header marita’s palace

Deg-degannya Behind The Scene Berdikari di Ipedia

1 comment
Konten [Tampil]
berdikari di ipedia
Pada Kamis sore, sebuah pesan masuk ke Whatsappku. Tertanda dari mbak Setiorini. Tak kusangka mbak Rini memintaku untuk tampil pada acara Berdikari di Ipedia. Aku pikir awalnya akan membicarakan tentang konten untuk situs web Hexagon City, karena beberapa waktu lalu mbak Rini pernah ngobrol-ngobrol terkait hal tersebut. Eh, ternyata…

Apa itu Berdikari dan Ipedia?

Untuk teman-teman di lingkup Ibu Profesional, nama Ipedia pasti sudah tak asing lagi. Ipedia merupakan media channel besutan Ibu Septi Peni yang merupakan founder dari Ibu Profesional. Tujuan dari Ipedia sendiri adalah mewadahi para Ipers yang memiliki passion di bidang penyiaran.

Ipedia sendiri ada beberapa lini lo. Selain Ipedia TV yang bisa kita akses lewat Channel Youtube Ipedia Berita Baik. Ada pula Ipedia Radio yang bisa diakses via Anchor Fm. 

channel youtube Ipedia TV
Ibu Profesional memang laksana taman bermain bagi setiap anggotanya. Punya passion apa saja bisa dikembangkan di sini. Yang merasa belum punya passion? Tenang… perlahan tapi pasti, passion itu akan ketemu, asal rajin mencoba dan mencari tahu.

Di Ipedia TV ada beberapa jenis acara, seperti Obrolan Dapur Ibu, This is Me! dan Berdikari. Obrolan Dapur Ibu merupakan ruang khusus milik founder Ibu Profesional; Ibu Septi dan Pak Doddy. Ada banyak tema menarik yang dibahas. Dari parenting hingga hal-hal kecil di dalam rumah tangga yang selalu saja penuh kejutan dan inspirasi.

This is Me! yang dipandu oleh mbak Fajrina Addien mengangkat tentang perempuan-perempuan muda inspiratif dengan berbagai kisah menarik. Sementara itu Berdikari yang merupakan singkatan dari Berdiri di Atas Kaki Sendiri merupakan acara yang dibawakan oleh mbak Setiorini, mengangkat tentang para perempuan yang telah berhasil membuktikan bahwa passion mereka mampu menunjang produktivitas, termasuk juga di dalamnya bisa menghasilkan di sisi ekonomis.

berdikari tema bloggerpreneur
Entahlah apa yang membuat mbak Setiorini memilihku menjadi bintang tamu di Berdikari episode 20. Padahal ada banyak blogger yang lebih senior di Ibu Profesional, sebut saja mbak Rahmah Chemist, mbak Naqiyyah Syam, dan masih banyak lagi.

Namun mungkin biar gampang saja. Jadi aku nih hanyalah pemeran pengganti, wkwk. Narasumber yang terjadwal untuk episode 20 sebenarnya bukanlah diriku. Dikarenakan ternyata beliau berhalangan pada tanggal yang sudah dijadwalkan, mbak Rini harus cepat-cepat cari pengganti dong. Alhamdulillah aku juga sedang lowong, cuzz lah ya, cari pengalaman tak ada salahnya.

Mulesnya Perut dan Debaran Jantung yang Berkali Lipat

Biasanya saat kakak nggak ada jadwal sekolah, aku sedikit nyantai. Namun karena Berdikari dimulai jam 09.00, aku bergegas untuk menyelesaikan aktivitas domestik lebih cepat dari biasanya. Masakan untuk keluarga sudah ready sejak jam 06.30. Area yang akan kugunakan untuk live streaming juga sudah kurapikan.

Kakak sudah kuberi pesan untuk membuatkan adik susu dan makan donat kalau dia bangun saat emaknya manggung. Apakah selancar saat uji coba? Tentu tidak!

Berikut ini hal-hal yang membuat perutku mules dan jantung berdebar berkali lipat sepanjang acara:

kendala teknis live streaming

1. Suara Menggema

Jam 08.21 aku sudah standby dan masuk ke link streamyard yang dibagikan oleh mbak Rini. Tentu saja untuk persiapan acara, test cam, test mic dan mengecek segala hal terkait teknis agar semuanya berjalan lancar.

Awalnya aku akan menggunakan HP saja, biar praktis dan kameranya juga lebih terang dibanding webcam laptop. Eng ing eng, ternyataaaa…. entah kenapa tiap kali aku join, selalu ada suara menggema. 

Padahal saat mbak Rini tampil sendirian, tak ada suara gema. Begitu juga saat coba dicek mbak Rini dan mbak Ani, admin yang membantu kami saat itu, tidak ada gema sama sekali.

Lucunya di aku, gema tersebut tak terdengar. Everything is fine! Lalu aku jadi ingat beberapa IG Live Ngosyik yang sempat berjalan rutin beberapa bulan lalu. Entah kenapa di saat live bareng teman, mendadak suaranya bersahut-sahutan, padahal awalnya baik-baik saja.

Eeh, kok ini kejadian lagi. Kami mencoba mencari solusinya. Dari yang centang echo cancellation lalu tidak dicentang. Sama saja. Lalu ganti pakai headset, juga masih menggema.

Akhirnya aku inisiatif untuk menggunakan laptop sajalah. Soalnya dulu pernah live streaming di streamyard menggunakan laptop dengan kamera HP lancar jaya.

Jangan dikira langsung oke, pals. Dengan bantuan aplikasi Droid Cam, aku menghubungkan kamera HP ke laptop. Sementara untuk speaker dan mic aku menggunakan bawaan laptop. Alhamdulillah berhasil tidak menggema!

Namun belum saatnya bersorak-sorai. Saat itu biar cepat, aku sengaja menggunakan koneksi wifi untuk menghubungkan Droid Cam HP dan laptop. Dan ngefreeze dong.

Segera kucari cara untuk menghubungkan via USB. Eeeh, tapi kok nggak nemu debugging USB-nya gimana. Buru-buru deh menelepon Pak Suami tanya cara debugging. Eh putus-putus. Aku tak putus akal. Segera kugoogling cara debugging. Ahaa.. ketemu caranya! Berhasil!

Saat aku sedang berjuang menghubungkan Droid Cam, jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Berdikari harus sudah dimulai. Mbak Rini sudah membuka acara dengan menyapa Sahabat Ipedia dan memutar video.

Alhamdulillah aku menyelesaikan segala urusan setting-menyetting pas pada waktunya.

2. Affan Cranky

Jadi, saat tahu emaknya mau manggung. Ifa dan Affan merengek untuk menonton YouTube. Karena awalnya tadi aku mau pakai HP, kupersilakan mereka menggunakan laptopku.

Berhubung ada kendala teknis, mau tak mau dua device tersebut harus kugunakan. Sementara laptop yang biasa dipakai anak-anak nonton memang belum dibawa pulang ke rumah karena jadwal nonton belum tiba. Sengaja ditaruh ayahnya di kantor biar anak-anak nggak diam-diam menemukan ‘harta karun’ di saat belum tepat.

Aku meminta Ifa untuk menemani adiknya, tapi Ifa ogah-ogahan mengajak si adik main. Berbeda dengan janjinya di awal. Duh duh, mulai drama nih. Untungnya pas ada sesi di mana aku di backstage, aku bisa membujuk kak Ifa untuk mengajak Affan main sepedaan. Bayarannya? Boleh pinjam HP emaknya saat manggungnya sudah kelar.

Alhamdulillah satu masalah lain telah teratasi.

3. Sinyal Internet Slundhap-slundhup

Namun ternyata masalah lain muncul. Aku lupa kalau di jam-jam 09.00 - 10.00 sinyal wifi rawan melemah. Entah kenapa seperti itu. Faktanya aku sering sekali menjumpai hal tersebut.

Itulah yang membuat Droid Cam via wifi nggak konek. Lalu loading Streamyard juga ajut-ajutan. Aduhaaaai, muless beneran deh hari ini!

4. Laptop Mak Pet

Setelah internet mulai bersahabat. Ada satu hal yang lupa kupersiapkan; charger laptop! Selain lupa, posisi dudukku jauh dari tempat biasa mengisi daya untuk laptop. Sementara kalau aku ambil posisi di tempat tersebut, cahaya kurang memadai plus nggak dapat background yang oke.

Saking asyiknya ngobrol, aku nggak memperhatikan kalau daya laptopku melemah, dan tiba-tiba mak pet. Padahal 100 % lo baterainya. Biasanya bisa tahan sampai 2 jam lebih. Lalu aku ingat, kan kuhubungkan juga dengan HP, pantas saja daya laptop jadi lebih cepat habis.

Berkejaran dengan waktu, aku segera mengisi daya. Mengubah posisi live streaming. Setting ulang droid cam. Dan lagi-lagi pas! Pas saat acaranya harus ditutup.

Ya Allah, ya Allah… ada-ada saja kejadian hari ini. Penuh warna-warni yang tidak terduga. At least aku jadi tahu, kalau HP ku kurang mumpuni untuk jadi sarana live streaming. 

Baiklah, saatnya ganti Samsung Note 20 nih keknya, wkwkwk. Lalu habis ini segera hunting lomba blog sambil komat-kamit biar menang semua, terus duitnya buat beli HP baru. Tolong diaminkan yang keras ya, pals.

Tips Meminimalisasi Kesalahan Teknis Saat Live Streaming

Dari pengalamanku menjadi narasumber Berdikari di Ipedia hari ini, ada banyak pengalaman berharga yang kucatat. Semoga dengan pengalaman ini, ke depannya saat ada agenda live streaming aku harus mempersiapkan lebih baik lagi.

Berikut ini hal-hal yang harus kuperbaiki:

solusi teknis live streaming

1. Standby Satu Jam sebelum Acara

Ternyata meski sudah standby 39 menit sebelum acara, persiapan tetap kurang maksimal. Jadi PR banget buatku. Jika suatu hari mau live streaming lagi, setidaknya aku harus standby 1 jam sebelumnya. Sehingga jika ada hal-hal teknis yang perlu diperbaiki, tidak perlu mules dan puyeng. Semua tetap terkendali dan lebih selow memikirkan solusi.

2. Persiapkan Plan Cadangan

Jangan pernah membuat 1 plan saja. Kita harus mempersiapkan pula untuk kondisi terburuk. Meski sudah yakin pakai HP akan lancar, ada baiknya kita juga sudah menyiapkan laptop. Termasuk jika akhirnya harus ganti device, lokasi live streaming cadangan pun sudah harus dipersiapkan dengan benar. Sehingga tak ada kejadian lupa mengisi daya, dan laptop tiba-tiba mak pet.

Untuk mengatasi sinyal yang byar pet, ada baiknya kita juga menyiapkan pulsa internet alias kuota. Jadi ketika wifi mengalami gangguan, kita bisa switch menggunakan kuota. 

Sebenarnya sih tadi di HP ada kuota, masalahnya aku nggak tahu berapa banyak yang dibutuhkan untuk streaming. Maklum aku jarang sekali ngisi kuota banyak-banyak karena seringnya mubazir. Besok lagi kalau mau live streaming, tetap harus punya extra kuota yang bisa digunakan.

3. Kondisikan Anak-anak dengan Matang

PR terbesar ketika live streaming diadakan di work days dan work hours, tentu saja tidak adanya ayah yang bisa gantian jadi baby sitter. Maka harus dipikirkan dengan baik-baik untuk mengkondisikan anak.

Dan sudah jadi semacam tradisi buat mereka kalau emaknya buka laptop di siang hari, pasti mereka nggak mau kalah. Sebenarnya kami sudah siapkan laptop khusus untuk anak-anak, tetapi berhubung informasi terkait menjadi narasumber baru kuterima kemarin sore saat ayah sudah sampai di rumah, aku nggak bisa meminta ayah membawa pulang laptop untuk anak-anak.

Maklum anak-anak masih suka tergoda kalau menemukan laptopnya ada di rumah, meski tidak di jam nonton. Nanti emaknya lengah sedikit, eh udah nyala aja laptopnya. Makanya untuk membangun kembali habit no nonton-nonton club, laptop yang dipakai anak-anak hanya dibawa pulang dari kantor ayah pada hari Jumat sore.

Alternatif lain adalah menitipkan pada tetangga atau diajak ke daycare selama jam-jam live streaming. Tentu saja opsi ini adalah pilihan paling akhir. Biasanya sih anak-anak bisa diajak kompromi, meski selalu saja ada strategi yang kadang bikin emaknya terkagum-kagum. Mana kompak pula kalau urusan begini, wkwk.

Segala pelangi peristiwa yang kuhadapi hari ini, aku bersyukur Berdikari episode #20 berjalan dengan lancar meski ada gangguan teknis di sana-sini. Kalau kata mbak Rini, itulah seninya live streaming. Iya juga sih… 

Anyway, buat yang ketinggalan acara Berdikari #20hari ini, masih bisa disimak kok di youtube Ipedia Berita Baik. Cuzz aku sematkan di sini ya, biar teman-teman bisa nonton. 



Semoga bermanfaat dan jangan lupa saksikan episode-episode lainnya dari Berdikari di Ipedia!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Wah wah berarti ini cerita ttg mbak marita sebagai pemateri. Keren keren

    ReplyDelete

Post a Comment