header marita’s palace

Pengalaman Vaksin Sinovac, Ikhtiar Mencegah Covid-19

Konten [Tampil]
pengalaman vaksin sinovac, ikhtiar menghentikan covid-19
Alhamdulillah tepat pada hari ini, Kamis, 1 Juli 2021, pengalaman vaksin Sinovac telah tuntas kulakukan. Aku akan membagikan ceritanya ke teman-teman kongkow semua. Siapa tahu masih ada yang ragu untuk mengikuti vaksinasi dalam upaya mencegah Covid-19. Semoga tulisanku ini bisa jadi bahan pertimbangan.

Mengapa Memilih Sinovac?

Simpang-siur berita terkait Sinovac sudah bergulir sejak vaksin ini dipilih oleh pemerintah. Jujur aku kurang mengikuti segala perdebatan yang ada. Aku termasuk yang santuy dan memilih percaya pada kebijakan pemerintah.

Ya, meski mungkin banyak kebijakan pemerintah yang membuat luka di hati rakyat. Namun bukankah sebagian besar kita telah memilih presiden beserta jajarannya? Yang bisa kita lakukan ya memberikan kepercayaan kepada mereka to?
Jikalau dalam prosesnya kepercayaan itu dikhianati, bukan porsiku untuk menghakimi mereka. Biarlah jadi urusan mereka dengan Allah.
Begitu juga soal vaksin. Aku rasa pemerintah pastinya sudah memikirkan masak-masak lah ya, saat memilih vaksin-vaksin yang akan digunakan untuk rakyatnya. Ya, masa sih mau melakukan pembunuhan massal kaya yang digemborkan beberapa pihak tak bertanggungjawab? I don’t know, but I think it’s insane thought. Yang bilang kek gitu, mungkin kebanyakan nonton video-video konspirasi.

Selama pandemi tuh buanyak banget berita nggak jelas, sampai antara yang hoax dan nggak itu bercampur jadi satu. Lalu kalau berbeda pendapat dengan mayoritas di sekeliling kita, akan ada anggapan kita begini dan begitu. Whatever, dah.

Aku udah mulai malas dan capek aja sih menanggapi teori ini dan itu terkait Covid-19. Buatku ya pandemi ini takdir dari Allah yang harus kita jalani dengan ikhlas dan tawakal. Gimana caranya berikhtiar sekuat dan sebaik yang kita bisa. Hasil akhir, Allah yang menentukan.
why choosing sinovac
Nah, masalah ikhtiar ini setiap orang pasti punya pilihannya masing-masing. Ya nggak perlu repot-repot menakut-nakuti orang lain dengan berita yang belum tentu jelas kebenarannya. Jika kalian nggak percaya pada vaksin, ya telan aja buat diri sendiri. Nggak perlu mengajak dan memaksa orang lain untuk mempercayai hal yang sama.

Baru saja aku dapat info dari WAG Gandjel Rel, sebuah resume webinar tentang corona bersama dr.Sugeng Ibrahim M, Biomed (AAM) pada 26 Juni 2021 yang menyatakan bahwa Indonesia bisa mencapai kondisi aman bebas penularan covid, bisa bebas tanpa masker, jika herd immunity sudah tercapai 167juta penduduk. 167juta ini jumlah dari orang yang sudah vaksin ditambah yang sudah sembuh dari Covid, pals. Faktanya sekarang jumlah tersebut baru sekitar 44juta. Wow, masih jauh ya?
That’s why, aku memilih vaksin sebagai salah satu jalan ikhtiarku untuk mencegah terpapar Covid-19. Selain itu, aku hanya ingin jadi bagian dari rakyat yang mendukung program pemerintah. Biar Indonesia bisa segera bebas dari pandemi ini.
Dilansir dari Detik.com;
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir menyebut dasar pemilihan vaksin COVID-19 harus memenuhi beberapa faktor seperti memenuhi unsur aman, efektif, dan mutu. Hal inilah yang menjadi penentu pemerintah memilih vaksin Sinovac.

Adapun dasar pemilihan vaksin COVID-19 harus memenuhi beberapa faktor seperti vaksin yang terpilih harus memiliki unsur keamanan khasiat dan mutu yang terjamin oleh lembaga yang berwenang. Selain itu, harus dapat dibuktikan dari serangkaian pengujian yang dimulai dari pengujian praklinis, uji klinis tahap satu, dua dan tiga.

"Jika melihat timeline ataupun proses pengembangan, calon vaksin COVID-19 dari Sinovac termasuk satu dari 10 kandidat yang paling cepat dan sudah masuk ke uji klinis tahap 3. Selain itu, metode pembuatan vaksin menggunakan platform inactivated virus sudah dikuasai Bio Farma," kata Honesti dalam keterangan tertulis, Jumat (11/12/2020).
Berita itu buatku sudah cukup untuk percaya pada pemerintah. But, sebenarnya kalau ditanya kenapa pilih Sinovac, kok nggak Pfizer, Moderna atau Astrazeneca, jawabanku sederhana.
Karena memang pada program vaksinasi yang digelar di RWku, vaksin Sinovac yang disediakan.

Kok Bisa Terjadwal Vaksin?

Sejujurnya aku termasuk orang yang rela untuk divaksin di akhir. Biarlah yang benar-benar membutuhkannya dulu. Bukan karena nggak percaya sama vaksinnya. Aku bukan antivaks, tapi juga nggak yang vaksin minded all the time. Di tengah-tengah aja.

Sepanjang aku hidup, ibuku selalu rutin menjadwalkan vaksin yang dianjurkan oleh pemerintah. Begitu pula dengan anak-anakku, meski Affan masih ada satu vaksin yang keskip karena pas jatah vaksin doi harus masuk rumah sakit karena bronchopneumonia. Sampai sekarang usianya mau 5 tahun, belum kuvaksin yang skip itu. Jadi ingat kan gara-gara nulis ini, ntar deh tanya temanku yang paham gimana mengejar ketertinggalan vaksin tersebut.
Intinya bukan vaksin dan kandungannya yang bikin aku takut. Sejujurnya aku lebih takut sama jarum suntiknya. Ya, aku secemen itu sama jarum suntik, wkwk.
Saat vaksin covid-19 mulai dijadwalkan untuk nakes dan ASN, lalu lanjut ke lansia, aku santuy aja menunggu jadwal untuk masyarakat umum. Hingga suatu hari di akhir bulan Mei, pak RT-ku yang baik hati, siang bolong muterin kampung cuma buat menanyakan ke warganya satu per satu, “Bersedia nggak ikut serta dalam program vaksinasi yang diinisiasi oleh Pak RW?
menjadwalkan vaksin
Diinfokan juga oleh beliau, perkiraan vaksinasinya akan dilaksanakan mulai tanggal 1-4 Juni 2021. Dengan yakin aku bilang, “Ya, Pak. Mau.” Di saat yang lain galau menunggu jadwal vaksinasi, aku diberi kemudahan nggak perlu daftar ke sana ke mari, kesempatan datang dengan begitu mudah, masa ya aku sia-siain.

Lagian menghargai Pak RT yang sudah meluangkan waktu kerjanya untuk keliling dari rumah ke rumah, panasan… ya Allah. Makasih ya Pak, jasa-jasamu luar biasa. Aku mendukung beliau jadi Pak RT seumur hidup, hihi.

Fyi
, program vaksinasi di lingkungan RW-ku itu semacam proyek percobaan gitu lo. Kebetulan Kecamatan dan Kelurahan tempatku tinggal itu termasuk zona merah, pals. Nah, pak RW yang memang seorang kepala puskesmas di wilayah tersebut, memikirkan bagaimana caranya agar penyebaran covid di wilayah kami bisa ditekan.

Kemudian Pak RW dan jajarannya mengusahakan program vaksinasi khusus RW kami. Yang alhamdulillah kemudian disusul dengan program di RW-RW lainnya.

Pengalaman Vaksin Sinovac Dosis 1

Nggak lama setelah pendataan door to door yang dilakukan oleh Pak RT, bu RT memberikan informasi penting terkait kelanjutan jadwal vaksinasi di Whatsapp Group PKK RT. RT kami mendapat jadwal pada hari Kamis, 3 Juni 2021.

Qodarullah jadwal itu bersamaan dengan kontrol gips Affan ke rumah sakit. Eh iya, aku belum cerita ya soal Affan yang kudu digips. Next deh, aku ceritain momen-momen heboh dan mengharu-biru itu.

Alhamdulillah kontrolnya nggak lama, karena suami mendaftarkan kami ke poli eksekutif. Biar cepat dan lebih aman, nggak banyak pasien katanya, hehe. Jadi aku bisa langsung cuzz ke tempat vaksinasi deh. Sementara itu suamiku nemenin Affan di rumah.

Menurut rencana awal, vaksinasi akan dilakukan di Balai RW. Namun berkaitan dengan protokol kesehatan, lokasi dipindah ke salah satu musholla yang halaman dan ruangannya luas. Cukup memadai agar tidak terjadi gerombolan. Nggak lucu dong kalau muncul cluster baru gara-gara vaksinasi.

Aku tiba di musholla tersebut jam 09.00 bersama tetangga sebelah rumah. Aku lupa sih dapat antrian nomor berapa, sepertinya sekitar 30 atau 50an. Lumayan lah nunggu sekitar setengah jam gitu.

Ketika nomor antrian dipanggil, disuruh menunjukkan KTP. Lalu ada screening terlebih dahulu di teras musholla. Kita akan dicek tensinya, kemudian ditanya beberapa hal terkait kesehatan, seperti;
  • Apakah sedang mengalami demam?
  • Apakah sedang mengalami batuk pilek?
  • Apakah pernah kontak fisik dengan pasien Covid-19?
  • Apakah punya penyakit bawaan, seperti jantung, asma, dll?
Alhamdulillah aku lolos screening dan dipersilakan untuk masuk ke dalam musholla. Udah mulai dag dig dug ser tuh bayangin disuntik. Begitu tiba giliranku masuk ke dalam bilik vaksinasi, jantungku tambah berdetak kencang.

Untung nakes yang bertugas menyuntik ramah dan kalem. Aku diminta untuk santai. Biar nggak takut, aku lihat jam dinding yang ada di musholla aja, nggak berani lihat jarum suntik yang mulai mendekat ke tangan kiri bagian atas.

Eeh tiba-tiba mbak nakesnya bilang, “Sudah selesai mbak. Kalau nanti mengalami panas, bisa minum parasetamol ya. Atau kalau terjadi bengkak, bisa dikompres pakai air hangat.” Aku mengangguk sambil menjawab iya atas anjuran tersebut. 

Masih takjub ternyata nggak kerasa kok prosesnya, wkwk. Nggak seperti pengalamanku diimunisasi zaman masih SD, sakit euy. Setrauma itu aku sama suntikan, sampai seringnya mumpet saat jadwal imunisasi di sekolah, hihi.
apakah vaksin covid sakit
Selesai disuntik, nggak boleh langsung pulang, pals. Kami diminta untuk isi beberapa data, terutama nomor telepon yang bisa di-SMS. Katanya akan dikirimkan link untuk unduh sertifikat imunisasi. Sayangnya aku nggak dapat tuh SMS itu. Apa gara-gara nomorku nggak ada pulsa SMSnya ya, wkwk. La piye wong yang diisi pulsa internet doang.

Selain mengisi data berupa nomor HP dan alamat rumah, kami juga diberikan kartu vaksinasi sebagai tanda telah melakukan vaksin. Setelah kurang lebih 20 menitan, kami dipanggil lagi dan ditanyai apakah mengalami pusing, mual dan sebagainya.

Karena aku tidak mengalami hal-hal tersebut, nakes menyerahkan kartu vaksinasi kepadaku dan mempersilakan pulang. Nggak lupa memberitahukan jadwal vaksinasi kedua, yaitu pada hari Kamis, 1 Juli 2021 bertempat di Puskesmas Kedungmundu.

Banyak yang bilang usai vaksin Sinovac, kita bakal terasa ngantuk dan lapar. Apakah aku merasakannya?

Ngantuk, iya sih. Cuma aku nggak tahu apakah itu karena efek dari vaksin, atau karena memang malam sebelumnya aku begadang, wkwk. Soal lapar, aku juga nggak merasakannya tuh. Biasa aja kaya hari-hari sebelumnya. Emang dasarnya malas makan sih kalau nggak disuapin, eaaa dasar manjaaah.

Alhamdulillah aku nggak mengalami KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Nggak ada drama panas, mual, bengkak dan lain-lain. Ya, paling tanganku yang habis disuntik terasa lebih pegel dari sebelumnya. But, so far so good.

Pengalaman Vaksin Sinovac Dosis 2

Nggak terasa jadwal vaksin Sinovac dosis 2 datang juga. Kali ini aku agak santai sih, karena tetangga sebelah rumah nggak ngajakin bareng. Kebetulan beliau sudah memajukan jadwal vaksinnya ke hari sebelumnya, karena harus tugas ke luar kota.

Malam sebelum vaksin aku tidur malam sekitar jam 11an, dan kemudian bangun jam setengah 3 dini hari. Nggak tidur lagi setelah jam segitu. Setelah suami berangkat kerja, aku asyik gegoleran di kamar sambil scrolling medsos. Tahu-tahu udah jam 9 pagi, wkwk.

Baru deh mandi dan ngabarin suami buat nganterin ke lokasi vaksinasi. Sebenarnya deket sih, karena lokasinya nggak jadi di Puskesmas Kedungmundu, tapi dialihkan ke musholla di salah satu RT, sama seperti lokasi vaksinasi dosis 1. Kalau jalan pun, paling 15 menit juga sampai. Tapi kok mager yaks.

Akhirnya suami datang jam 09.45 dan cuzz anterin ke lokasi. Dapat no antrian 168 dong. Posisi saat itu sudah berjalan sampai nomor 120an. Mayan nunggu 40an orang, hehe.

Prosesnya sama seperti pada dosis pertama. Ada screening terlebih dahulu. Ketika kondisi dinyatakan aman, baru boleh masuk ke bilik vaksin. Banyak yang bilang vaksin dosis 2 jauh lebih sakit. Berita yang nggak bisa dipercaya seratus persen ini bikin aku mules sepanjang nunggu nomerku dipanggil. Ya Allah, phobia sama jarum suntikku datang lagi.

Apalagi waktu tahu nakes yang nyuntik beda dengan yang pas vaksin dosis 1. Namun alhamdulillah, meski beda nakes, nggak sakit juga kok. Tiba-tiba udah kelar aja. Sebagaimana pesan yang disampaikan nakes sebelumnya untuk siap-siap minum parasetamol kalau terjadi demam dan kompres air hangat kalau bengkak.

Alhamdulillah sampai artikel ini tayang aku nggak mengalami demam, bengkak, pusing dan sebagainya. Lagi-lagi kalau soal ngantuk, iya emang ngantuk. Tapi kira-kira ngantuknya karena bangun sejak dini hari atau efek vaksin? Wallahu’alam bishowab.

Hanya saja aku bersyukur siang tadi bisa tidur dengan lelaaap. Bener-bener deep sleep. Untungnya aja anak-anak udah gede dan bisa main sendiri, jadi emaknya tidur, woles aja mereka. Cuma akhirnya jam segini masih melek aja aku gara-gara tidur siangnya kepanjangan.

Oya, sebelum masuk ke bilik vaksin, aku sempat bertanya pada nakes yang berjaga kenapa aku tak mendapat SMS berisi link untuk mengunduh sertifikat. Dan lagi aku cek di website pedulilindungi.id, aku juga nggak menemukan adanya sertifikat vaksin dosis 1. Hanya ada info bahwa aku sudah melakukan vaksin 1 dan ada jadwal untuk vaksin 2.
Lalu si bapak menjelaskan bahwa memang belum semua sertifikat vaksin dibagikan. Bahkan si bapak saja juga nggak dapat sertifikat sampai hari ini. Jika memang butuh bukti untuk melamar kerja, atau terkait urusan traveling ke suatu tempat, bisa menggunakan kartu vaksinasinya saja.
Mendengar penjelasan tersebut, aku jadi lega. Ya kali one day bukti sudah divaksinasi bakal dibutuhkan, siap-siap dulu dong.
bukti vaksinasi covid-19

Apa yang Dilakukan Setelah Vaksin?

Sudah vaksin bukan berarti kita bisa hidup bebas seenaknya. Orang yang sudah mendapat vaksin tetap ada peluang untuk terkena Covid-19. Wong yang sudah kena covid saja, bisa kena lagi kok. Hanya orang-orang yang sudah divaksin, insya Allah kalaupun terpapar corona, efeknya bisa lebih ringan dibanding yang belum vaksin.

Setelah vaksin tentu saja aku tetap menjalankan protokol kesehatan sebagaimana mestinya. Pakai masker setiap harus ke luar rumah atau bertemu orang, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan mengurangi aktivitas di luar jika nggak penting-penting banget.

So far sih, aku happy karena pengalaman vaksin Sinovac tidak semengerikan yang digemborkan banyak orang. Tentu saja efek di setiap orang bisa berbeda-beda. Hanya saja kulihat dari para tetangga yang juga mendapatkan vaksin ini, alhamdulillah tidak ada yang mengalami KIPI sampai parah gitu.
pendaftaran vaksin covid di semarang
Beberapa ada yang mengalami demam sampai tiga hari. Namun dari resume webinar yang kudapatkan, hal itu masih lumrah. Dinyatakan KIPI, jika terjadi maksimal 3-4 hari. Jika lebih dari itu berarti terpapar virus setelah vaksin.

Adanya KIPI atau tidak tergantung juga pada imunitas tubuh kita saat divaksin. Kondisi tubuh setiap orang juga kan beda-beda ya. Oya, untuk minimalisir KIPI, wajib sarapan sebelum divaksin. Selain itu jujurlah saat discreening, jangan menutup-nutupi kondisi kesehatan tubuh. Insya Allah, kalau kita fit, badan tetap oke kok.

Itulah pengalaman vaksin Sinovac yang baru saja kulalui. Semoga ada manfaatnya. Buat kalian yang sudah vaksin, dapat yang jenis apa nih? Terus apakah mengalami KIPI? Yuk sharing di kolom komentar. Oya, buat yang tinggal di wilayah Semarang dan belum vaksin, bisa daftar vaksinasi di website Victory - DKK Kota Semarang
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

8 comments

  1. Untuk sms isi link sertifikat udah vaksin itu biasanya besoknya mba atau 2 hari kemudian. Aku jg gitu kok, smsnya datang setelah sehari atau 2 hari pasca vaksin gitu. Jadi ditunggu aja. InsyaAllah pasti dapat.
    Btw semoga sehat selalu ya mba. Aku lega karena mba marita juga golongan middle yang ngga antivaksin tapi juga ngga yang pegiat vaksin banget. Haha karena solusi saat ini yg kita punya ya vaksin ini jadi ya kita taati aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. La yang dosis 1 aku sampai jadwal dosis 2 terlaksana pun nggak dapat SMS kok mbak, wkwk. Mungkin karena emang pulsa smsku kosong hihi.

      Terus aku inisiatif cek di pedulilindungi pun belum ada sertifikat yang dosis 1. Makanya kemarin tanya ke admin yang jaga. Dijelasin bahwa memang belum semua dapat sertifikat. Dan yang penting kartu vaksinnya aja disimpan buat bukti.

      Ya sudah.. lega.. :)

      Iya mbak.. bismillah ikhtiar. Biar segera herd immunity dan Indonesia bebas covid segera. Aamiin

      Delete
  2. Kalau dengerin hoaks yang beredar dan omongan orang-orang memang ngeri, ya. Ada yang bilang corona ini itulah, ada juga yang masih tidak percaya. Apalagi yang bilang vaksin itu efeknya gini ke tubuh, dosisnya terlalu tinggi, dan lain-lain. But, kenyatannya semua ini harus dihadapi dengan tegar, ikhtiar jalan terbaiknya. Semuanya dimulai dari diri kita masing-masing dalam menyakapi, cukup tutup telinga dengan hoaks yang beredar dan patuhi peraturan pemerintah. Stay safe and healthy.

    ReplyDelete
  3. Perlu banget kita nyari informasi dari yang ahli agar tidak termakan hoaks dan takut sendiri, yang kayak gini nih bisa malah membahayakan diri sendiri, ya kak? Jadi, tetap ikhtiar saja, percaya kepada Allah, dan tetap mematuhi protokol.

    ReplyDelete
  4. kalau dengar kata vaksinasi tuh keluargaku masih takut, karena berita hoaks tentang yang meninggal karena vaksin. Tapi, beritanya di televisi tidak ada tuh efek samping yang berbahaya, ini berita yang benar. Jadi, gak perlulah tanggapin berita hoaks yang beredar.

    ReplyDelete
  5. Ya kalau dipikir lagi bener sih Bun kita harus berikhtiar, berserah diri kepada Allah, tetapi juga berusaha terlebih dulu. Dan cara terbaiknya dengan vaksinasi.

    ReplyDelete
  6. Mau gimana lagi sekarang kalau tidak mau vaksin karena takut dengan hoaks jikalau vaksin berbahaya sampai merenggut nyawa. So, I don't believe but just vaksin yang mencegah kita terpapar vaksin. Jangan lupa ikhtiar karena hanya Tuhan yang mengatur takdir hambanya.

    ReplyDelete
  7. Aku setuju sih mbak kalau yaudahlah ikutin pemerintah, wong ya pemerintah juga pasti usahain buat kita. Aku jga vaksin kak, kalau sinovac juga nggak ngerasain gimana2 sih, beda ama temenku yang astra tuh demam. Aku tinggal nunggu vaksin kedua sih, semoga jga ggak ada ap2 aamiin :)

    ReplyDelete

Post a Comment