MaritaPalace

Merdeka Ala Blogger? Mulai Dari 4 Hal Ini!

makna kemerdekaan ala blogger
Covid-19 boleh menghampiri negeri ini, tapi jangan sampai mengikis semangat diri untuk terus berjuang mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Apa arti merdeka buatmu, pals?

Zaman now banyak yang mengartikan kemerdekaan tidak pada tempatnya. Contoh mudahnya saja, betapa menyedihkan jika kita menengok pengguna media sosial di negeri ini. Begitu mudah bersumpah-serapah, padahal tak saling mengenal. Kalau ditegur, mereka akan mengatasnamakan kemerdekaan berpendapat. Apakah sungguh seperti itu makna kemerdekaan?
Kondisi sekarang ini memang bukan lagi mulutmu harimaumu, namun jempolmu harimaumu.
flyer mengisi kemerdekaan dengan postingan positif
Sebagai pengguna aktif media sosial dan juga blogger, materi berisi pada event Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif” yang disampaikan oleh Mbak Amy Kamila, Teh Ani Berta dan Kang Maman Suherman mampu menyentilku berkali-kali. Diselenggarakan oleh Kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), 3 materi yang dibawakan oleh para narasumber kece nan inspiratif tersebut mampu menjadi pengingat bagiku bagaimana seharusnya seorang blogger memaknai dan mengisi kemerdekaan ini.
Selaras dengan makna kemerdekaan yang kupegang erat hingga detik ini. Buatku, merdeka adalah bisa berkarya dengan bebas namun tetap bertanggung jawab dan harus selalu menebar manfaat.
Berjalan selama kurang lebih 2 jam, ada banyak materi yang mampu membuka mata dan hati. Insya Allah aku akan menerbitkannya dalam 3 postingan terpisah, dengan harapan semua materi bisa lebih dibahas lebih menyeluruh.

Pada postingan pertama ini aku ingin membagikan insight yang kudapat dari materinya mbak Amy Kamila. Beliau adalah seorang content creator, promotor film, founder SOB dan psikolog klinis yang menyenangi dunia cyber psychology. Wuis, keren banget nggak sih?

Apa Itu Konten Positif?

Sebagai seorang blogger dan pegiat media sosial harus kuakui kadang-kadang kalau mau posting sebuah tema yang sensitif, agak deg-degan. Takut apa yang kutulis disalahartikan, takut didebat, dan segala macam kekhawatiran lainnya. Rasa takut dan khawatir itu seringkali ujung-ujungnya membuatku malah tak jadi menulis. Lalu memilih menulis tema yang aman-aman saja.

isi kontenmu adalah cerminan kualitas dirimu
Ada kalanya sesuatu yang kulihat positif, ternyata memiliki makna berbeda bagi orang lain. Jadi ingat beberapa waktu lalu ada seseorang yang menghubungiku lewat DM Instagram. Orang tersebut menanyakan tentang salah satu artikel di blog-ku terkait tema fatherless kids (anak-anak yang tumbuh tanpa sentuhan pengasuhan dari ayah).

Artikel itu sudah sangat lama diterbitkan, sekitar 1 atau 2 tahun lalu. Kaget juga ketika tiba-tiba ada yang menanyakan. Kebanyakan yang mengirimi DM terkait postingan blog biasanya bernada positif. Merasa terbantu atas postingan-ku dan sejenisnya. Baru kali ini aku mendapat sebuah tanggapan yang sangat menohok dan memandang tulisanku dari kacamata negatif.

Usut punya usut ternyata ada salah satu akun instagram yang membagikan artikel tersebut menjadi sebuah infografis. Sayangnya tidak ditampilkan secara utuh, namun hanya sebagian kecil dari isinya. Bahkan akun tersebut pun tidak meminta izin kepadaku untuk membagikan tulisanku dengan model seperti itu.

Singkat cerita, sosok orang tersebut adalah seorang single mother yang merasa tidak terima dengan isi tulisan di blog-ku. Awalnya aku sempat merasa tersudut, karena aku menulisnya menggunakan data dan juga merupakan hasil dari mengikuti sebuah kajian, serta pengalamanku sebagai seorang fatherless kids.

Untungnya aku mampu mengerem emosi dan mencoba melihat dari sudut pandang lainnya. Bagiku dan bagi beberapa orang yang sudah belajar parenting sebelumnya, materi tersebut mungkin hal biasa. Bagiku dan beberapa orang yang mengasuh anak bersama pasangan tulisan tersebut mungkin bisa menjadi penyemangat. Namun bagi beberapa orang lainnya, yang terpaksa harus menjadi single parent, bisa jadi postingan itu terlalu menusuk.

Pada akhirnya aku kemudian meminta maaf kepada mbak yang menegurku lewat instagram tersebut. Bahwasanya tidak ada sedikitpun niatku untuk menyudutkan anak-anak yang dibesarkan oleh para single parent. Aku justru sangat kagum pada mereka yang mampu ‘berjuang sendirian’. Anak-anak tersebut pun juga pasti tangguh dan kuat.

berusaha membuat konten sebaik-baiknya
Kadang kala kita memang memiliki sudut pandang berbeda terhadap sebuah permasalahan. Pendapat mbak tersebut justru memberikan ide kepadaku untuk menulis dari kacamata yang lain. Pendapat mbak yang mengirim pesan kepadaku lewat instagram itu juga mengingatkanku pentingnya memilih dan mengelola diksi yang tepat sehingga bisa diterima dengan nyaman oleh berbagai pihak.

Dari hal tersebut aku belajar bahwa menciptakan konten yang positif itu berat, tapi bukan berarti tidak bisa. Memang sih sebagai kreator kita tidak bisa memuaskan semua pihak. Selama data dan fakta yang kita pegang sesuai dan tidak mengada-ada, kita bisa tetap berpegang pada keyakinan tersebut.

Perbedaan itu fitrah. Ada kalanya kebenaran itu memang pahit untuk diterima, namun sebuah konten yang bermakna pasti akan selalu memberikan pengaruh positif. Mbak Amy Kamila mengingatkanku bahwa sebuah konten bisa menjadi inspirasi lalu mempengaruhi perilaku yang kemudian bisa berkembang sebagai fenomena.
Good content influences the audience’s behavior. The content also reflects the creator.
Oleh karenanya penting sekali sebagai seorang kreator, blogger dan pegiat sosial media khususnya, pada saat memproduksi sebuah konten atau postingan, kita harus berpikir baik-baik karena hal tersebut akan menjadi identitas diri. Lebih jauh lagi bisa berkembang menjadi identitas bangsa.

Nggak mau kan membuat konten yang nantinya akan memberikan identitas buruk kepada diri kita? Apalagi kalau kemudian melebar menjadi identitas buruk bagi bangsa? Naudzubillahi min dzalik.


Membuat Konten Positif, Mulai Dari Mana?

Lalu dari manakah kita harus memulai proses pembuatan konten positif?Setidaknya ada 4 hal yang harus kita perhatikan; ide, alur, alasan dan media. Dari 4 hal tersebut, menurut teman-teman mana yang sebaiknya didahulukan?

4 cara memulai pembuatan konten positif
Setiap kreator bisa jadi memiliki jawaban yang berbeda. Aku sendiri ketika mbak Amy menanyakan hal tersebut menjawab dalam hati bahwa akan memulainya dengan alasan. Senangnya ketika jawabanku ternyata sepemikiran dengan mbak Amy.

Ini dia urutan membuat konten positif ala mbak Amy Kamila:

1. Alasan

Menurut mbak Amy, sebelum kita menggali ide dan memilih media untuk menayangkan konten kita. Kita harus mampu menggali alasan mengapa harus membuat sebuah konten. Alasan atau latar belakang di balik lahirnya sebuah konten adalah kekuatan konten itu sendiri.

Sebagaimana di awal aku berniat ngeblog, aku ingin bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat lewat tulisan-tulisanku. Bukan sekedar ingin menambah pundi-pundi penghasilan. Jika pada akhirnya blog-ku bisa menghasilkan, itu hanyalah bonus dari konsistensi.

alasan di balik pembuatan sebuah konten
Mbak Amy kembali mengingatkanku pada hal tersebut. Betapa pentingnya kita meluruskan niat saat membuat tulisan di blog. Jangan hanya sekadar cari viral ataupun cuan. Namun mulailah dari kebermaknaan. Semakin bermakna tulisan kita, akan semakin banyak manfaat yang bisa kita bagikan kepada para pembaca blog.

2. Ide

Setelah kita memiliki alasan yang kuat alias the big why-nya kenapa kita harus menulis sebuah tema tertentu, saatnya kita melanjutkan dengan pencarian ide. Kembali lagi pada tulisanku yang sempat digugat sesembak di instagram tadi. 

menemukan ide untuk konten
Alasan yang kupilih menurutku sudah kuat, aku tidak ingin ada lebih banyak lagi fatherless kids di dunia, Indonesia pada khususnya. Karena kutahu kondisi itu tidak enak dan memberikan dampak yang sangat dalam. Lalu dari data, fakta dan pengalaman yang kudapat, kukumpulkan semuanya hingga menjadi ide tulisan.

Sesaat setelah digugat lewat instagram, aku sempat merasa down. Merasa tulisanku ternyata bisa bermakna negatif buat orang lain. Namun ketika mendapat materi dari mbak Amy, kepercayaan diriku kembali menguat.
Bahwasanya ide nggak melulu harus sempurna. Di dalam hidup saja selalu ada revisi. Jadi nggak perlu menunggu sempurna, kita hanya perlu mulai saja dulu. Buka mata buka telinga untuk mengumpulkan ide sebanyak-banyaknya.
Ide muncul karena ada permasalahan, adanya gap antara teori dan realita. Begitu pula dengan yang kurasakan saat menuliskan keresahanku tentang fatherless kids saat itu. Bukan idenya yang buruk, hanya aku mungkin yang kurang pandai mengelola dari berbagai sudut pandang. Aku justru bisa belajar banyak setelah kejadian itu. Mendapat ide-ide baru untuk melanjutkan postingan tersebut dari sisi lain.

Mencari ide bisa dimulai dari hal paling sederhana, mulai dari yang paling dekat dengan diri kita/ sekitar. Namun yang paling penting adalah mulai dari sekarang.

3. Alur

Di bagian ketiga ini, aku lagi-lagi merasa dikuatkan oleh mbak Amy; 
Mulailah alur dengan mengembangkan ide. Bebaskan ide-ide tersebut dan letakkan rasa dalam karya.
Untuk mengembangkan ide menjadi sebuah postingan yang utuh, kita hanya perlu menulisnya sampai selesai terlebih dahulu. Jangan berhenti untuk menghapus atau menyunting di tengah jalan. Ketika tulisan sudah selesai, jangan pula langsung diterbitkan dan dibagikan.

Endapkanlah dulu setidaknya tiga jam atau semalam, lalu baca ulang tulisan tersebut dan lakukan kroscek dengan norma-norma yang ada. Di sini aku kembali diingatkan tentang tulisan yang digugat tersebut. Aku sepertinya kurang kroscek dalam pemilihan diksi hingga melahirkan ambiguitas dan kesalahan pemahaman bagi beberapa pembaca.

mengembangkan alur dalam pembuatan konten
Awalnya egoku sempat terluka. Jariku sempat tergelitik untuk menjawab sang penggugat seperti ini; “Ya maaf kalau kita berbeda pendapat. Tapi itu kan blog saya, jangan paksa saya menerima pendapat mbak dong. Kalau mbak punya pendapat lain, silahkan ditulis dan dibagikan di media sosial atau blog mbak sendiri.”

Bersyukur saat itu aku berhasil mengurungkan niat untuk memuaskan ego tersebut. Untungnya aku juga sudah belajar butterfly hug dari sebuah drama Korea hits yang baru saja usai masa tayangnya. Aku memilih mengerem emosi dan meminta maaf pada sang penggugat.

Lalu pada hari Jumat, 14 Agustus 2020, mbak Amy menyentilku bahwasanya sebagai kreator kita harus meyakini bahwa isi konten merupakan tanggungjawab pembuatnya. Jleb banget sih. Namun aku jadi semakin bersyukur dengan pilihan yang kuambil beberapa waktu lalu untuk tidak terbawa emosi.
Tulisan yang jelek tapi selesai jauh lebih baik daripada tulisan yang bagus tapi nggak diselesaikan.
Mbak Amy lagi-lagi mampu membuatku kembali semangat dengan kalimatnya tersebut. Mungkin tidak semua tulisanku bisa diterima dengan baik bagi beberapa orang, namun setidaknya aku telah berhasil menyelesaikannya.

4. Media

Urutan terakhir dalam proses pembuatan postingan positif menurut mbak Amy adalah pemilihan media. Output sebuah konten bisa berupa tulisan, gambar atau video. Setelahnya kita perlu memikirkan di manakah platform yang tepat untuk menayangkan konten tersebut.

output dan platform konten
Apakah blog, TV, Youtube atau media sosial? Untuk memilih media tayang, maka penting bagi kreator memahami target pasarnya. Jika ingin menjadi pegiat konten di media sosial dengan target kaum muda, instagram dan twitter bisa menjadi pilihan. Namun jika target pembaca atau penikmat konten kita adalah para emak, Facebook masih menjadi pilihan terbaik.

Aku sendiri memilih blog sebagai media tayang untuk tulisan-tulisanku karena lebih rapi pengarsipannya. Selain itu aku bisa menulis lebih panjang dibanding di media sosial. Menayangkan tulisan lewat blog juga bisa mencapai pembaca dalam skala yang lebih luas.

Sebuah kalimat pamungkas dari Mbak Amy menancap hingga ke dalam hatiku;
Ide tanpa dimulai akan tetap menjadi IDE, dan tidak akan pernah menjadi KARYA.
Semoga tidak hanya menancap, namun juga bisa menjadi pendorong untukku agar tak lelah mengubah ide-ide di kepala menjadi karya.

Jadi sudahkah ide-ide yang berkeliaran di kepala kita hari ini telah diproses menjadi karya? Yuk, buat teman-teman yang blog-nya penuh dengan sarang laba-laba, singkirkan segala macam ketakutan dan mari merdekakan diri dalam berkarya, mulai dari 4 hal di atas. Selamat berkarya yang bermanfaat, pals!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

10 comments

  1. Selama ini yuni tu lebih sering cuma berhenti di ide aja. Kayak, ah yuni pinginlah nulis tentang ini. Tapi ya sudah.

    Yuni nggak lanjut ke riset dan mengumpulkan data untuk ide tersebut.

    Selanjutnya bisa disimpulkan. Nggak ada karya yang dihasilkan dari ide tadi.

    Miris banget sih.

    Jadi, habis ini kalau ada ide kudu benar-benar selesai dan melahirkan sebuah karya. Harus.

    ReplyDelete
  2. Maturnuwun mba, sudah berbagi materi bernas ini. Sungguh sangat menginspirasiku untuk memperbaiki apa2 yg ternyata kurang dlm aktivitasku ngeblog selama ini. Sekali lagi, matur nuwuuun..

    ReplyDelete
  3. Alasan memang jadi pilihanku waktu berniat nulis di blog, dan dulu mana pernah berpikir ya nantinya bisa jadi tempat ngumpulin duit. Alhamdulillah dengan niat ingin berbagi pengalaman baik buruk maupun saat bahagia, bisa jadi bermanfaat untuk pembaca. Semoga.

    Tulisan Ririt selalu mampu bikin aku berpikir, tentang banyak hal termasuk komentar pembaca. Aku selama ini baru sekali ngalami komentar negatif, tapi di sosmed sih. Dan aku jawab dengan sopan juga

    ReplyDelete
  4. Bener sih we cannot please everyone tapi tetep harus mencoba mengurangi hal2 negafif dan terus berkarya ya. Kalo ada komen negatif dan nyinyir tetep jawab dgn sopan dan positif ya. Semangat berkarya terus

    ReplyDelete
  5. Mba Marita rajiiin satu webinar bs jadi 3 postingan top dahhh. Aku banyak ide sebenarnya tp eksekusinya selaluuu aja ad alasan utk tdk menyegerakan, hiks.

    ReplyDelete
  6. Hihihi aku ide banyak tapi suka menunda-nunda akhirnya lupa wkwkwkkw..payah memang harus latihan konsisten lagi

    ReplyDelete
  7. Barokallah terimakasih bun Ririt udah dibagikan materi yang luar biasanya ke blog jadi bisa baca meski nggak ikutan ngezoom. AKu ini juga masih kadang malas jadi banyak yang ketunda.

    ReplyDelete
  8. Yang paling sulit nih arrange alur dari bikin tulisan tadi. Terkadang bisa on set, pas banget dengan yang dipikirkan. Tapi pernah juga mbleber kemana-mana, bahkan bisa juga macet cet gitu mau dibawa kemana tulisannya.

    ReplyDelete
  9. Aku sekarang malah pengen jadi tiktokers. Tapi kayaknya berat juga ya. Video 60 detik tapi udah kudu sarat info. Menantang juga sih.

    ReplyDelete
  10. Maturnuwun, Mbak... Aku sering nih sudah ada ide tapi belum eksekusi ��
    Btw aku ya pernah ngalamin orang salah paham dengan tulisanku, awalnya aku baper trus mikir mgkin perspektifnya beda, sambil ngoreksi barangkali tulisanku memang ambigu

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email