MaritaPalace

Setiap Orangtua Perlu Tahu 11 Parameter Kesalehan Anak Ini!

11 parameter kesalehan anak
Pada hari Ahad, 31 Januari 2021, alhamdulillah aku berkesempatan untuk menghadiri kajian parenting bertajuk “Parameter Kesalehan Anak di Tiap Tahapan Usia Berdasarkan Quran dan Hadits". Adapun narasumber dari kajian tersebut yaitu Ustazah Poppy Yuditya. Kajian ini diselenggarakan khusus bagi para bunda dan ustazah di lingkup Kuttab Al Fatih Semarang, serta para alumni Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah (AKU - PN) Semarang 2019.

Tema yang diangkat cukup menggelitik bukan? Mau tahu apa sajakah parameter kesalehan anak berdasar Quran dan hadits?

Parameter Kesalehan Anak di Tiap Tahapan Usia berdasarkan Quran dan Hadits

Jangan terlalu panik dengan ukuran-ukuran yang tidak diukur dalam Islam. Paremeter-parameter di luar ukuran Islam jika tidak ditanggapi dengan bijak, hanya akan membuat orangtua dan sang anak menjadi stress.
Sebuah kalimat pembuka dari ustazah Poppy membuatku mesem. Ya juga sih. Betapa semakin menggeliatnya ilmu parenting di negeri ini, banyak parameter ini dan itu bermunculan. Tak jarang membuat para orangtua menjadi lebih sering membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Lalu muncul cemas berlebihan jika anak tidak sesuai dengan parameter yang ada.

Bukan berarti parameter yang tidak ada di dalam Islam tak penting adanya. Tentu kita juga tetap bisa mengambil kebaikan dari parameter-parameter tersebut. Namun sebaiknya sikapi dengan bijak dan tepat. Jangan menjadikannya kiblat.

Nasihat berikutnya yang disampaikan oleh Ustazah Poppy yaitu penting bagi setiap orangtua untuk menerima kondisi bahwa setiap anak unik, spesial dan berbeda. Terima dulu takdir Allah dengan segala keunikannya tersebut, baru kita bisa melakukan beberapa usaha.

Janganlah menangis jikalau anak belum bisa jalan di umur setahun, belum bisa baca di umur 7 tahun. Namun menangislah saat anak usia baligh tapi belum juga bisa mendirikan sholat kecuali kalau disuruh.

Berikut ini beberapa parameter kesalehan anak yang bisa dijadikan pegangan bagi setiap orangtua muslim. Ketika kita sudah miss di salah satu parameter, biasanya akan ada kemunduran di parameter berikutnya.
pengertian aqiqah

1. Kelahiran

Ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh orangtua ketika bayi lahir. Sebagian besar orangtua muslim mengira mengazani bayi yang baru dilahirkan adalah sebuah hal wajib. Namun ternyata di kalangan ulama, hal ini terdapat perselisihan.

Beberapa ulama menganggap hadits yang mengungkapkan ibadah sunnah berupa mengazani bayi baru lahir adalah hadits yang lemah, sehingga makruh melakukannya. Sementara ada pula sebagian ulama yang memperbolehkan kegiatan mengazani bayi ini. Ada baiknya jika teman-teman kongkow bisa bertanya kepada orang yang lebih ahli terkait hal ini.

Selain mengazani bayi baru lahir, hal penting selanjutnya yaitu menyambut kelahiran bayi dengan penuh suka cita dan doa-doa terbaik. Sebagaimana firman Allah pada Al Quran Surat Ali Imraan: 39,
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedangkan ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (ia berkata): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya”.
Berikutnya yaitu mentahnik si jabang bayi, sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut;
Dari Abu Musa ia berkata: Anak saya lahir, lalu saya membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau menamainya Ibrahim, mentahkniknya dengan kurma dan mendoakan keberkahan untuknya.” (HR. Bukhari)
Proses mentahnik biasanya dilakukan oleh orang yang dianggap alim, tujuannya agar orang tersebut bisa mendoakan si bayi. Adapun tata cara mentahnik yaitu buah kurma yang telah dikunyah halus, dioleskan ke langit-langit mulut bayi sambil didoakan.

2. Aqiqah di Hari ke-7

Aqiqah adalah hewan yang disembelih sebagai bentuk syukur atas bayi yang baru lahir. Aqiqah termasuk hak anak yang sebaiknya dipenuhi orang tua. Hukum dari aqiqah yaitu sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Beberapa hadits yang menjadi landasan aqiqah yaitu:
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak hendaknya ada ‘aqiqah. Oleh karena itu, tumpahkanlah darah dan singkirkanlah kotoran.” (HR. Bukhari)
  • Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka (para sahabat) agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan. (HR. Tirmidzi, dan ia menshahihkannya)
  • Imam Ahmad berkata: “Disembelih pada hari ketujuh, jika tidak dilakukannya, maka pada hari keempat belas dan jika tidak dilakukannya, maka pada hari kedua puluh satu.”
Biasanya dalam proses syukuran Aqiqah, sekalian juga dilakukan pencukuran rambut si jabang bayi. Nantinya rambut ini akan diukur beratnya dan disedekahkan sesuai dengan berat rambut. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah saat ia melahirkan Al Hasan:
“Wahai Fathimah! Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah sesuai berat rambutnya dengan perak.” (HR. Ahmad, Malik, Tirmidzi, Hakik, dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 1226).
Maka daripada kita bingung-bingung membuat brokohan dan syukuran yang tak sesuai syariat, tegakkan saja syariat yang telah diajarkan oleh Gurunda Nabi. Saat mencukur rambut anak, orangtua dilarang mencukurnya dengan model qaza’. Yaitu model rambut yang sebagian kepalanya dicukur dan meninggalkan sebagian yang lain.

Pada proses aqiqah, biasanya nama bayi juga disahkan. Berkaitan dengan nama bayi, ada hal-hal yang sebaiknya diperhatikan oleh kedua orangtua. Yaitu berikan nama yang baik dan berisi doa, mudah diucapkan dan enak didengar. Abdullah atau Abdurrahman adalah dua nama yang paling dicintai oleh Allah.

Kita juga bisa memberikan nama dengan nama Nabi atau Rasul, tetapi sebaiknya menghindari nama-nama malaikat. Hindari juga nama-nama yang berarti buruk. Akan lebih baik jika kita berkonsultasi kepada ahlinya terkait nama anak agar doa yang ingin disampaikan lewat nama bisa lebih tepat.

3. Sunat/ Khitan

Banyak orangtua yang mengkhitankan anaknya di usia menjelang baligh. Namun jika kita menengok pada shirah nabawiyah, seharusnya kita berkaca pada sejarah bahwasanya para cucu nabi, Hasan dan Husein dikhitan pada usia 7 hari. Berbarengan dengan dilaksanakannya Aqiqah.

Khitan termasuk sunanul fithrah (sunnah para nabi), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Fitrah itu ada lima atau lima bagian fitrah, yaitu, “Berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.” (Muttafaq ‘alaih)
Ulama madzhab Syafi’i menganjurkan agar khitan dilakukan pada hari ketujuh. Hendaknya khitan juga tidak dilakukan ketika anak mencapai masa baligh. Ibnul Qayyim berkata, “Tidak boleh bagi wali membiarkan anaknya tidak dikhitan hingga ia baligh.”

Khitan wajib bagi laki-laki dan diutamakan untuk perempuan.
proses menyapih dalam islam

4. Bayi di Usia 6 Bulan

Penelitian duniawi terkait pemberian MPASI bisa berubah-ubah setiap zaman. Zaman dahulu bayi dibolehkan makan sejak usia 4 bulan, sekarang penelitian berkembang dan bayi dianjurkan MPASI mulai usia 6 bulan.

Dulu bayi hanya dibolehkan makan bubur kosong/ karbohidrat only. Tetapi pada penelitian terbaru, saat bayi berusia 6 bulan sebaiknya diberikan bubur tunggal dan dilanjut dengan menu 5 bintang.

Berbeda halnya dengan panduan yang ada dalam Quran dan hadits. Dijelaskan pada kitab Ibnu Qoyyim, bayi bisa mulai makan saat sudah tumbuh gigi. Tentu saja antara bayi yang satu dengan lainnya bisa berbeda-beda.

Selain itu pada kitab Ibnu Qoyyim, makanan pertama bagi bayi adalah roti gandum yang diencerkan dengan air atau susu. Bukan berarti di Indonesia juga harus seperti itu, karena di Arab roti gandum adalah makanan utamanya. Bisa diartikan juga sebagai bubur.

5. 2 Tahun Sempurna Menyusui

Menyapih, jika sesuai aturan WHO sebaiknya menggunakan metode baby led weaning. Namun jika mau mengikuti panduan Islam, menyapih itu seharusnya mommy led weaning. Mommy led weaning bukan berarti ibu bisa semena-mena menyapih si bayi ya. Perlu ada proses dan pembiasaan terlebih dahulu.

Di kitab Ibnu Qoyyim disebutkan, ketika anak sudah mulai makan, maka anak juga perlu dibuatkan jadwal menyusu. Hingga saat 1 bulan sebelum menyapih, ibu menyusui anaknya hanya saat tidur malam.

Jika Allah bilang sempurna 2 tahun, ya berarti sebaiknya stop menyusui pada usia 2 tahun. Yakinlah bahwa Allah memberikan aturan dengan hikmah di baliknya. Jika ingin berhenti menyusui sebelum 2 tahun, maka harus dengan izin suami.

Sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Al Baqarah: 233;
"Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Dari ayat tersebut kita juga bisa tahu bahwasanya menyusui bukan hanya kewajiban ibu saja, tetapi juga kewajiban ayahnya. Agar ibu bisa bahagia saat menyusui, ayahnya wajib menafkahi sang ibu dengan makanan bergizi, memberikan pakaian yang layak serta menjaga kondisi agar ibu tetap happy.

Di balik aturan menyapih, sebenarnya ada kode dari Allah bahwasanya anak pada usia 2 tahun sudah bisa diajak bernegoisasi. Artinya bayi di usia ini biasanya telah mampu berkomunikasi. Jadi jangan khawatir berlebihan saat anak belum banyak omong sebelum usia 2 tahun.

Dalam sebuah kajian yang berbeda, Ustazah Poppy juga pernah menyampaikan, "Jangan kaget kalau anak tumbuh menjadi sosok yang ngeyelan. Jangan-jangan kita ibunya juga termasuk orang yang ngeyel, tak mau tunduk pada panduan pengasuhan dari Allah." Jleb.

6. Perintahkan Shalat saat Anak Berusia 7 tahun

Maksud dari memerintahkan shalat, anak di usia 7 tahun sebaiknya sudah bisa sholat secara sempurna. Maka di usia anak 2-7 tahun, anak-anak harus sudah diajarkan tata cara wudhu, membersihkan diri, belajar bacaan sholat, serta mengetahui rukun dan sunnah solatnya.

Wudhu tidak akan sah sebelum anak laki-laki melakukan khitan. Itulah kenapa dianjurkan khitan di saat anak berusia 7 hari.

Pada usia 7 tahun, anak minimal sudah bisa membaca Al Fatihah. Lebih bagus jika sudah hafal beberapa surat-surat pendek. Hadirkan kecintaan pada anak-anak agar mereka akan sedih saat kelupaan/ terlambat sholat.

Anak laki-laki harus mulai dibiasakan sholat di masjid pada usia 7 tahun. Kalau ayahnya belum rutin shalat di masjid? Doakan saja. Kita tidak bertanggungjawab atas kesalehan suami kita, tanggung jawab seorang ibu yaitu menumbuhkan kesalehan pada anak-anak.

Karena anak sudah diperintahkan sholat, artinya ia juga sudah harus diperintahkan puasa di usia 7 tahun. Sebelum 7 tahun, anak-anak sebaiknya sudah diajarkan untuk latihan puasa. Dibiasakan sahur dan berbuka bersama.

Jangan sampai salah kaprah dalam melatih anak berpuasa. Puasa adalah menahan makan dan minum dari sahur hingga magrib. Maka jika anak merasa lapar dan kemudian makan saat dzuhur atau ashar, sampaikan pada anak bahwa itu artinya belum berpuasa. Itu hanyalah berlatih puasa.

Agar anak semangat berpuasa, banyak-banyaklah bercerita tentang manfaat puasa. Tidak akan ada anak yang kapok saat diminta puasa, kecuali jika dipaksa tanpa diapresiasi dan tidak ada tambahan dialog iman setelahnya.
baligh dan rusyda

7. Anak Usia 10 Tahun

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, seringnya disalahpahami oleh sebagian orangtua. Hadits tersebut berbunyi,
Nabi Muhammad SAW bersabda:“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan salat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukulah mereka (jika meninggalkannya) saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”
Tentu saja kita tidak bisa menelan arti kata per kata dengan mentah-mentah. Adapun maksud dari hadits ini adalah bagaimana usaha orangtua agar anak-anak tidak harus dipukul pada usia tersebut. Artinya sebelum usia 10 tahun anak sudah dipahamkan arti dan manfaat shalat, sehingga pada usia 10 tanpa harus disuruh, anak sudah sadar akan kewajibannya.

Jangan mengancam sesuatu yang tidak akan kita lakukan. Sebaiknya untuk menumbuhkan kesadaran akan kewajiban sholat, orangtua wajib menumbuhkan cinta di hati anak. Tujuannya agar tidak meninggalkan sholat di usia 10.

Selain mendirikan sholat di usia 10, hal lain yang harus menjadi perhatian adalah kesadaran anak untuk menjaga jarak pertemanan berbeda gender. Di usia ini, anak-anak juga sudah harus dipisah tidurnya dengan kedua orangtua dan saudara kandung yang berbeda gender.

8. Usia Baligh

Di dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan angka pastinya, karena kondisi baligh bisa berbeda-beda pada setiap orang. Biasanya ditandai dengan fisik. Perempuan ditandai dengan haid. Laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Namun bagi laki-laki, mimpi atau tidak mimpi, jika sudah keluar mani, maka artinya sudah mencapai baligh.

Saat anak-anak sudah memasuki usia 10 tahun, ajak mereka untuk ngobrol tentang kewajiban saat sudah baligh. Untuk anak cowok, libatkan sang ayah. Tidak semua harus didetailkan, ceritakan sesuai kapasitas anak.

9. Tahapan Rusyda

Masuk pada tahap ini ketika anak-anak sudah lebih dari 14 tahun. Bukan ditandai dengan fisik, tapi kecerdasan. Syarat rusyda yaitu anak telah mampu mendapatkan uang, mampu mengeluarkan uang. Mampu mengelola dan bertanggung jawab terhadap harta yang diperoleh dari Allah, menyimpan dan mengembangkan. Emas itu simpanan, bukan pengembangan. Investasi dalam Islam berupa sedekah, infaq dan wakaf.

Generasi old macam kita ini dididik untuk tidak tahu cara memasarkan diri sendiri. Pokoknya S1 kelar aja dulu, nanti cari duit gampang. Ambil jurusan yang gampang cari kerja. Nyatanya setelah kelar S1, pengangguran semakin banyak, karena banyak orang tak mampu memasarkan diri dan tak memiliki life skill. Hanya punya modal ijazah tanpa pengalaman.

Oleh karenanya sebagai orangtua, kita harus melatih anak untuk mendalami apa yang mereka sukai. Kelak hal-hal yang menjadi kesukaan, minat dan keahlian bisa menjadi modal di usia rusyda. Orang yang paham dengan potensinya nggak akan mati gaya kalau harus resign ataupun memasuki usia pensiun.

Di umur-umur ini, wajar jika anak mulai jatuh hati dengan lawan jenis. Ustazah Poppy menceritakan kisahnya saat memberikan petuah kepada anak lelakinya.
Kalau anak cowok sudah berani naksir cewek, maka artinya kamu harus sudah berani tanggungjawab. Tidak ada rasa suka tanpa menikahi. Bukti cinta adalah menikah. Setelah lulus madrasah, nikahin. Kuliah akan tetap dibayari ortu, tapi membiayai nafkah anak istri, kamu harus cari sendiri. Caranya gimana? Di madrasah, kamu belajar apa? Jujitsu, bahasa Arab? Belajarlah dengan maksimal agar itu bisa menjadi modalmu saat usia Rusyda. Laki-laki kalau nggak tanggungjawab bukan laki-laki namanya.
Uwow, berani ngobrol begini sama anak cowoknya, pals?

Kalau ke anak cewek bagaimana dong? Ustazah Poppy juga memberikan contohnya seperti ini;
Jadilah perempuan yang jual mahal, nak. Wajar kamu suka lawan jenis, tapi simpanlah rapat-rapat. Kecuali kamu sudah siap nikah, bilang sama ibu. Nanti ibu bilang ke ikhwannya, biar nikahin kamu. Jangan menumbuhkan rasa jika kamu belum mampu bertanggungjawab. Jangan menumbuhkan rasa kecuali kamu siap dinikahi. Hati-hati saat menggantungkan hati. Jangan sampai rugi besar. Jaga batas. Disimpan saja. Kalau bisa lupakan, ya lupakan. Sebagaimana Fatimah menyimpan rasanya kepada Ali.
Kok aku yang jadi mbrebes mili membaca nasihat ini ya, membayangkan kelak saat anakku curhat sedang tersapu oleh virus merah jambu.

Sebagai orangtua kita nggak boleh terlalu kaget dan pasang muka spaneng saat anak mulai menceritakan kisah merah jambunya. Syukuri dulu, perempuan suka laki-laki, laki-laki suka perempuan. Syukuri dulu bahwa anak-anak mau bercerita kepada kita, bukan kepada orang lain, sehingga kita bisa mengarahkannya dengan tepat.
parameter kesalihan syabab

10. Tahapan Syabab

Tahap ini berlangsung pada usia 33 - 40. Syabab secara tak langsung termaktub pada Quran surat Al-Waqi’ah ayat 35-37:
Ketika nenek itu menangis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para sahabat mengejarnya, “Kabarkan kepadanya bahwa dia tidak akan masuk ke surga dalam keadaan usia lanjut karena Allah berfirman, ‘Sungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.”
Pada riwayat lain, Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan sifat-sifat ahli surga kelak di mana di dalamnya tidak ada orang tua, orang dengan bulu kumis, jenggot, dan bulu lainnya.
“Dari Muadz bin Jabal, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun,’” (HR At-Tirmidzi).
Usia 33 tahun adalah puncak usia kejayaan, kesegaran, kekayaan, kecantikan. Lah kita hamil usia 33 udah encok, wkwk. Padahal Khadijah menikah dengan Rasulullah SAW di umur 40 tahun dan hamil 2 tahun kemudian lo. Bahkan saat hamil Fatimah, Khadijah naik ke gua Hira membawakan makanan untuk Rasulullah SAW. Artinya apa? Kita kurang gerak, kebanyakan rebahan, wkwk. Elo kali mbak, bukan kita.. oh iya.. hihi.

Ayat ini secara tersirat meminta para orangtua untuk mengajarkan anak-anak agar sudah mapan di usia 33. Apa sajakah kategori mapan?

Ustaz Budi Ashari pernah menyampaikan bahwa orang yang disebut mapan telah memiliki hal-hal berikut:
  • Istri yang salihah/ suami saleh
  • Anak yang menyejukkan pandangan
  • Rumah yang luas dan lapang
  • Memiliki kendaraan yang membantunya dalam beraktivitas
  • Rezeki yang sumbernya tidak jauh dari tempat tinggal
Pada usia sekitar 35 - 37 tahun, Rasulullah SAW sudah mulai uzlah. Beliau mulai banyak berdiam di Gua Hira. Meninggalkan kesibukan bisnis. Bisnis sudah mulai didelegasikan ke orang-orang kepercayaan. Fokus pada umat dan dakwah.

Berbeda sekali dengan kehidupan manusia modern ya, usia 35 - 37 malah baru berada di puncak karir. Disibukkan dengan berbagai kegiatan ini dan itu untuk menimbun kekayaan. Duh, kejewer eike. Sedang seharusnya jika kita memang ingin meniru perilaku sang Gurunda Nabi, di usia-usia syabab, kita sudah mulai fokus kepada umat dan dakwah. Semoga Allah mampukan kita mendidik anak-anak hingga mencapai fase ini ya.

11. 40 Tahun ke Atas

Parameter kesuksesan orangtua di usia ini yaitu ketika anak mampu berbuat baik kepada orangtuanya dan mendoakan orangtuanya. Jangan dikira hal ini mudah ya, pals. Karena jika tidak dibiasakan, dua hal yang terlihat sederhana itu akan susah dilakukan.

Penutup

Apa yang teman-teman kongkow rasakan saat membaca 11 tahapan di atas? Kalau aku saat mengikuti kajian ini merasa bersalah, karena banyak tahapan yang miss. Seperti bisa menjawab kegalauan hatiku, ustazah Poppy lalu menyampaikan;

Menerima kondisi sekarang di mana banyak tahapan yang miss. Mau nangis dulu boleh, tapi setelah ringan hati kita, segera hentikan. Jangan lama-lama terjebak dalam penyesalan. Kita bisa belajar dari Maryam dan ibunya dalam menerima kekecewaan.

Saat ibu Maryam tahu ternyata anaknya perempuan, padahal ia bercita-cita ingin meninggalkan anaknya di Baitul Maqdis. Kekecewaan itu tak lama, kemudian ia terima takdir tersebut. Lalu mencari cara untuk mengejar ketertinggalannya di Baitul Maqdis.

Begitu juga dengan Maryam. Sebagai sosok yang sangat menjaga diri, selalu dikirimkan makanan langsung dari Allah. Tiba-tiba Allah kasih ujian berupa kehamilan. Bagaimana refleknya? Marah atau terima? Maryam awalnya kecewa dulu, tapi kemudian ia mengimani takdir Allah.

Sekarang pilihan ada di tangan kita, mau menerima takdir dengan cara menghujat atau menerima takdir dengan cara berpasrah dan berjuang pada takdir tersebut?
Allah tahu yang paling baik buat kita. Qadarullah wa maa syaa a fa'ala. Artinya: “Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.
Selalu ada resiko keterlambatan. Oleh karenanya jangan disamakan dengan anak-anak yang dididiknya tanpa ada parameter yang miss. Misal, anak kita umur 7 tahun belum sholat, ya jangan dibandingkan dengan temannya yang sudah sholat. Tetap apresiasi dan fokus berdoa! Optimis. Kunci kesalihan anak ada di ibunya. Perbanyaklah dialog iman dengan anak-anak.

Demikian resume kajian yang bisa kususun, semoga ada manfaatnya. Jikalau ada kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan, murni karena keteledoranku dalam mencatat dan memahami isi materi. Oya, pada saat kajian ustazah Poppy juga memberikan tips mengatasi anak tantrum. Sudah kutuliskan di artikel tersendiri di blog sebelah, hehe. 
Akhir kata, jangan terlalu lama menyalahkan diri sendiri, pertolongan Allah sesungguhnya dekat. Jangan kehilangan waktu-waktu berharga. Anak-anak butuh sentuhan, pelukan, ciuman, nasehat kita. Fokus pada doa dan ikhtiar, jangan terlalu hanyut pada kesalahan dan keterlambatan.
Semoga Allah mudahkan dan kuatkan kita dalam mendidik anak dengan parameter kesalehan anak sesuai tahapan usia berdasarkan Quran dan hadits. Happy parenting, pals!

***

Referensi:
  • Kajian parenting bersama Ustazah Poppy Yudhitya
  • https://konsultasisyariah.com/15372-menyambut-kelahiran-si-buah-hati.html
  • https://almanhaj.or.id/1553-apakah-disyariatkan-adzan-pada-telinga-bayi-yang-baru-lahir.html
  • https://almanhaj.or.id/869-kabar-gembira-dengan-kelahiran-anak.html
  • https://rumaysho.com/8806-alasan-tidak-mengadzankan-bayi-yang-lahir.html
  • https://www.junaidiyah.com/kajianislam/kajian-tentang-penghuni-surga-ternyata-tidak-berjenggot/#:~:text=%E2%80%9CDari%20Muadz%20bin%20Jabal%2C%20bahwa,(HR%20At%2DTirmidzi).
  • https://nukilanhikmah.wordpress.com/2015/04/26/konsep-tahapan-usia-dalam-islam/
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

18 comments

  1. Ya Allah, baca ini makin mikir, PR saya masih banyak banget. Poin 9, 10, 11 bikin mikir banget. Benar-benar harus dimulai sejak dini mungkin. Makasih, Mbak sudah menuliskannya. jadi pengingat buat saya juga nih.

    ReplyDelete
  2. Tulisanmu bagus sekali mba...
    Aku sampe nangis bombay nih...
    Anakku udah sembilan tahun, masih bolong-bolong sholatnya, sholat juga mesti disuruh, ya aku terkadang menyalahkan diri sendiri.
    Lupa dengan kekuatan doa, mendoakan anak supaya menjadi anak yang mendirikan sholat...
    Terimakasih tulisannya, me-refresh diriku...

    ReplyDelete
  3. Ya Tuhan.. Ikutan campur aduk bacanya mbak.. Sungguh, memang ya dr poin2 di atas banyak pro kontra, tinggal balik lagi ke diri sendiri. Intinya selagi baik, nggak merugikan orang lain, bismillah aja. Sepakat juga dengan kalimat "Sekarang pilihan ada di tangan kita, mau menerima takdir dengan cara menghujat atau menerima takdir dengan cara berpasrah dan berjuang pada takdir tersebut?"
    Makasih ya mbak, sudah bikin hati jadi adem

    ReplyDelete
  4. Ikut mrebes mili membayangkan kalau kelak, anak sudah terserang virus merah jambu, dan kita kutip apa yang diungkapkan Ustadzah ke putera puteri nya itu... Kayanya saya ga kuat deh. Ah harus bisa dan dicoba ya...

    ReplyDelete
  5. Lengkap sekali catatannya coach, jadi PR banget dari sekian list parameter di tulisan ini, baik dalam mendidik anak dan juga mendidik diri sendiri. Semoga Allah memudahkan kita dalam berikhtiar untuk belajar menjadi sosok yang lebih baik

    ReplyDelete
  6. Semoga dimampukan untuk mendidik anak sesuai syariat ya mba. Aku pun masih belajar memperbaiki diri biar nanti pas udah jadi orang tua bisa jadi contoh yang baik. Aamiin :)

    ReplyDelete
  7. Masya Allah ternyata Allah sudah memberikan cara bagaimana mengurus anak. Carilah jawaban di Islam itu sendiri semua ada. Semoga Allah berikan amanah kepadaku nanti setelah menikah.

    ReplyDelete
  8. Masya Allah.

    Acha speechless.

    Ternyata usia 40 ya tetap jadi parameter kesuksesan anak, saat anak mau turun tangan mengurusi orangtuanya.

    Trus trus ternyata sebaiknya di usia 33 itu sudah mapan. Bentar ... aku hitung dulu nih, apakah bisa mapan di usia itu nanti. Bismillah.

    ReplyDelete
  9. Terimakasih banyak kak.. sudah memberikan resume kajian yang kakak ikuti.
    Alhamdulillah saya jadi memantabkan niat agar anak laki-laki saya akan diberi pendidikan yang menjurus pada pendewasaan dan juga tanggung jawab di masa remaja nya nanti.
    Dan mengenai usia syabab jadi teringat nih sama sosok kak sinyo egie pendiri komunitas peduli sahabat, beliau pernah bilang "kalo di usia ini masih belum punya gerakan untuk bermanfaat untuk umat, berarti ada yang salah saat kecil dulu... Sehingga childish nya masih kebawa sampe tua.. "
    hehehe.

    ReplyDelete
  10. Sebisa mgkin orang tua jangan membandingkan anak anak ya mbak. Sebab anak akan menjadi sedih dan menganggap dirinya tak berguna di mata orang tua.

    ReplyDelete
  11. Setuju nih setiap anak punya kelebihan masing2 jadi kalau terlihat kekurangan saja mungkin ortu hrs lebih lebar lagi membuka mata hati untuk dapat melihat kelebihan dari anak

    ReplyDelete
  12. Noted banget. Harus jadi bookmark. Mungkin sekarang ngga kerasa buatku. Tapi memang harus dipikirkan dari sekarang yaa mba.
    Thankyou sudah berbagi kisah ini

    ReplyDelete
  13. Menjadi orang tua memang ga mudah ya mba, tapi bukan jadi hal yang mustahil juga. Selama kita terus ikhtiar dan berdoa agar anak-anak kita menajdi anak soleh/solehah. Jadi tantangan juag buat aku untuk benyak belajar selagi belum menikah.

    Mba, di slaah satu paragraf ada tulisan "Syukuri dulu, perempuan suka perempuan, laki-laki suka laki-laki" Ini maksudnya gimana, ya? Typo-kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaah iyaa typo mbak.. makasih sudah mengingatkan.. ketika otak dan jari nggak sinkron wkwk..

      Delete
  14. dapat ilmu banyak soal parenting setelah baca ini kak, yang Rusyda itu saya baru paham di sini ya, usefull banget mba artikelnya buat saya sebagai calon mom

    ReplyDelete
  15. Masyaallah...
    Bismillah mulai lagi ke Aysar nih, melewati fase2 ini.

    ReplyDelete
  16. Toss Mbak, mbrebes mili baca yg pesan ibu ke anak perempuannya yg mungkin sedang jatuh cinta. Wah mesti disave ini satu saat sulungku kelihatan sedang falling in luv ku tinggal ajak ngobrol heart to heart with her ttg Fatimah Az Zahra yang memendam cintanya pada 'Aliy, hiks. Tak perlu merasa ketinggalan kl sm parameter2 nonIslami ya Mbak, well noted, makasih^^

    ReplyDelete
  17. MasyaAllah ka, ini benar2 pengetahuan yg penting. Citawku adalah menjadi ibu yg baik dan bisa mendidik.
    Semoga Allah mudahkan dan terimakasih atas ilmunya coach

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email