Jurnal Syukur #2: Tuntas Mengikuti Sekolah Ibu Sendangmulyo

  • Saturday, May 26, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 3 Comments

sekolah ibu sendangmulyo 2018


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Setelah bulan-bulan sebelumnya, 'istana' ini sempat sepi dan laba-laba mulai bersarang, sepertinya bulan Mei terselamatkan dengan challenge dari Rumah Belajar Literasi Media Ibu Profesional Semarang nih. Ada tantangan yang  membuat aku harus rajin nulis setelah beberapa bulan lalu jumlah postingan berkutat di situ-situ saja. Ya kan aneh aku yang memberi tantangan ke teman-teman, tapi aku nggak setor tantangan sendiri.

Jadi di bulan ini diadakan challenge berupa mencatat gratitude journal alias jurnal syukur minimal dua postingan dalam satu minggu. Ceritanya mumpung bulan ramadan, selain untuk menggiatkan para anggota rumbel literasi media agar semakin semangat menulis, juga agar kami bisa lebih bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan.

Sebenarnya tantangan sudah diberikan sejak akhir minggu pertama di bulan Mei. Eng ing eng, dan aku baru mau menulis Jurnal Syukur #2 lo. Aku tidak mau berkelit dengan alasan masih banyak kerjaan endebra endebre… ini jelas sebuah warning untukku agar lebih baik dalam managing time. Alhamdulillah kemudian ada sebuah amanah dari teman-teman Salimah (Persaudaraan Muslimah) wilayah Sendangmulyo untuk membuat resume rangkaian kajian Sekolah Ibu yang diselenggarakan dalam 10 hari pertama bulan Ramadan ini. Amanah ini menjadi sebuah keberuntungan buatku.

Kenapa beruntung? Pertama, aku jadi punya banyak hal untuk ditulis. Kedua, dengan diberi amanah tersebut aku ‘dipaksa’ untuk selalu hadir ke kajian. Selalu ada alasan untuk menepis rasa malas dan akhirnya bisa hadir di tengah-tengah ratusan muslimah yang masya Allah semangatnya luar biasa.

Sekolah Ibu merupakan agenda rutin tahunan dari Salimah setiap bulan Ramadan. Dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau kajian ini diperuntukkan bagi para muslimah, khususnya para ibu. Diharapkan setelah digembleng ikut Sekolah Ibu selama satu minggu, akan lahir muslimah-muslimah yang tangguh dan siap mencetak peradaban yang lebih baik.

rangkaian kegiatan sekolah ibu sendangmulyo


Aku sendiri kenal Sekolah Ibu sejak tahun 2015, waktu itu Salimah Sendangmulyo belum mengadakan kegiatan ini, aku masih ikut Sekolah Ibu di Masjid Baitussalam Dinar Mas. Tahun berikutnya, tepatnya di tahun 2016, wilayah Sendangmulyo mulai mengadakan Sekolah Ibu. Jadi tahun ini merupakan tahun ketiga Salimah Sendangmulyo mengadakan Sekolah Ibu. Setelah di tahun pertama dan kedua, acara diadakan di Masjid Al Mufid, tahun ini Sekolah Ibu Sendangmulyo berpindah tempat ke Masjid Al Fatah. Masih sama-sama berlokasi di Klipang dan dekat dengan rumah, namun tempatnya jauh lebih luas dan menurutku lebih nyaman.

Di tahun pertama dan kedua aku tidak selalu hadir di Sekolah Ibu Sendangmulyo. Waktu Sekolah Ibu I diadakan, aku masih memilih ikut Sekolah Ibu di Baitussalam Dinar Mas karena saat itu jamnya berbarengan dan sekalian antar jemput Ifa sekolah, dengan alasan biar nggak wira-wiri.  Ketika Sekolah Ibu II diadakan kondisi futur sedang menyerang dan aku hadir cuma 2 atau 3 kali.

Fyi, geliat Sekolah Ibu di tahun 2018 semakin terasa, setidaknya ada tiga titik lokasi yang mengadakan kegiatan sejenis. Selain Sendangmulyo, Sekolah Ibu juga diadakan di Dinar Mas dan Bukit Mutiara Jaya. Di daerah Plamongan juga setahuku malah sudah diadakan kegiatan ini sejak lama, jauh sebelum Sekolah Ibu di Dinar dan Sendangmulyo ada, penggiatnya ustazah Dyah Woro. Nah, buat teman-teman yang mungkin baru tahu ada kegiatan kece ini, semoga catatan-catatanku nanti bisa sedikit mengobati rasa kecewa karena telat mendapat informasi. Semoga juga kita diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadan tahun depan, sehingga insya Allah bisa berkumpul di Sekolah Ibu berikutnya.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, peserta Sekolah Ibu Sendangmulyo kali ini jauh lebih banyak. Yang mengagumkan mereka tidak hanya datang dari wilayah Sendangmulyo, ada yang dari Bukit Kencana, Mranggen, Bangetayu, bahkan Manyaran! Makanya kalau aku yang rumahnya beberapa langkah aja dari lokasi kok ya sampai nggak hadir kan ya kebangetan to?

Aku sangat bersyukur dengan amanah dari Salimah telah berhasil membuatku tuntas mengikuti Sekolah Ibu tahun ke-III. Cita-citanya di awal sih, selesai kajian langsung publish resume-nya, ternyata…. baru bisa mulai menulis resume justru setelah Sekolah Ibu resmi ditutup. Afwan ya teman-teman Salimah. Hadir kajian bersama baby Affan yang sedang masanya lari ke sana ke mari memang cukup menantang. Dibutuhkan koordinasi antara mata, telinga, tangan dan kaki yang sangat baik. Sembari mengejar Affan, telinga berusaha menangkap materi yang diberikan, dan tangan berusaha tetap mencatat informasi yang didapat, sementara mata sibuk mengawasi polah si bujang cilik dan kaki pun nggak boleh telat mengikuti Affan sebelum kehilangan jejaknya, hehe. Alhamdulillah punya anak sehat dan aktif to?

Meski awalnya sedikit merasa terpaksa hadir ke Sekolah Ibu, aku bersyukur tahun ini bisa komplit mengikuti kegiatan ini dari awal hingga akhir. Ada banyak hal yang aku dapat. Benar kata MC di hari pertama acara ini digelar,

Materi boleh jadi sama dan kita pernah dapat sebelumnya, namun niatkanlah untuk mengharap ridho Allah dan meningkatkan keimanan kita.

Meski bisa jadi materi yang disampaikan pernah didapat dan didengar sebelumnya, namun ketika kita meniatkan hadir lillahi ta’ala, Allah akan membuka jalan-jalan indah. Yang tadinya semangat belajar lagi turun bisa naik lagi. Pintu-pintu silaturahim dengan teman-teman baru juga terbuka lebar. Yang sebelumnya lupa jadi diingatkan lagi. Sungguh tidak ada ruginya belajar sepanjang hayat. Dan bisa hadir ke majelis ilmu jelas sebuah hal yang tak boleh lupa disyukuri. Ketika Allah ringankan kaki-kaki ini menuju majelis ilmu, maka sesungguhnya ini juga sebuah salah satu rizki-Nya, salah satu bentuk kasih sayang-Nya… itu artinya Allah masih ingin kita bertambah baik setiap harinya.

Meski catatan resume ini terlambat dibagikan, namun semoga masih tetap bisa menjadi pengingat, tidak hanya bagi yang membacanya, justru terutama bagi pencatatnya sendiri yang masih sering kendor istiqomahnya dalam beribadah. Jika nanti dalam penyampaian ulang materi kajian ada kesalahan, bukan ustaz/ ustazahnya yang keliru, namun semuanya murni dari kelalaianku dalam proses belajar dan penulisan. 

Akhir kata, selamat membaca catatan-catatan hasil belajarku selama mengikuti Sekolah Ibu tahun ketiga yang diadakan oleh Salimah Sendangmulyo, IZI (Inisiatif Zakat Indonesia) dan takmir masjid Al Fatah. Mengangkat tema “Kokohkan Diri Wujudkan Generasi Tangguh”, berikut ini daftar kajian yang digelar pada pada 20 – 26 Mei 2018:

Seri 7 - Sekolah Ibu Hari ke – 6: Merencanakan Konsep Hidup by Ustaz Usep Badruzzaman

foto bersama di akhir sekolah ibu sendangmulyo 2018


Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




"Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang."



Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Jurnal Syukur #2: Tuntas Mengikuti Sekolah Ibu Sendangmulyo. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

3 comments

  1. Wah sungguh kegiatan yg bermanfaat untuk mba.. keren...

    ReplyDelete
  2. Kamu keren deh Mba soal berkegiatan nambah ilmu dan bikin catatan jurnal2 spt ini...memginspirasi bgt

    ReplyDelete
  3. Mbak ririt keren harus berguru nih kapan-kapan...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com