MaritaPalace

Keseruan Mendongeng ala Bunsay #5 Bandung dan 3B Teknik Fasilitasi

keseruan bunsay bandung dan 3B teknik fasilitasi mendongeng

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Memasuki level ke-10, Bunda Sayang semakin menantang. Meski dari level 1, mahasiswi Bunda Sayang sudah ditantang untuk selalu praktek, praktek dan praktek. Namun sejak level 9, tingkat prakteknya memang terasa berbeda. Apalagi di level 10! Semua ilmu dan informasi yang didapat di level 9 terkait menumbuhkan kreativitas harus dipraktekkan di level ini.

Jujur saat mengawal teman-teman mahasiswi Bunda Sayang #5 Bandung di level 10, aku sangat deg-degan. Level 10 memberikan kesan yang luar biasa di hatiku. Aku takjub dengan sistem fasilitasi yang berbeda dibandingkan level-level sebelumnya. Tidak ada PDF materi dan fasil benar-benar merangkul para mahasiswi untuk aktif serta lebih terlibat.

Bisa dibilang waktu masih jadi mahasiswi Bunda Sayang Batch #3, level 10 adalah momen di mana aku serius menyimak Mbak Farda dan Mbak Asri menyampaikan materinya. Selain karena memang saat itu aku bertugas sebagai koordinator bulanan sih. Sayangnya, aku gagal di level ini. Buatku Tantangan 10 Hari di level 10 benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Sedang saat itu, aku juga mulai beraktivitas sebagai fasilitator Matrikulasi IIP batch #6. Terdengar mencari excuse, tapi begitulah… aku melayangkan bendera putih.

bunda sayang level 10 menguji kreativitas bercerita

Membacakan cerita jauh lebih mudah bagiku daripada harus mengarang dan membuat dongeng atau cerita sendiri. Apalagi cerita buat anak-anak. Bikin cerpen dewasa saja sekarang aku sudah kesusahan. Gara-gara hal ini, aku hampir nggak lulus Bunda Sayang! Alhamdulillah masih dapat kesempatan untuk bisa lulus dan bahkan bisa ngefasil. Seperti yang pernah kusampaikan bahwa menjadi fasilitator adalah remidial yang sangat mengasyikkan.

Dan sungguh menyenangkan memang membaca setoran T10 harinya teman-teman BunSay #5 Bandung. Sangat kreatif! Bahkan nggak sedikit yang benar-benar melakukan usaha terbaiknya. I’m so proud of you, tetehs geulies.

Perbedaan Dongeng dan Berkisah


Sudah menjadi hal yang bisa kutebak ketika diskusi materi level 10 berlangsung, pasti akan ada pertanyaan terkait dongeng dan berkisah. Sekarang ini kesadaran untuk menyampaikan kisah dibandingkan dongeng memang sedang menggeliat, terutama di kalangan emak-emak muslimah. Bahkan seperti di sekolahnya Kak Ifa, berkisah adalah salah satu hal wajib yang harus ada dalam proses pendidikan di sekolah ataupun proses pengasuhan di rumah.

Memang apa sih bedanya? Dongeng adalah cerita yang dibuat-buat, khayalan dan tidak benar-benar terjadi. Sementara berkisah adalah cerita riwayat yang benar-benar adanya. Bukan bohongan dan khayalan. Bersumber dari Al Quran dan hadits. Mengapa dalam metode pengasuhan islami berkisah jauh lebih dianjurkan daripada mendongeng? Salah satu alasannya bahwa dalam proses pengasuhan, orang tua wajib menekankan pada qaulan syadida atau perkataan yang sebenar-benarnya. Di sinilah yang menjadi alasan bahwa dongeng tidak dianjurkan karena bukan cerita yang nyata.

Kalau aku sendiri bagaimana? Sebagai orang yang tipe belajarnya audio visual, suka nonton film dan drama, serta masih senang baca novel, buatku dongeng tetap bisa menjadi sarana belajar buat anak-anak. Tentu saja pintar-pintarnya orang tua dalam memilih dongeng yang baik untuk anak-anaknya.

perbedaan mendongeng dan berkisah

Memang ada dongeng yang nggak baik? Banyaaaak! Kalau kita mau cermati, banyak dongeng-dongeng di sekitar kita, yang dulu mungkin didongengkan oleh bapak ibu kepada kita, kurang tepat meski tetap saja memiliki unsur pesan baik di dalamnya. Misal Kancil Mencuri Timun. Sebenarnya pesannya baik, biar anak-anak nggak suka mencuri, namun kenapa tokoh Kancil dijadikan sentral. Apakah tidak berbahaya jika tokoh ini yang terus terngiang-ngiang di kepala anak?

Melihat fakta bahwa ada banyak dongeng yang kurang tepat untuk anak-anak, di level 10 Bunda Sayang, para mahasiswi didorong untuk menciptakan karya-karya dongeng untuk buah hatinya. Dan ternyata kalau niat, dongeng-dongeng mereka cakep banget lo buat dibukukan!

Tetehs Bunsay #5 Bandung yang Jago Mendongeng


Seperti biasa di setiap akhir level, fasilitator harus membuat HEE (High Energy Ending) dan mengumumkan mahasiswi-mahasiswi terbaik di kelas. Bukan sebagai pembeda, namun sebagai pelecut semangat agar level berikutnya lebih baik lagi dalam mengerjakan tantangan. Harus kuakui di level-level akhir Bunda Sayang, biasanya sudah terlihat mana mahasiswi-mahasiswi yang memang konsisten dengan prestasinya. Kadang pengen juga dapat nama-nama baru untuk ditampilkan saat HEE, namun seringnya ya kembali ke 4L (lu lagi, lu lagi).

Dan inilah mahasiswi-mahasiswi yang bikinku angkat topi di level 10 Bunsay #5…

Aliran Rasa Ter…


Ikhmah Umaidah

teh ikhmah mendongeng adalah kenangan bagi anak

Aliran rasa yang singkat namun makjleb. Membuat dongeng tidak perlu susah-susah, hanya cukup melihat, mendengar dan merasakan hal-hal yang ada di sekitar. Tentu saja dikombinasikan dengan niat dan keinginan untuk membersamai anak-anak agar lebih bahagia. Karena kelak masa-masa orangtua mendongeng dan berkisah akan menjadi kenangan berharga bagi anak-anak.

Quote dari aliran rasa Teh Ikhmah diambil dari buku Tere Liye berjudul Hujan:

“Kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”

Teh Ikhmah mengingatkan kami untuk menjadikan dongeng dan berkisah kenangan berharga untuk anak-anak.


Novya Ekawati

teh Novy menggali hikmah dari bunda sayang level 10

Blogger memang beda tulisannya. Teh Novy menyimpulkan hikmah dari tantangan 10 hari di level 10 ini menjadi 4 poin; membangkitkan imajinasi anak, mempererat bonding, melatih fokus dan konsentrasi anak, memaksa ortu dalam aktivitas pembiasaan.

Quote dari aliran rasa Teh Novy:

“Setiap aktivitas pasti ada hikmah dan pembelajaran yang kita dapatkan, selama kita peka akan kehadirannya. ”

Mahasiswi Apresiatif


teh syifa naufal mahasiswi apresiatif bunda sayang bandung level 10


Syifa Naufal

Postingan teh Syifa direkomendasikan oleh beberapa teman sebagai T10 hari yang paling inspiratif. Teh Syifa juga terkenal suka share ebook gratis yang bermanfaat, serta link link cara bercerita. Postingannya pun enak dibaca. Yang paling keren Teh Syifa juga sangat kreatif, suka memanfaatkan benda apa saja untuk bercerita. Gambar kalender pun bisa menjadi sarana untuk bercerita tentang maha besarnya Allah, bahkan cerita dari bungkus permen pun bisa diimajinasikannya.

Kereen kan? Kreatif dan imajinatif!

Mahasiswi Aktif


teh siti soidah mahasiswi aktif bunda sayang bandung level 10


Siti Soidah

Dari aplikasi pencatat obrolan di whatsapp, teh SitSoi termasuk salah satu dari member teraktif di kelas. Namun selain itu semua, bisa kita lihat bagaimana di setiap diskusi Teh SitSoi selalu berpartisipasi secara aktif. Tidak hanya hadir saat diskusi, namun juga mengikuti seluruh game dan tanya jawab yang diberikan.

Mahasiswi Teladan


teh neni mahasiswi teladan bunda sayang bandung level 10


Neni Gustiarini
Kalau jari isinya jempol semua, saya sudah acungkan semua jempol itu ke Teh Neni. Sebagai sekretaris, Teh Neni sangat all out dalam melaksanakan tugasnya. Teh Neni siap back up ketua kelas dan korlan. Bahkan rajin banget berkoordinasi dengan fasil untuk beberapa hal urgent. Termasuk rajin mengingatkan jadwal-jadwal ke fasil.

Saat Jumat Hangat dan tidak ada yang mau berpartisipasi menjadi moderator, Teh Neni langsung gercep berperan menjadi moderator. Semangatnya untuk berbagi dan melayani begitu luar biasa. Pantas saja kalau milih masuk komponen Sejuta Cinta.

Untuk urusan prestasinya, jangan ditanya. Teh Neni selalu masuk dalam grup penerima badge Outstanding Performance, artinya nggak pernah bolong setor dan setor minimal 15 t10. Jadi kurang teladan apa kalau begini? Kuy belajarlah dari semangatnya teteh sekretaris tercinta yang satu ini ya.

Koordinator Bulanan

teh fitri kaniawati korlan bunda sayang bandung level 10


Fitri Kaniawati

Teh Fitri sangat teratur, rapi dan rajin sekali dalam melaksanakan tugasnya sebagai Korlan. Setiap pagi selalu menyemangati dan membagikan setoran yang sudah masuk. Selalu berkoordinasi dengan fasil untuk hal-hal yang urgent, dan butuh pertimbangan. Selalu koordinasi dengan seluruh ketua PG dan perangkat kelas untuk ikut menyemangati member yang belum setor.

Selain menjalankan tugasnya sebagai Korlan, seperti biasa Teh Fitri tetap meraih badge OP dong. Makasih teh Fitri untuk kinerja apiknya bulan ini.

Peserta Jumat Hangat


Sesi Jumat Hangat 1 - 31 Januari 2020


teh herafi jumat hangat bunda sayang bandung level 10

Tamu Jumat Hangat hari itu sosok yang sangat inspiratif. Bernama Teh Herafi Zaskia yang harus menjalani LDM dengan suami yang ada di Papua. Hebatnya, beliau punya dua anak yang selisihnya hanya 1 tahun, bahkan saat mulai LDM, teh Herafi sedang tandem nursing. Dari kondisi tersebut, Teh Herafi mendapat hikmah: “Bahwa sesungguhnya kita bisa kehilangan apapun. Sungguh, kita bisa survive kehilangan apapun. kita hanya tidak bisa kehilangan Allah. cukuplah Allah bagi kita.”

Teh Herafi juga termotivasi dari perkataan seorang teman,
 “odol itu semakin ditekan, semakin keluar potensinya. Dalam kondisi terdesak, kemampuan yang bahkan kita tidak menyadari awalnya akhirnya bisa teroptimalkan.”

Teh Herafi sangat tertarik untuk belajar mengenai self healing, karena sesungguhnya potensi stress nya tinggi menjalani LDM dan mengurus dua batita bersamaan. Dibutuhkan hati yang selalu tenang dan lapang untuk menghadapi hari-hari penuh tantangan.

Dalam menjalani LDM dan menjaga kewarasan, Teh Herafi membagikan tips berikut ini:
  • sediakan waktu me time,
  • membuat jurnal syukur,
  • sebisa mungkin video call dengan suami setiap hari,
  • curhat sama suami tentang kesulitan di rumah dan minta beliau mendoakan kita agar tetap bersabar dan bersyukur dengan keadaan ini,
  • mencari obat hati dengan 5 perkara (ingat lagunya Opick),
  • bertemu teman-teman, melihat dunia luar agar tidak jenuh,
  • meluangkan waktu untuk mengerjakan hobby pribadi

Teh Herafi juga sempat hampir berkarir menjadi dosen, namun karena kemudian hamil dengan jarak yang berdekatan dan kemudian LDM, Teh Herafi memantapkan hati meniti karir puncak sebagai seorang Ibu

Quote favorite dari Teh Herafi, 
“When you write the story of your life don't let anyone else hold the pen.”

Teh Herafi yakin bahwasanya apapun perannya di muka bumi, tidak ada yang kecil di hadapan Allah. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku.


Sesi Jumat Hangat 2 - 7 Februari 2020


teh nunie jumat hangat bunda sayang bandung level 10

Jumat Hangat pekan kedua kedatangan seorang tamu spesial bernama Nunie Chatidah Yusniar. Beliau adalah seorang ibu yang kesehariannya selain mengurus anak dan suami, juga mempunyai pekerjaan yang sangat mulia di ranah publik yaitu sebagai seorang guru PAUD di TKQ , serta mengajar ngaji anak-anak di lingkungan rumahnya.

Teh Nunie bercerita bahwa saat ini ia bekerja di sebuah sekolah milik temannya yang hampir tutup. Alasan Teh Nunie kenapa menerima mengajar di sekolah tersebut karena Teh Nunie ikut mendirikan sekolah itu pada tahun 2000 an. Dulu masih TKA namanya, alhamdulillaah banyak orang tua yang percayakan Putra Putri nya untuk dididik oleh Teh Nunie dan teman-temannya.

Makanya waktu sekolah tersebut mau ditutup, Teh Nunie merasa sayang jika sampai tidak ada yang betah mengajar di sana dengan alasan rotibah (bayarannya) sedikit. Menurut Teh Nunie, tidak masalah nominalnya sedikit tapi ingin bermanfaat. Selain itu anak-anaknya juga bisa diajak saat mengajar, jadi tetap bisa mengawasi.

Untuk menunjang kesibukannya sebagai pengajar, teh Nunie bergabung dengan beberapa komunitas pendidik, salah satunya Komunitas Sahabat Pendidik Indonesia. Foundernya Ummi Luthfi. Teh Nunie merasa suka dengan komunitas ini karena bisa memotivasi kita para anggotanya agar mengajar dengan bertanggungjawab dan tidak asal-asalan.

Di antara segala kesibukannya menjadi pendidik, ibu dan istri, Teh Nunie memiliki hobi bebikinan makanan. Maka jika ada waktu luang, Teh Nunie sangat suka berkreasi di dapur.

Teh Nunie menutup sesi Jumat Hangat dengan sebuah kalimat yang inspiratif, 
"Hayaatunaa kulluhaa ibadah.” Mengingatkan pada diri kita, bahwa hidup seluruhnya adalah untuk ibadah.

Luar biasa kan tetehs geulies yang terpilih menjadi bintang-bintang di level 10? Sungguh menginspirasi, bahkan untuk fasilnya!

3B Teknik Fasilitasi Mendongeng


Di level 10 ini, aku belajar banyak tentang teknik fasilitasi mendongeng dari Mbak Nani Nurhasanah yang merupakan Wakil Rektor IIP Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Menurutku dalam proses fasilitasi tema mendongeng, 3 hal ini harus selalu ada:

Bermain

teknik fasilitasi mendongeng dengan bermain

Setiap orang senang bermain. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun sangat senang bermain. Terbukti di level 10 kali ini, fasilitator diminta untuk mengajak para mahasiswinya ikut aktif dalam permainan. Seru sekali. Kami mengajak mereka untuk melanjutkan dongeng. Tidak hanya dengan ketikan pesan, namun juga merekam suara agar lebih hidup.

Secara nggak langsung permainan di level 10 ini memberikan gambaran pada mahasiswi bagaimana nantinya mengajak anak-anaknya bermain dalam dongeng yang akan diciptakan.

Bertanya

teknik fasilitasi mendongeng dengan bertanya

Selain mengajak bermain, fasil juga diminta untuk lebih aktif bertanya agar mahasiswi juga terlecut keingintahuannya. Jika di level-level awal bunsay, mahasiswi lebih banyak bertanya dan fasil menjawab. Di level-level akhir, fasil harus semakin menggunakan power of question, di mana bertanya bukan sekedar mengetes mahasiswi, namun juga membuat mahasiswi mampu menemukan insight-insight baru, bahkan pertanyaan-pertanyaan baru selanjutnya.

Pertanyaan adalah awal dari sebuah proses berpikir. Ketika kita tidak pernah bertanya, jangan-jangan kita tak pernah menggunakan otak untuk berpikir.

Biarkan Terlibat

teknik fasilitasi mendongeng dengan biarkan terlibat

Dengan mengajak mahasiswi bermain dan bertanya, secara tidak langsung fasilitator telah mengajak mahasiswi untuk telibat secara aktif. Bahwasanya kelas-kelas di Institut Ibu Profesional bukan hanya kelas yang pasif, di mana fasil layaknya guru yang memberikan materi, dan mahasiswi adalah muridnya. No, di sini semua guru semua murid.

Tugas fasil adalah memfasilitasi mahasiswi dengan sarana-sarana untuk melecutkan keingintahuan dan keinginan untuk belajar lebih dalam lagi. Keterlibatan mahasiswi adalah puncak kesuksesan fasil, menurutku. Semakin banyak mahasiswi yang mau aktif terlibat, maka itu artinya teknik fasilitasi seorang fasilitator telah cukup mumpuni. Dan aku merasa aku masih harus terus belajar soal ini, karena kulihat nama-nama yang muncul pun masih sama di setiap levelnya.

Keterlibatan mahasiswi juga menjadi penanda semangat belajar. Semakin seorang mahasiswi aktif terlibat dalam proses diskusi dan tanya jawab, menurutku saat itulah mereka memang benar-benar ingin belajar dan meningkatkan kualitas dirinya.

Meski harus kuakui tidak bisa disamaratakan, karena pastinya memang ada tipe-tipe orang yang tidak terlalu suka menonjol, hanya belajar dalam diam. Apapun itu aku berharap, di dua level terakhir tidak akan ada mahasiswi yang harus meninggalkan kelas lagi. Semoga tetehs Bandung bisa lulus sesarengan. Sampai jumpa di level 11 yang penuh kejutan!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

quote bunda sayang bandung level 10


Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email