Kampus Biru, Saksi Mata Sebuah Cerita

  • Saturday, January 21, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 16 Comments



Hi, pals. Malam minggu yang basah nih di kotaku, bagaimana dengan di kotamu? Hari ini masih akan berkutat dengan tantangan dari Kampus Fiksi untuk menulis satu hari satu tema, kali ini akan kukisahkan sebuah drama tentang aku dan dia.

***

Kampus biru itu membawa selaksa cerita antara aku dan dia. Sebuah kampus yang bukan impian, nyatanya membawaku pada kisah-kisah yang tak pernah kusangka. Dan dari kisah demi kisah di kampus itu mengantarkanku pada apa yang kujalani sekarang.

Dia, laki-laki di ujung senja.

Aku mengenalnya dari seorang teman. Dari seorang teman pula aku mengenal teman lainnya, sebut saja E,yang kemudian aku tahu bahwasanya E ini memiliki hubungan aneh dengan dia. Aneh? Ya, aneh. Dia pernah menawarkan bunga pada si E, namun bunga itu ditepis oleh E. Dia pun mundur teratur. Bagi dia, hanya ada satu bunga untuk satu wanita, sekalinya ditepis maka tak akan ada bunga yang ditawarkan lagi.


Singkat cerita, E menyesali keputusannya karena tak menerima bunga yang ditawarkan oleh si dia. Dia tetap kukuh pada prinsipnya, tak akan ada bunga yang lain. Namun sekedar berbincang dan menyeduh kopi bersama tak ada salahnya. Begitulah, hubungan antara E dan dia terjalin. Tak ada ikatan jelas. Semakin mengenal  dan dekat dengan dia, E semakin tahu bahwa ada rasa yang semakin besar tumbuh. Sayang, dia masih tetap abu-abu, tak ada lagi bunga, namun perbincangan dan kopi hangat membawa secercah harapan bagi E.

Beberapa kali aku diajak temanku menemui E. Dari situlah aku tahu kisah antara E dan dia. Aku penasaran sekali seperti apakah dia yang memiliki prinsip sesombong itu. Ya, sombong. Pernah menawarkan bunga pada seorang gadis yang kemudian ditepis, namun dia tidak menjauh hingga kemudian si gadis luluh. Ketika si gadis luluh justru bunga yang diidam-idamkan tak kunjung diberikan lagi, namun tak jua ada pemberitahuan yang terang bahwasanya tak akan ada lagi bunga untuknya. Membiarkan sang gadis menunggu-nunggu tanpa pasti.

Di suatu siang yang terik, aku berjalan bersama temanku dan E. Tak disangka ada dia di sana. Itulah saat pertama aku bertemu dia. E menemuinya dan aku hanya menatap mereka dari kejauhan, sambil bergumam, “aah, ini to orangnya yang gak jelas itu. Kirain seganteng apa, gitu doang aja sombong banget.” Ya, itulah gumamanku saat itu. Kunilai dia dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan aku cuma bisa bilang, dia itu enggak banget.

Kalender menggulung hari menjadi minggu, kemudian menjadi bulan. Nampaknya E mulai merasa penantiannya tak akan ada artinya. Bunga yang dinanti akan ditawarkan kembali sepertinya tak akan pernah ada. Di saat batang hidung E mulai tak sering muncul, aku justru semakin intens bertemu dengan dia. Tidak sendirian. Tidak sengaja pula. Ada banyak orang, Aku yang saat itu sedang jenuh dengan rutinitasku di salah satu organisasi kampus merasa butuh suasana baru. Temanku kemudian yang sering mengajakku serta ke sebuah organisasi yang ternyata saat itu dipimpin oleh si dia. Sebuah organisasi yang sering kutertawakan karena aku merasa masa-masa kuliah sudah nggak penting lagi ada organisasi itu.



Pertemuan demi pertemuan terjalin. Perbincangan demi perbincangan  hangat hadir. Aku menikmati pertemanan-pertemanan baru itu. Aku yang biasanya terkungkung dengan orang-orang itu saja di organisasi yang kujalani, begitu senang bertemu dengan orang-orang baru. Mereka cukup ramah dan menyambutku dengan baik. Dari situ pula aku semakin sering berbincang dengan dia.

Semakin sering bertukar pikiran dengannya, aku tahu kini kenapa E menyesali menepis bunga yang ditawarkan dia untuknya. Well, mungkin dia tak sekeren kapten Yo, Wang So, Hong Ji Hong, Kang Chul, Kim Shin, Heo Joon Jae, apalagi Kim Je Ha yang merupakan 7 karakter dalam drama korea yang pantasdijadikan kekasih idaman, tapi dia punya sisi unik yang membuatnya menarik. Sisi unik itu mungkin yang membuatnya banyak memiliki ‘adik perempuan’ di kampus. Setiap hari selalu ada saja ‘adik perempuan’ yang datang menemuinya untuk sekedar berbincang ringan atau curhat ini itu.

Dia dan teman-temannya juga suka sekali menggodaku, nyomblangin aku dengan si A gegara kami sama-sama pakai kaca mata dan suka puisi.  Aah, risi sekali aku dicomblang-comblangin sama si A. Benar-benar tidak selera. Pernah suatu hari, dia bertanya, memangnya seperti apa tipe cowok yang aku suka. Aku lupa bagaimana jawabanku secara lengkap, yang kuingat aku menjawab aku suka cowok yang bisa main gitar. Dia menceletuk, “aku bisa main gitar.”

Suatu hari teman-teman baru itu mengajakku untuk menghadiri sebuah acara. Aku tak menolak tawaran itu. Bersama salah seorang sahabat, kami bergabung dan ikut serta di acara itu. Kami pergi berbonceng-boncengan. Aku dapat jatah berboncengan dengan si dia. Aku masih ingat dia membawa si merah, motor tua yang nantinya akan menjadi saksi kisah demi kisah tawa dan airmata. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita. Tiba-tiba dia memisahkan diri dari rombongan dan mengajakku menepi di sebuah jembatan tol. Malam bergulir, hanya cahaya lampu yang menerangi temaramnya jembatan itu.



Siapa yang sangka malam itu sebuah bunga disodorkannya kepadaku. Aku terhenyak. Bunga. Aku tak menduganya, setidaknya bukan saat itu, tidak secepat itu. Namun kemudian aku ingat sebuah prinsip yang dipegangnya; hanya ada satu kali kesempatan dan satu bunga untuk seorang wanita yang dipilihnya. Jadi jika saat itu aku menghempaskan bunganya, tak akan ada kesempatan lain. Bagaimana jika kemudian aku berkubang dalam rasa sesal seperti E jika aku menepis bunga itu? Aah apa salahnya dicoba, pikirku kemudian. Serius atau tidak biarkan waktu yang menjawabnya. Dan bunga itu pun kuterima.

17 April 2004. Aku masih mengingatnya sangat baik. Hari di mana ada janji yang bahkan saat itu mungkin kami sendiri tak yakin akan bisa terus menggenggamnya. Kisahku dan dia tak sempurna. Kami seringkali berselisih, saling menghunus belati ke hati masing-masing, namun kemudian kembali bermain balon warna-warni bersama. Kami juga sering tertawa, lalu di suatu waktu menangis bersama. Kalau kata anak sekarang, kami nggak banget lah untuk jadi relationship goal.

Setiap sudut di kampus biru menjadi saksi berapa banyak sumpah serapah, air mata juga rindu sayang yang tertumpah. Perselisihan demi perselisihan selalu mewarnai perjalanan kami. Dari kecemburuanku terhadap E karena menurutku dia tak pernah jelas dan menggantungkan hubungan mereka. Juga karena dia tak pernah berani menyatakan hubungan kami kepada E. Hingga aku yang keras kepala dan seringkali tak mendengarkan pendapatnya tentang orang-orang di sekitarku yang membahayakan diriku. Dari ketakpercayaanku padanya hingga kelelahannya menghadapi keanehanku. Aah, hubunganku dan dia entah berapa kali siap kandas diterjang badai.



Namun jika Tuhan sudah menitahkan malaikatnya untuk menurunkan dan menjaga cinta, maka tak ada yang tak mungkin. 16 Maret 2008, janji yang lebih sakral diucapkan. Kini bukan hanya antara aku dan dia, namun juga antara kami dan Tuhan. Sebuah janji  yang mengguncang langit. Namun apa kisah kami telah berakhir indah di titik itu?

Tidak. Angin justru semakin kencang menggoyahkan pertahanan kami. Sepertinya bertikai telah menjadi nafas bagi kami. Hingga sebuah tornado hampir melenyapkan mimpi demi mimpi. Namun dengan sekuat tenaga, dia mampu meluruskan kembali kapal ke arah yang benar hingga tak karam. Meski waktu pernah menjadi saksi tentang kisah yang hampir koyak, namun waktu pula yang menjadi obat untuk segala rasa sakit.

Badai dan ombak yang meninggalkan luka di hatiku juga hatinya justru semakin menguatkan genggaman kami. Dan bersamanya, aku semakin mengerti dan bisa melihat hidup dari sisi-sisi yang lain. Bersamanya, aku belajar menjadi dewasa.  Dengan dia pula aku harap bisa menua bersama.

Dia kini tidak hanya sigaraning nyawa bagiku… namun juga ayah dari anak-anakku. Dia yang dulu seringkali ingin kulepaskan, kini telah menjadi sosok yang ingin terus kutemukan tiap kali aku membuka mata. Dia yang akan selalu ada di setiap ujung senjaku.


Semoga inilah happy ending untuk kisahku dengannya.

***

Begitu deh kisah pertemuanku dengan si dia, kalau kamu gimana ceritanya? Bisikin dong ke aku, hehe. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kita selamanya ya. Sampai jumpa di postingan #10DaysKF berikutnya!


*Catatan perjalanan menuju tahun kesembilan bersamanya

You Might Also Like

16 comments

  1. Kereeeen ceritanya mba maritaaaa.. aaih, senangnyaaa.. awet & langgeng terus ya mbak maritaa..

    ReplyDelete
  2. Baper maksimal mba. Belum nemu nih yg mau ngasih bunganya x))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat semoga segera dipertemukan dengan sang pembawa bunga :)

      Delete
  3. so sweet..romantis ya kasih bunga..kalau misuaku sukanya bawa kue..mungkin lihat tampangku yg suka makan...aih bagus mbak ceritanya ketemu sigarane nyowo

    ReplyDelete
  4. Baper nih. ^_^ Berkesan banget ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bertemu sigaraning nyawa ya pasti berkesan mbak :)

      Delete
  5. Baca punya orang2 kok romantis2 ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak romantis2 banget sih, akunya yg lebay nulisinnya kayae hihi

      Delete
  6. Duh, romantis banget, Mbak? Bagus tuh kalau dijadikan cerita. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiaah.. Aku lebay deh kayanya jd terkesan romantis, wkwkwk

      Delete
  7. Serasa ikutan baperrr hehehe. Kampus biru bagiku juga punya ribuan cerita tentang seseorang. Baca ini jelas jadi makin dan makin baper :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Jangan kebanyakan baper mbak, nanti laper hehe

      Delete
  8. Oohh....sooo sweeeettt....
    Semoga bahagia selalu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin. Terima kasih :) Doa yang sama untukmu juga mbak Muna :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com