header marita’s palace

Utak-Atik Dana Lebaran, Ini 3 Cara Santuyku Mengelola THR

Konten [Tampil]
tips mengelola THR
Sebagai penganut paham pas butuh pas ada, aku termasuk yang nggak terlalu worry dan pusing mengelola THR ataupun dana lebaran. Adanya berapa ya udah itu aja yang disyukuri dan dikelola. Beruntung aku dan suami juga nggak perlu mudik. Bukan karena dilarang mudik sama pemerintah, tapi karena nggak punya tempat mudik juga sih.

Sebenarnya ada sih tujuan mudik, tapi karena antar negara, jadi alokasi waktu dan dananya di luar lebaran deh. Pastinya nunggu pandemi udah bener-bener beres dulu.

Sejak 5 tahun lalu memutuskan stop menjadi full time content writer, maka sejak 5 tahun lalu pula aku nggak lagi merasakan nikmatnya THR, hehehe. So, sejujurnya aku sudah lupa rasanya THR. Alhamdulillah suami masih berlabel karyawan kantoran, jadi masih kecipratan THR lah dari doi.

Mengelola THR Suami

Sebenarnya nggak ada perbedaan dengan mengelola gajinya doi sih. Biasanya suami minta list aja, apa yang perlu dibayar dan apa yang perlu dibeli. Doi juga nggak terlalu banyak nanya kenapa harus beli ini dan itu, selama nominalnya masih wajar, suamiku woles aja.

Selama 13 tahun menikah dengan suami, aku belum pernah bikin menu lebaran semacam opor dan sambal goreng. Jadi urusan masak-memasak nggak masuk ke perhitungan THR. Waktu masih tinggal sama ibu, palingan urun buat beli bumbu saja sih. Selebihnya kami pesen ke orang buat masakin.

Sejak ibu meninggal pada 2016, setiap aku tanya ke suami apa perlu masak menu lebaran, doi bilang nggak perlu. Bukan tanpa alasan sih jawaban tersebut. Masalahnya kami ini keluarga muda, pas hari H biasanya seharian nggak ada di rumah. Disibukkan dengan ziarah kubur dan silaturahmi ke tempat saudara.

Nanti di rumah saudara pasti sudah dijamu opor ayam, sambal goreng dan aneka menu lebaran lainnya. Bahkan nggak jarang dibawain pula. Makanya daripada mubazir, tidak masak menu lebaran adalah pilihan yang masih paling tepat buat kami.

Terus uang THRnya buat apa saja?
kelola dana lebaran

1. Bayarkan yang Wajib

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘ied.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim).
Yang paling utama tentu saja untuk membayar zakat fitrah. Sejak kakak bersekolah di Kuttab Al Fatih, zakat fitrah biasanya kami salurkan lewat sekolah kakak. Selain agar lebih mudah, penanganan zakat di sekolah kakak juga dilakukan sesuai sunnah Nabi. Jadi lebih tenang aja.

Selain zakat, biasanya aku sisihkan dulu beberapa uang ke dalam beberapa amplop untuk:
  • Infaq ke penjaga makam bapak, ibu dan adik
  • Angpau buat keponakan
  • Wakaf buku dan masjid di sekolah kakak
“Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada orang-orang kaya dari kaum muslimin untuk menafkahkan harta mereka dengan kadar yang mencukupi orang-orang fakir. Sungguh orang-orang fakir tidak akan pernah merasakan kelaparan atau telanjang kecuali dikarenakan perbuatan orang-orang kaya. Ketahuilah sesungguhnya Allah akan menghisab mereka dan mengadzab mereka dengan adab yang pedih.”
(HR Thabrani dalam Al-Awsath 3579)

2. Sisihkan untuk Dana Darurat dan Tabungan

Setelah yang wajib ditunaikan, baru deh sesuai kesepakatan bersama akan ada sejumlah nominal yang dialokasikan untuk dana darurat dan tabungan. Daripada habis duluan, mending disisihkan di awal kan?

Apalagi kami kan sedang proses mau renovasi rumah, juga persiapan buat si adik yang mungkin tahun ini atau tahun depan masuk sekolah, juga mulai nyicil buat biaya pesantren kakak. Makanya lagi getol banget sih nabung, nabung dan nabung.

Rencananya sih nanti aku juga mau minta izin menyisihkan buat nambahin investasi emasku. Karena investasi ini paling aman, nggak bakal bisa diutak-atik, hehe.

3. Sisanya Buat Jajanan Lebaran dan Staycation

Baru setelah disisihkan buat tabungan, saatnya urusan konsumtif. Kami nggak selalu beli baju lebaran. Kalau ada rezeki lebih dan butuh baju baru, ya beli. Kalaupun bajunya masih oke semua, ya nggak perlu beli.

Kebetulan anak-anak habis dibelikan baju beberapa waktu lalu, jadi sepertinya nggak bakal mengalokasikan dana buat beli baju lebaran. Sisanya paling buat bayar kue-kue pesenan. Nggak wajib ada juga sih.

Cuma biar terasa aja suasana lebarannya, wkwk. Kebetulan bulik dan sepupu ada yang bikin kue lebaran, jadi melarisi dagangan saudara sendiri aja.

Khusus buat sesi konsumtif ini, suami sudah bilang sejak awal puasa lalu, mau ajak kami staycation di hotel favorit sebagai hadiah buat kakak kalau berhasil full puasa sebulan. Nah, keknya sih kakak bakal berhasil, jadi ya siap-siap aja alokasikan dana buat staycation.

Sepertinya sih aku masih punya satu voucher Traveloka, moga-moga saja masih bisa dipakai. Biar lebih hemat dan pastinya bisa Smart Staycation gitu.

Keknya itu aja sih caraku mengelola THR lebaran tahun ini. Nggak ada yang spesial. Kalau teman-teman kongkow punya tips khusus nggak untuk utak-atik dana THR? Boleh dong bagi tipsnya. Semoga di penghujung ramadan ini, kita bisa semakin khusyuk beribadah dan selamat menanti lebaran tiba!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment