Menuju Metamorfosa #4: Designing Map of My 2020 Universe

1 comment


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Tiba juga akhirnya pada tugas yang dinanti-nanti; merancang peta belajar alias mind mapping. Ya, ini adalah tugas pekan terakhir dari tahapan telur-telur kelas Bunda Cekatan. Jujur, aku sebenarnya suka bikin coretan rancangan kehidupan semacam ini. Namun kuakui, tantangan yang kuhadapi dari dulu sampai sekarang masih sama; konsistensi!

Maka ini jadi PR besar buatku. Apakah Peta Semesta 2020-ku ini bisa berjalan sesuai track-nya? Bismillah…


Mengintip Map of My 2020 Universe


Aku mau kasih lihat ke teman-teman peta belajar yang kusebut Map of My 2020 Universe, tapi janji jangan diketawain lo, wkwk. Ini modal mengais-ngais kertas sisa event dan pinjam pensil warna kakak Ifa. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menggambarnya secara manual, aku sudah lebih dahulu mencoba menuangkan ide yang ada di kepala secara digital sejak minggu lalu, dengan menggunakan sebuah aplikasi mind mapping.

Namun setelah berkutat dengan aplikasi tersebut sekitar 45menitan, mind mapping yang kubuat ketika disave menjadi gambar malah nggak terbaca poin-poinnya. Ya sudah lah, akhirnya malam ini sebelum rangkaian aksara ini kususun, aku coret-coret dulu di kertas. Kak Ifa sampai penasaran aku bikin apaan. Dia berusaha membaca tulisan-tulisan yang ada di dalamnya, tapi lalu menyerah. Katanya, “Bunda nulisnya pakai bahasa Inggris kok, Yah. Kan aku jadi nggak mudheng.” Hahaha.

Taraaa.. ini dia Map of My 2020 Universe…



Hayo ada yang paham maksudnya apa? Pasti nggak kan? Sama yang bikin aja juga kok… eh.

Baiklah, aku akan coba menjabarkan detil dari Map of My 2020 Universe tersebut biar apa yang ada di dalamnya bisa dipahami. Sekaligus biar aku juga nggak lupa, hehe. Takutnya setelah beberapa minggu saat melihat gambarnya lagi, aku sudah tak ingat dengan makna gambar tersebut, wkwk.

Meski sudah melalui proses pencarian telur hijau, merah hingga oren, tetap saja saat merancang peta belajar ini aku agak jedag-jedug. Sesuai nggak ya dengan telur-telurnya. Coba yuk, kita urai.. kira-kira sudah on the track dengan jurnal-jurnal sebelumnya kah?


1. Tema Map of My 2020 Universe


The Sparkling Marita adalah tema yang kuambil untuk peta belajarku tahun ini. Sparkling is shining brightly with flashes of light, atau singkatnya berkilau, bersinar dengan sedemikian silaunya. Kenapa memilih kata sparkling? Karena aku suka soundtrack-nya Aladdin…

I can show you the world
Shining, shimmering, splendid

Eh.. bukan ding.



Simple sih sebenarnya, karena nama tengahku adalah SURYA yang notabene nama ayahanda. Dalam setiap nama teralir doa-doa baik dari orangtua. Meski waktu bapak ibu kutanya apa arti nama tersebut, mereka kompak bingung berjamaah. Aku lalu iseng menawarkan arti nama kepada mereka. Gimana kalau artinya gadis yang lahir di bulan Maret, memiliki sifat selalu menjadi penerang di hati setiap orang yang ada di sekitarnya.

Lalu bapak ibu manggut-manggut aja, “yo wis apik kuwi.” Wkwk. Kujadikanlah hal tersebut afirmasi positif untuk diriku. Aku ingin belajar dari Sang Surya yang selalu ikhlas menerangi bumi. Meski adakalanya surya pun harus bersembunyi di balik mendung. Bukan untuk lari dari tanggung jawab. Namun hidup juga butuh jeda kan?

Intinya di tahun 2020 ini aku ingin lebih berkilau, lebih bisa memberikan manfaat untuk keluargaku dan masyarakat di sekitar.

2. Di Balik Bentuk Map of My 2020 Universe




Awalnya aku sendiri nggak menyadari bentuk peta yang kubuat. Karena kunamakan UNIVERSE maksudnya mo kubuat seakan-akan gambar alam semesta dengan segala planet di dalamnya, hehe. Ternyata setelah jadi, eng ing eng… bentuknya menyerupai bohlam lampu. Iya kan? Udah iyain aja, biar aku bahagia, hehe.

Namun akhirnya malah jadi sejalan dengan tema yang kuangkat tadi; The Sparkling Marita. Kilau kan identik dengan cahaya. Nah, lampu kan salah satu sumber cahaya, hehe. Ini namanya semestakung alias semesta mendukung. Nggak direncanakan saja jadinya bisa cucok kan antara gambar dan temanya.

Ehm, sebenarnya antara cocok dan dicocok-cocokkan itu beda tipis sih, hahaha.


3. Tujuan Map of My 2020 Universe


Masih sejalan dengan yang kutuliskan di perjalanan mencari telur oren pekan lalu. Bahwasanya tujuan belajarku adalah mencapai ridho Allah lewat jalan ketaatan sebagai istri, ibu yang menjalankan peran pengasuhan seutuhnya dan lewat kebermanfaatan untuk umat di bidang blogging & parenting.

Kalau yang kutulis di kertas tadi sok mau bikin kalimat puitis, begini jadinya: 



Belajar dan bertransformasi menjadi hamba yang TAAT pada syariat, sehingga tak mudah mengucap penat dan ISTIQOMAH semakin melekat, serta lebih banyak menebar MANFAAT demi menggapai ridho Allah yang Maha Hebat.



Ya, keyword tujuan belajarku mencakup tiga kata; taat, istiqomah dan manfaat. Kalau dibayangkan terasa berat, namun bismillah… semoga Allah mampukan.


4. Bagian-bagian dari Map of My 2020 Universe


Jika teman-teman lihat dari gambar peta yang kubuat, untuk menuju The Sparkling Marita, aku harus berproses menjadi Obedient Servant (hamba yang taat), Happy Wife (istri yang bahagia), Lovable Mommy (ibu yang penyayang), Shining Writer (penulis yang bersinar karyanya), Enlightening Blogger (blogger yang tulisannya mampu mencerahkan pembacanya) dan Brightening Life Coach (coach yang mencerahkan dalam bidang blogging, broken home family/ inner child/ self healing dan parenting).

Obedient Servant kuletakkan di bagian paling atas karena buatku inti dari seluruh kehidupan adalah beribadah kepadaNYA. Sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat az-Zariyat ayat 56 yang berbunyi, 
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."

Aku meyakini jika urusanku dengan Allah baik, urusan-urusan lainnya pun akan mengikuti.




Happy Wife dan Lovable Mommy kuletakkan di tingkatan kedua, sebelah kanan dan kiri segaris dengan lingkaran tema. Maksudnya adalah mau jadi apapun aku di luar rumah, aku tetaplah seorang istri dan ibu. Lingkaran dua bagian ini kuletakkan di dalam bola lampu juga ada maknanya lo.

Karena peranku sebagai istri dan ibu yang menjiwai dan memberikan ruh pada perjalananku sebagai Shining Writer, Enlightening Blogger dan Brightening Life Coach. Bahwa aku belum bisa dikatakan berkarya secara penuh penghayatan dan pendalaman sebagai penulis, blogger dan life coach saat belum sepenuhnya menjalankan peranku sebagai istri dan ibu.

Obedient Servant, Happy Wife dan Lovable Mommy kukaitkan dengan anak-anak panah yang saling bersambung. Di sini kuartikan sebagai, jika aku berusaha taat pada syariat Allah, maka sudah seharusnya aku taat pada suami. Ketaatanku pada suami akan membawa ridho untukku sehingga akan lebih mudah dalam menjalani peran sebagai ibu dalam mengasuh anak-anak.

Saat aku telah mampu menjadi hamba Allah yang taat, istri yang bahagia, dan ibu yang penyayang, aku berharap akan lahir karya-karya yang bisa membawa manfaat lewat tulisan-tulisanku baik melalui buku cetak ataupun blog.




Dari dunia tulis-menulis, aku ingin semakin berkembang menjadi life coach. Istilah ini kuambil dari Marshanda. Life coach itu bukan orang yang sekedar memberikan teori bagaimana menjalani kehidupan, namun mampu menjadi pendengar dan penyembuh bagi mereka yang mulai gamang atas kehidupan. Tentunya sebelum menjadi life coach untuk orang lain, aku harus mampu meng-coaching diriku sendiri.


5. Ilmu-ilmu yang Hendak Dipelajari melalui Map of My 2020 Universe


Setiap bagian dalam Map of My 2020 Universe ini saling berkesinambungan, sebagaimana yang telah kujabarkan di atas.

Sebagai orang yang termasuk telat belajar agama, PR ku banyak bangeeeet. Paling menohok beberapa waktu lalu saat sedang meeting dengan salah seorang calon partner kerja, beliau bertanya tentang kisah hidup Rasulullah. Ya Allah aku merasa dangkaaaal dan dunguuu. Mengaku cinta pada beliau tapi baru sedikit sekali yang kuketahui tentangnya. Apalah lagi tentang syariatNya. That’s why ilmu agama masih menjadi prioritasku sampai tahun-tahun ke depan.

Secara nggak langsung dengan mempelajari agama yang kuanut dengan lebih baik, hal itu akan membantuku dalam menjalankan peranku sebagai istri dan ibu. Ayat-ayat tentang pernikahan dan pengasuhan di Al Quran sangat banyak. Tugasku hanyalah membaca, mentadabburi, memahami dan mengamalkannya.




Jikalau yang utama sudah dijalankan, hal-hal terkait profesiku sebagai penulis dan blogger, seperti belajar EBI, editing, teknik menulis tingkat lanjutan, SEO stuff dan lain-lainnya insya Allah akan lebih mudah juga dijalani.

Selanjutnya aku juga butuh ilmu berjejaring, public speaking, fotografi dan videografi dalam rangka menuju cita-citaku sebagai Brightening Life Coach. Aku punya harapan mulai pertengahan tahun nanti, aku bisa posting di Youtube Channel-ku lebih konsisten. Masalahnya masih bingung. Pengen mengangkat tema life & parenthink, tapi kontennya yang tetap asyik dan nggak menggurui gitu lo.

Nah, setelah dirunut dari atas ke bawah, 4 hal ini yang harus kukuasai di tahun 2020:

  • Manajemen Emosi: terkait dengan self healing, belajar tentang mensyukuri hidup dan mengimani takdir Allah.
  • Manajemen Rumah Tangga & Keluarga: terkait dengan ketaatan pada suami, kandang waktu dan penerapan parenting skill.
  • Manajemen Karya: terkait dengan beberapa proyek yang kuikuti dan peranku di beberapa komunitas yang memang berhubungan dengan dunia digital.
  • Manajemen Komunikasi: terkait dalam berkomunikasi dengan diri sendiri, pasangan, anak, rekan kerja, teman-teman sekomunitas dan masyarkaat luas.

Pastinya 4 hal tersebut masih sangat luas dan kalau dijabarkan akan banyak sekali hal yang harus dipelajari. Telur orenku yang lalu aku memutuskan untuk fokus belajar dan mempraktekkan gratitude journal sebagai salah satu terapi self healing, pengaturan kandang waktu karena konsistensi adalah PR banget buatku, dan listening skill for life karena aku merasa terlalu banyak bicara tapi kurang mendengarkan.

Nah, setelah membuat peta belajar, aku ingin menyempurnakan telur orenku. Untuk lima bulan ke depan, aku memilih untuk fokus belajar tentang:



Journaling

Setelah kuamati dalam seminggu ini, mencatat jurnal memiliki banyak manfaat. Selain sebagai terapi self healing dan belajar bersyukur, aku juga jadi senang mencatat ayat-ayat Al Quran yang hari itu muncul di notif HP-ku. Entah gimana selalu pas saja ayat yang muncul dengan apa yang kuhadapi hari itu. Dari situ aku belajar mengombinasikan antara Quranic Journalling dengan Gratitude Journal.

Selain itu, rutin mencatat jurnal artinya setiap hari aku juga telah meluangkan waktu untuk melatih kemampuan menulisku. Pas kan dengan profesiku yang memang membutuhkan peningkatan skill terus menerus?




Journaling juga membantuku berlatih konsisten, yang artinya di sini aku sekaligus belajar mengenai manajemen waktu. Jika aku bisa rutin menulis jurnal, artinya kegiatanku hari itu on the track semua, nggak ada yang melenceng.

Aku juga belajar memberikan apresiasi kepada diri sendiri ketika dalam seminggu bisa menuliskan jurnal tanpa bolong. Kuharapkan ke depan latihan konsistensi ini benar-benar melahirkan keistiqomahan dalam menjalani hal-hal baik lainnya. Aamiin. Konon untuk membangun habit paling tidak membutuhkan proses selama tiga bulan.


Public Speaking



Untuk menjadi pembicara yang baik, kita juga harus mampu menjadi pendengar yang baik. Maka dari itu, aku menyempurnakan telur orenku dari belajar listening skills for life menjadi public speaking. Aku masih ingat materi yang disampaikan oleh Mbak Indah Laras, bahwa public speaking itu nggak hanya dibutuhkan saat kita berbicara di depan khalayak umum. Saat kita berkomunikasi dan pasangan, public speaking juga dibutuhkan. Memahami lawan bicara, gestur tubuh, memilih kalimat yang efektif… aaah, jadi kangen belajar sama mak pawang nih.


Coaching

Aku menyadari bahwa cara belajarku tidak bisa jika hanya sekedar menonton dan membaca. Aku butuh mengikat proses belajarku lewat tulisan, mengamalkannya segera agar tak lupa dan membagikannya kepada yang membutuhkan sebagai pengingat untukku. Atau setidaknya ketika suatu saat aku lupa, ada orang lain yang akan menegurku. “Mbak bukannya dulu kamu bilang bla bla bla.. kok sekarang kamu begini.”




Tentu saja aku tidak akan langsung dadakan menjadi coach dalam sebuah seminar besar-besaran. Kumulai dari meng-coaching diri sendiri, lalu lanjut ke anak-anakku. Tahun ini juga aku diamanahi sebagai fasilitator kelas Bunsay yang masih akan terus berjalan tiga bulan lagi, fasilitator kelas menulis dan menjadi manager media komunikasi di IIP. Artinya di sini aku melakukan proses coaching.

Di balik proses coaching ini, aku sekaligus belajar mengenai manajemen emosi dan manajemen waktu. Saat melakukan coaching, mau tak mau aku harus menata emosiku dengan baik agar tidak dikuasai ego dan kesombongan. Aku juga harus siap bersabar ketika yang dimentori ternyata butuh waktu lama untuk memahami. Aku harus bisa mengevaluasi sistem coaching yang kujalankan.

Coaching di beberapa komunitas jelas membutuhkan pengaturan waktu yang baik, agar kewajiban utamaku sebagai istri dan ibu tak keteter. Aku masih mencari-cari cara yang pas hingga saat ini agar semua bisa berjalan seimbang. Ada yang bisa kasih saran gimana caranya mengatur waktu yang oke, mudah dan nggak ribet?




Alhamdulillah, selesai sudah menyusun jurnal buncek pekan keempat, pekan terakhir di tahapan telur-telur. Doakan semoga peta belajarku ini mampu menjadi pengingat saat aku salah jalan ya. Semoga teman-teman juga dimudahkan dan dimampukan dalam menjalani setiap takdir kehidupan. Salam semangat.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Aku baca ini... senyum-senyum sambil nyanyi ala Rihanna ... shine bright like a diamond ... La...la..laa ... Yuksss ah..semoga terlaksana semuanya Barakallah ya Dinda 😇😍

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email