Pringsewu Resto Kota Lama Semarang Tak Sekedar Menyajikan Kuliner Nikmat

  • Wednesday, May 23, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 14 Comments

Pringsewu Resto Kota Lama Semarang


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sebagai orang yang mengaku lahir di kota Semarang, aku terkadang malu karena tak banyak tahu tentang budaya dan peninggalan sejarah kota ini. Bahkan hingga sekarang, nonton langsung Warag Ngendog aja aku belum pernah, sungguh terlalu kalau kata Bang Roma. Hingga bulan lalu aku ada sebuah event yang berlangsung di kawasan Kota Lama. Nggak tanggung-tanggung, event tersebut berlangsung selama dua minggu.

Mau nggak mau setiap hari aku melewati kawasan tersebut. Dulu aku paling malas kalau harus lewat ke sini, apalagi kalau lewat Polder Tawang, wuih…. Udah rame, sering macet, bau pula. Namun kini aku merasakan ada yang berbeda di kawasan Kota Lama. Perbedaannya sih memang sudah terasa beberapa tahun terakhir, sejak mulai banyak acara digelar di kawasan ini. Sepertinya tahun ini merupakan puncak dari perbedaan tersebut. 


Pemerintah Kota Semarang sedang melakukan renovasi besar-besaran dalam rangka melindungi cagar budaya. Meski efeknya memang semakin macet parah karena jalan-jalan di kawasan ini sedang diperbaiki, namun beberapa bulan ke depan insya Allah kawasan ini akan semakin nyaman dan cantik. Salah satu bangunan di kawasan Kota Lama yang kini semakin cantik yaitu gedung Oei Tiong Ham. Kini telah dialihfungsikan sebagai Pringsewu Resto.

Tampak Depan Pringsewu Kota Lama Semarang


Nah, hari Sabtu yang lalu, tepatnya tanggal 19 Mei 2018, aku menghadiri bincang-bincang antara manajemen Pringsewu Resto Kota Lama Semarang bersama para blogger dan pemandu wisata. Beruntung sekali bisa ngabuburit di Pringsewu Resto. Bukan hanya karena bisa mencicipi menu-menu makanan yang endess, namun juga bisa mendapat pengetahuan tentang sejarah Kota Lama, khususnya tentang gedung Oei Tiong Ham ini.

Tentang Oei Tiong Ham

Saat mendengar nama Oei Tiong Ham disebut,  mendadak ingatanku lari pada artikel yang pernah aku baca beberapa tahun lalu. Si Raja Gula Asia, itu yang aku ingat tentangnya. Ingatan itu semakin diperkuat dengan penjelasan dari Pak Rofiq, salah satu pemandu wisata yang juga diundang menghadiri acara bincang bersama manajemen Pringsewu Resto hari Sabtu lalu.

oei tiong ham pringsewu kota lama


Bisa dibilang Oei Tiong Ham ini adalah konglomeratnya orang Semarang pada jaman old. Bahkan konon total kekayaannya mencapai 200 juta gulden. Dikutip dari Tirto.id, Oei Tiong Ham ini pada akhirnya mendirikan Oei Tiong Ham Concern. Awalnya memang hanya mengurusi pabrik gula, namun kemudian berkembang ke arah perkebunan tebu, perusahaan dagang, pelayaran, konstruksi, real estate  dan perbankan. Kiprah bisnis Oei Tiong Ham yang disebut terakhir merupakan bank Tionghoa pertama di Jawa. 

Pantas saja ya kalau kekayaannya ditaksir sebanyak itu? Bahkan pabrik gula Oei Tiong Ham Concern sendiri cukup besar. Nggak tanggung-tanggung, perusahaan milik Oei Tiong Ham ini pernah memiliki lima pabrik melalui akuisisi sejumlah pabrik yang gulung tikar pada 1880-an. Lima pabrik gula ini antara lain PG Rejoagung, Krebet, Ponen, dan Tanggulangin. Mantap!

Kunci suksesnya mengelola bisnis gula karena mampu menjadi terdepan dalam teknologi. Pabrik-pabrik gula Oei Tiong Ham adalah yang pertama menggunakan teknologi elektrifikasi. PG Rejoagung merupakan pabrik gula pertama di Hindia Belanda yang dijalankan dengan tenaga listrik. Ia juga mempekerjakan para teknisi barat, akuntan, dan pengacara didikan barat. Para ahli dari Jerman juga didatangkan sebagai penasihat untuk mengolah hasil panen secara modern.


perbedaan suasana sore dan setelah magrib di Pringsewu Kota Lama



Sayangnya usia Oei Tiong Ham tidak cukup panjang. Ia meninggal di usianya yang ke 57 di Singapura. Ia pindah ke Singapura karena berselisih mengenai hak waris dengan aturan Belanda yang dipakai di Indonesia saat itu. Hak waris menurut Hindia Belanda mengharuskan anak-anak mendapat jumlah yang sama rata, sedangkan Oei Tiong Ham yang punya 26 anak dari 8 istri hanya ingin mewariskan perusahaan kepada anak-anak yang dirasa mampu mengelolanya. Sementara anak-anak yang tidak cakap dalam bidang usaha hanya akan diwarisi uang.

Hingga pada akhirnya di tahun 1961, pemerintah Indonesia menyita dan mengambil alih seluruh aset-aset Oei Tiong Ham Concern di Indonesia. Lalu pada tahun 1964 dibentuk BUMN bernama PT Rajawali Nusantara Indonesia untuk mengelola aset-aset tersebut. Ternyata gedung yang kini ditempati oleh PT Pringsewu Resto Kota Lama Semarang bukan satu-satunya gedung milik Oei Tiong Ham.



Dikutip dari seputarsemarang.com,  gedung-gedung milik Oei Tiong Ham berada di beberapa titik Semarang, antara lain rumah mewah di kawasan Gergaji (sekarang Jalan Kyai Saleh) yang dulu ditempati oleh Oei Tiong Ham dan keluarganya. Rumah tersebut pasca “penyitaan” telah beberapa kali berpindah tangan. Untuk waktu yang lama pernah digunakan oleh Kodam Diponegoro dan diberi nama “Balai Prajurit”, kemudian sempat dipakai sebagai kampus sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Rumah tersebut dulunya cukup mewah dan memiliki halaman yang sangat luas sekali. Saking luasnya halamannya sampai menjangkau kawasan Simpanglima, Pleburan (kampus Undip) , kampung Gergaji dan Jalan Pahlawan, Semarang. Bahkan beberapa sumber mengatakan kalau pusat pemerintahan Jawa Tengah, yaitu kantor Gubernur Jateng, Pengadilan Tinggi, Kejaksaan Tinggi yang terletak di Jalan Pahlawan, semua atau sebagiannya menempati tanah bekas lokasi halaman rumah Oei Tiong Ham ini. Sepanjang tahun 1920-an sampai menjelang masuknya Jepang, Jalan Pahlawan dulunya bernama “Oei Tiong Ham Weg” atau Jalan  Oei Tiong Ham. Bener-bener orang kayah ya pak Oei Tiong Ham ini.



Berkenalan dengan Pringsewu Resto

Teman-teman yang sudah sering lewat jalur pantura pastinya sudah tidak asing lagi dengan nama Pringsewu Resto. Restoran ini terkenal dengan cara marketingnya yang oke punya. Dengan memberikan road sign di sepanjang jalan yang menginformasikan jarak menuju Pringsewu terdekat.
Pringsewu Resto sendiri kini ada di bawah naungan Pringsewu Group. Selain Pringsewu Resto, Pringsewu Group juga membawahi dua brand lain, yaitu Kabayan dan Mie Pasar Baru. Hingga saat ini Pringsewu Resto telah memiliki 15 cabang yang tersebar di kota-kota Indonesia, salah satunya tentu saja di Kota Lama Semarang yang baru saja dibuka di bulan Mei 2018.

Dikutip dari Bincang Bisnis republika.com, pemilik awal Pringsewu yaitu Pak Agus Hardianto. Saat ini beliau menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pringsewu Cemerlang. Pada tahun 1987 rumah makan Pringsewu yang pertama dibangun di Purwokerto, Jawa Tengah. Rumah makan itu dinamakan dengan Pringgading. 



Saat itu, bisnis restoran belum berkembang seperti sekarang. Apalagi, Pak Agus tidak hanya ingin membuat rumah makan sebagai tempat makan biasa, namun sebuah tempat makan yang nyaman lengkap dengan taman yang luas. Pak Agus ingin semua orang yang mampir ke rumah makannya tidak hanya puas dengan makanannya tapi juga merasa nyaman dan rileks, sehingga lelah selama perjalanan bisa hilang dan siap melaju lagi jika harus melanjutkan perjalanan. Maka tak heran jika Pringsewu Resto selalu menempati lahan yang luas.

Melihat animo masyarakat yang sangat antusias, satu per satu cabang pun kemudian dibuka. Dari Yogyakarta, Baturaden, Pekalongan, Pemalang, Cirebon, Sumpiuh, Indramayu, hingga kini ada juga Pringsewu Kota Lama Semarang. 

jajaran manajemen Pringsewu Kota Lama Semarang
jajaran manajemen Pringsewu Kota Lama Semarang

Pada saat acara bincang santai bersama blogger dan pemandu wisata, manajemen dari Pringsewu Resto Kota Lama Semarang diwakili oleh pak Arsyanto Wahyu dan Rosyad Khan yang merupakan Direktur Marketing, dan ada juga pak Sunarto dan Andi Bram yang merupakan manajer. 

Keunggulan Pringsewu Resto

1. Memiliki Menu Spesial Nasional dan Spesial Lokal

Pringsewu selain mempunyai produk spesial nasional (gurame, sup buntut, ayam) yang bisa kita temukan di seluruh RM Pringsewu, juga memiliki beberapa produk lokal, misalnya Pringsewu Yogyakarta memiliki menu lodeh pinggir sawah, Pringsewu Pantura punya menu kepiting lemburi, Pringsewu Indramayu memiliki menu khas yang dinamakan ikan cetong, sedangkan Pringsewu Jawa Barat ada nasi timbel. 



Semua menu lokal digali dari potensi yang ada di daerah masing-masing.  Pringsewu memiliki  tim research and development yang bertugas untuk menggali dan mencari tahu potensi yang ada di daerah tersebut, serta makanan apa yang khas di daerah tersebut dan banyak disukai. Seperti di Yogyakarta, ada menu jamur, maka kemudian Pringsewu membudidayakan jamur sendiri dan kini sudah ada di semua cabang. 

Pantas saja, Sabtu lalu para manajemen juga menanyakan pada kami yang saat itu hadir untuk memberikan masukan dan saran terkait menu khas yang bisa disajikan di Pringsewu Resto Kota Lama Semarang.

2. Membudidayakan Sendiri Bahan Makanan

Berbeda dengan resto dan rumah makan lainnya, Pringsewu ini menjamin kalau kualitas bahan bakunya sangat segar karena diproduksi sendiri. Selain lebih segar, harga bahan baku pun cenderung menjadi relatif murah karena memetik di kebun sendiri tidak perlu ada ongkos transport-nya.

3. Experience Restaurant

Pringsewu menjadi resto yang ingin bisa terlibat dengan pelanggan dengan menciptakan pengalaman manis bersama mereka. Misalnya, ketika ada pelanggan yang berulang tahun, tim dari Pringsewu akan menyuguhkan tabuh-tabuhan sebagai tanda ucapan selamat ulang tahun.  Tidak hanya itu, pelanggan yang berulang tahun pun juga diberikan bingkisan. Bahkan di beberapa cabang dilengkapi juga dengan pertunjukan sulap.  Selain ucapan ulang tahun, Pringsewu Resto juga akan menyambut biro perjalanan yang membawa rombongan tamu dengan tari-tarian.



Sewaktu aku dan teman-teman blogger menghadiri bincang santai dengan manajemen resto, kami juga berkesempatan melihat ada seorang pengunjung yang diberi ucapan selamat ulang tahun oleh para karyawan Pringsewu Resto Kota Lama Semarang. Sayang saking takjubnya, aku sampai lupa mengambil gambarnya. Saat itu sambil diiringi lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud band, para karyawan membawakan bingkisan dan mempersilakan pengunjung tersebut berfoto dengan dekorasi yang telah disediakan.  Seru deh.

4. Kualitas Masakan yang Sama di Setiap Cabang

Pringsewu Resto menjamin bahwa kualitas masakan di setiap cabang pasti sama karena bumbu-bumbu diproduksi oleh Pringsewu pusat di Purwokerto. Kemudian bumbu tersebut dikirim ke seluruh cabang dengan standardisasi tertentu. Agar bumbu tidak basi, ada cara penyimpanan khusus, bisa dengan freezer atau vacuum.

5. Pringsewu Club Card



Pringsewu Resto juga menyediakan Pringsewu Club Card yang bisa digunakan di semua cabang restoring Pringsewu. Dengan kartu ini, pelanggan bisa menikmati diskon atau paket-paket khusus sesuai dengan cabang yang dikunjungi.

Menu Buka Puasa dan Syawalan Pringsewu Resto Kota Lama Semarang

Setelah berbincang-bincang asyik dengan para manajemen resto, kami pun berkenalan dengan menu-menu yang ada di Pringsewu Resto Kota Lama Semarang. Sambil mengabadikan menu-menu tersebut lewat kamera hp, sesekali aku pun melirik jam, saat itu rasanya waktu berbuka puasa kok jadi lama sekali, hehe. Sedangkan makanan di meja sudah siap diterkam.

Mau tahu menu apa saja yang bisa dipesan di Pringsewu Resto Kota Lama Semarang, cuzz kepoin… awas jangan sampai batal lo ya puasanya.

Sego Bandhem

Sego Bandhem Pringsewu Kota Lama Semarang


Yang nggak orang Jawa pasti pengen tahu apa arti nama dari menu ini. Sego berarti nasi, sedangkan bandhem sendiri merupakan aktivitas berhubungan dengan melempar sesuatu ke kepala orang. La terus kalau sego bandhem, apakah maksudnya melempar nasi ke kepala orang? Hehe, jangan dong ya… Itu istilah saja kok. Bandhem di sini mewakili bentuk nasi yang disajikan mirip bola atau batu. 
Sego Bandhem di Pringsewu Resto Kota Lama Semarang memiliki beberapa pilihan. Ada yang bisa dinikmati dengan Ayam Geprek alias ayam goreng yang dilumuri sambal ulekan tangan, tahu goreng dan tempe. Yang nggak begitu suka ayam, bisa memilih opsi telur dadar dan bakso goreng. Selain pilihan tersebut, Sego Bandhem ini juga punya kejutan lo. Ternyata di dalam Sego Bandhem tersembunyi ikan teri yang dijamin nyam nyam rasanya.

Udang Saus Mangga

Udang Saus Padang Pringsewu Kota Lama Semarang


Aku sempat mencicipi menu yang ini. Hmm, nikmatnya udang berukuran besar yang dilumuri saus mangga beradu di lidah memberikan sensasi tersendiri. Awalnya cukup mengejutkan rasa kecutnya di mulutku, tapi lama-lama nggak bisa berhenti makan. 

Selain Sego Bandhem dan Udang Saus Mangga, tentu saja masih ada menu lainnya semacam Gurame Pesmol, Gurame Cabe Garam, Udang Saus Padang. Jika nggak mau makan berat, kita juga bisa memilih makanan ringan seperti tempe mendoan, pisang krispi dan onde-onde yang nggak kalah nikmat. Pokoknya menu di Pringsewu Resto memang super komplit.










Nah, berhubung saat ini sedang puasa dan beberapa hari ke depan akan mendekati lebaran, pastinya banyak yang sedang siap-siap untuk mencari tempat berbuka puasa bareng teman-teman lama atau saudara. Pringsewu Resto Kota Lama pas banget deh buat jadi pilihan tempat hangout bareng teman atau keluarga. Mumpung lagi ada paket istimewa buka puasa dan syawalan. Mau tahu?




Berwisata ke Kota Lama Semarang

Seperti yang aku bilang di atas, selain dihadiri oleh para blogger, acara bincang santai nan asyik bersama manajemen resto juga dihadiri oleh pemandu wisata Kota Lama (DUTAKOLA). Saat itu yang hadir ada pak Rofiq dan mbak Vita.


Beruntung bisa hadir di acara tersebut, aku jadi tahu tentang DUTAKOLA dan paket-paket wisata yang tersedia;

paket wisata dutakola
  • Paket Wayang Suket
  • Paket Walking Tour
  • Paket Cycle Tour
  • Paket Vespa Sespan
  • Paket Kampung Batik
  • Paket Belajar Gamelan

Di antara semua paket itu, Pak Rofiq menyatakan kalau Paket Wayang Suket termasuk yang paling banyak dicari. Wayang Suket sendiri memang tidak hanya ada di Semarang, namun demi memberikan ciri khas Indonesia, pak Rofiq mengkhususkan untuk memberikan souvenir berupa wayang suket dengan tokoh Dewi Sri. Tokoh tersebut dipilih karena merupakan tokoh wayang khas Indonesia yang dikenal sebagai dewi  padi/ dewi kesuburan. 

pak Rofiq cerita tentang Wayang Suket Dewi Sri

Silakan dipilih paket wisata mana yang ingin teman-teman cicipi, dan selamat menikmati indahnya The Little Netherland or Venice van Java. Ya, Semarang seringkali disebut dengan dua istilah tersebut oleh para turis mancanegara. Selamat terpesona dengan keindahan bangunan-bangunan tua di Kota Lama yang masih berdiri kokoh lengkap dengan sejarahnya yang memukau.

Nah, setelah melihat-lihat Kota Lama Semarang sampai puas, jangan lupa mampir ke Pringsewu Kota Lama Semarang yang bertempat di Jalan Suari 10-12 Kota Lama Semarang. Untuk reservasi dan informasi bisa menghubungi 0813 9260 8822. Nggak perlu pikir-pikir lagi, cuzz booking tempat sekarang juga ya, pals!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Referensi:

https://tirto.id/oei-tiong-ham-si-raja-gula-dari-semarang-cmhf
http://seputarsemarang.com/oei-tiong-ham-concern-akhir-tragis-sang-raja-gula/
https://id.wikipedia.org/wiki/Oei_Tiong_Ham
https://id.wikipedia.org/wiki/Rajawali_Nusantara_Indonesia
http://pringsewuresto.co.id/
http://www.republika.co.id/berita/koran/bincang-bisnis/14/11/03/negalv28-bincang-bisnis-bambang-riyadi-direktur-utama-pt-pringsewu-cemerlang-sukses-berkat-dukungan-stakeholder
https://aengaeng.com/2009/07/sekilas-pringsewu-group/
https://marketing.co.id/pringsewu-berkembang-pesat-di-jalur-pantura/






Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Pringsewu Resto Kota Lama Semarang Tak Sekedar Menyajikan Kuliner Nikmat. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

14 comments

  1. pantesan waktu mendengar nama pringsewu sepertinya nggak asing, ternyata pernah lewat, lewat aja, nggak mampir

    ReplyDelete
  2. Wkwkw.. aku malah baru tahu. Pernah denger sepintas sih. Tapi nggak ngeh. Mungkin dulu pas ikut bapak kerja mampirnya ke situ ya hehe.

    ReplyDelete
  3. Nggone resik banget ya. Rodo2 gothic buat aku. Asyik.
    Sego bandeme juga must try culinary kuwi.

    Lah, sampe komen campur-campur gini ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kece bunsal, Kaya turis. Bahasanya campur-campur hehe. Iya tempatnya nyaman buat kumpul keluarga... Pengen balik ke Sana lagi hehehe.

      Delete
  4. Wah belum sempat icipin menu di pringsewu kota lama semarang, suka banget dengan menu makanan di pringsewu, seringnya makan di pringsewu tegal dan rest area cipali kalau mudik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntar kalau pas main ke Semarang ya mbak, sempatin ke sini. Jadi kangen sama mbak Vita deh.. kapan ya ngumpul lagi...

      Delete
  5. Tulisannya super lengkap Mba...
    Itu kemarin datang awal yaa Mba jadi bisa foto2 seluruh area bangunannya gitu. Aku mupeng sama sego bendhemnya

    ReplyDelete
  6. Itu hasil poto suami sembari ngejar-ngejar Affan yang nggak mau diam mbak hehe. Aku Aja kemarin nggak kebagian sego bandhemnya. Jadi mupeng juga.

    ReplyDelete
  7. Sukak sama bangunannya, cantik deh khas gedunh tua.makanannya juga enak smua kayanya.kapan2 nyobain kesana ah

    ReplyDelete
  8. Waaaah tulisannya lengkp banget,laf laf laf

    ReplyDelete
  9. Iya mbak tempatnya bagus. Yuk bukber ke Sana mumpung Ada paket bukbernya hehe.

    ReplyDelete
  10. Sedap mantap enakkk
    Pengen nyobain ikannya duh. Pringsewu kerenn tempatnya juga.

    ReplyDelete
  11. Huaa.. Baru sahur udah mupeng sayah ��

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com