Menjadi Pribadi Semeleh dan Berani Memiliki Harapan Kembali

menjadi pribadi semeleh
Tak terasa pada hari Jum’at, 30 April 2021 yang lalu, kelas Semeleh yang kuikuti memasuki sesi fasilitasi yang terakhir. Pada kesempatan itu, mbak Intan Maria yang menjadi fasilitator pada materi Acceptance dan Hope Therapy memberikan banyak pertanyaan penuh kejutan.

Namun sebelum kuceritakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, buat teman-teman yang ketinggalan informasi tentang Semeleh, bisa membaca ceritaku tentang menariknya opening ceremony kelas inspiratif ini. Kini setelah melalui satu per satu materi dari kelas Semeleh, aku bisa bilang semuanya benar-benar ndaging dan memang kubutuhkan.

Ada banyak catatan menarik di setiap sesinya. Setiap fasilitator memiliki keunikan dan perannya masing-masing dalam membimbing para peserta untuk berani bermetamorfosis layaknya kupu-kupu. Nah, hari ini aku akan menceritakan bagaimana perjalananku melalui kelas Semeleh, terutama pada sesi fasilitasi yang diampu oleh mbak Widyanti Yuliandari dan mbak Intan Maria.

Aku Sebelum Ikut Kelas Semeleh

Banyak orang mengira aku tipe orang yang mudah bergaul dengan orang lain, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dilihat dari seringnya aku tampil di muka publik. Aku juga banyak tergabung di beberapa komunitas, hingga tak sedikit yang merasa, ke mana-mana ketemunya aku lagi, aku lagi, wkwk.

Namun sebenarnya dua asumsi tersebut berbeda jauh dari kenyataannya. Jauh di dasar hatiku, aku nggak begitu nyaman berkenalan dengan orang-orang baru. Aku pun punya masalah insecurity issues yang cukup akut. Hingga kalau trigger-nya muncul, aku bisa jadi orang yang sama sekali berbeda dari yang orang-orang lihat.

Yup, yang tahu bagaimana diriku seutuhnya ya cuma suami. Doi yang udah lihat gimana kalau istrinya lagi semangat, sekaligus yang paling tahu kalau istrinya lagi nggak jelas maunya apa. Thanks to my hubby for his patience. Meski tak selamanya baik-baik saja, at least dia selalu mencoba jadi sahabat terbaikku.
me and my insecurity issues
Pandemi harus kuakui menjadi hantaman bagi banyak orang, tak terkecuali aku. Yang biasanya dalam sepekan ada lah aktivitas yang membuatku ke luar rumah, ketemu sahabat atau kerja untuk liputan sebuah event. Sejak pandemi, semua aktivitas terpusat di dalam rumah.

Aku yang memang punya kecenderungan lebih senang di rumah dan sedang belajar berhubungan dengan orang lain, kembali menikmati momen asyiknya sendirian saja. Awalnya sih oke-oke saja, hingga satu per satu masalah yang kupikir selama ini sudah selesai, mulai muncul ke permukaan. Puncaknya ketika ramadan tahun lalu aku kena GERD dan serangan panik.

Aku mulai merasa bahwa I am not really okay. Rasa marah, sedih, kecewa, dan takut mulai datang lagi satu per satu. Aku mulai sering tiba-tiba menangis sendiri tanpa alasan. Menyalahkan diri sendiri atas kepergian ibu. Marah untuk hal-hal yang sudah sangat berlalu. Bahkan hubungan dengan suami pun sempat kena imbasnya, karena posesif akutku mulai muncul lagi.

Hal terparah adalah aku mulai ketakutan untuk menyusun harapan. Ketika menuliskan harapan dan resolusi 2021, hati kecilku berkata, “Aah palingan ya nggak mungkin terwujud. Aah, it’s too far to reach.” Dan masih banyak lagi penghakiman-penghakiman yang muncul di dalam diri. Penghakiman yang kubuat sendiri.

Aah bahaya ini, alarm tubuh mulai berbunyi semakin keras. Aku harus mulai kembali menata diri. Di saat itulah, aku bertemu informasi tentang kelas Semeleh. Bismillah, tak ingin kulewatkan, setelah menimbang beberapa hari, aku akhirnya mendaftar. Alhamdulillah, aku tak salah masuk kelas.

Aku Sesudah Ikut Kelas Semeleh

Kelas ini berlangsung sejak 4 April 2021. Dimulai dengan opening ceremony yang melelehkan hati, sekaligus membuatku optimis untuk pulih.
menuju pribadi semeleh
Pekan pertama pada 5 - 9 April 2021, materi self love disampaikan oleh cikgu Artha Julie Nava. Materi pertama ini berhasil membuka mataku betapa aku masih banyak menuntut diriku, daripada mencintainya dengan tulus. Next insya Allah aku akan ceritakan sesi fasilitasi dari Cikgu Artha Julie Nava di postingan tersendiri.

Pekan kedua hingga hari ini, materi dan pembiasaan gratitude journaling masih berlangsung. Sesi ini dalam pendampingan mbak Widyanti Yuliandari. Sembari terus menuliskan jurnal syukur, pada pekan ketiga dan keempat, mbak Intan Maria memfasilitasi kami dengan materi acceptance dan hope therapy.

Alhamdulillah, setelah mengikuti sesi demi sesi, aku merasakan hawa-hawa negatif yang setahun ini mulai merangsekku lagi, perlahan bisa kuatasi. Aku juga bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang super tangguh. Berani berproses untuk menerima diri sendiri dan segala perjalanan hidup, dan membuka lembaran baru menuju pribadi yang semeleh.

The Power of Gratitude Journaling

Menulis jurnal syukur bukanlah hal baru. Aku juga pernah melakukannya beberapa tahun lalu di sebuah kelas healing. Sayangnya saat itu aku tak konsisten menjalaninya, sehingga tak terlalu berdampak.

Senang rasanya di kelas Semeleh, aku bisa kembali merutinkan jurnal syukur. Bahkan aku sudah menyiapkan agenda khusus untuk kujadikan jurnal syukur. Semoga saja setelah kelas Semeleh berakhir, aku juga masih bisa terus konsisten melakukan kebiasaan baik ini.

Ada banyak metode jurnal syukur, mbak Wid mengajarkan kami beberapa metode agar kelak bisa memilih salah satu metode yang ternyaman dan terefektif untuk dilakukan secara rutin. Metode tersebut antara lain counting bless (menuliskan berkat Allah yang telah diterima hingga hari ini) dan Three Best Things (menuliskan tiga hal terbaik yang dialami pada hari ini dan mensyukurinya).
aku bersyukur karena
Pada pekan pertama, mbak Wid meminta kami untuk menuliskan apa saja yang bisa disyukuri. Tidak hanya menuliskan “aku bersyukur…”, tetapi juga disertai dengan alasannya.

Pada pekan kedua, mbak Wid menyiapkan tema-tema khusus. Kami harus mensyukuri hal-hal yang masuk dalam tema tersebut. Berikut ini tema-tema yang diberikan; senyum, pengalaman masa kecil, hobi, pencapaian terbesar, dan kenangan terindah bersama orang tua.

Selanjutnya, mbak Wid meminta kami untuk cukup menuliskan 1 - 3 hal yang perlu disyukuri pada pekan ketiga. Berbeda dengan dua pekan sebelumnya, kali ini kami nggak harus menulis jurnal syukur setiap hari.

Dari sesi pembiasaan jurnal syukur yang masih terus berjalan hingga hari ini, aku belajar beberapa hal:

Bersyukur Sekecil Apapun

Tidak perlu menunggu hal-hal besar. Kita bisa kok menuliskan syukur untuk hal-hal yang biasanya dipandang remeh dan sepele. Misal, tentang senyuman. Selama ini mungkin kita tak terlalu merasakan lebih dalam arti senyuman dari anak, suami, pedagang sayur yang kita larisi, atau senyuman diri sendiri saat menatap cermin. Ternyata setelah digali, dari sebuah senyum saja melahirkan banyak cerita syukur.

Membiasakan diri mensyukuri hal-hal kecil akan membuat kita lebih menghargai hidup. Efeknya kita akan lebih mulai menghargai hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup. Bukankah dari hal-hal kecil itulah akan lahir hal-hal yang besar?

Melihat Hidup dari Kaca Mata Positif

Saat mendapat tantangan menulis jurnal syukur dengan tematik, aku sedikit kebingungan. Jujur ada beberapa tema yang cukup membuatku menangis tersedu. Betapa selama ini saat membicarakan beberapa tema yang diberikan, aku lebih sering melihatnya dari sudut pandang negatif. Ternyata saat digali lebih dalam, lebih banyak hal-hal positif yang kudapatkan.

Memberikan alasan pada setiap kesyukuran yang kita tuliskan juga bisa menguatkan diri bahwasanya dalam hidup selalu ada campur tangan Allah.

Tak Harus Memaksakan Diri

Kita tidak harus memaksa diri untuk selalu bersyukur. Jika memang hari itu merasa tidak menemukan hal yang bisa disyukuri, it’s okay. Terima saja perasaan tersebut. Justru penerimaan itu bisa jadi sesi bersyukur tersendiri, karena kita tidak menyangkal perasaan yang hadir dan bisa menerima bahwa sedang tidak baik-baik saja.

Konsistensi untuk Ketenangan Batin

PR selanjutnya agar jurnal syukur bisa berdampak lebih panjang tentu saja bagaimana agar rutinitas baru ini menjadi kebiasaan. Bukan sekadar kulakukan untuk menuntaskan kewajiban dari kelas Semeleh.

Namun merasakan efek yang kudapat hingga hari ini, bismillah… insya Allah bisa konsisten sih. Setelah tiga pekan ini merutinkan jurnal syukur, aku jadi lebih mudah mengelola emosi. Nggak langsung reaktif merespon sesuatu. Teman-teman kongkow sudah pernah coba menuliskan jurnal syukur? Kalau belum, yuk kita rutinkan bareng-bareng.

The Power of Acceptance

Setelah diajak menelusuri manfaat bersyukur lewat menuliskannya bersama mbak Wid, mbak Intan Maria hadir untuk mengajak kami belajar tentang penerimaan diri dan belajar mengelola harapan. Dalam berproses bersama mbak Intan, banyak sesi yang mencerahkan dan meaningful. Aku akan coba ceritakan satu per satu ya.

Memahami Posisi Diri Saat Ini

Berbeda dengan sesi-sesi lainnya, mbak Intan memberikan materi tidak hanya melalui grup whatsapp, tetapi juga disampaikan lewat zoom. Saat sesi zoom, kami diminta untuk on cam, agar mbak Intan bisa melihat ekspresi dan gestur yang muncul. Jika diperlukan, kami akan difasilitasi lebih agar bisa memberikan dampak yang lebih dalam.

Pada sesi zoom pertama bersama mbak Intan, kami diajak untuk menemukan apa yang belum bisa diterima sepanjang perjalanan hidup. Tentu saja dalam melakukannya butuh kejujuran.

Setelah menemukan hal yang belum diterima tersebut, kami harus menulis pernyataan penerimaan. Pada kasusku, aku masih bermasalah dengan rasa bersalah terhadap diri sendiri, karena merasa tidak merawat ibu di hari-hari terakhirnya. Selain itu aku juga masih bermasalah untuk menerima kehadiran istri kedua bapak.

Kami diminta mengambil sebuah kertas berukuran A4 dan menuliskan hal-hal yang belum diterima tersebut menjadi sebuah penerimaan. Terkesan sederhana ya?
kalimat penerimaan
Namun sungguh saat menuliskannya tak semudah itu. Menggoreskan kalimat pertama terasa berat. Tangan terasa enggan. Namun setelah kalimat pertama berhasil ditulis, menuliskan kalimat-kalimat berikutnya jauh lebih mudah.

Ada yang membutuhkan 5x menulis penerimaan baru bisa lega, ada yang butuh 30x. Tentunya setiap orang punya masalah dan timingnya masing-masing untuk mencapai penerimaan yang paripurna. Aku sendiri saat itu menulis hingga belasan kali baru terasa plong.

Selain dituliskan, kita juga bisa menggunakan metode ini dengan cara diucapkan. “Saya menerima bahwa…” Nah, sekarang cara ini yang rutin kulakukan saat tiba-tiba muncul perasaan nggak baik-baik saja. Dengan mengucapkan kalimat penerimaan, feeling not okay-nya jadi lebih cepat teratasi.
Menerima semua hal yang terjadi di dalam hidup sebenarnya adalah bentuk rasa syukur kita pada Allah. Penerimaan terhadap takdir, bentuk fisik, dan kekurangan diri bisa melahirkan kebahagiaan.
Proses penerimaan ini meliputi tahapan sebagai berikut:

  • Mengamati Luka
Setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Ada yang sudah kering, ada yang cuek dan dibiarkan begitu saja, ada yang terus menggerogoti hingga bertahun-tahun. Kita perlu tahu posisi saat ini ada di mana.

Apakah masih terkunci dengan trauma di masa lalu, sudah bisa mencapai mindfulness, atau malah sudah bisa memiliki impian dan harapan?

Untuk mengeksplor tahapan ini lebih dalam, penting bagi kita untuk memahami tahapan psikososial. Di usia manakah yang perkembangannya terhambat dan berpengaruh dengan diri kita saat ini?
mengamati luka dengan tahapan psikososial
Kalau aku, setelah kuamati, sejak usia balita awal memang sudah ada bibit-bibit luka yang muncul. Dan ternyata efeknya ke perkembangan usia selanjutnya. Parahnya lagi sampai hari ini, luka itu masih suka timbul tenggelam hingga aku takut memiliki harapan.

Memilih bersembunyi di balik kalimat “going with the flow,” padahal aslinya aku takut menatap masa depan. Gimana kalau begini dan begitu.

  • Melihat dan Reparenting
Setelah ketemu luka yang harus dihadapi, PRnya tentu saja menerima luka tersebut dan menyembuhkannya. Menyembuhkan luka di dalam diri bukan tanggung jawab orang tua kita, pasangan kita atau orang-orang lain yang menurut kita adalah pelakunya. Menyembuhkan luka murni tanggung jawab kita sendiri.

Di sinilah saatnya kita melakukan reparenting pada diri sendiri. Selayaknya sedang mengasuh anak-anak, kita pun perlu mengasuh diri sendiri dan mengatakan bahwa it’s okay kok luka itu ada. It’s okay kok merasa kehilangan. Peluk dan cintai diri kita.
Semakin kita mencintai diri sendiri, akan ada banyak hal-hal buruk yang perlahan tertutup. Setelah kita berani menerima rasa sakit di masa lalu, bentuk fisik yang tak kita sukai ataupun kekurangan diri yang selama ini kita ratapi, hidup akan jauh lebih enteng dijalani.

  • Berproses ke Depan
Selanjutnya adalah berani untuk melepaskan ekspektasi-ekspektasi. Pernah nonton drama Korea Bring It On Ghost? Di salah satu serinya, ada artis yang bunuh diri karena merasa tak pernah dicintai dan dihargai oleh orang lain.

Artis itu kemudian menjadi hantu gentayangan dan membunuh satu per satu orang yang selama ini menurutnya selalu menyakitinya. Bertemu dengan dua pembasmi hantu, yang akhirnya bisa membawa hantu itu selesai dengan rasa sakit di hatinya. Kalimat yang diucapkan si pembasmi hantu yaitu,
Bagaimana bisa orang lain mencintaimu, jika kamu saja gagal mencintai dirimu sendiri. Kamu mati bukan karena mereka. Tapi karena kamu yang nggak mau mencoba mencintai diri sendiri.
Jadi, siapa yang sampai sekarang masih punya insecurity issues seperti;
  • Kulitku hitam
  • Aku nggak cantik
  • Hidungku pesek
  • Aku nggak punya bakat apapun
  • Aku nggak pintar, dll
Ayok deh stop menghakimi diri sendiri. Mungkin awalnya masalah-masalah itu muncul karena kita sering mendengar orang tua mengatakan pada kita, atau ada teman-teman yang menyeletuk seperti itu. Namun untuk bisa melepas penghakiman-penghakiman tersebut, kuncinya pada diri sendiri. Pertanyaannya tentu saja, siap nggak untuk melepaskan dan mengizinkan diri untuk bertumbuh?

Serunya Art Therapy

Setelah di sesi zoom pertama diajak coret-coret lewat tulisan, pada sesi zoom kedua kami diajak untuk kembali coret-coret. Kali ini dengan menggunakan gambar. Ada 4 tahapan:

1. Menggambar Diri Waktu Kecil

Sebelum masuk ke zoom kedua, mbak Intan meminta kami menggambar diri sendiri di masa kecil yang ingin ditemui. Dan setiap kali ngomongin masa kecil, pikiranku hanya akan melayang pada dua hal ini:
  • Diriku yang bersembunyi sambil sesenggukan melihat kedua orangtuaku berantem.
  • Diriku yang marah di dalam mobil karena bapak ibu bertikai, sementara mobil melaju kencang, bahkan saat itu aku sempat berdoa pada Allah, bikin kecelakaan saja ya Allah. Biar selesai semuanya. Namun kutarik lagi doa itu, karena ingat adikku yang masih balita di rumah.
diri sendiri di waktu kecil
Entah karena sudah baik-baik saja, atau memang moodku yang sedang bagus. Aku tak menangis saat menggambarnya. Yang kupikirkan hanyalah jika aku bisa bertemu dengan Ririt kecil di dua masa itu, aku mau bilang;
“Hey, it’s okay. Kamu takut ya, kamu marah ya? Ini cuma bagian kecil dalam hidup yang harus kamu lewati. Nggak apa-apa kok takut, nggak apa-apa kecewa. Kejadian ini bikin kamu jadi kuat setelahnya.”
Dan dalam bayanganku aku memeluk Ririt kecil dan menenangkannya. Yup, saat kondisi mood lagi bagus, bisa banget tuh reparenting myself kek gitu.

2. Menggambar Diri Saat Ini dan Harapan

Selanjutnya setelah sesi bercerita gambar satu selesai, mbak Intan meminta kami menggambar diri kami saat ini dan harapan pada tiga tahun ke depan. Kami diminta untuk menggambar diri sendiri dan balon-balon.

Balon-balon ini bukan sekadar hiasan, namun hal-hal yang berusaha ingin dilepaskan dari diri kami. Aku menggambar diriku dengan tiga balon yang sampai sekarang menurutku masih terus jadi momok terbesar dalam hidup.

Dan inilah gambarku:
ririt di masa ini
Satu catatan di bagian ini adalah ketika mbak Intan mengingatkan bagaimana cara kita sebaiknya memandang suatu masalah.

Daripada bilang "aku takut anak-anakku akan mengalami hal yang sama denganku." Lebih baik diganti dengan, "aku bisa menerima ketakutan yang kurasakan, namun aku berusaha untuk melepaskannya."

Daripada bilang "aku marah pada X, Y atau diri sendiri," lebih baik bilang "aku menerima rasa marah dan sakit hati ini, namun aku akan melepaskannya."

3. Menggambar Diri 3 Tahun Ke Depan

Masih lanjut dari gambar kedua, kali ini mbak Intan meminta kami menggambar diri kami tiga tahun ke depan. Aku menggambar diriku dengan senyuman lebar dengan gamis berwarna merah, memeluk kedua anakku penuh cinta. Di belakang ada gambar suami yang senantiasa mendukungku. Satu tanganku yang lain, melepas tiga balon yang terbang di udara, seraya berkata bye-bye.

Itu yang ada dalam pikiranku saat membuat gambar tersebut. Dan ternyata gambar itu membuat mbak Intan tertarik untuk memfasilitasiku lebih. "Masih ada balon di gambar ketiga, meski tidak digenggam, namun artinya mbak Marita baru berencana untuk melepaskan, belum benar-benar melepaskan. Coba apa tiga hal yang ingin dilepaskan?"

Aku mengucapkan tiga hal yang ingin kulepaskan. Mbak Intan mengangguk-angguk kecil. Lalu memintaku mengucapkan sebuah kalimat penerimaan. Sebuah kalimat yang sampai hari itu memang belum sanggup kuucap.

Aku tercekat. Berusaha mengucapkan kalimat yang dipandu mbak Intan, namun seperti ada yang menahanku. Nggak bisa. Atau nggak mau? Tanpa sadar, air mataku menitik. Dadaku sakit sekali. Sudah berlalu belasan tahun, tapi masih sesakit ini. Mbak Intan masih menunggu, "It's okay, pelan-pelan dicoba."
diri dan masa depan
Aku berusaha menenangkan diri. Mengatur nafas perlahan-lahan. Pelan kukatakan kalimat yang dipandu mbak Intan. Masih sambil tercekat, masih sambil menangis. Mimbik-mimbik, kalau kata orang Jawa. "Ulangi lagi sampai terasa plong."

Dua kali, tiga kali, entah aku lupa tepatnya sampai berapa kali aku mengucapkan kalimat itu hingga aku berhasil untuk nggak menangis lagi saat mengucapkannya. Hingga beban di dada seperti terangkat. Hingga aku bisa mencapai rasa lega saat berkata, "Aku terima istri kedua bapak."

Lalu mbak Intan memintaku mengucapkan dua kalimat penerimaan lain. Dua hal lainnya yang ingin kulepaskan. Tidak sesulit mengucapkan yang pertama tadi. Ya, aku sadar kok, rasa benciku pada sosok istri kedua bapak masih timbul tenggelam. Kadang udah woles, kadang rasanya mendengar namanya saja sudah males.

Saat difasilitasi mbak Intan, aku menyadari bahwa seringnya aku sudah ngeblok diri duluan. Nggak bisa, itu sakit, itu nggak mungkin. Itu berat. Ya, awalnya berat. Namun nyatanya setelah berhasil mengucapkannya berulangkali, semuanya jadi lebih ringan. Rasa sakit di hati pun perlahan luruh.

Lagi-lagi aku jadi ingat sama drama korea Bring it on, Ghost yang memang baru selesai kutamatkan. Dari drakor itu ada insight yang menurutku selaras dengan sesi zoom bersama mbak Intan;
Saat kita membiarkan hati terisi dengan dendam dan kebencian, sesungguhnya saat itulah kita sedang menghancurkan diri sendiri. Jadi jangan biarkan benci menguasai hati, karena itu adalah pintu dari semua keburukan dalam hidup.
Btw, gambar balonnya sudah kusobek di sini. Sebagai bukti aku benar-benar serius berproses untuk melepaskannya. Ingatkan aku tiga tahun lagi ya, pals. Tanyakan padaku apakah aku sudah mencapai goalku.

4. Menggambar ‘Aku Semeleh’

Pada sesi zoom ketiga, mbak Intan masih mengajak kami bereksplorasi dengan gambar dan warna. Sejak mendapatkan tugas menggambar dengan judul AKU SEMELEH. Hanya ini yang terbersit di kepala.
aku semeleh
Aku yang bisa tertawa lebar, tanpa beban, tanpa kekhawatiran berlebihan, tanpa overthinking ini dan itu. Aku yang legawa menerima semua perjalanan hidup sehingga lebih enteng berjalan bersama suami dan anak-anak.

Hidup jadi penuh dengan cinta. Apapun tantangan di depan, insya Allah aku siap menjalani hitam, putih, abu-abu, kuning, pink, merah dan warna-warninya dunia. Seperti yang pernah kutulis di Instagram beberapa waktu lalu. Tak perlu membandingkan hidup dengan orang lain, karena setiap insan itu istimewa. Allah telah menciptakan manusia dengan sempurna, lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya.
Kesempurnaan manusia adalah ketidaksempurnaan itu sendiri.
Jadi untuk apa melangkah dengan ragu, jika arah yang dituju sudah pasti? Untuk apa terlalu banyak menengok ke belakang, sedang masa kini beserta tantangannya siap menanti untuk dijalani penuh hepi? Untuk apa menumbuhkan benci jika bisa memilih menghidupkan cinta?

Sejatinya hidup adalah pilihan. Bahagia atau tidak itu keputusan diri sendiri. Memilih untuk tetap membenci, marah dan terus-terusan sakit, atau berani mengepak kebencian, kemarahan dan rasa sakit, dan membungkusnya menjadi benih-benih cinta? Lalu dari jiwa yang penuh cinta dan welas kasih, aku bisa berkarya lebih optimal.

Dari sesi art therapy bareng mbak Intan, aku belajar bahwasanya pulih itu membutuhkan proses. Untuk menuju kondisi yang benar-benar stabil, memang tidak instan. Penting untuk mematrikan di dalam diri semboyan ini;
Pulih - Latih - Berkembang.

The Power of HOPE Therapy

Ketika diminta menggambar “Aku Semeleh”, tak sedikit para peserta yang gagal menggambarnya karena merasa gambarnya jelek, nggak bisa menggambar, atau nggak tahu harus menggambar apa. Menanggapi hal ini, mbak Intan pada sesi zoom terakhir menanyakan kalimat yang menohok;
Apa yang akan kita katakan saat anak kita yang berumur 2 - 3 tahun berkata, “Memang aku nggak bisa jalan kok, Bu.”?
Respon yang diberikan variatif. Namun intinya adalah memberikan motivasi kepada anak. Meyakinkan pada anak bahwa dia bisa kok berjalan, asal rajin berlatih dan sabar.

Mbak Intan kemudian tersenyum, dan kembali bertanya “Sama halnya dengan sesi menggambar ini. Kenapa kita tak bisa merespon hal yang sama pada diri sendiri? Kenapa kita suka sekali menghakimi diri sendiri?’

Hal itulah yang membuat kita nggak bisa berkembang. Sudah saatnya kita mengizinkan diri menjadi seperti bayi atau balita. Karena bayi dan balita nggak pernah menyalahkan dirinya sendiri. Mereka nggak pernah takut apapun dan selalu bereksplorasi banyak hal.
Itulah sesungguhnya semeleh. Menerima bahwa kita memiliki banyak kekurangan. Hanya dengan menerima kekurangan, kita bisa menemukan potensi yang Allah titipkan. Kita juga bisa sadar bahwa kita hanyalah makhluk Allah. Kesadaran bahwa kita dimiliki Sang Pencipta membuat kita lebih berpasrah, sekaligus berdaya.

Harapanku Kini

Melalui semua proses bersama kelas Semeleh menyadarkanku bahwa orang yang berani bukanlah mereka yang nggak punya rasa takut, tetapi mereka yang berani menerima dan menghadapi ketakutan-ketakutan tersebut.

Setelah semua peserta berhasil menggambar “Aku Semeleh” versinya masing-masing. Mbak Intan mulai memfasilitasi mengapa kita perlu harapan. Ada dua pertanyaan yang secara berkelanjutan disampaikan oleh mbak Intan;
  • Mengapa kita harus tetap berharap, meski ada kalanya kita harus menerima kenyataan yang tak sesuai dengan harapan?
  • Mengapa harus tetap berharap apabila kenyataannya yang terbaik menurutNYA tak selalu terlihat baik di mata kita?
Pertanyaan tersebut memaksaku untuk berpikir dengan keras. Hingga aku berani menyimpulkan bahwasanya HARAPAN itu bukan sekadar obor penyemangat untuk hidup. Harapan itu bentuk kepercayaan pada Allah bahwa semuanya akan berjalan dengan cara terbaik, meski ada kalanya dikabulkanNYA dalam bentuk yang tak terduga.
Harapan adalah bentuk keberanian. Berani menerima segala ketetapanNya dan mengizinkan diri untuk lebur bersama alur yang telah ditentukan. Harapan itu aktif, bukan pasif. Di dalamnya ada ikhtiar. Di dalamnya ada doa-doa. Di dalamnya ada semeleh. Harapan itu kekuatan untuk memiliki jiwa yang bebas layaknya anak-anak. Tak takut gagal, tak takut jatuh, tak takut berkreasi.
Bismillah, bersama terbitnya tulisan ini, kuizinkan diriku untuk kembali berjiwa bebas seperti anak-anak, sehingga kuberani menuliskan harapan-harapan ini:
harapan setelah semeleh

Menuntaskan Wasiat Ibu

Ada beberapa wasiat ibu yang tak tertulis. Sesungguhnya berat menjalankannya. Beberapa terasa tak mungkin dijalani. Namun setelah mengikuti kelas Semeleh, aku ingat bahwa aku adalah milik Penciptaku yang Maha Kaya, Maha Bisa, Maha Segala.

Aku dengan apa yang kumiliki, terasa susah menjalankan wasiat tersebut. Namun bersama Allah, aku yakin bisa! Kuncinya hanya di aku, beranikah aku berikhtiar, berdoa sekaligus berpasrah pada ketentuanNya.

Kuliah Lagi atau Mengambil Sertifikasi/ Lisensi

Aku ingin kembali fokus pada misi spesifik hidup. Aku ingin bisa lebih memaksimalkan manfaat yang bisa kuberikan pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Ada impian untuk bisa kuliah lagi atau mengambil sertifikasi yang bisa mendukungku berkarya lebih luas.

Mengelola Blogspedia Group

Hal ini yang sampai hari ini pelan-pelan kujalani. Tetap istiqomah menjadi blogger, mengelola tim penulis konten agar bisa berbagi rezeki dengan teman-teman, dan menyelesaikan buku soloku.

Di saat aku memutuskan untuk kembali membuat harapan dan serius menjalaninya, Allah memberikanku hadiah di awal bulan Mei ini;
Akhirnya akun adsenseku diterima!
Sejak lima tahun lalu aku sudah berusaha mengajukan adsense dan berulangkali ditolak. Dan hari ini saat kuukir harapan dalam doa, aku membuka email dan menemukan info kalau blogku sudah siap menayangkan iklan. Alhamdulillah.

Semoga ini pertanda Allah ijabah doaku untuk membesarkan Blogspedia Group. Pastinya jadi PR buatku untuk terus konsisten update blog dengan postingan-postingan bermanfaat.

Manusia adalah keajaiban yang Allah ciptakan di muka bumi. Manusia punya daya untuk merasa dan mencipta. Dengan mengoptimalkan daya yang Allah berikan, manusia bisa menciptakan keajaiban-keajaiban baru. Asalkan dalam prosesnya, kita fokus pada KREASI. Bukan fokus pada ekspektasi.

Dan semua itu hanya bisa terjadi ketika diri sudah memiliki tingkat kesadaran yang baik. Maka PR buatku sekarang adalah membereskan ketidaksadaran yang masih ada dalam diri.

Terima segala amarah, curiga, sakit hati, prasangka, ketakutan, ketakpercayaan dan segala emosi negatif itu, lalu izinkan diri untuk melepaskannya. Perlahan-lahan bangun kesadaran bahwa lebih banyak hal yang bisa disyukuri daripada diratapi.

Stop menyibukkan diri pada penghakiman orang lain. Pun sudah saatnya berhenti memberikan penghakiman pada diri sendiri. Kumpulkan energi positif untuk kembali berani berharap. Menjadi semeleh itu bukan berarti tak memiliki ambisi, bukan pula melemahkan diri.
Semeleh berarti mampu menerima segala ketidaksempurnaan sebagai kesempurnaan yang sebenarnya. Semeleh artinya mengizinkan diri untuk berperan sesuai kapasitas dan mempercayai Allah sebagai sebaik-baiknya penggenggam harapan.
Inilah prosesku menjadi semeleh dan kembali berani berharap. Semoga bermanfaat ya, pals. Dan untuk siapapun yang saat ini sedang galau, atau sedang berada di titik terendahnya, ayo pulih!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

6 comments

  1. Banyak belajar banget dari tulisan yang sangat lengkap ini.
    Semoga bisa terus berusaha untuk menjadi semeleh dalam hidup ini

    ReplyDelete
  2. Aku juga dua tahun lalu klo gak salah, nulis jurnal tiap hari selama sepuluh menit. Trus berhenti. Dan sekarang masih terus berjuang untuk semeleh.

    ReplyDelete
  3. Aku juga punya luka batin sejak kecil mba dan berkali-kali ikut kelas untuk belajar menerimanya. Memang nggak mudah tapi pelan-pelan lukanya berkurang. Walaupun kalau lagi kambuh akibat ada pemicunya sakit banget.

    Selamat Coach akhirnya punya adsense juga hehe

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah tulisan yang panjang tapi enak dibaca. Beneran jadi pengen ikutan kelasnya Semeleh deh

    ReplyDelete
  5. Akhirnya rasa penasaranku tentang kelas semeleh ini terjawab sudah. Di FB soalnya pernah baca ttg kelas ini.
    Selama ini bertanya² kenapa namanya semeleh.

    Makasiih mba utk sharingnya. Bermanfaat sekaliii...

    ReplyDelete
  6. Kukira semeleh itu apa hehe.
    Btw, kelasnya sangat bagus dilihat dari review Kaka ini.
    Keknya kita bnyak kesamaan di awal ttg sifat hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email