header marita’s palace

Refleksi Pendidikan Selama Pandemi; PJJ, PTM atau Kombinasi?

Konten [Tampil]
refleksi pendidikan selama pandemi
Refleksi pendidikan selama pandemi nampaknya harus mulai dilakukan. Satu setengah tahun sudah pandemi menghantam dunia, termasuk juga negeri kita tercinta. Sejak pandemi mau tak mau pendidikan pun tak berjalan optimal.

Tingkat penyebaran virus yang sedemikian cepat memaksa pemerintah mengamil kebijakan untuk menjalankan sekolah secara daring. Disampaikan oleh Pak Nadiem Makarim bahwa sesuai dengan SKB 3 menteri, PTM (Pertemuan Tatap Muka) sudah bisa mulai dilakukan sejak bulan Januari 2021.

Tentu saja ada banyak ketentuan dan syarat yang mengikat bagi sekolah-sekolah yang bisa melaksanakan PTM. Terutamanya menyesuaikan kondisi wilayah di mana sekolah itu berada. Jika sekolah itu berada di zona hijau, maka boleh-boleh saja mengadakan PTM.

Meski begitu PTM yang dilakukan pun masih bersifat terbatas. Artinya, orangtua bebas menentukan apakah anaknya diizinkan mengikuti PTM atau tetap menjalani PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Sekolah tidak boleh memaksakan pilihan orangtua.

PTM terbatas juga bisa dilaksanakan dengan maksimal 50% dari jumlah siswa di kelas. Dan tentu saja harus melakukan protokol kesehatan yang sangat ketat. 

Saat ramadan lalu, sekolah-sekolah tertentu di Semarang sudah mulai melakukan uji tatap muka. Termasuk juga di sekolah anakku. Betapa girangnya anakku akhirnya bisa bertemu dengan guru dan teman-temannya lagi.

Semangat belajarnya langsung meningkat dengan pesat. Tidak ada lagi celotehan merasa bosan dari bibirnya. Anakku jadi lebih ceria. Sayangnya keceriaan itu hanya bersifat sementara. Setelah libur akhir ramadan dan lebaran selesai, angka covid naik lagi. Bahkan kali ini benar-benar meroket.
saat covid naik lagi, PJJ lagi deh
Tempat tinggal kami masuk jadi zona merah lagi. Angka kenaikannya lumayan tinggi. Rumah sakit dekat rumah yang juga jadi tempat kerja suami mulai kembali penuh dengan pasien-pasien covid. Akhirnya dengan banyak pertimbangan, sekolah anakku mengambil kebijakan untuk kembali belajar secara online. Untungnya kebijakan tersebut diambil bersamaan dengan liburan akhir semester. Aku hanya bisa berharap semoga saat liburan usai, angka covid sudah kembali turun dan anak-anak bisa kembali melakukan tatap muka.

Saat aku nglokro karena mendapat info PTM belum bisa dijalankan lagi, saat itulah aku mendapat kesempatan ikut event Faber-Castell terkait refleksi pendidikan selama pandemi. Pada event tersebut pemerhati pendidikan Saufi Sauniawati membuka wawasanku terkait hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan selama PJJ, PTM atau jika ada kombinasi keduanya.

Event yang berlangsung pada hari Sabtu, 5 Juni 2021 tersebut sungguh memberikanku semangat untuk memandang PJJ, PTM ataupun keduanya bukan lagi jadi masalah besar. Namun sebuah tantangan untuk ditaklukkan. Meski begitu butuh kolaborasi dan kerjasama antara berbagai pihak untuk menaklukkan tantangan-tantangan yang ada.

Dampak Positif dari PJJ

Setelah menjalani PJJ kurang lebih satu setengah tahun, jujur saja aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan tersebut. Ya, bersyukurnya anakku yang sekolah masih seorang saja. Jadi aku memang belum benar-benar rempong.

Tentu akan berbeda jika di rumah teman-teman kongkow, ada dua, tiga atau empat anak yang bersekolah online secara bersamaan, pasti pusing banget yaks?

Meski awalnya sempat menguras emosi, aku merasakan ada beberapa dampak positif dari PJJ, antara lain:
dampak positif pjj selama pandemi

1. Bonding Orangtua dan Anak Meningkat

Jika sebelumnya aku hanya mendampingi si kakak belajar di malam hari, selama pandemi mau tak mau waktuku memantau perkembangan belajarnya jauh lebih banyak. Aku jadi lebih melek dengan kemampuan dan juga kekurangan si kakak.

Pastinya aku jadi lebih empati terhadap peran guru yang tak mudah. Aku jadi mencari tahu bagaimana cara menyampaikan materi pelajaran yang dibagikan di grup kelas agar mudah dipahami oleh si kakak. Menghabiskan lebih banyak waktu dengan si kakak, kedekatan kami jadi semakin meningkat.

Tak hanya antara orangtua dengan si anak, bonding dengan saudara juga semakin baik. Ya, meski lebih banyak mendengar mereka bertengkar, namun sebenarnya saat itu mereka sedang belajar berkonflik. Tak perlu banyak ikut campur, ujung-ujungnya mereka bisa berdamai dan mencari solusi dari pertikaian yang terjaid, hehe.

2. Anak Semakin Kreatif dengan Perangkat Digital

Namanya juga belajar online, mau nggak mau si kakak jadi lebih sering pegang HP dan laptop. So far, aku dan ayahnya memang bersepakat untuk tak perlu menyediakan HP dan laptop khusus untuk si kakak.

Bersyukurnya jam belajar online di sekolah kakak tak terlalu ketat, sehingga menggunakan HP dan laptopku yang selalu ada di rumah sudah cukup memadai. Gara-gara seharian di rumah sama bundanya, si kakak sering mengamatiku ngeblog dan bermain-main dengan Canva. Eeeh, la kok lama-lama dia mau mengisi blognya sendiri.

Memang sih aku sudah siapkan blog untuk masing-masing anak. Rencananya memang nanti akan kuserahkan pada mereka untuk mengisi sendiri saat sudah bisa mengetik dan menulis dengan lancar. Gara-gara pandemi, si kakak jadi bersemangat untuk mengisi blognya sendiri. Tak hanya itu, ia juga senang bereksplorasi dengan desain di Canva.

3. Tak Hanya Akademis, Soft Skill Pun Terasah

Salah satu sisi positif lainnya dengan adanya PJJ yaitu si anak tak melulu belajar tentang akademis. Soft skill si kakak jadi lebih terasah. Hal-hal sederhana seperti menyapu, mengepel dan menyiapkan makanan sederhana, seperti sosis goreng dan mie instan kini bisa ia lakukan sejak pandemi menyerang. Bahkan ia sering menawariku untuk membuatkan sarapan saat dilihatnya aku masih berkutat dengan pekerjaan di depan laptop. Alhamdulillah.

4. Munculnya Kreativitas dalam Sarana Pembelajaran

Tak hanya TVRI yang menayangkan video pembelajaran, aku lihat banyak sekolah yang gara-gara pandemi jadi punya YouTube Channel dan mengunggah video pembelajaran di channel tersebut. Begitu juga dengan sekolah si kakak.

Para guru jadi lebih kreatif dalam menyajikan media belajar agar tidak monoton dan anak-anak lebih cepat menyerap materi. Emaknya pun bisa ikut belajar deh, hehe.

Dari empat dampak positif di atas, apakah teman-teman kongkow juga merasakannya? Atau malah lebih banyak merasa dampak negatifnya?

Tantangan yang Muncul Selama PJJ

Ya, nggak bisa dipungkiri meski punya sisi positif, PJJ pun juga membawa segudang tantangan. Ya, aku lebih suka menyebutnya sebagai tantangan daripada masalah. Tantangan terasa lebih positif dibandingkan istilah masalah.

Mendengar kata masalah diucapkan, terasa begitu berat dijalani. Jadi mager untuk mengatasinya. Namun istilah tantangan terasa lebih ramah untuk ditaklukkan, wkwkw. Soal persepsi aja sih ya…

Nah, ngobrolin tantangan selama PJJ, aku rasa berikut ini hal-hal yang bisa ditemukan:
tantangan PJJ selama pandemi

1. Dari Sisi Siswa

Paradigma bahwa di rumah itu artinya libur masih tertancap kuat di benak anak-anak. Meski sudah disampaikan bahwa sekolah bukan diliburkan, tapi dipindahkan di rumah, awal-awal Covid-19 datang menerpa, mendisiplinkan anak cukup jadi PR besar.

Ketika disiplinnya belum terbentuk, maka motivasi belajar pun jadi tak tumbuh. Akhirnya materi pelajaran disimak asal-asalan, tugas dikerjakan tak sepenuh hati. Eh, malah kadang kedistraksi untuk main game atau nonton YouTube.

Apalagi saat di awal-awal PJJ, guru pun juga belum siap 100% untuk melakukan PJJ, jadi materi ajar dan tugas-tugasnya kadang terlalu banyak porsinya. Jadi anak-anak merasa terbebani. Belum lagi kalau ortu sendiri tak bisa maksimal mendampingi, anak akhirnya browsing di mesin pencari tanpa pengarahan. Ketika ketemu jawaban yang dibutuhkan, tanpa diolah langsung asal copas untuk mengerjakan tugas. Hmm..

2. Dari Sisi Guru

Namanya juga dadakan kaya tahu bulat, tentu saja para guru di awal cukup terkejut dengan adanya PJJ. Kebingungan harus menggunakan platform apa yang tepat untuk semua muridnya. Belum lagi saat tahun ajaran baru dan harus berganti kelas, tentu sangat susah membangun bonding dengan murid hanya lewat online.

Kreativitas antara satu guru dengan guru lainnya berbeda. Belum lagi kecepatan belajar dalam menggunakan platform online juga berbeda. Ada guru yang cepat belajar dan beradaptasi, terutama guru-guru yang masih muda. Ada guru-guru yang butuh waktu lama untuk memahami teknis penggunaannya.

3. Dari Sisi Orangtua

Biasanya hanya menghadapi anak beberapa jam sebelum dan setelah sekolah, banyak orangtua yang dibuat terkaget-kaget dengan perilaku anak. Belum lagi kalau anak mengeluh bosan, bingunglah cari alternatif kegiatan. Ujung-ujungnya dikasih handphone biar nggak mengganggu aktivitas lainnya. Apalagi kalau orangtuanya juga harus work from home.

Selain itu banyak orangtua yang juga tak tahu platform yang digunakan, belum tahu apa itu Google Classroom, Zoom, Google Form, dan lain-lain. Belum lagi, nggak semua orangtua memiliki fasilitas yang cukup memadai, seperti HP ekstra, kuota ataupun akses wifi.

4. Dari Sisi Teknis

Sisi teknis ini juga membawa tantangan tersendiri. Tidak semua anak memiliki gadget yang memadai. Bahkan banyak orangtua yang harus berhutang agar anaknya bisa mengikuti pembelajaran online.

Saat gadget sudah ada, tantangan lain kembali muncul. Belum semua daerah di Indonesia memiliki sinyal yang kuat. Di beberapa pelosok desa, ada sinyal-sinyal internet yang tak sampai, hingga mau tak mau para guru harus mendatangi muridnya secara bergantian.

Sementara itu di kota yang sinyal internetnya cukup oke, biaya pembelian kuota menjadi tantangan tersendiri. Terutama buat orangtua yang ekonominya terdampak karena pandemi. Jelas bukan hal mudah untuk bisa beli kuota. Ya, meski akhirnya ada bantuan kuota belajar dari pemerintah.

Namun hal tersebut belum menutup adanya pembengkakan biaya. Sekolah dari rumah artinya orangtua perlu menyiapkan dana tambahan untuk mencetak materi dan tugas-tugas yang tak sedikit. Bersyukurlah yang di rumahnya punya printer sendiri, atau setidaknya punya kelapangan rezeki untuk membeli printer.

Lihatlah di luar sana banyak orangtua yang buat mencetak materi dan tugas harus menyisihkan uang belanja harian. Atau harus berjalan jauh untuk menuju tempat cetak.

Refleksi Pendidikan Selama Pandemi: Pentingnya Kolaborasi

Jadi apa sih yang bisa diambil dari refleksi pendidikan selama pandemi? Kalau menurutku sih diperlukan adalanya kolaborasi antara orangtua, guru dan murid. Dengan adanya kolaborasi, segala tantangan yang tertulis di atas, insya Allah bisa teratasi. Bagaimana caranya?
peran ortu dalam pendidikan pandemi

1. Peran Orangtua

Selama PJJ mau tak mau semua orangtua di Indonesia sedikit banyak belajar menjalani homeschooling. Belajar dari para pelaku homeschooling, orangtua harus bisa berperan sebagai;
  • Pembimbing - membimbing anak-anak memahami materi dan mengerjakan tugas. Membimbing bukan malah menggantikan anak-anak mengerjakan tugasnya ya? Jika orangtua yang mengerjakan tugasnya, artinya anak-anak sedang dilatih untuk tidak jujur. Padahal kejujuran adalah karakter penting yang harus ada dalam diri manusia.
  • Fasilitator - kita tidak perlu harus tahu semua materi, tidak perlu harus paham semua materi. Sebagai fasilitator, kita bisa menjadi teman belajar bagi anak. Anak diajak berdiskusi dan berkomunikasi. Jika ada tantangan, ajak anak untuk terlibat dalam pencarian solusi.
  • Pengawas - untuk menjalankan peran ini, orangtua harus mampu merumuskan aturan yang berlaku selama PJJ. Misal terkait kapan gadget bisa digunakan. Orangtua juga harus mengawasi jam belajar anak, dan memantau perkembangan belajarnya.
  • Motivator - belajar sendirian itu memang sangat berat dan membosankan, orangtua harus pandai-pandai memotivasi anak dengan banyak meluangkan waktu untuk ngobrol dan berbincang dari hati ke hati. Orangtua juga harus aktif terlibat dalam urusan belajar anak, khususnya dalam berkomunikasi dengan gurunya.
peran guru dalam pendidikan di masa pandemi

2. Peran Guru

Sementara itu dari sisi guru, berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan:
  • Menyiapkan Materi Bahan Ajar yang Menarik - guru harus mau keluar dari zona nyaman, belajar hal-hal baru demi bisa menyiapkan materi bahan ajar yang menarik dan mudah dipahami murid-muridnya.
  • Sebagai Pamong - Kenali apa yang saat ini menjadi trend, agar bisa dekat dengan dunia murid-muridnya. Tak hanya itu, guru juga harus bisa mentransfer materi ajar dan teknisnya kepada orangtua, sehingga orangtua tidak kebingungan dalam berproses bersama.
  • Sebagai Pengawas - saat komunikasi dengan orangtua sudah berjalan baik, guru tinggal berperan sebagai pengawas. Memberikan masukan dan feedback dalam proses belajar PJJ.
  • Sebagai Guru - tentu saja peran utama seorang guru adalah menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Meski hanya lewat online, peran tersebut tetap harus dilaksanakan, misalnya tetap disiplin masuk ke kelas meski online.
  • Sebagai Motivator - sama halnya dengan orangtua, guru juga harus bisa berperan sebagai motivator untuk muridnya, sehingga mereka bisa tetap semangat belajar meskipun secara daring
peran siswa dalam PJJ di pandemi

3. Peran Murid

Keberhasilan PJJ tentu saja juga akan bisa dicapai jika para murid juga mau ikut berperan. Dalam hal ini tentu saja murid harus memiliki sikap;
  • Bertanggungjawab - tahu kapan waktunya belajar, mengerjakan tugas dan kapan boleh bermain.
  • Inovatif - tidak harus menunggu disuruh orangtua/ guru, anak bisa berusaha mencari tahu solusi dari tugas atau tantangan yang dihadapi.
  • Inquiry - memiliki keingintahuan tinggi terhadap permasalahan atau cara penyelesaian terhadap tugas-tugas yang diberikan. Tidak mudah menyerah dan terus berusaha mencari tahu hingga ketemu caranya.
  • Komunikatif - mampu memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan orangtua dan guru, sehingga bisa mengutarakan kebutuhan dirinya. Tidak takut menyampaikan apa yang dirasakan dan diinginkan terkait proses belajar.

4. Masalah Teknis

Sementara itu terkait masalah teknis, utamanya penggunaan gadget, di rumahku menggunakan konsep 3D yang dikenalkan oleh Abah Ihsan. Bahwa anak boleh menggunakan gadget dengan syarat;
  • Dibutuhkan - hanya dipakai berkaitan dengan aktivitas sekolah dan pengembangan diri, misal ngeblog dan belajar desain.
  • Dipinjamkan - tidak ada anak yang dibelikan gadget sendiri sebelum mereka berusia 17 tahun, anak-anak hanya akan dipinjami gadget orangtua. Itu artinya akses yang dimiliki merekat terbatas.
  • Didampingi - boleh menggunakan dalam pengawasan orangtua, berada di ruang publik dan sesuai arahan yang diberikan orangtua.
Boleh menggunakan untuk kepentingan hiburan, tetapi harus sepengetahuan dan disetujui oleh orangtua. Misal, anak-anak saat nonton YouTube, biasanya akan meminta persetujuan apakah boleh menonton suatu tayangan. Jika dibolehkan, baru deh diklik.

Begitu juga saat anak-anak ingin mengunduh aplikasi game baru di playstore, anak-anak akan bertanya lebih dahulu padaku atau ayahnya. Jika diizinkan, baru deh mereka berani mengunduhnya.

Terkait dalam rangka menekan biaya cetak materi dan tugas, aku dan ayahnya anak-anak sepakat untuk membeli printer. Daripada bolak-balik ke tempat cetak, aku merasa membeli printer jauh lebih efektif.
Namun bagi orangtua yang tidak memungkinkan untuk membeli printer, kini sudah ada lo solusi efektif yang bisa mengurangi biaya cetak. Yaitu dengan menggunakan paket belajar online dari Faber-Castell.

Paket Belajar Online dari Faber-Castell Mengoptimalkan PJJ

Masih dalam event yang sama, Product Manager PT Faber-Castell International Indonesia, Christian Herawan menyatakan bahwa dengan adanya produk teranyar dari Faber-Castell ini, orang tua tak lagi harus direpotkan dengan keharusan menyiapkan materi dengan cara dicetak. Kok bisa? Ya, karena paket ini bisa memudahkan siswa untuk menjawab langsung soal-soal yang diberikan melalui gawai yang dipakai.
paket belajar online faber-castell
Paket Belajar Online Faber-Castell terdiri atas alat tulis yang lengkap seperti pensil, penghapus dan juga ballpoint yang dibutuhkan saat belajar. Namun yang paling keren adalah adanya stylus di dalam paket tersebut.

Stylus yang berada di paket belajar online ini memiliki banyak fungsi dan keunggulan, antara lain:
  • Bisa membantu menjawab pertanyaan baik model pilihan ataupun essay.
  • Bisa digunakan untuk menggeser layar dan menulis.
  • Bisa digunakan untuk menggambar.
  • Cocok dengan segala jenis ujian.
  • Karet stylus bertekstur lembut sehingga layar smartphone aman dari kerusakan.
  • Bisa digunakan di semua jenis atau merk smartphone
stylus faber-castell murah

Cara Menggunakan Stylus dari Paket Belajar Online Faber-Castell

Mau tahu bagaimana cara menggunakan stylus dari Faber-Castell ini? Jika soalnya akan dikumpulkan melalui Google Classroom atau platform belajar online lainnya:
cara pakai stylus faber-castell
  1. Capture soal menjadi gambar.
  2. Buka gambar soal yang ingin dikerjakan, klik edit gambar.
  3. Lakukan penulisan/ pilih jawaban.
  4. Simpan proses editing dan kirimkan ke Google Classroom.
Bagaimana jika tugasnya harus dikirimkan melalui whatsapp? Lebih mudah lagi caranya, pals.
step stylus faber-castell
menggunakan stylus faber-castell
  1. Pilih gambar soal.
  2. Klik share/ bagikan.
  3. Select tombol Doodle/ gambar pensil.
  4. Tulis/ pilih jawaban.
  5. Klik tombol send/ kirim.
Menarik bukan? Kak Ifa aja seneng banget waktu tahu ada stylus kece dari Faber-Castell. Selain jadi gampang mengerjakan tugas, dia juga bisa bikin gambar lewat aplikasi Paint di HP menggunakan stylus ini.

Apakah teman-teman kongkow juga tertarik untuk memiliki stylus yang hanya ada dalam paket belajar online Faber-Castell ini? Cuzz, langsung ke toko buku terdekat yang ada booth Faber-Castell atau meluncur ke offical store Faber-Castell di Tokopedia, Blibli, Bukalapak, dan Lazada.

Harganya? Sangat terjangkau sekali, pals. Satu paket belajar online bisa didapatkan dengan kisaran harga Rp27.000 - Rp30.000,-. Nggak berat kan? Untuk informasi lebih lanjut tentang produk ini, bisa kunjungi official website Faber-Castell ya, pals
stylus faber-castell is good solution for PJJ
Aku rasa paket belajar online dari Faber-Castell ini adalah jawaban atas refleksi pendidikan selama pandemi. Adanya solusi efektif adalah cara terbaik untuk menjalani PJJ dengan lebih baik. Tentu saja jika nanti kurva covid telah kembali melandai, dan PTM terbatas bisa kembali dilakukan. Jangan lupa untuk selalu mengingatkan anak akan pentingnya protokol kesehatan. Tetap semangat mendampingi anak-anak belajar, apapun kondisinya ya, pals. Sampai jumpa!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment