkan dan kasus-kasus lainnya. Didirikan oleh mbak Intan Maria, seorang penyintas post partum depression, yang kini mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang-orang dengan kondisi yang pernah ia alami.

Mbak Intan Maria dengan Ruang Pulih-nya telah mampu menarik perhatian mbak Widyanti Yuliandari, ketua IIDN untuk menggandengnya menjadi bagian dari proses buku antologi yang mengangkat tentang self healing. Kolaborasi antara dua komunitas perempuan inilah yang menjadikan Pulih sebagai sebuah antologi yang lain dari biasa. Antologi ini tak sekadar menyatukan 25 penulis untuk mengumpulkan karya mereka dalam satu tema yang sama. 25 kontributor berjuang untuk pulih bersama sepanjang proses penulisan buku ini.

Dibantu oleh mbak Intan Maria dan juga dr Maria, selaku dokter spesialis kesehatan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta), 25 penulis ini berproses untuk sembuh dari segala macam luka dan trauma yang dihadapinya. Lalu menuliskan proses itu di dalam karya-karya mereka.

Sebuah antologi yang menarik dan istimewa ya? Maka tak heran jika event grand launching buku Pulih ini pun luar biasa. Tak hanya menceritakan tentang bagaimana proses buku ini dibuat, namun juga mengajak seluruh orang yang menghadiri Bincang Pulih ini lebih terbuka dan aware terhadap kesehatan mental. Bahkan ada selipan praktek self healing yang bisa dilakukan di rumah masing-masing. Seperti apakah itu?

grand launching buku pulih tak sekedar bicara proses penulisan
Penasaran ya? Sebelum aku ceritakan lebih banyak, aku mau ajak teman-teman membaca sedikit cuplikan dari salah satu tulisan kontributor yang ada di buku Pulih.
Aku sesungguhnya terluka. Aku tak ingin sendiri. Aku ibu yang rapuh. Aku tak mampu mengurus keempat anakku. Aku selalu begitu,yang tetap tak bisa menerima kenyataan. Setiap kesedihan itu datang, aku membayangkan anak-anakku. Mereka sungguh sabar menerima takdir ini, mengapa aku tak bisa.
Writing is healing. Waktu memang tak pernah menyembuhkan luka. Namun waktu menemaniku melewati luka. Salah satu saran yang kudapat adalah melakukan hal-hal yang kusuka. Salah satu hal yang kusukai adalah menulis dan sempat kutinggalkan saat terpuruk. Aku ingin menjadi manusia yang menyambut masa depan, bukan manusia yang tinggal dalam kenangan dan menutup mata pada kenyataan. Heal the past, live the present and dream the future.
Hanya dua paragraf, tetapi mampu membuatku ingin segera mengadopsi buku Pulih dan membacanya hingga tuntas. Apakah kalian juga memiliki keinginan yang sama denganku? Yuk, pesan barengan, mumpung pre order sesi 2 sudah dibuka. Fyi, PO sesi 1 mampu menjual lebih dari 250 eksemplar, pals. Aaah, memang benar adanya tulisan yang dibuat dari hati akan selalu mampu menyentuh hati. Pantasan saja kalau tak sedikit yang ingin meminang buku bersampul putih dengan bunga kuning sebagai ornamennya.

Prakata Founder IIDN

Event IIDN kalau dimoderatori oleh mbak Lita Widi selalu mampu memberikan positive vibe yang super badai. Gaya mbak Lita yang penuh semangat selalu membuat para peserta tersenyum dan larut dalam suasana yang dibangunnya. Apalagi ketika sesi pembuka dihadirkan sosok founder IIDN yang juga tak kalah super positifnya. Siapa lagi kalau bukan Teh Indari Mastuti.

Teh Iin, begitu ia sering disapa, memberikan respon bangganya terhadap kinerja Tim Buku Pulih IIDN. Aah, jadi flashback ke pertemuan pertamaku dengan Teh Iin. Saat itu awal aku terjun ke dunia tulis-menulis. Teh Iin mampu menyuntikkan semangat yang membara padaku yang waktu itu masih bener-bener nggak punya pegangan. Nggak tahu harus ke mana dan memulai dari mana. Sebuah pertemuan yang sungguh berkesan. Semoga kelak mendapat kesempatan untuk kembali bertemu dengan sosok nan inspiratif ini.

harapan Indari mastuti untuk terbitnya buku Pulih
Teh Iin mengungkapkan bahwa buku Pulih memang butuh dibaca oleh banyak perempuan. Pengalamannya membersamai IIDN dan IIDB banyak mempertemukannya dengan perempuan-perempuan kuat. Meski nampak kuat, perempuan tetaplah perempuan yang sejatinya harus menjadi tulang rusuk. Maka sudah sewajarnya jika mereka kadangkala menitikkan air mata atau malah merasa kelelahan dalam perjalanan yang dilalui. Teh Iin berharap Pulih bisa menjadi obat bagi mereka yang merasa lelah, terluka dan membutuhkan jeda.

Kesan Mendalam dari Ketua IIDN tentang Proses Penyusunan “Pulih”

Jika ditanya siapa yang menjadi pencetus kelahiran Pulih, maka tak bisa lepas dari tangan dingin mbak Widyanti Yuliandari, sang ketua IIDN. Saat mendapat ide dari mbak Fu, tim buku IIDN, untuk menyusun antologi terkait kesehatan mental, mbak Wid yang merupakan penulis dan blogger senior ini terpikir membuat proyek yang tak biasa.

Mbak Wid bercerita bahwa salah satu hobinya adalah ngepoin isi media sosial friendlist-nya. Dari hasil baca status-status tersebut mbak Wid bisa membaca kondisi jiwa penulisnya.
Tulisan adalah jendela jiwa.
Aku setuju sih dengan quote mbak Wid tersebut. Ketika kita menulis dalam keadaan amarah dan kemrungsung, tulisan yang dihasilkan pun akan menyimpan negative vibe yang kuat. Begitu juga saat kita menulis dalam keadaan bahagia dan penuh semangat, tulisannya pun akan penuh positive vibe. 

harapan widyanti yuliandari, ketua IIDN, untuk Pulih
Dari situ mbak Wid berpikir untuk membuat antologi bertema self healing dari mental illness yang isinya tidak sekadar ‘sampah perasaan.’ Banyak tulisan berkedok self healing yang justru menebarkan rasa sesak di dada pembacanya. Mbak Wid ingin antologi yang disusun nantinya bisa menumbuhkan semangat bagi para pembacanya.

Mbak Wid lalu terpikir untuk membuat proyek antologi yang tak sekadar mengajak para kontributornya menceritakan proses self healing-nya. Ia lalu mencari seorang pakar yang bisa mendampingi teman-teman kontributor berproses. Lagi-lagi dari hasil penelusuran lini masa, mbak Wid bertemu dengan mbak Intan Maria. Konsep Ruang Pulih yang didirikan oleh mbak Intan membuat mbak Wid jatuh hati.

arti Pulih untuk penulisnya
Lalu berproseslah IIDN bersama Ruang Pulih. Mudahkah? Tentu tidak. Dalam perjalanannya, mbak Wid bercerita bahwa ada banyak tantangan yang dihadapi. Ada kontributor yang kemudian tidak cocok dengan metode yang digunakan. Proses pulih yang tidak bersamaan antara satu peserta dengan lainnya. Tak sedikit pula kontributor yang berguguran di tengah jalan.

Pada akhirnya 25 kontributor berhasil menyelesaikan karya mereka. 30 hari yang penuh kesan mendalam. Diawali tangis yang bercucuran, diakhiri dengan senyum penuh kelegaan. 292 lembar dengan catatan hati yang istimewa. Siap membawa setiap pembaca untuk ikut larut dalam setiap ceritanya, lalu bangkit bersama-sama.

tujuan Pulih untuk pembaca

Menelisik Dalamnya Jiwa bersama dr. Maria

Setelah mendengarkan mbak Wid menceritakan bagaimana jatuh bangunnya proses menerbitkan buku Pulih, kami diajak berbincang dengan dr. Maria Rini Indriarti, Sp. Kj, M. Kes. Fyi, bu dokter yang meski usianya tak lagi muda ini, masih sangat cantik. Namun yang membuat para peserta senang yaitu suara bu dokter yang begitu lembut dan menenangkan. Mendengar suara beliau, rasa-rasanya pengen banget deh diterapi langsung oleh dr. Maria.

Dokter spesialis kesehatan jiwa di RSJD Surakarta ini menceritakan bagaimana harunya beliau saat mendampingi para kontributor buku Pulih berproses. Beliau juga merasa kagum dengan semangat para kontributor untuk sembuh dari luka dan segala trauma yang dihadapi. Dr. Maria juga merasa salut dengan kesabaran mbak Intan Maria dalam mendampingi para kontributor.

Manusia adalah makhluk sosial, maka tak heran jika secara fitrahnya mereka sangat suka memberi sekaligus diberi. Itulah kenapa diperlukan adanya komunitas untuk berjamaah dan saling mendukung satu sama lain. Apalagi bagi perempuan dengan segala problematika hidupnya. 

petuah dokter Maria untuk buku Pulih
Perempuan masih sering berada dalam posisi yang tak diuntungkan. Tak satu dua kali, perempuan mendapat label yang melemahkan. Perempuan seringkali ditempatkan pada posisi di bawah dan susah.

Ibu tak boleh sakit. Ibu harus sabar. Perempuan harus keibuan. Harus begini, begitu… banyaknya aturan yang diberikan kepada perempuan. Aturan-aturan yang seringkali diberikan tanpa ada kompromi dan komunikasi. Aturan yang seringkali membuat perempuan sesak untuk bergerak. Hingga tanpa sadar, perlahan-lahan kebahagiaan pun hilang di dalam diri perempuan.

Padahal anak yang bahagia ditumbuhkan dari seorang ibu yang seharusnya juga berbahagia, kan?
Oleh karenanya, perempuan berhak menentukan kebahagiaan dirinya sendiri.
Lewat tulisan, perempuan bisa mendapatkan kebahagiaannya sekaligus sembuh dari luka-lukanya. Dr. Maria menyatakan bahwa buku cantik dengan kombinasi warna putih dan kuning yang apik ini merupakan teman yang cocok untuk memulihkan jiwa-jiwa terluka.

Memasuki Ruang Pulih bersama Intan Maria Halim

Mendengar cerita dari sisi mbak Wid dan dr. Maria saja aku sudah tak sabar untuk segera membaca lembar demi lembar buku Pulih. Apalagi ketika mbak Intan Maria Halim, founder Ruang Halim membagikan rahasia di balik proses healing para kontributor Pulih.

Mandala Art Therapy adalah terapi yang digunakan oleh mbak Intan Maria dalam menemani proses healing dari teman-teman kontributor. Bahwasanya mewarnai bisa menjadi salah satu sarana healing, aku pernah mendengar hal tersebut. Namun mengapa harus Mandala, jujur aku baru mendengar hari itu.

Mandala art therapy
Oh ya, sebelum memasuki ruang webinar Bincang Pulih, beberapa jam sebelumnya di WAG peserta event, mbak Intan Maria sudah membagikan gambar Mandala tanpa warna. Tentu saja kami diminta untuk mewarnainya. Bebas mau pakai alat warna apa saja. Boleh pakai krayon, pensil warna ataupun spidol. Aturan mainnya, minimal menggunakan 5 warna.

Di sinilah aku agak miss dengan aturan yang diberikan. Aku justru membacanya maksimal menggunakan 5 warna. Jadilah aku kebingungan memilih warna apa saja yang harus kucoretkan di atas kertas. Seperti inilah hasil Mandalaku….

hasil mandala Maritaningtyas
Apa maksudnya? Entahlah, aku sendiri tak tahu pasti. Mbak Intan Maria sendiri bilang tak perlu menggali terlalu dalam makna di balik warna pilihan kita. Hal terpenting adalah proses saat kita mewarnai Mandala tersebut. Apakah kita menikmatinya, apa perasaan yang timbul dan apa perasaan yang didapat setelah menyelesaikan proses tersebut.
Ahaa, aku paham sekarang. Mandala ini salah satu teknik untuk belajar mindfulness.
Betapa setiap hari kita dipenuhi dengan rutinitas. Saking sibuknya, kadang kita tak punya waktu untuk diri dan jiwa kita sendiri. Kita tak punya waktu untuk mendengar inner self. Saat menorehkan warna-warna di atas Mandala, kita fokus padanya. 

di balik mandala art therapy
Mandala ini semacam relaksasi jiwa. Memberikan jeda kepada diri sendiri untuk mampu menikmati setiap hela nafas dan perasaan yang hadir. Jika kita melakukan Mandala secara rutin, diharapkan kita akan terbiasa untuk memilih perasaan sendiri dan juga meningkatkan self love.
Aku tahu saat ini sedang sedih. Aku tahu saat ini sedang marah. Namun aku tak ingin larut berlama-lama. Aku menerima perasaan ini, tapi aku mau berhenti sejenak.
Mandala melatih kita untuk memberikan jeda, setidaknya 6 detik, sebelum melakukan sebuah tindakan. Selama jeda itu, kita mengolah nafas dan merasakan setiap helaannya. Nantinya perlahan kita akan mampu memilah bahwa masa lalu dan masa kini tak seharusnya tercampur menjadi satu.

Seni Mandala ini ternyata bukan barang baru. Dipercaya oleh nenek moyang sebagai cara bermeditasi. Dalam bahasa Sansekerta, Mandala berarti lingkaran dan pusat dari semua penciptaan. Sementara Carl Jung, seorang psikoanalis ternama, menyebut mandala sebagai representasi dari alam bawah sadar seseorang.

Terapis yang mempelajari secara khusus Seni Mandala ini jika melihat hasil coretan seseorang di atas bentuk Mandala, mampu menebak kondisi jiwa seseorang itu saat proses mewarna. Apakah ia sedang terluka, sedang semangat, bersedih dan sebagainya.

konsisten terapi mandala art therapy

Kita seringkali menyimpan banyak rasa di alam bawah sadar dan Mandala bisa membantu kita untuk mengalirkan rasa-rasa tersebut. Kalau ditanya apa yang kurasakan saat mewarnai Mandala, aku merasa happy dan bersemangat karena sudah lama tidak bermain warna.

Mewarnai itu butuh waktu khusus, juga ketenangan. Selama mewarnai aku bersenandung kecil. Rasanya ringan memilih warna yang satu dan lainnya. Sayang aku telat membagikan gambar ke WAG peserta jadi nggak sempat diberi feedback oleh mbak Intan Maria.

Namun saat kutunjukkan Mandala-ku pada teman yang pernah belajar psikologi, ia menebak dari warna-warna yang kupilih, bahwasanya saat itu aku sedang bersemangat. Aku tipe orang yang hangat dan suka dihangatkan. 

Tebakannya itu karena aku banyak menggunakan warna merah dan oren di Mandalaku. Saat aku bilang salah membaca perintah dan pengen menambah satu warna lainnya. Dia bertanya apa warna yang ingin kutambahkan. Kujawab, "Sepertinya kuning yang paling cocok."

Lalu dia semakin yakin bahwa aku memang sedang bersemangat dan  penuh kehangatan. Hmm, pantas saja buku Pulih pun memiliki kombinasi warna putih di cover dan bunga kuning sebagai ornamen. Mungkin agar pembacanya terasa hangat dan menjadi lebih semangat setelah menikmati lembar demi lembar di dalamnya ya?

Entah apakah tebakan temanku itu benar, tapi memang warna pun punya psikologinya sendiri kan?

psikologi warna
Jika kalian sedang merasa butuh waktu jeda tapi tak tahu mau melakukan apa, coba saja deh warnai Mandala ini. Tak perlu tahu maknanya apa, yang penting alirkan saja apa yang ada di dasar hati. Jangan lupa untuk ceritakan apa perasaanmu setelah mewarnai Mandala di kolom komentar ya, pals.

Btw, Bincang Pulih sungguh teman berproses menuju sembuh yang asyik. Aku jadi tak sabar untuk membaca buku Pulih dan bisa ikut menjadi bagian dari perempuan-perempuan kuat yang berani bangkit dari segala keruwetan hidup. Kalian juga mau ikutan bangkit dan move on? Yuk, PO Pulih bareng aku!

buku Pulih kolaborasi IIDN dan Ruang Pulih


Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Aku suka part "perempuan berhak menetukan kebahagiaan dirinya sendiri" 🥰 btw, aku juga ngedoddle mandala mbak hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email