MaritaPalace

Jurnal Bunda Cekatan #1 Tahap Kupu-kupu Pekan ke-5: Mengukur Jejak Langkah

jurnal bunda cekatan tahap kupu-kupu

Seperti pekan-pekan sebelumnya saat sesi pengumpulan jurnal bunda cekatan, Cinderella kembali beraksi pekan ini. Qodarullah dua hari lalu kaki terkilir dan kepala pusing tujuh keliling, jadilah beberapa hal yang sudah dipersiapkan untuk ditulis buyar. But the show must go on.

Sebuah paparan menarik dari Ibu Septi, pekan ini sangat relate sekali dengan materi Self Love yang aku bagikan di salah satu komunitas parenting pertama yang kuikuti. Ada beberapa quote yang kucatat karena buatku maknanya sangat indah dan dalam.

Di awal paparan, Ibu menyampaikan wejangan yang jleb namun dengan senyum beliau yang indah. Sehingga tidak terasa seperti teguran, namun sapaan sayang dari seorang ibu kepada anaknya. Bahwasanya jurnal ini disusun secara serius atau tidak bukanlah untuk ibu atau tim buncek, tapi untuk diri kami sendiri. Semakin serius kami menyusunnya, maka artinya seserius itu kami menjalani tahapan demi tahapan yang ada pada kelas ini.

Apakah aku sudah cukup serius? Menurut kalian bagaimana, pals?

Ada tiga langkah di pekan kelima ini, yang tentunya tidak ada paksaan apakah kami harus benar-benar melalui langkah-langkah itu, atau mau langsung skip ke langkah terakhir. Yuk ikut aku menjelajahi langkah demi langkah di pekan kelima ini!

Merayakan Kesalahan


false celebration bunda cekatan
Kesalahan kok dirayakan? Sepertinya hanya di Bunda Cekatan ya kesalahan dirayakan. Tentu saja bukan asal kesalahan ya, pals. Kesalahan yang dimaksud adalah sebuah kesalahan yang mampu membuat kita belajar dan berkembang menjadi lebih baik. Kesalahan yang mampu membangun diri kita menjadi pribadi yang lebih baik tentu saja patut dirayakan bukan?

Artinya dari kesalahan itu kita bisa bergerak maju, tidak stuck dan mau mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. 

Dalam hidupku sendiri banyak kesalahan yang aku perbuat, apalagi jika menyangkut dengan caraku mengelola emosi. Ada kesalahan yang sudah mampu kumaafkan, ada pula yang aku masih proses melakukan pemaafan. Ada kesalahan yang seringkali membuatku bertanya-tanya mengapa Allah izinkan kesalahan itu terjadi. Namun setelah kurunut benang merahnya, ahaa... ternyata ada banyak cerita indah kemudian. Pahit di awal, namun setelah aku mampu merangkai puzzle hikmahnya, gambaran penuhnya sangat indah.

Bagaimana dengan perjalananku selama di Bunda Cekatan?

Sebagai seorang mentor, menurutku kesalahanku adalah terlalu kendor. Mungkin aku terlalu gegabah menerima 5 mentee sekaligus. Namun dari 5 mentee itu juga aku belajar kembali tentang teknik-teknik ngeblog yang sebelumnya mungkin belum kupelajari. 

Misal saat mbak April yang memilih memasang template seperti milikku dan menemukan sebuah masalah. Sungguh aneh. Seharusnya dengan sumber template yang sama masalah itu tidak akan terjadi, namun nyatanya ada masalah yang tak kutemukan pada blogku. Akhirnya setelah kami berdiskusi lama, ketemulah apa masalah sebenarnya dan bagaimana solusinya. Rasanya senang sekali bisa menemukan jawaban atas penasaran kami.

Selain soal teknik ngeblog, membersamai 5 mentee sekaligus juga melatihku mengelola emosi sekaligus juga belajar memotivasi mereka. Bagaimana agar mampu menjaga mereka sesuai track yang sudah diambil. Komit dan konsisten sesuai dengan awal tujuan mentorship ini. Aku juga harus mengenyampingkan ego untuk menunggu didatangi, bahwa aku juga harus mau mengetuk pintu mereka dan mendengarkan lebih dalam.

Setiap harinya aku merasa masih ada beberapa kesalahan yang kulakukan dalam memilih treatment untuk kelima mentee. Namun kesalahan-kesalahan itu harus membuatku bertumbuh lebih baik lagi.

Sedangkan sebagai mentee, buatku kesalahan terbesarnya adalah tidak memberikan trust sepenuhnya kepada mbak Puji sebagai mentor. Mungkin karena proses berkenalan yang terlalu singkat atau karena kami skip tidak saling video call-an. Masih ada rasa putus nyambung di hati. Namun melihat keseriusan dan ketulusan beliau dalam mendampingi dan mendengarkan kisah-kisahku, aku merasa sangat menyesal dengan kesalahan itu.

Dan di tiga pekan terakhir, aku akan mengizinkan tangan mbak Puji menggandengku lebih erat. Juga mengizinkan peluknya merangkulku lebih dalam. Makasih ya mbak, di sela-sela menanti persalinan masih meluangkan waktu untuk menjadi pendengar terbaik.

360 Degree Feedback


360 degree feedback bunda cekatan
Di pekan ini jujur aku melewatkan 360 degree feedback. Aku sempat mencoba membuka diskusi di grup FB messenger, namun nyatanya yang komen ya mbak-mbak mentee yang memang sudah aktif chit-chat denganku.

Sementara kalau dengan mbak Puji karena hanya lewat private messenger berdua dengan beliau jadi tidak ada 360 degree feedback sih. Meski begitu, pekan lalu seperti yang kuceritakan di jurnal bunda cekatan tahap kupu-kupu ke-4 sebenarnya saling memberi feedback sudah dilakukan sih.

Btw, buat yang bingung apa sih itu 360 degree feedback. Sederhananya begini, kalau di lingkup profesional biasanya karyawan dan bos melingkar, lalu saling memberikan saran dan kritik yang membangun satu sama lain. Hal ini dilakukan untuk saling mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Tentunya juga membentuk tim yang lebih solid karena jadi saling tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Mengukur Jejak Langkah


Check the progress bunda cekatan
Di langkah yang terakhir Ibu Septi meminta kami untuk kembali menengok action plan yang sudah dibuat di jurnal bunda cekatan tahap kupu-kupu di pekan ke-3. Kami diminta mengecek bagaimana prosess dari tujuan belajar yang dibuat. Sudah adakah progressnya, atau mandeg atau belum mulai?

Dan inilah catatan yang aku buat berdasarkan action plan milikku:

1. Empowering Inner Child

Bisa dikatakan 3 hal yang kutulis di action plan ini tidak berhenti setelah Bunda Cekatan usai. Ini akan terus berlanjut hingga aku benar-benar bisa menjadi pribadi yang tak hanya stabil secara emosi, namun juga bisa membagikan pengalamanku untuk membantu orang lain yang pernah mengalami kisah-kisah sejenis.

Tahap pertama inilah yang sedang kujalani di program mentorship Bunda Cekatan. Sebenarnya teori-teori terkait Inner Child sudah kukumpulkan sejak beberapa tahun lalu, tepatnya sejak 2016 saat aku bergabung di kelas Matrikulasi #4 Institut Ibu Profesional. 

Karena merasa ada yang salah dengan diriku, aku mendapat jawaban pertanyaan yang selama ini berputar di kepala pada satu sesi di matrikulasi. Aku kemudian terus cari sana-sini untuk melengkapi puzzle yang ada di kepala. Sampai tahun ini aku semakin getol, karena sudah terlalu lama aku stuck. Bersyukur bertemu dengan mbak Puji membuatku sadar bahwasanya semua teori sudah ada di genggaman, yang harus segera kulakukan adalah mempraktekannya secara bersungguh-sungguh.

Aku harus memulai journaling kembali, karena dengan hal itulah aku bisa merelease emosi-emosi negatif harian, sekaligus mensyukuri hal-hal kecil yang ada di depan mata. Aku bersyukur progress-nya cukup terlihat, ngegasku ke anak-anak bisa berkurang. Keinginan untuk mencubit bisa ditahan. Tidak reaktif dan bisa kontrol diri dengan lebih baik. Meski terkadang ups and downs, tapi tentu saja memang di titik-titik rawan, seperti karena PMS, lapar atau sedang tidak fokus membersamai anak-anak.

2. Building Self Love, Self Compassion and Forgiving

Hari ini aku berbagi tentang Self Love di Yukjos Grup. Rasanya bahagia. Yaa... berbagi dan melayani selalu bisa membuat happiness levelku meningkat berkali lipat. Aku tipe orang yang belajar bukan sekedar membaca dan praktek. Tapi membaca, praktek dan membagikan apa yang kulakukan. Buatku cara itu jauh lebih mengikat daripada sekedar berhenti di praktek saja.

Ketika aku membagikan informasi yang aku punya, siapa tahu kelak aku yang sedang dalam posisi unwell, ada teman yang bisa merangkulku dan mengingatkan kembali tentang apa yang pernah kubagikan itu. Meski kutargetkan tahap ini benar-benar tuntas tahun depan, aku senang sekali bisa mulai berbenah lebih cepat. Semoga saja istiqomah. 

Soal menyelesaikan 'warisan ibu', aku juga sudah tak sabar untuk segera mengurusnya agar segera plong dan aku bisa fokus membesarkan anak-anak. Sudah ada gambaran besar, tinggal waktu eksekusi yang tepat. Semoga Allah mudahkan.

3. Annyeong, Rumah Kita!

Bagian yang ini memang belum mulai kujalankan. Karena memang targetnya masih 3-5 tahun ke depan, namun mulai menjadi teman curhat yang mengalami kisah-kisah sejenis sebenarnya sudah kulakukan sejak beberapa tahun lalu. Rasanya senang bisa mendengarkan, saling merangkul dan menguatkan. Semoga ke depannya Rumah Kita bisa segera terwujud. Aamiin.

progress bunda cekatan pekan kelima tahap kupu-kupu
Di atas adalah catatanku as a mentee, sementara kalau sebagai mentor. Jujur aku kadang bingung kalau mentee-ku bilang semangatnya lagi down, yang bisa kulakukan hanyalah berbagi cara yang pernah kulakukan saat mengalami hal tersebut. Namun kembali lagi apakah mereka bisa kembali bangkit atau tidak, itu pilihan yang harus mereka ambil sendiri. Semoga saja di tiga pekan terakhir aku bisa memberikan dukungan terbaik untuk kelima mentee yang sudah sabar menghadapi mentornya yang sering kelupaan mampir ke FB messenger. 

Alhamdulillah. Menjelang dentang ke-12, Cinderella sudah menyelesaikan jurnal ini. Artinya tidak perlu ada sepatu kaca yang hilang sebelah. Sampai jumpa di tiga jurnal terakhir! 
Tidak ada yang bisa merendahkan diri kita jika kita tidak mengizinkan hal itu terjadi. 
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email