MaritaPalace

Mengenal dan Memahami Falsafah Pembelajaran dalam Islam

memahami falsafah pembelajaran dalam Islam
Ustaz Budi Ashari pada hari Selasa, 28 Juli 2020 yang lalu, menyampaikan bahwa memahami falsafah pembelajaran adalah hal terpenting sebelum mempelajari teknik-teknik pembelajaran. Ada banyak teknik dan metode yang bisa digunakan dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak, tetapi memahami pola hubungan manusia dengan pencipta, alam dan sesama merupakan kunci sesungguhnya yang harus dimiliki para pendidik (orangtua dan guru).

Diambil dari Kitab Ar Tarbiyah Islamiyah karya Syeikh Majid, Ustaz Budi menyampaikan ada lima pola hubungan manusia yang harus diketahui terkait dengan pola pengasuhan dan pendidikan.

5 Pola Hubungan Manusia; Cara Memahami Falsafah Pembelajaran dalam Islam

5 pola hubungan tersebut terdiri dari hubungan manusia dengan penciptanya, manusia dengan alam, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan kehidupan dan manusia dengan akhirat.

5 pola hubungan manusia tersebut jika tidak dijaga sesuai fitrahnya akan mencederai proses pengasuhan dan pendidikan. Yuk, kita belajar lebih lanjut sama-sama, pals.

A. Hubungan Manusia dengan Penciptanya

Manusia terpelajar memiliki hubungan ibadah dengan Penciptanya. Hubungan ibadah tersebut bisa hadir dalam 3 wujud; wujud agama, wujud sosial dan wujud alam.

Wujud agama dan sosial termaktub dalam Quran Surat Al Baqarah: 177;
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskikan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.n, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
hubungan manusia dengan Allah
Sementara wujud alam termaktub dalam Quran Surat Ali Imran: 190-191;
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Kesempurnaan ibadah akan terbentuk apabila adanya mahabbah (cinta), roja’ (pengharapan), dan khouf (rasa takut). Sayangnya sekarang ini banyak orang-orang yang terpelajar justru memutuskan hubungannya dengan Allah. Dimulai dengan bermunculan pendidikan sekuler.
Maka, jika kita ingin proses pembelajaran dan pengasuhan berjalan sesuai fitrah, hadirkanlah dalam diri anak rasa mahabbah, roja’ dan khouf tersebut. Dengan hadirnya rasa cinta, pengharapan dan takut terhadap Allah, anak akan tumbuh menjadi orang terpelajar yang mengisi hidupnya dengan senantiasa beribadah kepada penciptanya.

B. Hubungan Manusia dengan Alam

Manusia terpelajar memiliki hubungan kendali dengan alam. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat Luqman: 20;
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
Allah telah mengendalikan alam agar manusia menjadi khalifah fil ardh. Maka sudah semestinya kita bisa mengendalikan alam dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk syukur kepada Allah. 
manusia sebagai khalifah fil ardhi
Agar bisa memanfaatkan/ mengendalikan alam, manusia membutuhkan ilmu. Bukti keberhasilan manusia bisa mengendalikan alam adalah hadirnya keseimbangan di dunia.

Sayangnya hari ini hubungan yang terjadi antara manusia dan alam adalah hubungan pertarungan untuk menguasai, tanpa tujuan kecuali hanya untuk eksploitasi dan bersenang-senang. Maka tak heran jika kini semakin banyak muncul kerusakan dan bencana alam.
Jika ingin anak-anak kita tumbuh sebagai khalifah fil ardh, ajarkan mereka untuk mencintai alam sehingga bisa memanfaatkannya dengan tepat, bukan malah mengeksploitasi dan merusaknya.

C. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia

Manusia terpelajar memiliki hubungan keadilan dan kebaikan dengan sesama manusia.

Terkait dengan hubungan keadilan, ada tiga hal yang masuk ke wilayah ini:

  • Pribadi, termaktub pada Quran Surat An Nisa 135;
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.
  • Umat, termaktub pada Quran Surat Al Hujurat: 9;
Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
  • Negara, termaktub pada Quran Surat An Nisa: 58;
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

hablumminannas
Sementara terkait dengan hubungan kebaikan untuk orang lain, patutlah kita mempelajari ayat-ayat di dalam Al Quran berikut ini;

  • Al A’raf: 199
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
  • Al Mukminun: 96
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.
  • Al Fussilat: 34
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Sayangnya sekarang ini hubungan manusia dengan sesamanya justru saling bersaing. Yang tidak kuat atau lemah, harus bersiap kalah. Padahal pada fitrahnya, manusia diciptakan untuk saling berta’awwun, saling menolong dan berkolaborasi.
Maka, ajarkanlah anak tentang konsep ta’awwun agar muncul sikap keadilan dan kebaikan dalam diri mereka.

D. Hubungan Manusia dengan Kehidupan

Dalam kaitannya dengan kehidupan, manusia terpelajar memiliki hubungan ujian. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran;
  • Al Kahfi: 7
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
  • Al Anbiya: 35
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.
hubungan manusia dengan kehidupan

Anak-anak harus diberi pemahaman bahwasanya hidup itu adalah ujian. Sebagaimana soal-soal tes di sekolah yang memiliki patokan tertentu, ujian pun memiliki kaidah, yaitu:

  1. Sikap manusia saat menghadapi ujian terbagi menjadi 2; mengambil yang baik dan menyerah kepada yang buruk, atau mengambil yang baik untuk menolak yang buruk.
  2. Setiap ujian ada waktu dan batas akhirnya, maka manusia harus bersabar dalam menjalaninya.
  3. Menunggu berakhirnya ujian bukan berarti menyerah kepada keburukan.
  4. Manusia tidak selalu mampu memilih sarana yang tepat untuk menghilangkan keburukan, maka kita perlu dua hal; sikap yang benar dan taubat saat salah dalam memilih.
Sayangnya sekarang ini lebih banyak manusia terpelajar yang hubungannya dengan kehidupan hanya untuk senang-senang. Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah jauhkan sikap seperti ini dari kita dan keluarga. Aamiin.

E. Hubungan Manusia dengan Akhirat

Pola hubungan manusia yang terakhir yaitu hubungannya dengan akhirat. Manusia memiliki hubungan berwujud tanggung jawab dan balasan dengan akhirat. Bisa kita lihat dari surat-surat dalam Al Quran;
  • Al Hijr: 92
Maka demi Rabbmu -wahai Rasul-, Kami pasti akan bertanya kepada orang-orang yang menjadikan Al-Qur`ān terbagi-bagi pada hari Kiamat.
  • QS Az Zalzalah 7-8
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
hubungan manusia dengan akhirat

Sayangnya sekarang ini hubungan manusia dengan akhirat hanya menuntut hak, tapi lupa dengan kewajibannya. 

Manusia muslim seharusnya paham bahwa mereka mengerjakan kewajiban karena tahu nantinya akan diminta pertanggungjawaban. Jika di dunia tidak mendapatkan hak, maka yakin bahwa kelak di akhirat Allah akan memberikan hak tersebut.
Mengenal dan mengetahui pola hubungan manusia  adalah proses dalam memahami falsafah pembelajaran dalam Islam. PR kita sebagai orangtua adalah mengembalikan hubungan kita dengan Pencipta, alam, sesama manusia, kehidupan dan akhirat sesuai tempat/ fitrahnya. Apabila ada kesalahan atau kerancuan dalam penyusunan resume ini, maka murni terletak padaku yang mungkin kurang memahami isi kajian. Semoga bermanfaat, pals.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email