Kajian Membangun Keluarga Surga bersama Ustaz Cahyadi Takariawan



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah hari ini bisa melawan rasa mager. Mulai dari masak sampai melipat baju yang tak tersentuh sejak minggu lalu, tanpa sadar tingginya sudah segunung. Padahal ketika udah dikerjakan dan lihat rumah rapi yang seneng ya, tapi kalau lagi mager sedang datang, aduhaaaai rasanya. Satu hal yang kusyukuri lainnya karena hari ini aku bisa hadir pada kajian Membangun Keluarga Surga bersama Ustaz Cahyadi Takariawan di Masjid Al Falah, Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang.

Beliau adalah salah satu guru yang termasuk dalam daftar yang kubuat untuk dihadiri kajiannya. Senang sekali rasanya bisa belajar langsung dari beliau siang ini. Biasanya hanya baca buku dan tulisan-tulisan yang beliau bagikan di Facebook atau surat kabar, kini bisa mendengar langsung ilmu-ilmu tentang rumah tangga yang penuh hikmah. Kebetulan manajemen rumah tangga adalah salah satu topik utama yang kuambil dalam My Map of 2020 Universe. Alhamdulillah semesta mendukung.




Profil Ustaz Cahyadi Takariawan


Sepertinya hampir semua orang insya Allah sudah mengenal Ustaz Cahyadi atau yang biasa dipanggil Pak Cah ini ya. Buat yang belum pernah mendengar namanya, fyi, beliau adalah konselor keluarga di Jogja Family Center. Kurang lebih sudah 20 tahun Pak Cah memberikan konseling kepada keluarga-keluarga yang sedang mengalami problema.

Pengalaman beliau mendengar banyak curhatan dari banyak keluarga inilah yang membuat Pak Cah semakin produktif menulis, khususnya buku-buku bertema keluarga dan pernikahan. Di antara puluhan buku yang sudah ditulisnya, Wonderful Series adalah salah satu yang menjadi best seller. Wonderful Series yang antara lain Wonderful Husband, Wonderful Wife, Wonderful Marriage, Wonderful Journey, Wonderful Couple, dan Wonderful Family ini masuk dalam must have books-ku nih. Sayang, sampai hari ini baru berhasil punya yang Wonderful Family saja nih. Ada yang sudah punya lengkap kah? Boleh dong pinjam, hehe.




Pak Cah yang terkenal sebagai pakar pendidikan keluarga ini, ternyata dulu berkuliah di Fakultas Farmasi dan mengambil pendidikan profesi apoteker lo. Beliau tinggal di Yogyakarta bersama istri tercintanya, Ibu Ida Nur Laila, dan putra-putrinya. Kata beliau rumahnya selalu terbuka untuk siapapun yang mau belajar dan berdiskusi masalah keluarga.

3 Kunci Berkumpul bersama Keluarga di Surga


Ustaz Cahyadi menyampaikan bahwa menurut sebuah hadits surga memiliki 100 tingkatan;

Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Nantinya Allah mengumpulkan keluarga pada tingkatan yang sama. Namun kira-kira akan dikumpulkan di surga tingkat yang mana ya? Sedangkan setiap anggota keluarga bisa jadi memiliki derajat iman dan amal sholeh yang berbeda-beda.

Mau tahu?

Ternyata Allah sudah memberikan jawaban tersebut. Termaktub dalam Al Quran surta At Tuur: 21,




Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Allah akan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, dari generasi paling atas (kakek, nenek, buyut, dsb), bawah (anak, cucu, cicit, dsb) dan samping kanan kiri (suami istri)pada surga di tingkat tertinggi.

Surga firdaus?

Belum tentu! Surga di tingkat tertinggi ini maksudnya tingkatan tertinggi yang berhasil dicapai oleh salah satu anggota keluarga. Jadi misal, keluarga kita memiliki kakek yang rajin ibadah dan karenanya beliau bisa masuk ke surga tingkat 35, cucunya ada yang ibadahnya biasa saja tapi adabnya baik dan mendapat ridho Allah untuk masuk ke surga tingkat 75, namun kita hanya ada di surga tingkat 11. Maka otomatis kita akan ikut sang cucu yang berhasil masuk ke surga tingkat 75.

Benar-benar selaras sekali dengan pepatah bijak orang Jawa; surga nunut neraka katut. Wah, semoga kita bisa menjadi keluarga yang termasuk surga nunut ya, pals. Jangan sampai yang neraka katut.

Oleh karenanya agar bisa bersama-sama keluarga masuk ke surganya Allah, kita harus bisa mendidik keturunan (anak cucu) agar memiliki kualitas iman dan amal yang jauh lebih baik.



Ada tiga kunci yang harus dimiliki oleh sebuah keluarga yang ingin bareng-bareng masuk ke surga bersama semua anggota keluarganya, mau tahu?

Pertama, Iman.


Semua anggota dalam sebuah keluarga bisa bareng-bareng ke surga selama memiliki iman yang sama. Artinya sama-sama meyakini Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasululullah, dan Al Quran sebagai panduan hidup.

Hal ini juga bisa kita lihat di Quran Surat At Tuur: 21 yang menjadi landasan keyakinan bahwa setiap anggota keluarga akan dimasukkan ke tingkat surga yang sama.

Kedua, Saleh.




Dalam Quran Surat Gafir: 9, seluruh anggota keluarga akan dikumpulkan lagi di surga jika semuanya memiliki kesalehan atau senang melakukan amal saleh.

Yang perlu diingat bahwa amal sebaik apapun jika landasannya bukan keimanan, maka tidak bisa disebut sebagai amal saleh.Oleh karenanya kunci pertamanya tadi adalah iman. Karena tanpa iman kita tak akan mungkin bergerak menuju saleh.

Ketiga, Sabar.


Tengoklah Quran Surat Ar Ra’d: 23 - 24,



Malaikat memberi salam untuk orang-orang yang sabar. Setelah tahu janji Allah ini, kalau besok sabarnya mulai menipis, kita harus segera ingat apa yang disampaikan lewat ayat di atas, bahwa akan ada balasan surga untuk orang-orang yang sabar.

3 Kunci Membentuk Keluarga Surga di Dunia




Selain membagikan 3 kunci agar kita bisa bareng-bareng masuk surga bersama seluruh anggota keluarga, Pak Cah juga membagikan 3 kunci dalam membangun keluarga surga di dunia.

Manalah mungkin kita bisa mencapai surga di akhirat bersama-sama, jika di dunia saja keluarga kita masih morat-marit. Nah, biar nggak morat-marit, ini 3 kuncinya:

1. Commitment


Komitmen di sini menurut Pak Cah terbagi menjadi dua hal. Yang pertama yaitu adanya saling ketergantungan satu sama lain. Jika di antara pasangan tidak ada lagi rasa saling ketergantungan, maka ambyar sudah keluarga tersebut.

Seorang lelaki yang merasa telah gagal memimpin keluarga biasanya akan menjadi sosok yang sangat hipersensitif. Kalau sudah menjadi seperti ini, semua hal akan nampak salah di matanya. Sebagai istri kita harus mampu mendukung suami agar berhasil memimpin keluarganya.

Aku jadi ingat sebuah kajian bersama Ustaz Taufiq yang membahas surat An Nisa, bahwasanya jika suami belum muncul qowwamahnya, maka istri harus tetap taat. Ketaatan istri inilah yang nanti akan melejitkan qowwamah sang suami.




Banyak bapak-bapak yang sudah memiliki jabatan tinggi di kantor berkata, “lebih mudah mengatur anak buah daripada istri sendiri.”

Inilah masalahnya, bapak-bapak tidak boleh menyamakan istri dengan anak buah. Meski di kantor kita seorang bos atau direktur, di rumah kita adalah suami dan ayah, atau istri dan ibu. Setiap pulang ke rumah, kita harus melepas semua atribut tersebut.

Kita harus siap memencet tombol on/ off virtual yang ada di kepala. Ahaa, aku lagi di kantor berarti peranku sebagai direktur. Ahaa, sekarang lagi di rumah berarti aku seorang istri yang harus taat pada suami.

Seorang istri diperbolehkan bekerja. Namun yang harus diingat, setinggi apapun karir dan penghasilan istri, tetap harus memiliki ruang bergantung kepada suami. Jangan sampai kita merendahkan suami hanya karena penghasilannya mungkin lebih kecil, atau pangkatnya di kantor jauh lebih rendah.

Suami istri itu harus saling bergantung, kalau mandiri namanya anak kos.

Secara teknis suami dan istri tetap boleh mandiri, namun secara psikologis mereka harus selalu memiliki perasaan saling bergantung satu sama lain.

Komitmen yang kedua yaitu, komitmen dalam menghadirkan ketaatan-ketaatan pada Allah. Jika suami istri saling komit untuk sama-sama taat pada Allah, kebahagiaan yang hakiki akan tercapai.

2. Passion




Setelah komitmen, ada passion alias hasrat. Dari rasa saling bergantung satu sama lain, kita bisa saling menghadirkan hasrat dan keinginan untuk saling bersama dan berdekatan.
Kalau bahasa agamanya disebut dengan sakinah. Keinginan untuk selalu bersama-sama dengan keluarga. Suami setiap jam pulang selalu semangat untuk segera ketemu anak istri. Istri setiap jam pulang suaminya selalu semangat menyambut suami dengan senyuman terbaik.

Jika yang terjadi berkebalikan, suami setiap jam pulang malah malas pulang ke rumah dan berlama-lama di kantor. Begitu juga sang istri malah berharap suami menginap di kantor. Bahaya! Ada apa dengan keluarga seperti ini?

Pak Cah juga mengingatkan jangan terlalu lama menjalani long distance marriage alias pernikahan jarak jauh. Kenapa? Lanjut ke kunci ketiga yuk!

3. Intimacy



Masih berhubungan dengan passion/ hasrat. Pak Cah menyampaikan bahwa salah satu dari tanda hilangnya cinta adalah saat kita justru lebih nyaman sendirian. Artinya kita mulai hilang hasrat terhadap pasangan. Inilah yang menjadi alasan bahwa pernikahan jarak jauh sebaiknya tidak boleh berjalan terlalu lama, karena dikhawatirkan akan hilangnya hasrat di antara suami istri. Sejatinya menjaga hasrat adalah menjaga cinta.

Bagaimanapun fitrahnya suami dan istri harus saling intimate alias saling berdekatan.

Itulah kenapa dalam Quran Surat Al Baqarah: 187 disebutkan bahwa “…mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…”




Diibaratkan sebagai pakaian, karena pakaian adalah sesuatu yang sangat dekat dan melekat pada tubuh kita. Oleh karenanya kita harus menjadi pakaian yang nyaman agar tubuh merasa enak bergerak, tidak tersakiti, dan tidak sesak.

Begitu pula kelekatan suami istri harus saling nyaman, tidak saling menyakiti, tidak saling melukai dan tidak saling menyesakkan.

Pak Cah melanjutkan bahwasanya tidak ada yang namanya pelakor (perebut laki orang) atau pebinor (perebut bini orang). Bukankah sebagai manusia dewasa kita seharusnya bisa memilih. Jikalau pun tergoda, kita bisa memilih untuk tidak meneruskan mengikuti godan tersebut kan?

Sejatinya timbulnya pelakor dan pebinor dikarenakan lemahnya bonding di antara pasangan suami istri. Tangki cinta pasangan yang kosong diisi oleh orang lain. Maka dari itu penting buat kita mengenali bahasa cinta pasangan.

Hayo sudah tahu belum 5 bahasa cinta tersebut? 




Words of appreciation, quality time, gift, service, dan physical touch. Yang mau tahu penjelasan lengkapnya, bisa baca di:  Karena Cinta Tidak Abadi. Lakukan 5 + 6 Hal Ini untuk Merawat Cinta!

Terkait bahasa cinta ini banyak anak yang merasa telat mencintai ayahnya. Cinta pada ayah justru muncul ketika sang ayah sudah meninggal. Hal tersebut dikarenakan di masa meninggal sang ibu jarang membanggakan ayahnya, justru yang didengar dan dilihat sering ngomelin ayahnya. Namun setelah ayahnya meninggal baru sang ibu banyak menceritakan hal-hal baik tentang sang ayah.

Memang kebaikan dan berharganya seseorang seringkali nampak terasa justru ketika sosoknya sudah tidak ada. Jangan sampai ya mengalami penyesalan semacam ini, nggak enak banget, pals.

Untuk mengenali bahasa cinta pasangan, ada tiga tahapan yang harus diikuti:




Pertama, kenali dulu bahasa cinta sendiri. Apa yang paling kita sukai dalam berinteraksi dengan suami. Hampir semua orang suka mendapat hadiah, dipuji, disentuh, dilayani dan menghabiskan waktu bersama, namun pasti ada yang dominan.

Bisa jadi bahasa cinta yang paling dominan lebih dari satu atau bisa juga berupa bahasa cinta gabungan. Jangan khawatir buat yang baru menikah 1-3 tahun jika belum benar-benar mengenali bahasa cinta, karena kata Pak Cah pengantin baru masih seneng semuanya. Namun diharapkan setelah tahun ketiga sudah berhasil mengenali bahasa cinta masing-masing.

Kedua, saat berinteraksi dengan suami, catat dan amati. Seberapa banyak pasangan lebih senang diberi hadiah, kadarnya lebih tinggi mana antara senang diberi hadiah, dipuji, dibantu pekerjaannya, disentuh atau jalan-jalan berdua. Tentu saja semua ini butuh proses ya, nggak bisa instan.

Ketiga, dengan cara menanyakan langsung kepada suami. Catatan, suami juga harus tahu dulu teori mengenai bahasa cinta. Jangan ujug-ujug suami pulang ditodong pertanyaan, “apa bahasa cintamu, Pak?” Lah, suaminya bingung itu makanan apa, hehe.

Bahasa cinta ini juga bisa digunakan ke anak, karyawan ataupun keluarga besar. Namun khusus untuk anak-anak, saran Pak Cah jangan tanyakan bahasa cintanya secara langsung. Dikhawatirkan nanti anak bisa memanipulasi jawaban.

Misal, “Bun, bahasa cintaku itu dikasih hadiah lo. Aku kalau dikasih hadiah itu seneng banget. Aku lagi pengen Imoo watch nih, Bun.. beliin dong biar aku seneng.” Nah loo, berabe kan, wkwk.

Pak Cah menyampaikan sebuah penutup, bahwasanya menjadi suami, istri dan orangtua itu tidak ada sekolah khususnya. Bahwa di Al Quran ada panduannya itu benar. Namun seringkali kita sendiri lupa untuk mengkaji lebih dalam. That’s why pentingnya untuk selalu belajar tentang rumah tangga dan pendidikan keluarga dengan cara berkomunitas alias berjamaah. Sebagaimana disampaikan dalam Quran Surat Al Kahfi: 28,




Dari ayat di atas Allah menyampaikan nasehat untuk selalu berkumpul dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya (orang-orang saleh). Dengan berjamaah kita bisa lebih kuat, saling menasehati dalam kebaikan dan bisa saling recharging.




Kajian siang ini ditutup dengan bagi-bagi buku Pak Cah. Khusus buat yang datang sepasang dengan suami/ istrinya bisa dapat hadiah buku. Sayang kesempatan ini tidak terbuka untuk karyawan, wkwk.. lagian suami menghilang di tengah-tengah kajian karena harus ngejar-ngejar Affan.

Alhamdulillah, ilmu yang kudapat siang ini semakin menguatkanku untuk terus belajar menjadi istri yang lebih baik. Semoga bermanfaat, selamat istirahat dan sampai jumpa di catatan berikutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter