Mendung di Sembungharjo (3)



Bagian  3 - Siapa Dara?

Awalnya Kampung Sembungharjo begitu tentram. Meski antar warganya disibukkan dengan urusannya sendiri-sendiri, namun tidak banyak konflik terjadi. Khas kehidupan orang-orang moderen; hidupku hidupku, hidupmu hidupmu. Mereka hanya saling menyapa seperlunya. Berkumpul hanya di waktu-waktu tertentu; arisan, halal bihalal atau pun saat belanja di tukang sayur keliling. Namun ketentraman itu terusik sejak kehadiran Dara di tengah-tengah mereka.

Inayati, kakak perempuan Dara, sebenarnya merupakan warga lama di kampung tersebut. Sosok cantik yang suaranya lembut dan jarang keluar rumah itu hidup berbahagia dengan suami dan ketiga anaknya. Namun semenjak Dara tinggal bersamanya, Inayati semakin sering keluar rumah. Mungkin enggan berkonflik dengan adik satu-satunya.

Awal kehadiran Dara di rumah Inayati, semua warga berkasak-kusuk. Bagaimana tidak? Penampilan Inayati dan Dara sangat berbeda. Jika mereka disandingkan bersama, tak akan pernah ada yang menyangka kalau mereka saudara sekandung. Inayati adalah sosok perempuan berkulit putih, tubuhnya tak terlalu tinggi dan badannya kecil. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Orang yang mengenalnya pertama kali pasti tak akan menyangka kalau anak tertua Inayati sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Sosok Dara berkebalikan 180 derajat dengan kakak perempuannya itu. Tubuhnya tinggi besar, suaranya menggelegar, dan kulitnya gelap. Rasa-rasanya tak cocok menjadi adik dari Inayati. Bahkan pernah ada celetukan dari seseorang, “Mungkin Dara iku anaknya genderuwo!” Tentu saja tak ada yang pernah tahu fakta sebenarnya. 

Meski konon cerita dari orang-orang tua, genderuwo itu bisa saja menjelma menjadi laki-laki. Lalu pergi menemui istri dari sosok jelmaannya dan diajak bersetubuh. Tentu saja sang istri tak akan pernah menyangka kalau laki-laki yang berhubungan dengannya adalah genderuwo. Dari hasil hubungan manusia dan genderuwo ini bisa lahir anak-anak genderuwo. Katanya anak-anak hasil hubungan dengan genderuwo berpostur tinggi besar dan berkulit hitam. Lalu apakah Dara anak genderuwo? Entahlah.




Sejak Dara tinggal bersama Inayati, warga Sembungharjo sudah mulai merasakan keanehan-keanehan perilakunya. Ia seringkali duduk di bangku depan rumahnya, memegang telepon di telinga dan bercakap-cakap dengan suara yang menggelegar. Percakapan via telepon itu seakan-akan sengaja diperdengarkan pada para tetangga. Pamer. Sayangnya nggak ada satu orang pun yang menanggapi hal tersebut.

Usut punya usut di kemudian hari, barulah terkuak fakta kalau sebenarnya Dara hanya pura-pura sedang teleponan dengan orang. Wong halu. Sebutan baru ditujukan pada Dara. Fakta yang terbongkar itu semakin menguatkan kalau gadis berkulit hitam itu orang yang suka berhalusinasi. Mempunyai imajinasi yang liar dan aneh atas kehidupannya. Padahal kenyataannya berbeda bagaikan bumi dan langit.

Keluarga Bu Sumi, ibunya Inayati dan Dara, katanya dulu adalah orang yang cukup berada di daerah asalnya. Namun ketika suaminya bangkrut, hidupnya kembali ke titik nol. Sayangnya Bu Sumi dan anak-anaknya, terutama Dara, belum siap dengan keadaan tersebut. Mereka masih merasa sebagai orang kaya. Maka tak heran jika perilaku mereka seringkali masih menunjukkan ketinggihatian.

Dua tahun setelah Dara tinggal bersama Inayati, sebuah berita terdengar di telinga warga. Awalnya hanya berupa kasak-kusuk antara seorang dua orang, namun lama-lama semakin santer ke seluruh kampung. Dara hamil tanpa suami! Lalu siapa ayah dari anak yang dikandungnya? Tak ada satu pun yang tahu.

Warga kampung Sembungharjo seperti biasa hanya mengawasi dalam diam. Tak mau ikut campur. Namun beberapa pasang mata semakin sinis menatap Dara. Mencoreng nama kampung. Perilakunya bisa mendatangkan bala bagi kampung yang dulunya tentram ini. Beberapa warga mulai mendekati Pak Dadan, sang ketua RT, memintanya untuk mengusir Dara keluar kampung. Namun demi menghormati keluarga Inayati yang selama ini tak memiliki masalah dengan warga, akhirnya hal itu diurungkan.

Sembilan bulan berlalu, Dara pun melahirkan bayi laki-laki. Warga berharap kelahiran anak laki-lakinya bisa mengubah perilaku Dara. Nyatanya malah semakin menjadi. Tak hanya halu, perilakunya kadang tak sejalan dengan usianya. Dara itu bagaikan anak berusia lima tahun yang terperangkap dalam tubuh 27 tahun. Itulah yang jadi alasan kenapa para warga malas menegur perilaku tak lazimnya. “Percuma diomongi, wong cah rak genep." (Percuma dinasehati, karena dia orang yang kelainan mental.)

Begitulah, sejak hari itu omelan, ocehan dan teriakan Dara menjadi makanan sehari-hari untuk warga Sembungharjo. Sekali dua kali mungkin masih dimaklumi. Namun jika setiap hari, tentu saja ada beberapa warga yang mulai gerah. Salah satunya Firda. Apalagi dengan sifatnya yang memang emosian dan mulutnya yang penuh bisa, mana bisa ia tahan dengan perilaku Dara. 

Firda adalah satu-satunya orang yang getol mengompori para tetangganya untuk menyuruh Pak Dadan mengusir Dara dari Sembungharjo. Bagaimana dengan warga lain? Mereka pun sebenarnya jengah dengan kelakuan Dara, namun masih ada sedikit tak enak di hati, ewuh dengan keluarga Inayati, kakak perempuan Dara. Jadilah mereka berusaha menahan diri sebisa-bisanya. Hal inilah yang membuat Firda jengkel dengan para tetangganya. “Cih, kalian beraninya cuma ngomong di belakang!”

Post a Comment

0 Comments