Jurnal Syukur #1: Ngaji Asyik Untukmu Palestina bersama Ustazah Peggy Melati “Khadijah” Sukma

  • Thursday, May 24, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 13 Comments

Jurnal Syukur #1: Ngaji Asyik Untukmu Palestina bersama Ustazah Peggy Melati “Khadijah” Sukma


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Bagaimana kabar puasanya hari ini? Semoga masih semangat dan lancar ya, pals. Berhubung Ramadan cuma datang sekali dalam setahun, jangan sampai kita kehilangan momen-momen terbaiknya. Belum tentu lo Ramadan tahun depan kita masih bisa merasakannya. Btw, postingan ini sekaligus aku buat sebagai gratitude journal-ku hari ini. Bisa menghadiri sebuah kajian ilmu adalah sebuah hal yang selalu aku syukuri, karena saat itu aku merasa Allah sedang berbicara denganku. Mengingatkanku, menjewerku lewat tausiyah-tausiyah yang disampaikan oleh para ustaz/ ustazah.

Sebelum ngecipris panjang kali lebar, aku mau ajak teman-teman membaca lirik berikut ini. Pasti sudah banyak yang tahu juga.


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Bener banget, itu potongan dari lagu Michael Heart yang berjudul Gaza Tonight. Sebuah lagu yang didedikasikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, yang setiap hari mau tak mau harus bertemu dengan desingan peluru dan kepungan tentara Israel. Tak hanya laki-laki yang diburu, anak-anak dan wanita pun seakan-akan harus siap bertaruh nyawa jika terlahir di Palestina. 

photo credit by yournewswire.com

Cerita tentang Palestina memang tak akan ada habisnya, setiap hari selalu saja ada lembaga sosial yang mengirimkan donasi ke tanah para nabi ini. Meski harus melewati perjalanan yang sulit, bahkan resiko terburuk harus siap untuk tak bisa pulang lagi ke tanah air pun dijabani. Namun demi membantu mereka yang pertama kali mengakui kemerdekaan negeri ini, resiko apapun tak akan membuat gentar. Jika mereka yang berada di Palestina saja sabar menunggu uluran tangan kita, mengapa pula kita tak cukup sabar untuk memberikan apa yang kita punya, meski hanya sebuah lantunan doa?

Tak jarang pula banyak yang nyinyir “ngapain sih ngurusin yang jauh, yang deket-deket aja dulu diurusin. Di negeri sendiri juga banyak yang masih kelaparan, masih miskin, noh diurusin!”

Tertohok aku mendengar pernyataan yang keluar dari ustazah Khadijah atau yang  lebih kita kenal sebagai Peggy Melati Sukma. Aku merasa seperti dicubit, karena aku pernah berada di posisi itu. Aku pernah merasa “udah banyak yang ngurusin Palestina, urusin yang dekat-dekat saja deh.” Ustazah Khadijah lalu melanjutkan, “Allah meminta kita untuk urusin semuanya, yang dekat diurusin,  yang jauh pun diurusin. Semua saudara seiman yang butuh bantuan harus diurus semuanya.” Jleb. 

ustazah peggy melati sukma 'khadijah'
ustazah Khadijah

Karena kalau bukan kita yang membantu mereka siapa lagi? Apalagi sekarang ketika tentara Israel semakin getol membangun tembok-tembok raksasa, mengepung Gaza, hingga bantuan sulit sekali masuk ke dalam. Tidakkah kita bisa bayangkan bagaimana mereka menjalani hidup setiap harinya? Kita masih bisa asyik jalan-jalan di mall, makan di restoran, selfie cantik? Saudara kita di Palestina hanya memikirkan tentang mempertahankan nyawa dan mati dalam keadaan terhormat; dalam iman dan islam. 

Semangat untuk membantu Palestina memang semakin berkobar ketika mengikuti Ngaji Asyik “Untukmu Palestina” bersama Ustazah Khadijah. Bertempat di Masjid Baitussalam, Dinar Mas pada hari Sabtu, 19 Mei 2018, Ustazah Khadijah mampu menyuntikkan semangatnya kepada kami yang hadir. Diselenggarakan oleh Salimah bekerjasama dengan ACT (Aksi Cepat Tanggap), alhamdulillah kajian ini dihadiri oleh banyak peserta.



Dibuka dengan penampilan rebana, sambutan dari ketua Salimah, mbak Utami Budi dan juga senam otak dipimpin oleh mbak MC yang penuh semangat, meski sedang hamil tua. Acara memang sedikit molor dari jam yang ditentukan karena pesawat Ustazah Khadijah delay. Namun alhamdulillah masih rejeki untuk bisa bertemu dan belajar langsung dengannya. Begitu Ustazah Khadija masuk ke ruang masjid, berbondong-bondong para peserta mengambil gambar. Ustazah Khadijah  hanya memberikan tanda agar peserta duduk kembali. Saat peserta bertepuk tangan menyambut kehadirannya yang dipersilakan oleh MC, lagi-lagi ustazah Khadijah memberikan tanda untuk menghentikan tepukannya.

Hijrahnya Seorang Peggy Melati Sukma

Tak sedikit yang penasaran dengan transformasi seorang Peggy Melati Sukma. Dulu kita  mengenalnya sebagai artis sinetron dengan sebuah kata yang sangat fenomenal dan diucapkan dengan khas di sinetron Gerhana. Masih ingat dengan kata “pusiiiiing”? Di sela-sela menyampaikan kajiannya, Peggy yang kini mengusung nama Khadija juga sempat mengucapkan kata “pusiiing” tersebut. Tentu saja disambut dengan tawa renyah para peserta. 

Sangat jauh berbeda! Itu yang aku lihat dari Peggy Melati Sukma kini. Wawasan yang luas dipadu dengan adab yang santun, seutas cadar tali menutup wajahnya. Masya Allah bergetar hati ini. Sungguh perjalanan hijrah yang sangat menginspirasi. Ustazah Khadijah sempat menceritakan sedikit pengalaman hijrahnya bagaimana ia meninggalkan dunia keartisan, menutup semua perusahaannya dan benar-benar kehilangan mata pencaharian.



Namun dengan keinginan yang kuat dan keyakinan pada Allah Ta’ala, Ustazah Khadijah menyanggupi untuk bekerja sama dengan ACT membangun sekolah di Palestina. Saat itu ia membutuhkan setidaknya 150 ribu dollar. Sesuatu yang tak mungkin jika kita lihat dari kacamata manusia, namun bagi Allah tak ada yang tak mungkin bukan? Dalam waktu 3 bulan, uang yang dibutuhkan telah terkumpul! Masya Allah.

Aku sempat penasaran dengan nama Khadijah yang kini disematkan di antara nama pemberian kedua orangtuanya.  Setelah googling, dapat juga jawabannya. Ternyata nama tersebut diberikan oleh saudara-saudara di Palestina. Setiap kali bertandang ke Palestina, ia selalu dipanggil dengan nama Khadijah. Bahkan tidak ada yang tahu nama aslinya. Akhirnya karena nama Khadijah maknanya juga bagus, dan ia anggap sebagai doa untuknya, ia pun mulai menggunakan nama tersebut, termasuk di beberapa buku yang diterbitkannya.

Dalam perjalanan hijrahnya, Ustazah Khadijah selain telah berhasil menerbitkan 7 judul buku, antara lain Ya Rabbana; Aku Ingin Pulang, Kun Fayakun! Menembus Palestina, dan Kuketuk Langit dari Kota Judi: Menjejak Amerika,  ia juga mendirikan Khadijatee Foundation; sebuah yayasan yang khusus bergerak di bidang sosial, khususnya untuk membantu Palestina. Bersama ACT, ustazah Khadija juga membuat sekolah di Palestina, membantu rakyat Palestina yang membutuhkan kaki palsu, hingga membuat rumah produksi  dan toko yang dikelola oleh  janda-janda para syuhada. Ia juga mendirikan rumah-rumah Quran ‘Asmaul Husna’. Masya Allah… 

Kematian adalah Kepastian!

Ustazah Khadijah membuka Ngaji Asyik dengan sebuah pertanyaan retoris yang menggelitik, “seberapa besar catatan amal kita, lebih besar mana antara amal baik dan keburukan?  Ridhokah Allah atas kehidupan kita?

Jika kita hidup hingga hari ini, itu artinya Allah masih ridho kepada kita. Maka mari kita berlomba-lomba dalam beramal baik, karena kita nggak akan tahu kapan kita akan mati. Meski kita nggak tahu kapan datangnya mati, tapi mati adalah sebuah kepastian. Bahkan sesuatu hal yang paling pasti di dalam hidup, ya kematian! Jadi untuk apa mengejar hal-hal lain yang tak pasti, sementara di depan mata kita sudah tahu apa yang pasti. Maka sudah sepantasnya hiduplah sebaik-baiknya untuk mempersiapkan kematian yang terbaik.



Orang yang sekarang buruk belum tentu selamanya akan buruk, bisa jadi di ujung hidupnya ia bertobat. Jika Allah ridho akan tobatnya, ia bisa masuk surga. Ustazah Khadija kemudian memberikan contoh beberapa kisah. Salah satunya tentang pelacur yang masuk surga karena menyelamatkan anjing yang kehausan. Ada pula kisah tentang laki-laki yang membunuh 99 orang. Kisah itu mengingatkan kita agar jika memang ingin bertaubat, bertaubatlah dengan sebenar-benarnya; taubatan nasuha.

Selalu memikirkan mati adalah cara menguatkan taubat kita. Bertafakur, berpikir dan merenung tentang hidup yang telah kita jalani. Bayangkanlah apa yang terjadi di alam barzah kelak, seperti apakah yang akan kita dapat? Siksaan dalam ruang gelap, atau tenang di dalam terang?

Lalu ustazah Khadijah menyampaikan kalimat yang benar-benar membuatku merinding; jika barzahmu buruk, maka kehidupan akhiratmu akan jauh lebih buruk. Jika barzahmu baik, maka akhiratmu insya Allah akan berkali-kali lebih baik. Maka mari hitung mundur dari sekarang… kapan kereta kencana akan menjemput?



Tentunya teman-teman sudah tahu mengenai ada tiga hal yang mengikuti orang mati, yaitu keluarga, harta dan amal. Keluarga dan harta akan meninggalkan kita sesuai jasad dikubur, namun amal selalu bersama kita.  Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda 
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

Jika  amalan buruk yang menjadi sahabat kita, bisa bayangkan bagaimana kelamnya alam barzah kita nantinya? Seperti apakah kelak kita ingin dibangunkan; dengan wajah yang bersinar atau wajah menghitam? Perjalanan akhirat masih akan terus berjalan, lebih panjang dari kehidupan kita di dunia. Hingga akhirnya kita akan tiba di jembatan shiratal mustaqim, mampukah kita melewati jembatan yang seperti seutas rambut dibelah tujuh tersebut?

credit by laznahwanur.org

Masya Allah meskipun singkat, tausiyah ustazah Khadijah benar-benar menghentakkan kalbu. Menampar dan membuatku malu. Betapa aku masih sering bersantai-santai dalam hidup, terpesona dengan keindahan dunia dan lupa mempersiapkan mati. Ustazah Khadijah juga menyampaikan agar jangan lelah, bersabarlah dan jangan membandingkan hidup kita dengan orang lain. Setiap orang punya ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan suaminya, ada yang diuji dengan anaknya, ada pula yang diuji dengan istri atau mertuanya.  Namun yakinlah bahwa Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya. Allah sudah tahu takaran yang pas.

Setelah menghentak dengan mengingatkan para peserta pada kematian, ustazah Khadijah menyambung tausiyahnya dengan bercerita tentang Palestina. Safar yang harus dipaksakan adalah mengunjungi Masjidil Haram, Masjidil Nabawi dan Masjidil Aqsha. Sebelum kita berpikiran untuk keliling dunia, kunjungilah terlebih dahulu  tanah-tanah yang telah Allah berkahi tersebut. 


Mengunjungi Masjidil Haram dan Nabawi pastilah hampir semua muslim telah merencanakannya, entah lewat umroh atau haji. Perjalanan pun bisa diagendakan dengan mudah. Namun menuju Masjidil Aqsha perlu tekad yang kuat, apalagi dengan kondisinya sekarang ini. Israel berupaya segala cara agar umat muslim enggan ke Palestina.

Mengapa ke Masjidil Aqsha? Karena inilah tempatnya para nabi. Sebagian besar nabi kita dilahirkan di sini, bahkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang lahir di Makkah pun telah dibawa ke Palestina  oleh Allah melalui perjalanan isra’ miraj. Kita mewarisi tanah tersebut karena Allah, karena iman, maka sudah sepantasnya kita ikut menjaganya.


Dua tanah suci telah Allah jaga, setiap hari ratusan ribu jamaah mengunjungi Masjidil Haram dan Nabawi. Maka Allah sengaja berikan ujian kepada kita di atas satu tanah suci lainnya yaitu Masjidil Aqsha, Allah ingin tahu mampukah kita menjaganya?

Insya Allah kita mampu menjaganya, asal umat islam di seluruh dunia saling bersatu dan tidak bertikai satu sama lain. Dunia barat memang takut jika Islam benar-benar bangkit. Bayangkan saja ketika Ustmani  berjaya, 2/3 dunia ada di genggamannya. Saking takutnya dunia barat pada kebangkitan islam, sejarah tentang kejayaan Islam tersebut dihapuskan. Tidak banyak yang tahu kisahnya, bahkan beberapa dibumbui dengan kisah-kisah yang tak benar. Maka wajar jika banyak hal dilakukan untuk memecah belah umat Islam sekarang ini. Bangun dan sadarlah.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Quran Surat Ali Imran; 103)


Namun jangan pula merasa menjadi umat yang paling baik, lalu bersikap songong dan mengkafirkan orang dengan mudahnya. Jadilah agen Islam yang baik, agen Islam yang membuktikan bahwa ajaran ini rahmatan lil alamin. Bahwa tidak ada satu pun ayat dalam Islam yang mendukung bom bunuh diri sebagai jihad. Jika kita membaca shiroh nabi, tidak akan kita temukan nabi Muhammad berdakwah dengan kekerasan. Bahkan sekalipun nabi harus berperang, ada hukum-hukum perang yang harus diikuti. Mari kita contoh akhlak beliau jika memang kita mengaku sebagai pengikutnya. Jangan pula kita mengutuk teman-teman yang sedang tersesat. Teman-teman yang merasa dirinya Islam namun memilih bom bunuh diri sebagai jalan jihad, doakan  dan tuntun mereka agar bisa kembali ke jalan yang benar.

Kemudian slide demi slide tentang kondisi Palestina diperlihatkan oleh Ustazah Khadijah. Dari wilayahnya yang semakin sempit, hingga foto-foto kekejaman Israel kepada rakyat Palestina. Inilah teroris sebenarnya, tapi apa dunia ramai mengutuknya? Seluruh peserta tertunduk, mengusap wajah mereka yang basah karena air mata. Jika sebelumnya kami hanya mendengar dari berita, dari postingan sosial media, kini kami dengar langsung kondisi Palestina langsung dari seseorang yang pernah berkali-kali datang ke bumi para nabi tersebut. Serentak seluruh peserta mengucap ‘aamiin’ ketika Ustazah Khadijah mengucap doa “semoga muslimah-muslimah yang hadir di majelis ini dimampukan untuk pergi ke Masjidil Aqsha.”


Cerita-cerita ustazah Khadija tentang keadaan masyarakat yang tinggal di tanah para nabi tersebut semakin mengobarkan semangat para peserta untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Palestina. Tangan demi tangan mengacung ke atas, menyanggupi untuk mengambil paket hadiah yang ditawarkan oleh Khadijatee Foundation. Paket hadiah tersebut berisi sebuah gamis, slayer, niqab, dan buku-buku karya Ustazah Khadija. Fyi, slayer dan niqab yang disertakan dalam paket tersebut asli buatan janda-janda syuhada Palestina. 

Ustazah Khadija membuka harga paket hadiah itu dengan Rp 5.000.000, - , aku merinding seketika mendengar nominal yang diucapkan. Sebuah angka yang tidak bisa kucapai meski uang di dompet plus di rekening tabungan dijebol.  Semakin bergetar dan tak terasa air mata mengalir ketika satu per satu orang mengacungkan tangan mereka.  Seketika itu rasanya pengen jadi orang kaya. Orang kaya yang bisa memberi manfaat dan mengkayakan sesama tentunya. Barakallah untuk mereka yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk Palestina.


Aku tak menyaksikan pengumpulan dana untuk Palestina hingga akhir karena harus menjemput Ifa yang sedang trial class di Kuttab Al Fatih. Namun pelajaran penting hari ini membekas sangat dalam di jiwaku. Setidaknya jika memang belum mampu membantu Palestina secara materi, mari kita sisipkan doa-doa panjang kita untuk saudara-saudara seiman yang ada di sana. Terima kasih Salimah dan ACT telah menghadirkan sosok yang sangat menginspirasi.

Akan kututup gratitude journal-ku pagi ini dengan sebuah kutipan kajian dari Syeikh Yasin, seorang imam besar Palestina yang alhamdulillah aku sempat menghadiri acaranya satu malam sebelum Ngaji Asyik bersama Ustazah Khadijah digelar. 

“Jangan bermimpi untuk bisa kembali merebut Al Aqsho, jika dengan saudara seimanmu sendiri kalian masih saling bertikai!” 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang.


Sumber: 
https://rumaysho.com/14414-tiga-yang-menemani-dua-pulang-satu-tersisa.html
https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-103
https://www.tabloidbintang.com/berita/polah/read/66761/dari-sini-asal-nama-khadijah-di-belakang-nama-peggy-melati-sukma
https://www.arah.com/article/30172/ini-cerita-peggy-melati-sukma-ubah-nama-menjadi-khadijah.html
https://tirto.id/kisah-peggy-melati-sukma-dari-panggung-hiburan-ke-panggung-dakwah-cD3H





You Might Also Like

13 comments

  1. Jangan bermimpi untuk bisa kembali merebut Al Aqsho, jika dengan saudara seimanmu sendiri kalian masih saling bertikai <--- Ini benar sekali ya. Bahkan di Indonesia, bumi nan damai gemah ripah loh jinawi, 'pertikaian' terus terjadi. Saling tampil sebagai yg terbenar, padahal Maha Benar saja sungguh rendah hati dan amat menyayangi makhluknya.

    Semoga saudara2 kita di Palestina segera bisa hidup normal, aman dan damai, juga bisa beribadah dengan sebebas-bebasnya seperti di Indonesia tercinta ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga umat Muslim di Indonesia juga Tak saling bertikai lagi ya mbak. Masalah kecil Aja bisa jadi besar. Padahal daripada menghabiskan tenaga buat bertikai Kan lebih baik konsen ibadah Dan membantu saudara seiman yang sedang kesusahan, seperti Palestina ini ya.

      Delete
  2. Masya Allah salut dengan umi Peggy.. Hijrah yang luar biasa. InsyaAllah saya bisa mengikuti jejaknya kelak. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Adem baca2 tulisan spt initial, meski kadang terbersit di hati apa yg bisa dilakukan kita sendiri buat negara ini yg kdg2 dalam satu naungan iman saja masih suka bertikai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisanya lewat tulisan ya hayuk Kita berbuat sesuatu lewat tulisan mbak. Insya Allah kalau diniatkan untuk kebaikan akan bermuara pada kebaikan.

      Delete
  4. Semoga Allah selalu beserta mereka yang selalu menebar kebaikan ya mbak. Thanks for sharing

    ReplyDelete
  5. Aamiin. Iya mbak salut banget sama Ukhti Khadija.. semoga istiqomah

    ReplyDelete
  6. Aku udah pernah hadir dalam pengajian ustadzah Khadijah, nama yang cantik ya.


    Iya, aku belum kesampaian shalat di masjidil Aqsa. Insyaallah tahun depan semoga dilancarkan.

    ReplyDelete
  7. Masyaallah sdh ber tumpuk2 amalnya, bisa mengajak bnyk org jg. Apalah saya hiks ��

    ReplyDelete
  8. Masya Allah..indah sekali..
    TFS mba Marita..

    ReplyDelete
  9. makasih sharingnya, sangat bermanfaat ni,

    ReplyDelete
  10. Aku juga ingin jadi orang kaya, Mbak, biar bisa berbagi dengan sesama. Kalau sekarang aku belum ounya apa2, bolehkan kalah aku berharap?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com