header marita’s palace

Innerchild Healing Parade Sesi #1: Pentingnya Melatih Kesadaran Diri

Konten [Tampil]
innerchild healing parade sesi 1
Senang sekali rasanya bisa hadir dalam Innerchild Healing Parade Sesi #1. Fyi, event ini merupakan bagian dari launching buku “Luka, Performa, Bahagia: Mengenali Innerchild, Menemukan Jati Diri”. Sebuah buku bertema self healing besutan mbak Intan Maria Lie dan mas Adi Prayuda.

Buat yang sudah membaca artikelku tentang Semeleh, pasti nggak asing lagi dong dengan nama Intan Maria Lie. Ya, beliau adalah salah satu pemateri dalam proyek Semeleh. Ketika mbak Intan mulai membagikan informasi terkait buku yang ditulisnya, aku sudah berniat untuk membelinya.

Beruntung bisa membeli di masa pre order karena ternyata ada banyak sekali bonusnya. Selain bisa dapat informasi tentang Innerchild Healing Parade. Aku juga mendapat free pelatihan “Embrace Your Inner Child” di WAG dan Zoom selama 7 hari. Next, aku akan tuliskan prosesku mengikuti sesi pendampingan psikologis tersebut di artikel tersendiri. 

Pembaca setia blog ini pastinya tahu kalau kesehatan mental, khususnya terkait inner child, adalah hal yang sempat kubahas beberapa kali di dalam artikel-artikelku. Tepatnya sejak 2016 aku mulai mengenal istilah tersebut dan belajar how to deal with it

Back to sesi pertama dari rangkaian webinar yang digagas oleh Ruang Pulih bekerjasama dengan banyak pihak, termasuk juga IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis).  Banyak sekali insight yang aku dapatkan dari tiga jam sesi ini. Panjang ya? 

Tapi sungguh tak terasa membosankan sama sekali. Bahkan aku sempat mengulang menontonnya lagi di YouTube saking takut ada hal-hal penting yang terlewat. Buat yang mau lihat rekamannya, bisa simak videonya dulu nih:
Sesi pertama ini diisi oleh dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp. Kj. dan Adjie Santosoputro. Adakah teman-teman kongkow yang pernah mendengar nama-nama orang keren ini?

So, sudah siap untuk membaca catatanku yang bakal sedikit panjang ini. Semoga aja ada manfaat yang bisa kalian ambil ya, pals.

Menggali Insight dari Innerchild Healing Parade Sesi #1

Pengasuhan pada masa kecil merupakan pondasi kecerdasan emosi pada saat dewasa. Bagaimana orang tua mengasuh kita dulu bisa berdampak pada proses kita mengasuh anak. Misalnya emosi yang meledak dan mudah marah kepada anak, bisa jadi dikarenakan ada masalah yang belum selesai di masa kecil.

Hal tersebutlah yang melatarbelakangi mbak Intan Maria membangun Ruang Pulih. Sebuah ruang belajar dan konsultasi psikologi bagi siapapun yang ingin berproses latih, pulih dan berkembang. Perjalanan hidup yang dilalui mbak Intan membawa sebuah misi untuk mengajak lebih banyak orang menyadari fenomena innerchild dan berproses untuk meningkatkan performa diri. 

Selain diwujudkan dengan membentuk Ruang Pulih, mbak Intan melakukannya dengan menerbitkan buku “Luka Performa Bahagia: Mengenali Innerchild, Menemukan Jati Diri”. Agar masyarakat Indonesia punya sedikit bayangan seperti apakah isi bukunya, dihadirkanlah para narasumber-narasumber yang inspiratif melalui webinar bertemakan kesehatan jiwa.

Talkshow 1 bersama dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp.Kj. : Reparenting Inner Child

profil dr. Gusti Rai, Sp.Kj
Narasumber pertama adalah seorang psikiater yang bertugas di Sudirman Medical Centre. Beliau ini juga merupakan salah satu narasumber dalam event “Embrace Your Inner Child” yang sedang kuikuti. Banyak catatan penting yang kudapat dari dr. Rai:
  • Sebagian dari kita berpikir bahwa masalah yang muncul saat ini, sumbernya dari kejadian di masa sekarang. Padahal tidak sesederhana itu. Apa yang kita alami saat ini, bisa jadi berdasarkan pengalaman masa kecil, bahkan di masa kandungan.
  • Sejatinya pengasuhan bukanlah sejak anak itu lahir, tetapi dimulai sejak janin masih di dalam kandungan. Jika ingin melahirkan anak yang tangguh, maka sebaiknya para ibu hamil juga berusaha untuk tangguh. Jika ingin melahirkan anak yang tak pencemas, maka saat hamil juga hindari untuk merasa cemas berlebihan.
  • Saking meningkatnya kesadaran terhadap mental health, banyak fenomena muncul orang-orang yang merasa sakit jiwa karena ini dan itu, alias melakukan self diagnosis. Hey, hey.. Jangan asal membuat self diagnosis. Untuk mendapatkan diagnosis terkait kesehatan mental, kita perlu mendatangi ahlinya.
  • Satu hal yang perlu digarisbawahi terkait gangguan jiwa yaitu, yang perlu diatasi itu gangguannya. Bukan orang yang mengalami gangguan tersebut. Jadi tidak perlu mengucilkan dan memandang aneh orang-orang yang datang ke psikiater atau psikolog. Sama saja kok seperti saat kita sedang sakit jantung dan melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis penyakit dalam.
  • Setiap orang mempunyai innerchild. Innerchild belum tentu berupa innerchild yang terluka. Kita perlu melakukan reparenting terhadap wounded innerchild di dalam diri agar tidak menjadi penghambat di masa sekarang.
  • Jangan terus terjebak menjadi korban. Kita perlu menyadari bahwa sumber masalahnya ada di dalam diri kita, bukan di luar diri kita. Dan sesungguhnya itu adalah bagian tersulit. Ketika rasa sakitnya masih terus datang, maka ada pesan yang belum sampai dan belum kita pahami dari tubuh dan jiwa kita.
reparenting inner child
  • Setiap kali kita bertanya dan menginginkan jawaban, maka proses kita sedang berada dalam fase kemunduran. Siapkan diri untuk melalui setiap tahapan healing. Hal terpenting adalah membangun kesadaran terlebih dahulu. Sebagaimana sebuah perjalanan, yang menarik itu proses perjalanannya, bukan tujuannya. Satu proses kecil menuju kesembuhan lebih penting daripada 100 langkah yang hanya sekadar dibayangkan.
  • Apakah gangguan kesehatan mental selalu memerlukan obat? Tentu tidak. Oleh karenanya fase paling penting dalam proses healing adalah mengidentifikasi. Jangan-jangan sebenarnya kondisi kita nggak butuh terapi atau obat. Terapi kesehatan jiwa itu perlu didiskusikan antara dokter dan pasien, bukan dipaksakan. Tidak ada yang harus di dunia ini. Pasien skisofrenia harus minum obat. Begitu juga dengan bipolar. Namun di luar dua kondisi ini tak selalu harus minum obat.
  • Bagaimana jika kita menemukan kondisi bahwa pasangan hidup mengalami gangguan kesehatan mental, memiliki wounded innerchild yang belum dikelola dengan baik, tetapi pasangan kita tak sadar? Sedangkan hal tersebut membawa gangguan dalam kehidupan pernikahan. Nah, biasanya karena orang-orang ini merasa baik-baik saja karea tidak menyadari adanya masalah. Jika memang kita yang terlebih dahulu sadar terhadap hadirnya masalah di dalam pernikahan, bisa dengan memulai untuk berkonsultasi terlebih dahulu. Siapa tahu setelahnya pasangan akan terbuka untuk mau ikut konsultasi.
  • Reaksi berlebihan ketika seseorang mengalami sebuah kejadian, apakah pasti ada innerchild? Bisa jadi hal tersebut adalah respon error. Reaksi yang muncul bukan merespon kejadian masa kini, tapi respon terhadap masa lalu yang belum selesai. Perasaan dan kejadian masa lalu yang belum diselesaikan secara tuntas, ketika muncul trigger, reaksinya terlihat berlebihan. Padahal sebenarnya itu adalah bentuk alarm karena ada hal-hal yang belum selesai.
  • Korelasi adversity childhood dengan innerchild pada saat dewasa yaitu, apa yang membentuk innerchild adalah hal-hal besar di masa kanak-kanak. Otak menyimpan memori yang terbaik dan terburuk. Memori terbaik menghasilkan happy innerchild. Memori terburuk bisa jadi melahirkan angry innerchild. Namun yang perlu kita pahami innerchild adalah kondisi yang tidak permanen. Tidak ada kata terlambat untuk reparenting anak kecil di dalam diri kita. Selalu bisa berubah dan bertransformasi. Cukup pilih proses pemulihan yang paling cocok hingga kita bisa menuju performa diri terbaik.

Talkshow 2 bersama Adjie Santosoputro: Inner Child Therapy with Mindfulness Healing

adjie santosoputro sejenak hening
Pernah mendengar Sejenak Hening? Jika jawabannya iya, maka seharusnya tak asing juga dengan ahli meditasi dan mindulness healing yang satu ini. Dulunya lebih sering menggunakan nama tenar Adjie Silarus. Namun beberapa tahun belakangan beliau memilih menggunakan nama aslinya.

Aku sendiri pernah menulis tentang sosoknya dan Sejenak Hening di awal-awal ngeblog tahun 2013 atau 2014an. Waktu itu aku merasa kepo dengan mindfulness healing, tetapi belum sempat untuk belajar secara langsung. Bersyukur sekali kini bisa ngangsu kawruh dengan sosok yang auranya adem dan tenang ini.

Mas Adjie membuka obrolan dengan mengatakan bahwa saat ini ada beberapa istilah yang sedang ngehits di zaman now, antara lain innerchild, overthinking dan quarter life crisis. Istilah-istilah sebelumnya tak banyak dikenal orang, bahkan di lingkup orang-orang yang belajar psikologi sekalipun.

Semakin sering munculnya istilah-istilah tersebut di keseharian kita, bisa jadi karena makin tinggi kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa.

Menyadari Kenyataan

Salah satu yang membangun innerchild adalah kejadian-kejadian di masa kecil. Disebutkan dalam salah satu teori perkembangan psikososial yang disampaikan oleh Errikson, trust yang tidak tumbuh di masa kecil bisa membuat permasalahan di masa dewasa

Selain teori dari Errikson, mas Adjie juga menyebutkan istilah Adverse Childhood Experience (ACE). Di mana masa kecil yang tidak mendukung kesehatan mental, maka saat dewasa akan punya keehatan fisik tertentu.

Mas Adjie menceritakan backgroundnya sebagai seorang anak yang dibesarkan oleh single mom. Sampai saat ini masih ada perasaan “not enough” ketika selesai memfasilitasi kliennya selama satu sesi. Ketika dirunut, ternyata saat usia 3-12 tahun, ada tahap psikososial yang belum terpenuhi dengan baik.
Ketika berbicara innerchild, maka kita membicarakan masa lalu. Masa lalu itu memang nyata. Tapi itu dulu dan sudah berlalu. Sekarang ini masa lalu tersebut hanyalah kumpulan ingatan atau memori. Ingatan atau memori bukanlah kenyataan. Namun kenapa kita masih terus terjebak dengan urusan yang tak nyata lagi?
Duh, duh, beneran sesi bersama mas Adjie ini banyak banget momen-momen jleb yang aku alami. Ada perasaan tersindir, tercubit, tertowel-towel. Selama mengikuti talkshow bersama beliau, aku cuma bisa senyum-senyum dan menertawakan diri sendiri.

Penyampaian mas Adjie yang tenang, terasa mudah dimengerti, tapi di sisi lain juga butuh mendalami lebih lagi, membuatku menyadari sesuatu. Bahwasanya memahami dan menyelami innerchild artinya berhadapan dengan ingatan dan memori diriku sendiri. Aku bukan lagi berhadapan dengan bapak, bukan lagi berhadapan dengan istri baru bapak, ataupun berhadapan dengan ibu. Tapi aku berhadapan dengan ingatanku sendiri.
Oleh karenanya dalam proses innerchild healing, kita perlu punya skill bagaimana bisa berhadapan dengan ingatan atau memori diri sendiri. Inilah yang disebut dengan mindfulness. Melatih kesadaran mana yang nyata, mana yang sudah berlalu.
Pemulihan tidak akan terjadi jika kita hanya belajar saja. Sebanyak apapun seminar, training, workshop, dan pertemuan dengan banyak guru tidak akan memulihkan kita. Yang kita perlukan untuk pulih adalah praktek. Ilmu itu penting, tapi harus pula ada laku.

Teori dan praktek sama pentingnya. Namun juga bukan berarti lebih baik langsung praktek, karena laku tanpa ilmu juga tak akan berjalan baik. Bisa nabrak sana-sini, bahkan bisa jadi mudah ribut dengan pendapat orang lain yang berbeda.

Pemulihan ada banyak jalan. Seperti musik yang punya banyak genre. Mana yang lebih benar dan tepat? Nggak bisa disamaratakan. Setiap orang punya kecocokan masing-masing.
Memori kita itu kan nggak hanya berisi yang buruk-buruk saja ya? Namun anehnya kenapa kita lebih suka mengingat kejadian-kejadian penuh luka di masa lalu? Kenapa kita tak memilih untuk mengingat hal-hal baik saja?
Meski ternyata, menurut mas Adjie, terlalu sering mengingat hal-hal baik pun juga tak baik. Kenangan manis ataupun pahit tetaplah tak lagi nyata. Semuanya sudah berlalu. Jangan sampai membuat kita terjebak dan tak bisa optimal di masa sekarang.

Kenangan baik juga bisa menghasilkan wounded innerchild. Ketika kenangan baik tersebut justru membuat kita tidak bersyukur dengan keadaan yang sedang dijalani sekarang. Terjebak nostalgia, kalau bahasa anak mudanya.

Cara Melatih Berani untuk Menemui Emosi

Pikiran itu sejatinya lebih lambat dari emosi. Gerak-gerik emosi lebih gesit daripada pikiran. Misal nih saat kita membuka online shop, lalu melihat sebuah barang yang unyu. Seketika kita langsung membelinya, apakah saat itu kita tergerak membeli karena pikiran atau emosi?

Contoh lainnya, saat anak sedang tantrum, apa yang kita lakukan? Langsung reaktif mengikuti emosi atau menjeda dulu setelah berpikir?

Permisalan berikutnya, saat memilih pasangan, karena emosi atau pikiran? Ada berapa banyak yang setelah bertahun-tahun menikah, lalu terpikir kenapa ya dulu pilih dia jadi suami? Tak jarang pula pernikahan berakhir karena emosi telah hilang, dan logika menyadari bahwasanya pasangan yang kita pilih tak benar-benar tepat.
Manusia sesungguhnya adalah makhluk emosional yang punya logika. Bukan makhluk berpikir tapi beremosi.
Sekarang pertanyaannya apakah kita harus selalu merasa berani? Nggak juga, kata mas Adjie. Perasaan takut juga punya hak untuk dibiarkan muncul. Melatih jeda itu artinya kita memberanikan diri untuk menerima rasa takut.

Pernah nggak sih ketika sedang merasa bersalah, lalu ada orang yang bilang ‘jangan merasa bersalah”? Apa yang kita rasakan saat itu? Bukankah kita lebih tertekan, dan malah akhirnya justru merasa bersalah berkali lipat?

Nggak apa kok merasa bersalah, terima saja rasa tersebut. Karena saat rasa itu diterima, justru kita akan bisa mengendurkan ketegangan yang muncul dalam diri.
Tidak ada perasaan yang salah. Tidak ada rasa yang lebih baik. Semua rasa itu anugerah dari Allah. That’s why rasa jangan disangkal. Rasa hanya perlu untuk disadari dan diterima. Emosi yang tidak dibiarkan tampil, akan terkubur hidup-hidup dan kelak akan muncul sebagai bom yang meledak.

Relasi dengan Orang Tua

Seberapa sering waktu kecil kita tak dibolehkan menangis dan marah? Ketika kita menangis, kita justru dilabeli dengan cengeng. Ketika kita sedang marah, kita dilabeli dengan nakal. Bahkan tak jarang bukan hanya dilabeli, tapi juga dilempar dengan suatu barang, hingga akhirnya muncul unfinished business.

Innerchild healing seperti membuka lapis demi lapis kulit bawang. Ketika memberanikan diri untuk mengamati diri sendiri di masa lalu. Kita jadi tahu dan memahami apa yang kita butuhkan di masa sekarang.

Mental disorder biasa mulai dirasakan saat kita mengalami krisis identitas pada usia 20an.

Terkait ortu tidak ada benar salah, lebih pada sebab akibat. Tapi ketidaktahuan lebih kepada benturan emosi yang kadang-kadang ortu mengedepankan super powernya. Akhirnya emosi itu makin terpendam dan tidak selesai.

Jadi bagaimana sebaiknya menghadapi layer demi layer tersebut?
Pelan-pelan kurangi upaya untuk melupakan. Jika ingatan itu muncul, berlatih sadari aja. Melatih bagaimana meresponnya.
Ada dua respon ekstrim yang sebaiknya dihindari. Pertama, berusaha mengusir, melawan atau melarikan diri dari ingatan. It’s okay kok menangis, tapi berlebihan dalam mengekspresikan/ melampiaskan juga kurang sehat.

Respon ekstrim kedua adalah menekan dan memendam perasaan tersebut. Ini juga tak sehat. Ada dorongan untuk menangis, kita tidak menangis. Ada dorongan untuk marah, kita pendam marahnya. Ini juga tak sehat.

Dari sisi spiritual, kita dianjurkan untuk selalu ambil middle part. Ambil titik tengah yang jauh lebih sehat. Roda di bagian tengah biasanya yang paling aman goncangan. Artinya perasaan itu ada bukan untuk ditekan, bukan untuk dipendam, tapi juga bukan untuk didramatisasi.

Ada orang yang sebenarnya hidup baik-baik saja, tapi karena sekelilingnya penuh drama, jadi ikutan drama. Mulai overthinking, mengalami gangguan kecemasan, dsb.
Jika ada kenangan yang terasa menyakitkan, yang harus dilakukan bukan melupakan. Namun memperbaiki pemahaman terhadap kenangan masa lalu tersebut. Kemudian berlatih untuk memaknai ulang kejadian tersebut. Berlatih untuk mindfulness, artinya kita harus berlatih sadar, berlatih jeda dan sadari nafas.
Analoginya, lihat masa lalu seperti kita sedang nonton film atau sedang nonton arus sungai. Kita menyadari bahwa kita sedang nonton arus sungai. Kita bukanlah arus sungai tersebut. Kita hanya penonton, maka tidak akan terpengaruh dengan arusnya, mau lambat atau deras.

Berlatihlah sadar saat mengingat masa lalu, jadi penonton saja. Jadi mau seburuk apapun masa lalu kita, sadari aja. Itu sudah berlalu, terima dan stop mendramatisasi. Supaya tidak terjerat pada label dan penghakiman yang pernah diberikan di masa lalu oleh orang tua atau orang-orang terdekat, saatnya melatih kesadaran.

Bahagia vs Gembira

Banyak yang kecanduan dengan dramatisasi, karena masih menyatu dengan yang diamati dan terus playing victim. Bagaimana cara melepasnya?

Kembali lagi untuk banyak melakukan latihan. Basic practice dalam mindfulness healing adalah menyadari nafas. Proses ini akan menguatkan otot kesadaran. Setiap pikiran sedang melayang, alihkan untuk berlatih menyadari nafas.

Begitu juga saat muncul ingatan buruk, sadari bahwa itu hanyalah masa lalu. Kita terlatih sebagai orang yang menyadari, bukan orang yang ada di ingatan tersebut.
Terkadang kita nggak happy bukan karena nggak bisa happy, tapi karena kita terlalu menikmati penderitaan diri sendiri. Hidup itu sebenarnya biasa-biasa aja kok, kita aja yang sering bikin drama. 
Duh, mak jleb amat mas Adjie!

Gembira berbeda dengan bahagia. Gembira itu perasaan yang muncul saat kita mendapatkan yang kita inginkan. Misalnya, kita baru saja mendapat uang dengan jumlah yang banyak. Sayangnya, hidup nggak selalu gembira kan? Ada kalanya proyek kita gagal, invoice yang dinanti nggak kunjung dibayar. Mau nggak mau sedih juga kan?

Lalu apakah bisa kita merasa bahagia di saat gembira dan sedih?
Dituturkan oleh mas Adjie, bahagia adalah bagaimana kita mampu memeluk kegembiraan dan kesedihan dalam satu waktu. Bahagia adalah kondisi yang melampaui kegembiraan dan kesedihan. Bahagia adalah tidak memusuhi sedih, tapi tidak pula menjerat kegembiraan.
Dalem banget ya kata-katanya. Saking dalemnya, butuh dibaca berkali-kali biar paham maksudnya, hihi. Lalu mas Adjie memberikan contoh sederhana, gembira muncul saat kita mendapatkan barang yang kita inginkan, mungkin mobil atau uang. 

Sementara bahagia lebih sederhana. Yaitu sebuah spektrum rasa yang muncul saat kita sedang menatap senja. Kita dapat apa dari senja? Nggak dapat apapun kan? Namun rasanya lega dan tenang. Itulah bahagia.
melatih kesadaran diri bersama mas adjie

Insecure vs Harapan

Di sesi tanya jawab, ada salah seorang peserta yang menanyakan bagaimana mengatasi insecure yang muncul karena takut omongan orang?

Pilihan kata mengatasi, menurut mas Adji kurang begitu tepat, seakan-akan insecure harus dihilangkan. Padahal insecure ya nggak masalah kalau ada. Insecure itu sepaket dengan harapan kok. Mengerikan kalau kita hanya punya harapan, tanpa ada rasa insecure, ntar bisa serba nekat.

Hal pertama yang perlu dilakukan tentu saja, berterimakasihlah pada rasa insecure yang hadir. Karena rasa tersebut yang justru bikin kita tetap menginjak bumi. Sadari dulu yang bikin kita insecure itu sebenarnya omongan orang lain atau pikiran kita tentang omongan orang lain?
Balik lagi, seringkali kita nggak benar-benar pernah berurusan dengan orang lain. Namun kita seringkali hanya berurusan dengan pikiran diri sendiri.
Rumit jika kita tak menyadari bahwa labeling itu tidak bersifat selamanya. Bahkan adakalanya labeling bisa jadi jalan keluar untuk excuse juga lo. Mas Adjie lalu mencontohkan, waktu kecil sering dilabeli bodoh karena lemah di mata pelajaran yang menggunakan sistem hafalan.

Akhirnya ketika sekarang disuruh menghafalkan sesuatu, labeling itu kerapkali digunakannya untuk menghindari hal-hal yang berkaitan dengan menghafal.

Jadi ya, terkadang kita perlu melatih diri untuk tak seserius itu menghadapi penghakiman.

Bagaimana melepaskan diri dari labeling di masa lalu? Sederhananya ya sadari saja bahwa itu hanyalah label atau penghakiman. Penghakiman adalah salah satu ekspresi pikiran. Jadi ya sadari aja dulu. Itu hanya label yang diberikan, bukanlah diri kita seutuhnya.

Kenapa hidup terasa rumit? Karena kita dibuat kewalahan dengan beragam ekspresi pikiran dan ulah perasaan sendiri. Manusia memang makhluk yang canggih, tapi kadang nggak bisa mengelola kecanggihan tersebut.

Bisakah Delusi Diterapi dengan Latihan Kesadaran Diri?

Tergantung seberapa intensitasnya. Kalau udah terlalu intens, ya perlu penanganan psikolog atau psikiater. Karena psikoterapi yang menggunakan pendekatan kesadaran diri, memang ada keterbatasan. Meski dengan berlatih kesadaran bisa jadi mengurangi delusi. Tetapi bukan berarti latihan mindfulness cocok untuk semua jenis mental disorder.
Terkadang kita perlu berlatih hening, berlatih jeda atau mindfulness bukan hanya sekadar mengejar manfaat. Tapi hanya karena memang ingin berlatih hening saja.
Mas Adjie lalu menceritakan awal dulu berlatih mindfulness healing karena mengalami sakit tulang belakang. Penyakit tersebut muncul karena terlalu serius menjalani hidup, terlalu sibuk. Selain itu beiau juga merasa sangat penasaran dengan metode tersebut, bukan karena merasa mindfulness pasti bagus.

Menurut inisiator Sejenak Hening ini, salah satu kekurangan mindfulness yaitu tidak bisa menjadi pertolongan pertama pada kondisi jiwa yang cukup parah. Metode ini lebih seperti sebuah pertolongan pertama untuk kasus-kasus ‘cedera’ ringan. Kalau kondisinya parah, akan lebih baik jika ada penanganan lain sebelumnya.
Mindfulness bukanlah silver bullet, bukan juga obat segala penyakit. Tetap ada sisi positif dan negatif. Kita nggak boleh terlalu fanatik dengan satu pendekatan. Fanatisme terhadap salah satu metode healing bisa membuat kita ‘berjualan’ dengan berlebihan. Sedangkan setiap orang itu unik. Ada yang berhasil dengan mindfulness, ada yang cocok releasing stress hanya dengan minum teh saja.

Toxic Relationship.

Toxic juga istilah yang lagi rame. Saat ini kita seringkali begitu mudah mengklaim orang lain toxic. Eits hati-hati, jangan-jangan yang toxic bukan orang lain, tapi pikiran kita sendiri yang toxic.

Fenomena sekarang sepertinya karena makin bertambahnya orang yang mudah menyakiti. Di sisi lain bertambah pula orang yang mudah sakit hati. Akhirnya ketika banyak hal yang nggak sesuai keinginan kita, kita dengan mudahnya melabeli orang lain toxic.
Mungkin bukan semakin banyak yang toxic, tapi semakin banyak orang yang mudah sakit hati. Oleh karenanya kita perlu berlatih untuk tidak menyakiti hati orang lain, dan kita perlu melatih mental semakin tangguh agar tidak mudah sakit hati.
Mudah sakit hati alias baperan, bisa jadi juga ada kaitannya dengan pengalaman di waktu kecil. Selain itu bisa juga terkait dengan hal-hal yang kita konsumsi sehari-hari. Baik itu konsumsi secara fisik (makanan), dan konsumsi secara pikiran. 

Hati-hati dengan database yang kita masukkan dalam pikiran dan perasaan. Misal, terlalu banyak nonton drakor The World of Married dan sejenisnya, bisa bikin otak kita terprogram untuk curiga terus ke pasangan.
Kapan kita ada waktu untuk pulang dan memahami diri sendiri, jika kita selalu menyalahkan toxicity di sekitar kita.

Mengelola Kemarahan

Sekali lagi kita perlu belajar untuk melatih nafas, agar menguatkan otot kesadaran, sehingga lebih mudah memahami hal-hal yang lebih tipis, yaitu pikiran dan perasaan. Jika belum terlatih menyadari nafas, menyadari emosi dan pikiran akan sangat sulit.
Bedakan dulu antara emosi dan aksi. Emosi itu rasa, boleh-boleh saja. Kita boleh menerima dan menyadarinya. Tapi aksi dalam mengekspresikan rasa inilah yang perlu kita kelola. Marah boleh, tapi aksi mengekspresikan marahnya itu yang harus dikelola, agar tidak berlebihan.
Bersikaplah welas asih terhadap rasa marah. Berikan ruang dengan tak mengusirnya, agar terurai dengan baik. Sehingga aksi kita terkait kemarahan pada orang lain bisa lebih bijak.

Jika kita mengusir marah atau merawat marah itu terlalu ekstrim, yang ada malah marah itu akan semakin menetap. Pilihannya adalah kita mau marahnya terurai, atau malah sebenarnya kita menikmati merawat kemarahan tersebut?

Memaafkan

Jika memang belum bisa maafkan, jangan dipaksakan. Memaafkan itu muncul ketika ada benar dan salah. Saat kita sepenuhnya merasa benar, dan orang lain sepenuhnya salah.

Asumsi ini yang perlu kita urai dan selami lewat latihan kesadaran. Di sini kita melakukan pelabelan bahwa kita yang benar, orang lain yang salah. Saat masih ada asumsi ini, akan susah memasuki tahap memaafkan. Kendurkan dulu label yang muncul dalam pikiran itu.
Apabila kita telah mampu berada pada tahap bahwa sebenarnya kita nggak sepenuhnya benar, dan orang lain nggak sepenuhnya salah. Akhirnya kita akan berada di titik di mana nggak ada yang perlu dimaafkan.
Jika energi kita habis untuk membenci perilaku buruk seseorang (ortu selingkuh misalnya), biasanya tanpa sadar kita malah melakukan perilaku yang kita benci tersebut.

Kita perlu memutus rantai itu dengan berlatih sadar. Sadari setiap yang kita lakukan, terutama terkait pilihan-pilhan yang sulit dan krusial. Benar-benar sadari jika kita pilih A, apa akibatnya.
buku luka performa bahagia
Wow! Ini baru Innerchild Healing Parade Sesi #1 lo, pals. Tapi sudah semenarik dan sedalam ini. Apakah teman-teman kongkow semakin penasaran dengan materi di sesi-sesi berikutnya? Tungguin saja di Youtube Channel Ruang Pulih.

Btw, kalian masih bisa lo mendapatkan buku “Luka, Performa, Bahagia: Mengenali Innerchild, Menemukan Jati Diri”. Nggak cuma manfaat buku yang bisa didapat, tapi juga banyak bonus kerennya. Cuzz bisa japri aku ya buat yang mau adopsi buku kece ini.

Saatnya berproses untuk latih, pulih dan berkembang. Semoga sharing Innerchild Healing Parade Sesi #1 ini bermanfaat. Tunggu catatan sesi #2 nya ya!

innerchild healing parade by ruang pulih
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Innerchild jujur aku ingat ini lagu dari Kim Taehyung BTS yang artinya tentang masa kecil, keren sih acara kayak gini apalagi tentang self healing

    ReplyDelete

Post a Comment