5 Pemanfaatan Teknologi Digital Pada Era New Normal Bagi Keluargaku

pemanfaatan teknologi digital pada era new normal

Pemanfaatan teknologi digital bagi keluargaku sebenarnya tak hanya sebatas di era new normal. Jauh sebelum pandemi covid-19 datang ke negeri ini, aku termasuk salah satu digital mommy. Maksudnya, aku termasuk golongan emak-emak yang sering memanfaatkan teknologi digital.

Lalu apakah ada perbedaan yang kurasakan sebelum dan setelah pandemi terkait peran digital di rumah? Let’s see.

Pengertian Teknologi Digital

Sebelum ngobrolin panjang lebar mengenai aplikasi digital yang banyak kugunakan di rumah, ada baiknya kita cari tahu dulu apa sih arti dari teknologi digital. Dari berbagai informasi yang kuhimpun, teknologi digital adalah sebuah alat yang dalam pengoperasiannya tidak lagi menggunakan tenaga manual/ tenaga manusia. Alias sistem pengoperasiannya sudah menggunakan komputerisasi.

pengertian dan jenis teknologi digital
Saat ini teknologi digital sudah menyentuh hampir semua lapisan kehidupan masyarakat. Dari cloud computing, social computing, big data, sampai payment system semua sudah menggunakan digitalisasi. Benar-benar bisa dibilang hidup kita ini sudah ada di genggaman.

Makanya sampai ada yang bilang zaman sekarang ketinggalan dompet sih nggak bakal meringis, tapi kalau ketinggalan smartphone, dunia seakan runtuh. Disadari atau tidak sekarang kita jadi semakin tergantung dengan kehadiran smartphone. Bahkan kadang lagi kumpul dengan keluarga, kerabat ataupun sahabat, tapi asyik dengan smartphone-nya masing-masing. Miris nggak sih?

Teknologi Digital Sebelum Pandemi vs Era New Normal

Tak sedikit yang tergopoh-gopoh menjalani kehidupan dengan adaptasi kebiasaan baru (new normal), bagaimana denganku? Jika kaitannya dengan protokol kesehatan, harus kuakui aku jadi lebih mawas diri.

Sebagai typical emak rock n roll yang kadang terlalu santai, covid-19 membuatku jadi lebih sering bebersih. Aku lebih cerewet mengingatkan anak untuk ganti pakaian setelah main dari luar. Aku bakal protes kalau ayahnya pulang dari kantor nggak langsung mandi dan ganti baju.

Dulu sih cuek-cuek saja. Bahkan naik motor ke mana-mana hampir nggak pernah pakai masker. Sebenarnya sudah berkali-kali beli masker, tapi akhirnya berujung teronggok di bagasi motor. Entah kenapa kalau pakai masker suka ngantuk di jalan. Kan bahaya kalau mengendarai motor sendiri, wkwk.

peran teknologi digital pada era new normal
Namun sekarang mau tak mau harus membiasakan diri pakai masker ke mana-mana. Bahkan hanya ke warung tetangga aja, masker nggak pernah ketinggalan. Kalau dulu gamis atau kerudung jadi incaran biar mix and match-nya pas, sekarang mah masker aneka warna dan jenis harus ada. Tapi bohong! Maklum bukan termasuk fashionista, jadi ya seadanya aja dipakai, hahaha.

Meski sudah keluar rumah cukup sering, aku dan suami tetap menghindari kerumunan. Malah lebih seringnya hanya naik motor untuk menghabiskan jenuh seharian di rumah. Kalau anak-anak mau ditinggal, justru lebih asyik lagi. Berkah pandemi aku dan suami justru lebih sering having couple time, wkwk.

Nah, kalau hubungannya sama teknologi digital, jujur sebelum dan sesudah pandemi nggak begitu jauh beda sih. Berikut ini beberapa manfaat teknologi digital di dalam keluargaku:

1. Komunikasi

manfaat teknologi digital di dalam bidang komunikasi
Kalau yang satu ini mah sudah pasti lah ya. Sepertinya sudah sejak ada blackberry messenger dan whatsapp, aku hampir jarang punya pulsa untuk telepon. Semua komunikasi dengan suami, dengan sahabat, dengan klien lebih banyak menggunakan jaringan internet.

Di era new normal seperti sekarang, komunikasi lewat internet jelas tambah berkali lipat penggunaannya. Kalau dulu masih diagendakan pertemuan tatap muka, arisan dan dasa wisma di komplek aja hanya lewat whatsapp group, wkwk.

2. Kebutuhan Rumah Tangga

Aku termasuk orang yang jarang bawa uang cash, apalagi sekarang. Belanja sayur sebelum pandemi aku pakai Tumbasin. Sementara sekarang lebih sering pakai Ellfaz Vegetables. Dua-duanya merupakan aplikasi jual beli sayur secara online.

Untuk kebutuhan belanja bulanan aku masih datang ke lokasi sih, namun untuk pembayaran jarang sekali menggunakan cash money. Aku lebih memilih menggunakan kartu debet. Malas aja gitu harus narik uang dulu, lalu dibayarkan. Sekalian saja lah digesek. Beres.

manfaat teknologi digital untuk keperluan rumah tangga
Bayar segala macam tagihan pun sudah sejak setahunan ini sama sekali nggak pernah pakai metode manual. Aku cukup menggunakan aplikasi mobile banking atau OVO. Tergantung mana yang ada isinya, hehe.

Kalaupun ada yang berbeda dengan masa sebelum pandemi yaitu penggunaan aplikasi ojek online. Aku sangat jarang menggunakan aplikasi tersebut. Selain karena lebih nyaman mengendarai motor sendiri, aku typical yang senang jajan langsung ke lokasi.

Namun dengan adanya pandemi yang nggak bisa ke mana-mana, mau nggak mau aplikasi tersebut jadi nongkrong di smartphone-ku. Aku lebih banyak memanfaatkannya untuk beli makanan sih. Dan ternyata nagih ya pakai ojek online itu, bahaya pokoknya dah kalau ada saldo, bawaannya pengen jajan aja, wkwk.

3. Berkarya

Sejak 2012 memutuskan resign dan mendapat tawaran bekerja sebagai content writer, internet sudah menjadi sarana terpenting untukku berkarya. Awalnya sebelum ada sambungan internet di rumah, setiap ada kerjaan aku harus lari ke warnet untuk mengumpulkan data. Lalu data-data itu kuolah di rumah menjadi tulisan.

manfaat teknologi digital dalam berkarya dan bekerja
Setelah tulisannya jadi, aku bergegas kembali ke warnet untuk menerbitkannya di website yang telah disediakan. Lumayan banget tuh. Apalagi saat itu anak pertamaku masih bayi. Alhamdulillah bosku yang baik hati memasangkan internet di rumah. Kerja pun jadi lebih mudah deh.

Apalagi sekarang setelah nyemplung ke dunia digital lebih dalam lagi, betapa luasnya dunia ini. Bukan hanya ngeblog yang bisa jadi wadah berkarya. Bikin video, edit foto dan buat infografis, sharing via IG live, semuanya dijalankan karena adanya teknologi digital.

Terkait dengan poin ketiga ini, perbedaan yang kurasakan adalah penggunaan media sosial yang jauh lebih banyak dibanding sebelum pandemi. Dulu mana pernah aku melakukan IG Live, nggak pede bo! Berkat sebuah kelas belajar, aku jadi ketagihan ngelive di IG, wkwk. Semoga saja ada manfaat yang bisa diambil dari obrolan-obrolanku bersama para tamu spesial ya.

4. Belajar

manfaat teknologi digital untuk belajar daring
Belajar via daring bukanlah hal baru di rumahku. Bedanya sebelum pandemi hanya aku saja yang sering memanfaatkan aplikasi-aplikasi belajar semacam Google Classroom dan Zoom. Namun ketika covid-19 menyerang, mau tak mau anakku pun harus ikut belajar secara online.

Sebuah keuntungan buatku yang sudah biasa nyemplung dalam penggunaan Google Classroom, Zoom, Google Form dan Google Drive, aku nggak perlu banyak beradaptasi. Dengan pengalaman yang kumiliki terkait aplikasi-aplikasi tersebut, aku siap-siap saja mendampingi anakku belajar online. Selain itu aku juga jadi bisa banyak membantu para ibu yang belum berpengalaman dalam mengoperasikan aplikasi tersebut.
Jadi terasa deh manfaatnya, bahwa selalu ada bedanya orang yang belajar dan tidak.
Kadang kala kita merasa buat apa sih belajar ini itu, belum diperlukan juga. Eh ketika tiba di sebuah kondisi kita harus menggunakannya, jadi lebih gampang aja kalau sudah pernah mempelajari sebelumnya. Beda ketika sama sekali belum pernah dengar dan pakai, pasti kelabakan dan nervous.

5. Entertainment

Sampai sekarang internet masih jadi primadona di rumah untuk urusan cari hiburan. Anak-anak nggak pernah protes meskipun nggak ada TV di rumah, tapi kalau nggak ada YouTube baru mereka bisa manyun, wkwk.

Buatku sendiri jaringan internet bukan hanya membantu dalam berkarya dan belajar, tapi juga bermanfaat untuk merenggangkan otot-otot badan dengan menikmati drama korea, talkshow di youtube, dan film-film terbaru.

manfaat teknologi digital untuk menghibur diri
Bedanya, jadwal screen time anak-anak jadi bertambah sejak 24 jam di rumah, wkwk. Dengan duo bocil yang aktif, ketika jatah screen time tidak ditambah, artinya keonaran di rumah pun akan bertambah.

Ada kalanya deadline pekerjaan menghimpit, sedang otak nggak bisa mikir kalau rumah berubah wujud jadi kapal pecah. Mau tak mau anak-anak pun diberikan extra screen time. Kakaknya sih sudah paham saat bunda bilang, waktu nonton sudah habis. Yang jadi PR, adiknya  masih suka cranky ketika jatahny sudah habis tapi nggak mau berhenti nonton.

Begitulah yaa, selalu ada efek di setiap keputusan yang kita lakukan. So far sih menurutku masih aman. Selama 3D masih dijalankan di rumah, anak-anak pun tetap bisa terkontrol. Apa itu 3D?

Dipinjami, diawasi dan didampingi: teknik pembatasan gadget ala Abah Ihsan

  • Dipinjami, maksudnya gadget yang digunakan anak untuk belajar dan menonton youtube bukan gadget milik pribadi. Namun dipinjami milik kedua orangtuanya. Dengan dipinjami, mereka tidak memilliki hak atas gadget tersebut. Justru ada batasan dan konsekuensi yang mengikat mereka.
  • Diawasi, artinya mereka boleh meminjam gadget orangtuanya untuk mengakses youtube atau game-game tertentu. Namun hanya boleh dilakukan di area yang terlihat orangtua. Tidak boleh mengaplikasikan gadget sendirian di kamar. Gadget pun digunakan bareng-bareng kakak dan adik. Sekalian belajar berbagi, hehe.
  • Didampingi, maksudnya tidak dibiarkan mengakses apapun via internet sendirian. Orangtua harus selalu mendampingi anak-anak saat menonton aneka video di youtube ataupun saat sedang main game. Selain bisa saling bercerita, anak-anak juga jadi lebih terkontrol ketika ada tayangan-tayangan yang kurang tepat. Orangtua bisa langsung memberikan edukasi yang pas kepada anak.
Itulah sekelumit pemanfaatan teknologi digital di dalam keluargaku. Tidak terlalu banyak bedanya sih sebelum pandemi dan di era new normal. Selama digunakan secara tepat dan bijak, semua hal di dunia ini, termasuk teknologi, bisa jauh lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya. Kalau di keluarga kalian, ada bedanya nggak nih?
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email