header marita’s palace

[Senandika Kehidupan] - Corona: Sebuah Lonceng untuk Jiwa

Konten [Tampil]
puisi tentang corona sebuah lonceng untuk jiwa

Apa sih yang teman-teman kongkow rasakan setiap mendengar kata corona diucapkan? Mungkin ada yang bergidik ngeri, miris, atau malah marah barangkali? Corona, satu kata yang memang membawa banyak cerita dan makna di dalamnya. Ada kehilangan, ada keharuan, ada kehampaan, juga keputusasaan. Namun apakah corona hanya sebatas sisi hitam dalam jejak kehidupan?

Ini hanyalah sebuah renungan pribadi. Kutulis sembari berkilas-balik pada 12 bulan yang baru saja berlalu. Bagiku, corona adalah sebuah lonceng untuk jiwa. 

Selamat menikmati senandika ini, kawan....

Corona: Sebuah Lonceng untuk Jiwa

Baru tahu kalau takut dan pasrah menyatu
bisa melahirkan nada penuh haru
tiada pernah menyangka kejutanNya begitu istimewa.

Dulu sekali pernah aku berharap
kalender akan dipenuhi angka-angka merah merona
Lalu tubuh bisa telentang di atas kasur sesuka hati
tanpa berpusing pada tenggat itu dan ini

Namun pada tahun yang beberapa jangkah berlalu
aku baru tahu kalau kalender dengan angka berwarna hitam
jauh lebih kurindu dan idam-idamkan

Begitu mencekam kalender merah di tahun lalu
bahkan bukan hanya lembar penanda hari saja yang memerah
Peta negara pun penuh dengan pertanda merah
yang artinya virus berjuluk corona telah meluluhlantakkan setiap daerah

Rumah sakit penuh,
air mata luruh
dokter suster berjibaku sembari melantunkan doa yang gemuruh
mengorbankan jiwa raga demi menyelamatkan lebih banyak nyawa

Pada tahun yang lembarnya baru saja habis...
baru aku tahu kalau sekolah yang sering dirutuki membosankan
kini justru menjadi tempat paling dirindukan
Tak masalah bersua guru-guru dengan muka masam
asal zoom dan webinar tak lagi jadi teman seharian

Awalnya sih terdengar mengasyikkan
School from home, sekolah lewat daring
Namun pelan-pelan lupa juga kalau punya teman
Jangankan wajah, satu per satu namanya pun mulai hilang dari ingatan

Pada 2020 yang sekejap kutinggalkan,
baru tahu kalau pekerjaan yang selama ini seperti beban
adalah bentuk rizki yang mudah sekali dilupakan
sering mengeluh tentang sulit dan susah
sering berandai-andai mengganti seragam dengan profesi yang lebih wah

Nyatanya kini masih bisa bergaji saja
telah menjadi kado hidup teristimewa
sementara di sini sana banyak yang di-PHK

Dulu aku mencibir mereka yang istiqomah
menutup sebagian wajah
menuding mereka radikal dan intoleran
Nyatanya kini, semua penghuni bumi berebut menutup muka
dengan selembar kain demi menghindar dari si corona

Dulu pernah aku nyinyir habis-habisan
pada mereka yang menolak berjabat-tangan
menuding mereka sok-sokan paling beriman
Nyatanya kini, semua orang menjadi anti bersalaman
karena takut ketularan

2020…
Bagaikan kotak musik yang menyenandungkan banyak cerita berbeda
segudang nestapa, semangkuk amarah, namun juga secercah hikmah penuh asa
Corona dihadirkan atas izinNya di tengah-tengah belantara kita
sebagai puzzle yang harus dirangkai keping-kepingnya
hingga kita mampu menenun makna

Corona adalah bentuk kasihNya
takkah terdengar IA memanggil hamba-hambaNya untuk beringsut mendekat
agar segera mampu menikmati kedalaman syukur tanpa sekat
menemukan pemahaman betapa setiap hela nafas adalah berkat
yang seringkali kita menolak ingat

Dan kini corona telah membunyikan dentang loncengnya
membangunkan setiap insan yang masih berjiwa
betapa hidup sungguh terlalu berharga
untuk dijalani seadanya
ingat hura-hura, lupa pada tugasnya

Terima kasih untuk suguhanMu di 2020 yang luar biasa
caraMu mendewasakan kami untuk menjadi sebenar-benarnya manusia
sungguh tiada dua

Kini kami masih terus berupaya mencari dan menemukan
tiap-tiap kepingan puzzle yang Kau tebarkan di balik sudut corona
perlahan pada waktu yang telah kau tetapkan,
puzzle itu akan utuh
dan dunia kembali sembuh

Kau hanya minta kami percaya pada janjiMu yang selalu benar
Kau hanya ingin melihat seberapa sabar kami dengan setiap ketetapan dan ujian
Kau hanya ingin kami menyanggupi kepatuhan tanpa tapi dan nanti
Kau hanya ingin kami membuktikan bahwa ikhtiar dan doa seharusnya menyatu
dan tidak saling berdiri sendiri
Kau hanya ingin kami bergandengtangan, satu padu demi kemanusiaan
tanpa mengenal ras, suku dan agama
Kau hanya ingin kami menggantungkan segala hidup dan mati hanya padaMu
Karena kami hanyalah wayang-wayang lemah
Dan Engkau sebenar-benarnya Dalang Kehidupan

2021, akan kami sambut dengan sebenar-benar senandung doa dan asa
akan kami isi dengan sepenuhnya senandika bakti dan cinta
Ya Allah, ya Illahi Robbi...
Izinkan kami kembali pada jalan lurus yang Kau ridhoi

Di setiap detik yang masih tersisa,
biarkan kami menjadi sebaik-baik hamba yang Kau inginkan
biarkan kami terjaga dalam  iman
hingga akhir nafas memelukMu dalam kepatuhan

***

Wah, lega rasanya bisa menyelesaikan tantangan hari ini. PR banget. Disuruh bikin puisi, sekaligus dibacakan pula. Sebenarnya bukan hal baru, tapi karena lama tak diasah, jadi super deg-degan. Semoga saja masih bisa dinikmati ya, pals.

Sudah lama sekali tak menyusun puisi yang dulu pernah menjadi hobi. Kini sudah kesusahan merangkai bait-bait bernada, saking lebih seringnya menulis artikel dan tulisan-tulisan non fiksi. Terima kasih untuk ISB atas tantangannya hari ini. Luar biasa membuatku berkeringat sebesar biji jagung. Sekaligus melemparkanku pada masa-masa sekolah yang ngangenin. Well, aku nggak tahu ini pantas disebut puisikah. Atau layak disematkan sebagai senandika. Entahlah. 

Namun yang pasti, tantangan ini membuatku tersadar betapa corona adalah sebuah lonceng untuk jiwa agar menjalani hidup sebenar-benarnya. Bukan sekedar mengisi waktu dengan hura-hura. Namun harus dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan agar berkah dan bermanfaat. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama? Maka di 2021 ini, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, meski kecil dan tak terlihat. Yakinlah Allah Maha Tahu Segalanya. Keep fighting, pals!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment