MaritaPalace

Seri Bunda Produktif: Kontribusi Kota ala Hexagonia Galau

hexagonia galau
Hingga menjelang hari deadline pengumpulan jurnal kontribusi kota, aku masih tak tahu harus menulis apa. Jujur aku hampir saja memutuskan mundur sebagai Hexagonia beberapa waktu lalu. Endurance yang kupilih sebagai karakter yang ingin kuperkuat, menghadirkan banyak tantangan. 

Awalnya aku ingin diam-diam menghubungi Manop dan Ketua HIMA-ku, mengajukan mundur dari Hexagon City. Namun niat itu kuurungkan, aku ngechat mbak Dee, konselor kesayangan. Menceritakan betapa kacaunya aku saat ini. Bisa dibaca di jurnal Shining 4E-ku yang terlambat. Aku seperti kehilangan arah dan tujuan berada di Hexagon City.

Mbak Dee memberiku semangat. Sayang katanya, sudah hampir separuh jalan. Hmm, kalau dipikir iya sih. Mungkin rasa kacau balauku ini efek dari dua kali ganti Co-Housing Leader yang memilih menghentikan langkahnya sebagai Hexagonia.

Setelah api di dada dibakar lagi oleh Mbak Dee, ada sesi huddle bersama teman-teman Analekta, Co Housing-ku yang aneka rupa. Aku menyampaikan segala keresahanku selama ini. Ya, aku cenderung menjadi silent reader sih. Rasanya kok nggak etis, pengurus pusat IIP nglokro, wkwk. Namun bagaimana lagi, semangatku untuk bertahan di kota yang menurutku super wow ini benar-benar tipis. Aku sendiri tak bisa berjanji apakah bisa sampai akhir.

Melihat semangat yang diberikan oleh teman-teman co housing dan sesi ngudarasa yang benar-benar sampai ke hati. Baiklaah, mari coba kumpulkan remahan-remahan yang bisa membuatku kembali berbinar. Hal-hal yang dulu membuatku tak berpikir panjang langsung bergabung dengan kelas Bunda Produktif usai menyelesaikan Bunda Cekatan.

4 Tahap Menuju Kontribusi Kota

Sebelum ditantang seberapa besar kontribusi Hexagonia terhadap kotanya, kami diminta untuk menuliskan kembali 4 tahapan yang sudah dilalui. Aah, sepertinya Ibu Septi, sang founding mother mulai melihat gelagat adanya banyak Hexagonia galau sepertiku. Dan membuat jurnal, menuliskannya ulang memang bisa menyusun kembali langkah yang terseok dan semangat yang memudar. Kuy lah saatnya metani satu per satu perjalananku di Bunda Produktif ini.

kontribusi kota

1. Passionate People

Jika disuruh memilih tahap yang paling membuatku bersemangat, maka tahap inilah yang sangat membuatku berbinar. Di saat yang lain merasa kebingungan dengan passionnya, aku sudah fix dengan apa yang sedang dan akan aku jalani ke depannya. Aku sudah punya mindmap tersendiri untuk passionku.
Dari ngeblog suka-suka, hingga perlahan-perlahan belajar SEO, kemudian menularkan passion lewat kelas coaching yang kuinisiasi sendiri, hingga one day aku pengen mengembangkan Blogspedia menjadi agency penulis. 
Mungkin jika ada yang harus aku sesali, kenapa saat itu aku tak memilih literasi. Akan lebih mudah jika masuk ke co housing literasi dan bertemu dengan orang-orang sepassion.

Namun bukankah pilihanku sendiri untuk mengklik passion ‘Lain-lain’ karena dalam bayanganku saat mengisi form registrasi Hexagon City saat itu. Aku lebih ingin fokus pada blogging dan printilannya, bukan ke literasinya. Aaah, bukankah tiada kebetulan di dunia ini. Pada akhirnya bertemu dengan tetangga kompleks aneka rupa seperti sekarang di Analekta adalah sebuah takdir yang indah.

Project Passion pun kini mulai disederhanakan agar tidak menjadi beban bagi setiap penghuni di Analekta. Mengingat satu per satu leader mundur, kami merasa menyederhanakan proyek tersebut bisa menjadi cara agar lebih nyaman dalam menjalaninya. 

Dari yang awalnya akan menggelar workshop series dan menyusun ebook, kini beralih menjadi Binar Analekta. Sebuah festival read aloud dan literasi digital. Semoga saja proyek ini bisa tuntas dijalankan.

2. Character Cultivator

Aku memilih Endurance sebagai karakter yang ingin kuperkuat. Karakter yang kemudian menghadirkan tantangan-tantangan tersendiri dalam perjalananku di Hexagon City ini. Satu alasan terkuat kenapa akhirnya aku memberanikan diri untuk lanjut di kota ini,
Kalau aku mundur, itu artinya aku gagal mengembangkan karakter endurance di dalam diri.
Ya, ini perang melawan diri sendiri. Perang melawan kemalasan, kemageran, keinginanku untuk rebahan. Cmon, ini saatnya produktif. Setelah kusadari untuk bisa bertahan di sebuah kelas atau organisasi, kita harus membangun semangat setiap hari.

Menyapa orang-orang yang ada di dalamnya setiap hari, menyempatkan waktu untuk ngobrol, mendengarkan pikiran dan rasa para tetangga adalah hal-hal yang harus kukuatkan demi mencapai karakter endurance pada level yang bakoh.

3. Habit Powered

Sebagaimana sudah kutuliskan di bagian kedua, untuk menuju karakter endurance yang bakoh, aku harus menciptakan habit yang jelas. Salah satu hal yang membuatku kewalahan, karena terlalu banyaknya WAG yang ada di HPku. Sementara fitur pinned group di WAG hanya bisa untuk 3 grup saja.

Memilih 3 pinned grup adalah sebuah keputusan sulit. Karena nyatanya ada lebih dari 3 grup yang meminta perhatian lebih. Sementara jika sebuah chat tidak dipinned, chat-chat itu seringkali tenggelam dalam lautan chat lainnya. Pada akhirnya aku sering telat membaca dan mengomentari.
Mengalokasikan waktu untuk rutin menyapa tetangga-tetangga di Analekta harus kuperbaiki kembali. Meski setidaknya hanya tanya kabar seharusnya kulakukan dengan lebih baik. Karena nyatanya setelah sesi curhat bersama para tetangga, ganjelan di hati terasa sedikit plong. Aku bisa kembali menemukan secercah harapan untuk lulus bareng-bareng.

4. Shining 4E

Shining 4E yang hilang kemilaunya, begitu tulisku pada jurnal di Zona 4E pekan lalu. Bahkan jurnal tersebut pun tak sempat kukumpulkan karena aku membuatnya terlambat. Bukan karena sengaja mepet deadline.

Di setiap ada kesempatan membuka laptop, di sela-sela membuat artikel pesenan, di antara membaca tugas-tugas teman Blogspedia Coaching, aku berusaha untuk menyusunnya. Namun entah kenapa sampai hari H pengumpulan, aku tak menemukan kemilaunya. Hingga pada akhirnya jam cinderella datang, aku sudah terlelap tidur tanpa mengumpulkan sebaris pun di jurnal.

Menyesal? Tidak juga.

Aku pernah mengalaminya saat berproses di Bunda Sayang. Aku bukan tipe orang yang bisa asal membuat jurnal. Buatku jurnal adalah pengalaman yang harus apa adanya, dan tidak dibuat-dibuat. Aku nggak mau asal mengumpulkan jurnal, hanya untuk setor muka dan menuntaskan kewajiban.

Selain karena jurnal ini tayang di blogku yang meski pembacanya masih sedikit, tapi ada tanggungjawab untuk menghadirkannya dengan baik. Blog ini bukan lagi tempat curcol suka-suka sebagaimana awal mula dibuat. Blog ini sudah menjadi kanal representasi diri. Aku tak mau menulis sesuatu yang tak berasal dari hati.

Maka, meski terlambat… keesokan hari setelah deadline, jurnal itu baru selesai kubuat dengan penuh kebimbangan. 
Aku hanya ingin berkata maaf untuk para tetanggaku di Analekta karena hampir saja menyerah. Terima kasih untuk genggaman erat dan pelukan hangatnya.
Semoga kita bisa bersama hingga akhir menunjukkan kontribusi kota sebaik mungkin. Semangaat! Salam dari Hexagonia Galau yang sedang berusaha kembali ke jalurnya!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email