header marita’s palace

Opening Ceremony Semeleh Buatku Meleleh, Can’t Wait The Class!

Konten [Tampil]
opening ceremony semeleh membuatku meleleh
Masih ingat dengan Bincang Pulih yang kuikuti beberapa waktu lalu? Alhamdulillah aku terpilih menjadi salah satu tulisan favorit dan berhak mendapatkan buku Pulih. Masya Allah, isi bukunya mengharu biru.

Aku sempat merasa menyesal kok bisa event sekeren itu tak sampai ke telingaku? Namun begitulah yang namanya jodoh, kalau belum saatnya, ya nggak akan sampai ke kita. Yang pasti aku berharap akan ada kelas sejenis Pulih. Entah nanti akan melahirkan buku bareng-bareng atau tidak, aku tak masalah. Aku hanya merasa butuh pendampingan untuk pulih.

Pulih sendirian itu berat. Inkonsistensi menjadi PR besar. Meski beberapa kali ikut kelas self healing, tapi aku merasa masih ada yang belum tuntas. Belum semeleh!

Hingga akhirnya, informasi tentang kelas SEMELEH pun kudengar lewat whatsapp group IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis). Awalnya aku sempat maju mundur cantik. Kusengaja tak langsung merespon. Kubiarkan dulu beberapa pekan. Jika informasi Semeleh masih terus hadir secara sengaja atau tak sengaja selama tiga kali, maka kuanggap itu adalah jawaban dari Allah.

Qodarullah, sekali dua kali kubiarkan info tersebut lewat tanpa berujung dengan pendaftaran. Lalu tibalah kali ketiga, aku bersitatap lagi dengan info kelas yang bertagline Healing, Writing, Empowering tersebut.

Baiklah. Seperti yang kujanjikan pada diri sendiri. Jika tiga kali kulihat info tersebut dan masih bisa melakukan pendaftaran, maka itu artinya panggilan khusus. Segera setelah itu kubuka form, kutransfer biaya investasi dan segera melengkapi isian yang diminta.

Harap-harap cemas ku menanti kabar dari tim IIDN. Kok tidak ada email balasan. Belum ada undangan ke whatsapp group juga. Saking nggak sabarnya aku kemudian japri mbak Fitria Rahma yang nomornya tercantum sebagai contact person. Disambut dengan ramah. Eh, ternyata memang belum waktunya ‘diculik’ ke grup whatsapp, hehe. Saking semangatnya pengen segera njebur ke kelas yang akan berlangsung dari 4 April - 8 Mei 2021 tersebut.

Selain karena semangat untuk healing, aku tertarik mengikuti SEMELEH karena tiga pematerinya yang kece badai. Ketiga nama tersebut sudah tak asing buatku. Ada mbak Widyanti Yuliandari, ibu ketua IIDN yang selalu semangat dan juaranya lomba-lomba blog.

Lalu ada cikgu Artha Julie Nava yang terkenal dengan kelas personal branding-nya, aku sudah mengenal namanya sejak awal join IIDN bertahun-tahun lalu. Senangnya bisa belajar langsung dari beliau sekarang.

Nama yang terakhir ada mbak Intan Maria, founder Ruang Pulih, yang kemarin juga turut mendampingi proyek Pulih. Membaca kisah teman-teman di buku Pulih serta mengikuti event Bincang Pulih membuatku ingin belajar lebih lama bersama beliau. And the time is coming!
flyer semeleh IIDN

Opening Ceremony Semeleh is Coming!

Akhirnya yang dinanti tiba juga, ‘para peserta diangkut ke grup SEMELEH. Kami juga mendapatkan informasi kapan opening ceremony akan dilaksanakan. Kubaca dan kuingat baik-baik jadwalnya; Minggu, 4 April 2021, pukul 19.30. Jangan sampai terlewat.

Qodarullah hari ini aku ada agenda ke luar rumah karena ada acara lamaran sepupu, lanjut mengajak anak jalan-jalan sejenak setelah sepekan terkungkung di dalam rumah. Baru mendarat di kasur sekitar 17.00.

Sejak selesai maghrib, mataku sebenarnya sudah mengajak merem melek. Namun kucoba bertahan karena tak mau ketinggalan opening ceremony SEMELEH. Alhamdulillah aku berhasil bertahan dan tidak telat masuk ke kelas. Aku bersyukur banget nget nget bergabung dengan sesi opening ceremony ini. Semakin menguatkan azzam-ku untuk mengikuti kelas ini hingga akhir.

Teman-teman kongkow pasti penasaran ya, diapain sih di sesi opening tadi kok sampai bikin semangatku meletup-letup.

Pertama, acara dibawakan oleh MC istimewanya IIDN. Siapa lagi kalau bukan mbak Lita Widi yang selalu bisa membuat suasana jadi hidup, semangat dan ceria. Bikin mata yang tadi udah hampir merem melek, jadi terbuka lebar.

Kedua, kalimat-kalimat pembuka dari mbak Wid selaku ketua IIDN yang selalu menginspirasi dan memotivasi. Beliau menceritakan behind the scene kelahiran kelas ini. Mbak Wid bercerita bahwa dalam menjalankan roda komunitas IIDN selalu menggunakan data dan intuisi.

Mbak Wid memang tidak belajar pada jalur psikologi dan pengembangan diri, tapi setiap hari selalu bersinggungan dengan hal tersebut. Di sekelilingnya, beliau melihat ada banyak orang berpotensi, tapi tidak bisa maksimal mengembangkan potensi tersebut karena ada hambatan di dalam dirinya. Dari sinilah ide membuat kelas Semeleh setelah antologi Pulih berhasil meraih kesuksesan yang gemilang.

Kata SEMELEH sendiri beliau temukan dari wejangan eyang kakungnya yang memang kental mengasuh keluarganya dengan falsafah-falsafah Jawa. Istilah tersebut mengingatkanku pada wejangan eyang dan ibu setiap kali aku terlihat kemrungsung.

Pada akhirnya tetap menggunakan kata SEMELEH, karena mbak Wid belum menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia, Arab ataupun bahasa lainnya untuk kata tersebut.
So, here it is… SEMELEH; Healing, Writing dan Empowering. Ujung dari kelas ini diharapkan adalah memberdayakan perempuan. Perempuan yang berdaya akan mampu memberdayakan perempuan lainnya.
Mantap kan kalimat-kalimat yang meluncur dari mbak Wid? Selalu bisa membuat hati bergetar dan ingin bergerak.
webinar opening ceremony semeleh

The Power of 3 Super Heroes

Setelah pembukaan dari mbak Wid, mbak Lita mempersilakan satu per satu fasilitator dari kelas SEMELEH memberikan sedikit bocoran tentang apa saja yang akan dipelajari di kelas ini.

1. Intan Maria, founder Ruang Pulih

Dimulai dari mbak Intan Maria. Beliau mengucapkan selamat karena kami yang berada di kelas tersebut adalah orang-orang yang memilih dan terpilih. Mbak Intan Maria ini juga 11-12 sama mbak Wid, kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya selalu indah dan inspiratif.

Para peserta diajak untuk mengingat bagaimana mengajarkan anak mengenal panca indera. Sesungguhnya sesederhana itulah hidup jika kita bisa memaknai hidup seperti anak-anak. Saat kita menyebut mata, lalu menyentuh mata. Saat kita menyebut hidung , lalu kita sentuh hidung. Sejatinya saat itulah kita sedang menumbuhkan self awareness. Keadaan di mana sadar sesadarnya, hadir sepenuhnya untuk diri sendiri.

Harus ada momen di mana kita mengizinkan diri kita untuk mendarat. Bukankah kita sudah terlalu sering terbang ke mana-mana? Kelihatannya sedang menonton TV bersama anak, tapi pikiran melayang ke beberapa to do list yang harus dikerjakan setelah ini.

Mbak Intan Maria mengingatkan pentingnya untuk semeleh. Ada saatnya sesuatu itu harus diselehke, ditaruh, diletakkan dan didaratkan sesuai porsinya.

Anggap kita sedang dalam perjalanan yang panjang dan merasa sangat capek. Di tengah perjalanan, kita menemukan kursi. Bagaimana saat pantat kita menyentuh kursi tersebut? Seharusnya merasa lega dan nyaman kan? Namun berapa banyak kita duduk, tapi masih ragu-ragu? Mengecek jangan-jangan kursi yang kita duduki rusak, ada kotoran burung, atau cat yang basah.

Ada kalanya kita merasa sudah semeleh, tapi keajaiban yang ditunggu tak juga hadir dalam hidup. Maka saatnya kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri, sudahkah benar-benar mendarat dan menerima? Jika belum, maukah belajar untuk menerima?

Sudah saatnya kita move on menjadi lebih tenang, happy, dan nyaman. Cara terbaik untuk semeleh yaitu perbanyak kontak dengan diri sendiri. Seperti anak kecil, lihat dan kenali detil tubuh kita. Rasakan diri kita.

Lalu fokus dan menikmati masa kini. Menyerahkan semuanya kepada Pemilik Kehidupan. Bahwa hidup sebenarnya ringan. Masa lalu, masa kini dan masa depan harus dilihat sesuai porsinya masing-masing.

Saat berada di kelas, niatkanlah untuk ambil sebanyak-banyaknya agar tumbuh berdaya dan kelak bisa memberdayakan orang lain. Peserta sebaiknya selalu merasa ‘lapar’, Kalau lapar tentu kita akan memasak, menyediakan dan mencari makan sesuai kebutuhan perut kita kan?

Fasilitator hanyalah pembuka jalan, selanjutnya ada di tangan kita sendiri. Selama ini kita mungkin terbelenggu pada kelemahan diri. Siapa yang tahu jika kelemahan itu ternyata justru kekuatan yang bisa memberdayakan orang lain?

Masya Allah, benar-benar rasanya terbius dengan kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir mbak Intan Maria. Sudah tak sabar untuk segera mengikuti sesi-sesi selanjutnya. Khusus untuk kelas mbak Intan, akan ada sesi zoom 3x. Peserta juga diminta menyiapkan pensil warna. Hmm, buat apa ya? Tambah penasaran kan jadinya.

2. Cikgu Artha Julie Nava

Berbeda dengan mbak Intan Maria yang hadir dalam kalimat penuh retorika dan analogi. Cikgu Julie, begitu biasa beliau dipanggil, selalu tampil dengan kalimat-kalimat lugas dan tegas. Sesuai dengan tagline beliau, selalu action!

Menurut Cikgu Julie, semeleh adalah kondisi di mana kita telah mampu menerima diri sendiri tanpa dipengaruhi faktor luar. Sadar terhadap diri sendiri dan bisa memilih respon apa yang akan kita berikan.

Merupakan sebuah konsep Jawa yang sangat bagus. Cikgu menyampaikan bahwa sebagai manusia kita sering lupa bahwa punya misi saat diturunkan ke dunia. Inilah saatnya untuk menemukan misi tersebut. Aaah, aku jadi teringat pada kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional yang kuikuti pada 2017. Kelas pertama yang membawaku menemukan misi hidupku.

Cikgu Julie memiliki ketertarikan dan kepiawaian dalam berbagi materi terkait self love, personal branding, dan law of attraction. Ketiga tema ini saling berhubungan satu sama lain. Sedikit bocoran dari Cikgu, beberapa hal yang akan dipelajari di sesi beliau adalah:
  • Self awareness: belajar untuk memberikan ruang dan waktu yang cukup kepada diri sendiri.
  • Acceptance: belajar melakukan enerimaan terhadap masa lalu, masa kini dan masa depan
  • Action: tidak sekadar teori, tapi harus ada aksi yang dilakukan oleh peserta. Duh, tambah penasaran bakal disuruh ngapain nih.
Self love saat ini memang sedang marak dibicarakan. Sayangnya banyak self love yang memandang dengan salah kaprah. Self love justru banyak diartikan sebagai narsisisme. Menurut Cikgu Julie, self love justru salah satu pondasi utama yang harus dipenuhi.

Cikgu lalu mengajak para peserta untuk mengingat tentang segitiga maslow. Fisik adalah pondasi utama yang harus dipenuhi, diikuti dengan rasa aman, rasa dicintai dan mencintai, rasa berharga, dan aktualisasi diri. Nah, self love berperan banyak di sini.

Self love juga membantu dalam proses membangun self esteem. Yaitu proses mengenali dan menerima diri sendiri beserta printilannya. Menyadari bahwa dirinya berharga dan layak mendapatkan cinta.

Tantangan dalam mencapai self esteem adalah kita sering terlalu fokus pada kesibukan, sehingga tidak pernah memusatkan/ fokus untuk mengisi diri. Lama-lama kita akan merasa kosong, dan tidak punya hal yang dibagi, hingga kemudian merasa frustasi.

Metode belajar bersama Cikgu Julie agak berbeda dengan mbak Intan Maria. Jika mbak Intan menyukai kelas yang interaktif lewat zoom, Cikgu akan membagikan materi berupa PDF di pagi hari. Lalu akan menjabarkan isi PDF di malam hari melalui fitur voice, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab.

3. Ibu Ketua IIDN, Mbak Wid

Super hero alias fasilitator ketiga di kelas SEMELEH adalah mbak Wid. Di kelas ini, mbak Wid akan mendampingi para peserta untuk berproses bersama-sama melatih kebiasaan membuat gratitude journal.

Sesuatu yang mungkin tidak sulit, karena hanya cukup menuliskan apa yang kita syukuri setiap harinya. Bikin sendiri-sendiri pun bisa saja, tapi biasanya susah konsisten. Bener sih ini. Aku juga pernah mencoba merutinkan membuat jurnal syukur, akhirnya hanya bertahan beberapa hari, hehe.

Nah, sebulan ini di kelas SEMELEH, para peserta akan bareng-bareng membiasakan diri membuat jurnal syukur. Bisa jadi mensyukuri hal-hal receh, atau hal-hal besar.

Salah satu manfaat jurnal syukur yaitu untuk memberikan keseimbangan dalam hidup. Jika biasanya dalam hidup kita lebih sering fokus melihat pada hal-hal negatif dan masalah, kali ini kita akan diajak untuk memusatkan diri/ memberikan atensi pada hal-hal baik.

Di akhir kelas nanti, seluruh peserta dan fasilitator akan membuat buku. Isinya apa? Di setiap sesi, setiap pemateri akan memiliki sesuatu yang harus ditulis. Tulisan tersebut akan dikumpulkan via google form. Insya Allah semua karya peserta akan dimuat. Namun karena keterbatasan halaman, setiap satu materi akan dipilih beberapa tulisan peserta.

Misal, sesi mbak Wid akan diambil 10 tulisan, sesi Cikgu Julie diambil 15 tulisan dan tulisan lainnya akan dimasukkan untuk sesi mbak Intan Maria.

Metode belajar bersama mbak Wid tak jauh berbeda dengan gayanya Cikgu Julie. Yaitu pembagian materi di pagi hari, lalu malam hari akan diisi dengan penjabaran lewat voice dan diskusi.

Mbak Wid mengingatkan untuk mengikuti SEMELEH dengan maksimal, selain menyiapkan pensil warna untuk sesi belajar bersama mbak Intan Maria. Peserta juga perlu menyiapkan 1 buku catatan khusus untuk mencatat materi kelas Semeleh. Karena ilmu akan lebih terikat jika dicatat kan?

Peserta juga diminta untuk menyiapkan 1 buku khusus untuk menuliskan jurnal syukur. Jurnal ini boleh dihiasi dengan doodle, sentuhan seni warna-warni, dsb. Untuk pensil warna, kata mbak Intan Maria tidak perlu full semua warna. Minimal menyiapkan 5 warna yang disukai. Tidak lupa untuk siapkan pensil 2B.

Bocoran yang diberikan oleh masing-masing fasilitator kece tersebut semakin membuatku penasaran dengan sesi-sesi selanjutnya. Apalagi saat mbak Wid dengan tersenyum berkata, “Setiap pengampu punya ciri tersendiri, akan ada satu sesi di mana perlu adanya kolaborasi dan kerjasama antara sesama peserta. Ditunggu saja ya. Pokoknya kita bakal seru-seruan bareng di kelas ini.”

Lalu disusul dengan penutup yang semakin membuat mata berbinar dari Cikgu Julie, “Kelas SEMELEH hanyalah bagian dari proses. Tentu saja proses ggak hanya cukup 30 hari. Butuh kontinyu terus. Tapi ini adalah langkah awal untuk mengenali diri sendiri. Dan ingat ini bukan kompetisi!”

Energi yang terkumpul malam ini semakin membuncah saat doa sederhana namun dalam maknanya dibacakan oleh mbak Fuatuttaqwiyah, yang merupakan tim divisi buku IIDN. Sungguh tak sabar menanti besok, pals. Kalian pasti juga jadi ngebet pengen ikutan kan?

Apalagi ketika opening ceremony SEMELEH ditutup dengan karaoke bareng lagu Hero-nya Mariah Carey, duh meleleh, pals. Kebetulan lagu ini adalah salah satu lagu favorit yang sering kunyanyikan saat sedang merasa down.

Tiga bulan lalu aku pernah merekam suaraku menyanyikan Hero via Smule. Kuy ikutan euphoria yang kurasakan setelah mengikuti opening ceremony Semeleh yang super bikin leleh hatiku. Maaf ya kalau suaranya pitchy di mana-mana. Udah lama nggak latihan vokal nih, wkwk. Happy listening dan mari jadi pahlawan bagi diri sendiri! Hwaiting!!!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

3 comments

  1. Mbak Maritaaaaa kamu koprol parah! Belum 24 jam acara selesai dah bikin artikelnya aja😎

    Akuuuuuu juga gak sabaaaaaaaaar ni, Mbak Marita ikut kelasnya.

    Semangat cekulah ah sama foundernya blogspedia, kita sekelas. Ayeee!

    ReplyDelete
  2. Mbakkk, thank you resumenya. InsyaAllah kita akan mendapatkan ilmu yang kece badai. Loveee, kita sekelas yaaaa.

    ReplyDelete
  3. Mba Marita, terimakasih banyak resumenya.
    Masya Allah, ditulis dengan indah dan lengkap.
    Plus buatku ini ngebantu banget Mba, semalam aku sempat telat join zoom opening ceremony SEMELEH.
    Akhirnya bisa nyimak lengkap lewat tulisan Mba Marita ini.

    Barakallah Mba 🤲🤗

    ReplyDelete

Post a Comment