Mendung di Sembungharjo (1)


Bagian 1 - Mayat Dara


Kampung Sembungharjo yang biasanya begitu damai dan tenang, pagi itu sangat sesak dan gaduh. Ditemukan potongan mayat pada bantaran sungai yang mengalir di belakang kampung tersebut. Pak Wage, petugas pengambil sampah dari rumah-rumah warga yang menemukannya. Kehebohan semakin menjadi ketika mayat itu tidak hanya ditemukan dalam sepotong, namun lebih dari lima potong. Mutilasi!

Polisi segera dihubungi oleh Pak Dadan, Ketua RT dari Kampung Sembungharjo. Polisi menyisir lokasi dengan sangat teliti. Ditemukan 12 potongan mayat usai dua jam penyisiran yang dilakukan oleh petugas berseragam cokelat, beberapa mengenakan rompi hitam. Mayat pun segera diamankan oleh pihak berwajib untuk diautopsi. Sementara itu di benak warga kampung mulai muncul prasangka-prasangka. Menduga-duga mayat siapakah itu.

Tanpa perlu menanti lama, polisi akhirnya memberikan kabar. DARA. Ya, tubuh yang telah terpotong menjadi 12 bagian itu ternyata milik Dara. Kampung Sembungharjo kembali gaduh. Kasak-kusuk mulai terdengar. Menduga-duga sebab kematian dan siapakah orang yang tega mengakhiri hidupnya. Sebuah nama santer diucapkan sebagai tersangka. Bukan tanpa sebab jika nama itu yang terucap pertama kali, hampir oleh semua orang di kampung ini.

ilustrasi diambil dari beritasatu.com

Pada akhirnya sebuah nama itu sampai juga ke telinga para petugas kepolisian. Setelah berdiskusi dengan Pak Dadan, beberapa petugas tanpa pakaian seragam mendatangi rumah yang diduga sebagai pelaku pembunuhan Dara. Seluruh warga mengerubungi rumah perempuan setengah baya itu bagaikan lalat mengerubungi makanan. Sepertinya mereka tak mau ketinggalan momen-momen penting ditangkapnya si pelaku pembunuhan.

“Nggak nyangka ya. Dara emang nyebelin sih, tapi masa ya sampai dibunuh begitu.”

“Ternyata bukan cuma mulutnya saja yang kejam ya, psikopat juga tuh orang.”

“Aduh, malu-maluin suami saja ya. Padahal suaminya barusan naik jabatan lo di kantornya.”

Riuh prasangka muncul ke permukaan. Sepertinya semua warga sudah sepakat bahwa pembunuh Dara pastilah perempuan setengah baya itu. Padahal belum ada penyelidikan, juga fakta yang jelas. Namun begitulah asumsi seringkali lebih dipercayai. Kegaduhan pada waktu pagi yang mulai merangkak siang di Kampung Sembungharjo semakin menjadi. Perempuan yang diduga sebagai pembunuh Dara meraung-raung.

“Bukan aku pelakunya. Bukan aku… Mas, tolong mas.. bukan aku…” Tangan perempuan itu mencoba menggapai tubuh suaminya. Meminta pertolongan. Sementara sang lelaki yang dimintai pertolongan hanya bisa mematung. Wajahnya pasi. Tak menyangka istrinya terlibat dalam sebuah kasus kriminal.

“Silakan dijelaskan di kantor ya Bu Firda. Mari ikut kami dulu.” Dua orang reserse menggamit kedua tangan perempuan setengah baya. Menuntunnya menuju mobil sedan bertahtakan POLISI di badannya.



Post a Comment

5 Comments

  1. Aduh ngeri sekali ya Mbak, tega sekali yang melakukan hal tersebut.

    ReplyDelete
  2. Suami mana cobak yang menyangka jika istrinya melakukan hal seperti itu ya Mbak.

    ReplyDelete
  3. Bagus banget Mbak ceritanya, ditunggu kelanjutan kisahnya hehe.

    ReplyDelete
  4. Kasian banget ya Mbak Dara nya hehe, gara-gara nyebelin sampai harus dibunuh.

    ReplyDelete
  5. Sepertinya seru nih ceritanya hehe, saya tunggu kelanjutannya ya Mbak.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com