header marita’s palace

Indikator Sukses dan Bahagia dari Kacamata MomBlogger

Konten [Tampil]
sukses dan bahagia ala maritaningtyas
Ngobrolin sukses dan bahagia, aku jadi ingat drama korea Sky Castle. Masih ingat sama drakor yang fenomenal itu, pals? Di drama tersebut diceritakan bahwa para penghuni Sky Castle berlomba-lomba menjadikan anaknya sukses secara akademis. Sayangnya usaha yang dilakukan tak sepenuhnya baik.

Yang ada, para anaknya hanya dijadikan bahan persaingan atas nama gengsi dan harga diri. Kompetisi super ketat dan tidak sehat. Apakah dengan lantas sukses secara akademis, kemudian mereka bahagia?

Ternyata kebahagiaan karena kesuksesan itu semu. Apalagi ketika kesuksesan itu diraih dengan jalan tak sehat, sepertinya bahagia yang dirasakan hanya di permukaan saja. Tetap ada yang kosong dan hilang.

Apakah kita harus mencapai sukses dulu baru bisa merasakan bahagia? Bukankah seharusnya bahagia bisa hadir, baik kita sudah sukses atau belum? Hmm, lagipula memang yang dinamakan sukses itu seperti apa sih?

Pengertian Sukses dan Bahagia

Tak hanya membuatku ingat pada Sky Castle, topik ini juga membawa ingatanku pada Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) yang kuikuti pada 2015. Abah Ihsan menjabarkan pengertian sukses dan bahagia menurut beliau. Akan aku tulis ulang dengan singkat di sini.
Sukses adalah ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak hanya berkaitan dengan materi, sukses meliputi 4Ta; harta, tahta, kata dan cinta.
Apakah orang yang sudah sukses menjalani profesinya, hidup bertabur emas permata, selalu bisa dikatakan sebagai orang sukses? Abah Ihsan bilang, belum tentu. Bagaimana kalau ternyata profesi itu bukanlah hal yang benar-benar ia inginkan, hanya karena menuruti perintah orangtua atau menjalankan bisnis keluarga? Sementara hatinya tidak di situ?

Menurut Abah, belum bisa dikatakan sukses orang-orang yang demikian. Karena apa yang didapatkan bukan berdasarkan dari apa yang diinginkan. Kesuksesan yang seperti ini belum tentu membawa kebahagiaan. Padahal seharusnya kesuksesan selaras dengan kebahagiaan. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan bahagia?
Bahagia adalah perasaan yang muncul saat kita menginginkan apa yang kita dapatkan.
Kembali lagi, kenapa banyak orang yang bergelimang harta tetapi merasa kehilangan makna bahagia? Karena bisa jadi sebenarnya mereka tak menikmati apa yang sedang dijalani. Hingga harta yang mereka peroleh hanya terasa kewajaran, karena telah bekerja siang malam dengan penuh peluh keringat.

Sementara orang yang hidup sederhana, justru lebih membuncah kebahagiaannya. Karena mereka bisa menikmati semua yang diperoleh dengan penuh kesyukuran.
Ya, sukses bisa melahirkan kebahagiaan jika dalam prosesnya dibalut dengan rasa syukur.
Aaah, aku jadi ingat sebuah kondisi di saat aku sedang burnout. Saat itu aku merasa jadi makhluk paling capek sedunia. Aku merasa jadi orang paling menderita. Lalu setelah kutelusuri, kenapa sih perasaan itu bisa muncul. Jawabannya sederhana.
Karena aku tidak menikmati apa yang kujalani dengan penuh kesyukuran.
Dari situlah aku belajar untuk mengubah mindsetku, dan belajar bersyukur. Kayanya sederhana ya? Namun nyatanya kalau nggak dibiasakan, bersyukur itu terasa sulit. Kita cenderung lebih mudah mensyukuri hal-hal yang besar. Namun kerap melupakan hal-hal kecil. Padahal yang kecil-kecil itu sebenarnya esensial, dan kalau nggak ada yang kecil itu, belum tentu kita bisa meraih kesuksesan yang besar.

Menyederhanakan Kesuksesan, Memudahkan Kebahagiaan

Belajar dari pengalaman hidup, aku mulai menyederhanakan arti kesuksesan. Saat masih sekolah dan kuliah, sukses mungkin lebih mudah diraih. Misal, mendapatkan nilai tertinggi, memenangkan lomba mahasiswa berprestasi, atau meraih IPK sesuai yang ditargetkan.

Begitu juga saat bekerja kantoran, aku bisa merasa sukses ketika berhasil menjaring murid sesuai jumlah yang ditargetkan oleh manager bimbel tempatku bekerja. Atau ketika aku berhasil membuat murid-muridku lanjut ke level berikutnya, hingga aku bisa mendapatkan bonus prestasi.

Namun ketika menjadi seorang ibu rumah tangga yang nyambi ngeblog, jujur aku sempat terseok-seok ketika memberikan standar kesuksesan yang tak tepat. Aku menuntut diriku terlalu keras, hingga akhirnya tak mampu menikmati apa yang kujalani dan gagal mencapai kebahagiaan.
menyederhanakan kesuksesan, memudahkan kebahagiaan
Sebagai orang yang sebenarnya cukup ambisius, aku sempat merasa drop say ketika akhirnya harus memutuskan resign. Lalu aku berusaha menjadi wonder woman yang bisa melakukan segala hal, ya ngurusin rumah dengan segala isinya, momong anak dan suami hingga tetap berusaha menjadi pilar ekonomi di rumah. Tak ada yang meminta aku melakukan semuanya, aku hanya merasa harus bisa. Harus produktif. Padahal produktif tidaklah sama dengan sibuk.

Sepertinya saat itu aku hanyalah sibuk, yang akhirnya melahirkan rasa capek berkepanjangan. Karena dalam produktivitas, bukan capek yang akan hadir, tapi optimis dan semangat untuk terus menebarkan manfaat.

Kini, aku tak lagi muluk-muluk menetapkan standar sukses. Buatku hal kecil dan remeh temeh buat orang lain, bisa jadi sebuah prestasi tersendiri. Mau tahu apa saja yang bisa kusebut sebagai kesuksesan sebagai seorang MomBlogger?
  • Mampu melawan mager dan membangun mood untuk memasak.
  • Berani mencoba resep baru yang nggak pernah dibuat sebelumnya.
  • Menemani anak-anak main sebelum mulai bekerja, hingga mereka nggak cranky seharian.
  • Bisa update blog 1 post per day.
  • Berhasil mengalokasikan setidaknya 1 jam per hari untuk merawat blog, di luar penulisan konten (blogwalking, link building, riset keyword, dsb)
  • Punya waktu buat ngopi dan ngobrol bareng suami.
  • Berhasil nggak teriak saat anak bikin ulah.
  • Tetap ingat mandi dan makan di sela-sela kepungan deadline.
Masih banyak lagi sih bentuk kesuksesan sederhana lainnya. Aku biasanya mengapresiasi kesuksesan-kesuksesan itu dengan mencatatnya di jurnal syukur yang kumiliki. Semakin aku menyederhanakan kesuksesan, aku merasa kebahagiaan jadi sesuatu yang sangat mudah dicapai.

Cara ini juga membuatku jadi lebih mudah mencintai diri sendiri. Mampu menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Aku jadi bisa dengan bangga berkata pada diri sendiri, “Hey Rit, you’re wonderful whatever you are!

Pernahkan kita merasa ‘aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang di kaleng biskuit’? Perasaan itu bisa saja muncul saat kita terlalu tinggi menetapkan standar kesuksesan. Dan lupa melihat dengan lebih dekat, bahwa sebenarnya banyak sukses-sukses kecil yang kita raih di setiap harinya.

Kenapa tak terlihat? Karena kita menganggap hal-hal kecil itu hanyalah kewajaran, sesuatu yang memang harusnya dilakukan. Hingga akhirnya kita gagal berempati pada diri sendiri, merasa garing dan tak puas pada hidup yang sedang dijalani.
Maka saat perasaan merasa seperti remahan rengginang itu muncul, stop membandingkan diri dengan orang lain. Setiap individu punya standar kesuksesannya masing-masing. Kita nggak perlu mencapai standar yang dibuat orang lain. Buat standar sukses kita sendiri. Buatlah standar sukses dari yang paling kecil.
Jika kita sudah berhasil memaknai hal-hal kecil tersebut, alirkan energi positif yang kita dapat untuk membuat standar sukses yang lebih besar. Semakin besar energi positif yang kita kumpulkan, maka semakin berlimpah pula kebahagiaan yang kita rasakan.

Begitulah sukses dan bahagia dari kacamataku, bagaimana denganmu, pals?
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

5 comments

  1. Kata-katanya memotivasi banget, kebahagiaan lewat kesuksesan itu memang semu. Drama Sky Castle keren ceritanya, saya juga nonton.

    ReplyDelete
  2. Acungkan tangan yang nonton Sky Castle! Aku! Bener banget kesuksesan tidak sekadar harta dan takhta, talenta dan cinta juga bisa.

    ReplyDelete
  3. Ini nih sekarang juga masih banyak yang kayak drama sky castle, dibandingin sama anak tetangga biar lebih baik. Modelnya saingan dan saling mengejek gitu kalau anaknya lebih unggul.

    ReplyDelete
  4. Gengsi dan harga diri jadi patokan untuk sukses padahal itu seperti mengekang diri sendiri. Kayak anak hanya akan sukses kalau juara 1 di sekolah, padahal bukan seperti itu.

    ReplyDelete
  5. Kesuksesan itu sederhana bukan tentang uang, tetapi kita yang senang. Bagus materinya.

    ReplyDelete

Post a Comment