Ada sesuatu yang selalu magis tentang air. Buatku, berenang bukan cuma olahraga. Ia semacam ruang untuk pulang, tempat di mana aku bisa menenangkan diri dan merasa hidup lagi. Tapi perjalananku dengan air nggak selalu mulus.
Sejak SD, aku sebenarnya suka banget berenang. Aku bahkan meminta ke ibu untuk dileskan berenang. Tiap kali ekskul renang tiba, aku selalu semangat duluan.
Namun entah kenapa, setiap kali habis berenang, tubuhku selalu panas tinggi. Ibu akhirnya menyuruhku memilih: lanjut renang, atau fokus ke tari tradisional.
Dan, sebagai anak kecil yang gampang dibujuk, aku pun memilih tari. Jadilah kemampuan renangku berhenti di gaya katak saja.
Kembali ke Kolam Setelah Jadi Ibu
Waktu berjalan. Setelah jadi ibu, aku kembali sering “nyemplung” ke air—kadang nemenin anak les, kadang sekadar main air bareng mereka. Entah kenapa, setiap kali tubuhku menyentuh air, ada rasa damai yang sulit dijelaskan.
Mungkin karena aku Pisces, zodiak yang lambangnya ikan, hehe. Tapi lebih dari itu, air selalu seperti memelukku—membuatku diam, tapi juga menenangkan.
Dari kebiasaan kungkum ini, aku akhirnya kenal dengan komunitas renang khusus muslimah: MSS (Muslimah Swimming Squad). Waktu itu, coach-nya di Semarang baru satu orang. Aku kagum banget lihat semangatnya berbagi ilmu, dan dalam hati muncul pikiran,
“Seru juga ya kalau aku bisa ikut ngajarin orang lain berenang.”
Dari Hobi Jadi Aksi: Ikut Training for Trainers
Akhirnya aku daftar Training for Trainers (TFT), program pelatihan bagi relawan pelatih di MSS. Selama dua hari penuh, aku belajar jadi pelatih Level 1—mengajarkan gaya katak dan uitemate (teknik bertahan di air).
Ternyata seru banget! Apalagi waktu tahu peserta TFT dari Semarang juga banyak. Sekarang, total ada 10 relawan pelatih di kota kami.
Walau jadwalku padat karena kerja dan keluarga, aku berusaha tetap aktif. Minimal sebulan sekali aku melatih, selebihnya ya tetap berenang bareng anak-anak. Rasanya beda banget, bisa membagi hal yang dulu cuma sekadar hobi jadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.
Naik Level Lagi: Akhirnya Bisa 4 Gaya Renang!
Ternyata semangatku nggak berhenti di TFT. Aku lanjut ikut kelas private bareng guru renang anakku. Sedikit demi sedikit, aku akhirnya menguasai empat gaya renang!
Ada rasa bangga tersendiri. Dulu cuma bisa gaya katak, sekarang bisa bebas, punggung, dan kupu-kupu juga.
Meski secara teknik belum sempurna, tapi karena memang belajar tidak untuk jadi atlet, kata mentorku yang penting perbanyak jam terbang aja. So far, selain gaya katak, aku suka banget berenang dengan gaya kupu-kupu. Biasanya aku pakai gaya renang itu kalau pengen bakar kalori lebih banyak.
Sementara kalau mau berenang santai dan lebih mindful, gaya katak tetap jadi pilihan. Btw, dulu aku tuh selalu kepo gimana ya caranya bisa renang gaya tiduran alias gaya punggung... setelah bisa menguasainya, rasanya happy banget.
Buatku, Renang Itu...
Sekarang, renang bukan sekadar olahraga atau hobi. Buatku, renang punya tiga makna besar dalam hidup:
1. Sarana Healing
Setiap kali masuk air, semua pikiran berat perlahan menguap. Gerakan tubuh di dalam air seperti meditasi yang menenangkan jiwa.
2. Memuaskan Inner Child
Anak kecil dalam diriku yang dulu harus berhenti les renang, kini bisa tersenyum lega. Ia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berenang lagi, sepuasnya.
3. Swimming Date with Family
Saat weekend, kami sering berenang bareng. Kadang berlomba gaya bebas, kadang cuma bermain air sambil tertawa. Momen sederhana yang mengikat hati kami lebih erat.
Berenang, ternyata bukan cuma tentang menggerakkan tubuh. Tapi tentang belajar melepaskan, mengalir, dan menemukan kembali diri sendiri.
Kalau kamu, pals, punya hubungan khusus juga nggak sih sama air? Siapa tahu, dari hobi kecilmu, kamu juga bisa menemukan sesuatu yang lebih dalam—seperti aku menemukan diriku kembali di kolam renang.***




Post a Comment
Salam,
maritaningtyas.com