Goodbye Blazer! With Daster, No Baper



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jangan takut hidup menjadi susah meski tidak lagi bergaji. Karena rezeki Allah lebih luas dari sekedar gaji. Gali potensi diri, di rumah bukan berarti berhenti berkarya. Bukankah menjadi istri dan ibu adalah karya tertinggi seorang wanita? Dasteran boleh, baperan jangan.

Sepenggal quote yang sedikit aku ubah di atas adalah salah satu dari quote yang bisa teman-teman temukan dari buku antologiku yang ke-27. Goodbye Blazer! With Daster, No Baper demikian nama yang kami sematkan kepada buku dengan cover bernuansa hijau ini. Ada 23 kisah inspiratif yang akan cocok dibaca di sore atau pagi hari, sambil sesekali meneguk kopi, teh atau coklat hangat. 

Sekilas info terkait buku:

Judul Buku: Goodbye Blazer! With Daster, No Baper
Penulis: Akmala Maulida, dkk
Editor: Akmala Maulida dan Shafrida F Sukoco
Proofreader: Akmala Maulida
Cover Design: Indria R Sukoco
Layouter: Indria R Sukoco
Ukuran: 14x20 cm
Tebal Buku: 235 Halaman
Cetakan 1: Desember 2019
ISBN: 978-623-9183-34-9
Penerbit: Pejuang Literasi



Jujur, tidak semua proyek antologi yang kuikuti selalu habis kubaca tuntas. Goodbye Blazer! With Daster, No Baper ini salah satu proyek antologi yang begitu kuterima, langsung bisa membuatku hanyut. Kisah-kisah yang ditorehkan oleh semua kontributor luar biasa. Antara satu dan yang lainnya memiliki kekuatannya masing-masing. Tidak ada satu karya yang lebih keren dari karya lainnya. Memang benar adanya, kisah yang ditulis dengan hati akan mampu menyentuh hati sedalam-dalamnya.

Ini bukan sekedar basa-basi atau promosi karena aku salah satu kontributor di buku ini. Namun sesaat setelah menamatkan buku ini, ada keharuan sekaligus energi positif yang membuncah di dada. Haru karena ternyata memiliki teman seperjuangan di luar sana. Sekaligus energi positif untuk kembali semangat memandang dan mengenakan daster tanpa ada rasa minder.

Diakui atau tidak melepaskan karir demi keluarga adalah sebuah pilihan yang tidak mudah. Dari 23 kisah di buku ini, para pembaca bisa merasakan pergolakan batin dan jatuh bangun para penulis dalam melewati masa-masa tersebut. Ada yang tanpa berpikir panjang langsung siap melepas karir. Ada yang butuh berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga akhirnya berani melepas blazer dan menggantinya dengan daster. Belum lagi ketika daster sudah nyaman dipakai, tiba-tiba terbersit kerinduan untuk kembali mengenakan blazer. 




Buku ini disusun tidak untuk menghakimi atau memberikan pembenaran bahwa ibu yang bekerja di ranah domestik alias ibu rumah tangga adalah pilihan terbaik. Tidak sama sekali! Aku kutipkan dari tulisan Ndan Ustazah Lillah;

Soal bekerja, lagi-lagi adalah pilihan hidup. Hukumnya pun bisa berubah sesuai kondisi, wajib atau bahkan bisa jadi haram. Berapa banyak perempuan yang terpaksa bekerja karena tidak lagi punya suami yang menafkahi. Buat mereka bekerja menjadi kewajiban. Atau bidang pekerjaan tertentu yang mau tidak mau memang harus ada perempuan; guru, dokter, perawat, psikolog, polisi dan lain-lain. 
Bagi perempuan muslimah yang memilih bekerja, ada syarat-syarat yang harus mereka penuhi. Harus ada izin wali, tidak berhias, tidak bercampur baur dengan lelaki dan harus dipastikan kondisi lingkungan kerja yang aman. Jika tidak, maka bekerja menjadi haram bagi mereka. 
Jika telah kita pahami ini, maka seharusnya tiada lagi ruang peredebatan tentang siapa yang lebih istimewa. Meski dalam Islam, secara umu, kodrat wanita adalah di rumah, melayani suami dan mendidik anak-anak. Dalam taat mereka di rumah tangga, ada nilai pahala besar yang mengiringi. Adapun aktualisasi diri, tetap bisa dilakukan tanpa harus bekerja keluar rumah. 

Setuju sekali dengan penggalan tulisan dari Ndan Ustazah Lillah, ada posisi-posisi yang tetap membutuhkan tangan-tangan wanita di dalamnya. Namun tetap saja bahwasanya kodrat wanita adalah sebagai seorang istri dan ibu tidak boleh dilupakan dan ditinggalkan begitu saja.




23 kisah di dalam buku ini rerata diawali dengan kegalauan. Khususnya kegalauan tentang detik-detik melepaskan anak bersama asisten rumah tangga saat harus berangkat kerja, kecemasan saat anak sedang sakit namun sang ibu tak ada di sampingnya, kesedihan karena tuntutan pekerjaan harus saling berjauhan dengan suami, dan masih banyak galau-galau lainnya.

Seringkali galau hadir sebagai sinyal. Ya, sinyal bahwa ada yang tak beres dengan pilihan hidup yang kita ambil. Galau bisa jadi sebuah pertanda dari Allah bahwa ada yang harus diperbaiki. Galau bisa jadi detik-detik saat hidayah siap dijemput. Sayangnya rutinitas pekerjaan, ego diri dan nafsu terhadap kehidupan duniawi yang membelenggu terkadang membuat kita tersesat dan mengabaikan galau yang hadir.

Di saat rasa galau itu mulai menggedor-gedor kalbu, buku ini sangat tepat dihadirkan sebagai teman perjalanan. Buku ini mungkin bisa membantu para pembaca yang memiliki kisah senada bisa lebih mudah mengambil keputusan. Memutuskan resign tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi ketika kita sudah memiliki pekerjaan yang bagus, gaji dan bonus berlimpah. Seringkali resign juga menjadi ilusi karena keadaan yang sepertinya tak memungkinkan untuk berhenti kerja; masih harus membiayai sekolah adik-adik, membantu ekonomi keluarga, menyokong suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak hal yang memang harus dipikirkan.

Namun bukan hidup jika tak penuh dengan kejutan dan keajaiban. 23 kisah yang tertulis di buku bersampul hijau ini menunjukkan keajaiban-keajaiban tersebut. Keajaiban yang lahir dari buah ketaatan pada suami, keajaiban yang lahir sebagai buah upaya mencari ridha illahi, juga keajaiban yang lahir sebagai buah keyakinan bahwa rezeki Allah lebih luas langit dan bumi.





Proses pembuatan buku ini cukup panjang, sepertinya hampir satu tahun hingga akhirnya berhasil diterbitkan. Aku masih ingat saat menuliskan Dasteran Boleh, Baperan Jangan yang bisa ditemukan mulai dari halaman 66 di buku ini, aku sedang dalam suasana sangat menikmati hari-hariku sebagai ibu. 

Ketika buku ini ada di tangan sejak 2 hari lalu, aku baru saja menyelesaikan fase-fase galauku karena rindu blazer sempat datang lagi. Sepertinya Allah tahu sekali kapan buku ini harus sampai di tanganku. Tidak perlu orang lain untuk menampar pipiku. Aku tertampar dengan tulisan sendiri juga 22 kisah yang ada di buku ini.

Bukan hal yang aneh kok jika dalam perjalanan kita sebagai ibu rumah tangga tetiba merasa galau dan ingin kembali beraktivitas di ranah publik. Siapa yang tak rindu saldo rekening selalu penuh. Siapa yang tak rindu bisa bebas beli apapun tanpa harus mengorbankan kebutuhan harian. Siapa yang tak rindu bertemu dengan teman-teman sekantor lalu ngobrol ngalor ngidul?




Karena bisa jadi ketika di rumah, rutinitas berubah 180 derajat. Yang tadinya biasa bertemu banyak orang, kini lebih banyak bertemu dengan tembok. Anak-anak yang biasanya ketemu beberapa jam dan tak banyak kita lihat episode rewelnya, begitu 24 jam di rumah terlihatlah segala drama Korea hingga India. 

Dan buku ini berhasil membuatku tersenyum… aaah, ternyata bukan aku saja yang mengalami masa-masa itu.

Yang terpenting, Anis nggak boleh nglangut, Anis nggak boleh nganggur. Paling tidak cari kegiatan yang bisa diatur waktunya supaya otak tidak mandheg, tetep muter untuk belajar.

Penggalan nasihat dari seorang ayah salah satu kontributor yang kukutip di atas menjadi jawaban fase-fase galau saat rindu blazer kembali menyeruak. Ada kalanya kita merasa jenuh dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga karena kita tidak optimal dalam menggali kemampuan diri. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kita harus selalu berkutat dengan urusan domestik. Bahkan meski di rumah, kita tetap bisa belajar, berjejaring dan juga menjalani passion.

So, buat teman-teman di luar sana yang sedang berpikir untuk resign tapi galau. Atau sudah resign tapi lagi bosen di rumah, bingung mau ngapain, suntuk nggak jelas bin baper… jangan ragu untuk mengadopsi buku ini. Insya Allah segala galau tadi bisa terusir dan kembali semangat menjalani pilihan yang telah diambil. Selain ada 23 kisah yang menarik, terselip 7 tips menjadi emak dasteran anti baperan. Penasaran kan?

Daaan.. beberapa waktu lalu, tepatnya pada 29 Desember 2019, aku membuat quiz di Facebook yang mengajak teman-teman sharing mengenai pengalaman merasa minder karena di masa sekolahnya selalu juara/ berprestasi, eh sekarang jadi IRT. Saat itu aku berjanji akan memilih 2 cerita terbaik untuk mendapatkan buku Goodbye Blazer! With Daster, No Baper



Inilah dua komentar yang menurutku ciamik banget…





Selamat ya mbak Uswatun Hasanah dari Surabaya dan mbak Ruby di Ngaliyan… japri alamat kirim bukunya ya. Semoga bermanfaat.

Wah, teman-teman yang lain kepengen juga? Boleh kok.… mumpung sedang dibuka PO cetakan kedua. Cuzz japri saja ya yang penasaran dengan 23 kisah mengharu biru tentang masa-masa merelakan blazer berganti daster.

Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Bersyukur itu menguatkan hati. Percayalah… skenario Allah SWT sungguh Maha Baik. (Santi Purwaningsih)

Post a Comment

1 Comments

  1. Sama mba, aku juga baca tuntas buku #GoodbyeBlazerWelcomeDaster yang bikinnya juga sama2 ya, setahun lalu, dibuat saat sedang baru resign ditulis penuh dengan hati. Banyak banget yang senasib ternyata di buku yang jilid 1, ninggalin PNS, ninggalin kantor sebuah bank yang sama juga ada wkwkwkwk. Btw aku sama tmn2 penulis sempet kopdarloh, mungkin nanti diagendakan kopdar bareng sama penulis yang jilid 2 sekalian, karena baca kisahnya lalu ketemuan langsung dan saling bercerita dan menguatkan dan bertukat visi misi ke depan itu feelnya beda drpd hanya baca kisahnya via buku.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com