Menuju Merdeka Belajar: Semua Murid, Semua Guru

filosofi semua murid semua guru
Kita bisa bersama mengubah dunia
Percaya pada diri demi cita-cita
Belajar, bergerak, bermakna

Aku bisa belajar dari ilmumu
Oh, kamu bisa belajar dari yang kutahu
Belajar, bergerak, bermakna

Meski berbagai budaya, berbagai usia
Dan ingatlah bahwa kita insan yang merdeka
Belajar, bergerak, bermakna

Semua murid, semua guru

Aku yakin teman-teman kongkow nggak asing lagi ya dengan lirik lagu tersebut? Dinyanyikan oleh Andien Aisyah, Endah and Rhesa, Glen Fredly, Tompi, Tulus, Vidi Aldiano dan Indra Azis. Lagu ini dirilis pada 2 Mei 2018, sebagai bentuk kontribusi para musisi pada bidang pendidikan. Sekaligus untuk memeriahkan acara Hari Pendidikan Nasional pada 2018.

Meski sudah berlalu tiga tahun, lagu tersebut masih mampu mengobarkan semangat untuk tak henti belajar. Bahwasanya belajar itu tak memandang usia, tak memandang status, tak memandang gender, tak memandang ras, suku dan agama. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.

Begitu juga semua orang bisa belajar dari siapa dan mana saja. Apakah guru harus selalu orang yang lebih tua dari kita? Tentu saja tidak! Sebagaimana judul lagu kece di atas, Semua Murid, Semua Guru. Semua orang di dunia ini bisa menjadi guru buat orang lain, sekaligus juga bisa menjadi murid bagi orang lain.

Filosofi Semua Murid, Semua Guru sudah kukenal jauh sebelum lagu ini ngehits. Aku mengenalnya lewat Komunitas Ibu Profesional asuhan Ibu Septi Peni Wulandani. Dalam komunitas tersebut, semua anggotanya dilatih dan dibiasakan untuk membuka hati, pikiran dan jiwa agar senantiasa siap menjadi guru sekaligus murid.

Banyak orang siap belajar jika gurunya lebih tua dari diri sendiri. Karena biasanya orang yang lebih tua dianggap lebih berpengalaman, lebih banyak asam garam, dan lebih banyak tahu dibanding kita.

Namun ketika kita masuk ke sebuah ruang kelas, bertemu dengan seorang guru yang usianya jauh lebih muda. Seringkali terbersit dalam benak kita, “Eleuh, masih muda banget. Tahu apa dia?”
Padahal usia bukanlah patokan bahwasanya orang lebih berpengalaman, lebih tahu dan lebih pantas dalam menyampaikan sebuah ilmu. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda, bahkan orang yang lebih muda dari kita sekalipun bisa membuka wawasan dari pengalaman dan keilmuan yang dimilikinya.
Sungguh sayang sekali jika kita menutup diri dan hanya mau menerima ilmu dari orang yang lebih tua. Karena sesungguhnya di luar sana banyak orang-orang dengan usia yang lebih muda juga bisa membantu kita tumbuh dan berkembang. Bahkan seringkali kita tak menyadarinya, kalau di dalam sebuah kondisi, kita sedang belajar dari orang yang lebih muda.

Caraku Menerapkan Semua Murid, Semua Guru

Menerapkan filosofi Semua Murid, Semua Guru dalam keseharian kita sesungguhnya adalah jalan menuju merdeka belajar. Dalam semangat merdeka belajar, kita harus siap melampaui batasan-batasan konvensional yang selama ini melekat. Bahwasanya belajar harus dengan yang lebih tua, belajar harus selalu offline dan tatap muka secara langsung.
filosofi belajar dari siapa saja
Dengan menumbuhkan semangat merdeka belajar, artinya kita siap untuk membuka mindset. Kita bisa belajar dari siapa saja, belajar dari mana saja, dan belajar kapan saja.

Aku pun baru banget sih menuju merdeka belajar, dan ini caraku menerapkan filosofi Semua Murid, Semua Guru:

1. Di Dalam Rumah

Orang tua memang guru utama bagi anak-anaknya, namun buatku anak-anak juga guru bagi kedua orang tuanya. Dari anak-anak aku belajar banyak hal. Kalau saja aku tidak menjadi ibu, hari ini mungkin aku nggak tertarik belajar parenting dan mendalami agama lebih baik.

Namun karena kehadiran kedua anakku, aku menyadari pentingnya ilmu parenting dan agama untuk memberikan bekal kepada mereka. Lebih dari itu, benar adanya sebuah pepatah yang mengatakan;
Raising your kids, raising yourself.
Sejatinya saat kita sedang mengasuh anak-anak, kita juga sedang mengasuh diri sendiri. Aku yang awalnya bukanlah sosok penyabar, sering banget emosian. Semenjak menjadi ibu berlatih caranya bersabar dan mengelola emosi dengan lebih baik.

Bukan hanya itu saja, terkadang celoteh-celoteh kecil anak-anak mampu menjadi pengingat yang makjleb buatku. Misal, ketika dari jauh ada suara gitar digenjreng oleh dua orang pengamen, seringkali muncul pikiran untuk menutup pintu saja agar pengamen tersebut tidak bernyanyi di depan rumah. Maklum kadang pengamen suka asal nyanyinya, nadanya sumbang dan blas nggak menghibur.

Namun anak-anak manalah sempat berpikiran negatif macam itu. Fitrah kebaikan yang terinstal di dalam diri mereka masih murni dan belum banyak ternodai. Belum sempat aku menutup pintu, si bungsu sudah minta diambilkan uang. “Aku mau kasih ke masnya, Bun.”

Rasanya hatiku mendadak adem. Teringat bahwasanya berbagi tidak boleh beralasan ini dan itu.

Dari anak-anak pula aku belajar untuk tidak mendendam. Entah sudah berapa kali aku memarahi mereka karena hal-hal tertentu. Entah karena mainan yang tidak ditata dengan beres, makanan yang berceceran di lantai dan sepertinya tiada hari tanpa omelan emaknya ini.

Namun anak-anak tak pernah mendendam atas omelanku. Sesekali mereka menangis, tapi setelah kami saling berpelukan erat. Mata mereka kembali berbinar, dan sudah melupakan omelan emaknya.

Aaah, tak terhitung banyak hal yang sudah diberikan anak-anak kepadaku. Mereka adalah guru-guru kecilku. Guru-guru kehidupan yang terus menyemangatiku untuk tak lelah belajar dan memperbaiki diri lebih baik.

2. Saat Masih Mengajar

Belasan tahun lalu aku pernah merasakan menjadi guru dan dosen. Saat itu aku banyak bertemu murid-murid lintas usia, dari anak-anak PAUD sampai Kepala Sekolah SD.

Jauh sebelum berkenalan dengan guru-guru kecilku di rumah, aku sudah lebih dulu merasakan celoteh polos anak-anak PAUD yang dulu menjadi muridku. Saat itu aku baru menikah di tahun-tahun pertama dan belum dikaruniai anak. Terkadang tingkah laku anak-anak PAUD itu menyebalkan di mataku.

Lucunya mereka selalu punya celotehan yang mampu membuat bad moodku lenyap seketika. “Miss Marita, bisakah aku minta tolong ini?” Atau “Miss, terima kasih sudah mengajari kami menyanyi hari ini.” Juga hal menakjubkan seperti ini, “Miss, perutku sakit. Aku mau kentut dulu ya. Maaf kalau bau.”

Dari kepolosan mereka, aku diingatkan tentang pentingnya kata tolong, terima kasih dan maaf.

Saat masih mengajar dulu, aku juga bertemu dengan teman sesama pengajar yang usianya jauh lebih muda dariku. Meski begitu aku tak segan belajar dari mereka. Terutama soal dasar-dasar mengajar.

Aku tidak lulus dari fakultas pendidikan, tak memiliki basic skill mengajar yang baik. Hanya mengikuti intuisi dan bekal mengajar dari lembaga. Beruntung ada teman-teman yang memang berasal dari fakultas keguruan. Dari mereka aku jadi tahu bagaimana mengajar yang baik agar bisa merangkul para murid dan membuat mereka nyaman.
dengarkan esensi yang dibicarakan

3. Di Lingkungan RT dan RW

Setelah aku “melepas blazer dan menggantinya dengan daster,” lingkungan utamaku telah berubah. Yang dulunya bertemu dengan sesama rekan pengajar dan murid-murid, kini lebih banyak bertemu dengan ibu-ibu.

Dari sekian banyak warga di RT dan RW-ku, aku lebih banyak bertemu dengan ibu-ibu yang usianya lebih tua dariku sih. Sayangnya masih sedikit yang memiliki mindset terbuka.

Kebetulan di RT, aku diamanahi menjadi ketua dawis dan POKJA Pendidikan. Amanah tersebut membuatku harus sering berbagi terkait hal-hal tentang pendidikan. Sayangnya seringkali karena dianggap lebih muda, ibu-ibu ini banyak yang tak mendengarkan. Dianggap angin lalu. Masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.

Jika kuperhatikan, yang memiliki ruh belajar dari siapa saja bisa dihitung dengan jari. Ada sosok eyang putri yang dulunya seorang perawat, beliau selalu excited mendengarkan materi-materi yang kusampaikan. Tak jarang beliau juga senang mengirimiku pesan lewat WA atau berkomentar di media sosial saat aku berbagi status.
Mengubah mindset orang lain jelas bukanlah tanggungjawabku. Karena itu adalah pilihan pribadi setiap individu. Hal yang bisa kutunjukkan adalah tetap berbagi, mau didengar atau tidak.
Merasakan betapa tidak nyamannya menjadi orang yang tidak didengar, aku selalu memberikan apresiasi lebih kepada warga yang share hal-hal baik pada saat arisan atau dawis, terutama pada mereka yang lebih muda. Sekecil mendengarkan saat ada warga baru yang berkenalan.

Pastinya sebagai warga baru kan deg-degan masuk ke lingkungan asing. Apa jadinya kalau bertemu dengan orang-orang yang acuh, pasti semakin mengkeret. Setidaknya kalau warga tersebut melihat ada satu dua orang yang antusias dengan perkenalannya, dia akan merasa diterima dan didukung.

Pada akhirnya saat ini karena sudah tinggal 10 tahunan di lingkungan RT dan RW, ibu-ibu yang dulunya tak menganggap kehadiranku, kini mulai banyak yang mendekat. Bahkan ada yang suka curcol terkait pendidikan anak. Padahal anaknya sudah SMA, sedang anakku yang paling besar masih duduk di kelas 3 SD.
Dari sini aku belajar, pentingnya untuk tidak melihat siapa yang bicara, namun apa yang dibicarakan.
Bisa jadi seseorang lebih muda dan terlihat tak berpengalaman, tetapi siapa tahu dia memiliki informasi yang kita butuhkan. Dengarkan saja dulu, siapa tahu bermanfaat dan berguna bagi kita suatu hari.

4. Di Dalam Komunitas

Sejak jadi ibu rumah tangga, aku bergabung dengan banyak komunitas. Awalnya sih ikut beragam komunitas menulis, karena ketika resign dari kantor, kumenemukan kalau menulis bukan lagi sekadar hobi.

Di komunitas-komunitas menulis, aku banyak bertemu para penulis yang usianya masih muda namun karyanya bejibun. Dari mereka aku banyak belajar tentang teknik-teknik menulis yang baik, juga bagaimana memasarkan buku di media sosial.

Dari komunitas menulis, lingkar pertemananku berkembang ke komunitas parenting. Di sini aku banyak bertemu dengan para ibu muda yang usianya jauh di bawahku. Namun semangat belajarnya luar biasa. Mereka juga punya energi yang super, sampai kadang aku geleng-geleng, kok bisa punya banyak kegiatan-kegiatan kece tapi tetap menjalani perannya sebagai iu dengan maksimal.

Apalagi saat bergabung dengan komunitas Yuk Jadi Orangtua Shalih (Yukjos) dan Ibu Profesional, waah banyak banget orang-orang yang lebih muda dariku. Dengan filosofi Semua Murid, Semua Guru, alhasil aku bisa mendapat banyak wawasan dari mereka.

Hingga kemudian bertemu dengan komunitas-komunitas blogger. Wow, di sini lebih keren lagi. Banyak banget blogger-blogger muda yang punya wawasan dan prestasi kece. Tentu aku nggak malu belajar dari mereka. Seperti yang kutulis di Lima Bloger Favorit dengan Pencapaian Inspiratif, sebagian dari mereka usianya di bawahku lo. Tapi mereka adalah guru-guru ngeblog yang luar biasa.

Bahkan saat ikut kelas Growthing, coach Irwin sebagai salah satu pemateri juga usianya jauh lebih muda. Tapi kalau soal ngeblog, ilmunya jelas nggak main-main.
filosofi merdeka belajar

5. Di Kehidupan Online

Serunya zaman now itu kita bisa belajar secara online. Buka YouTube dan media sosial bertebaran banyak ilmu-ilmu gratis. Tinggal pilih saja mana yang kita butuhkan. Tak sedikit ilmu-ilmu kece itu disampaikan oleh influencer, selebram ataupun selebritis yang usianya jauh di bawahku. Namun yang mereka sampaikan super ndagiing. Belum lagi berkaca dari perjalanan hidupnya, kerja keras di balik konten-kontennya, selalu ada saja hal-hal yang patut diapresiasi.

Bahkan di balik konten-konten yang menurut banyak orang hanya sekadar pamer kekayaan dan sok borjuis, aku melihat ada kerja keras yang seringkali luput diperhatikan. Memang ya mulut dan jari kita seringkali lebih pintar menghakimi daripada memberikan apreasiasi.

Begitulah caraku mencoba tumbuh sebagai orang yang merdeka belajar, aku nggak mau menutup diri dalam melebarkan pandanganku. Semua orang bisa menjadi guruku, tanpa melihat usia, gender, agama, ras, suku dan apapun.

Selama apa yang mereka sampaikan adalah kebaikan dan penuh manfaat, dari orang yang lebih muda sekalipun aku tak malu untuk belajar dan menimba ilmu. Bagaimana denganmu, pals? Happy learning, dan salam Semua Murid, Semua Guru!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email