Mendung di Sembungharjo (4)



Bagian 4 - Benarkah Firda Sang Pembunuh?


“Lalu apa yang terjadi setelah kalian beradu mulut?” Tanya petugas reserse kepada Firda.

“Nggak ada apa-apa, Pak. Dara ditarik masuk sama ibunya. Saya ya nglanjutin kerjaan. Nganterin anak sekolah, masak, bersih-bersih rumah seperti biasanya.” Firda menjelaskan dengan suaranya yang sedikit bergetar. 

“Semua warga berasumsi Bu Firda yang membunuh Dara, apa benar?”

Firda segera menggelengkan kepalanya dengan kencang, berulangkali. Ia yakin bukan dia pelaku pembunuhan. Mulutnya memang berbisa, tapi dia tak segila dan seberani itu hingga menghabisi nyawa orang lain. “Bukan saya, Pak. Saya memang nggak suka sama Dara. Tapi bukan saya.”

“Lalu menurut ibu, siapa yang pantas menjadi pembunuhnya?” Reserse itu menghujamkan pertanyaan yang membuat Firda kelabakan. Manalah ia tahu siapa pembunuh Dara. Ia hanya kenal Dara sebatas perilakunya yang menyebalkan, tak tahu lingkaran pertemanannya.

“Nggak tahu, Pak. Saya benar-benar nggak tahu. Yang saya tahu banyak orang nggak suka dengan Dara, tapi hanya berani bilang di belakang.”

“Dari hasil informasi yang kami dapat, Dara sudah menghilang sejak tiga hari lalu. Itu artinya sejak kalian beradu mulut. Ke mana saja ibu tiga hari ini?”

Pelipis Firda basah. Bulir-bulir keringat menetes. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia mengingat sebuah peristiwa yang tak seorang pun tahu, bahkan suaminya. Haruskah ia menceritakannya pada petugas. Bagaimana jika hal itu justru semakin menguatkan dugaan bahwa ia adalah pelaku pembunuhan?

Ingatannya terlempar pada kejadian tiga hari yang lalu. Siang hari setelah paginya ia menyemprot kebisingan yang disebabkan Dara, Firda dalam perjalanan pergi menjemput anak bungsunya. Di tengah perjalanan, ia melihat sosok tinggi besar berkulit hitam yang sangat dikenalnya, Dara. Sedang berjalan dengan langkah khasnya, menggandeng Pandu, anak laki-lakinya yang berumur empat tahun.

Firda yang jengkelnya belum hilang sedari pagi, semakin jengkel melihat Dara dan anaknya. Dengan sengaja ia menyerempet mereka hingga terjatuh ke sungai. Firda terkekeh melihat mereka terjatuh. Dari kaca spion, ia melihat Pandu tampak sedang membantu ibunya untuk keluar dari sungai. Firda sendiri merasa hal itu tak mungkin membahayakan mereka. Musim kemarau begini, sungai hampir kering, tak ada airnya.

“Ibu menyerempet orang? Itu tindakan kriminal lo, Bu!” Reserse itu berkata dengan suara yang semakin tinggi dari sebelumnya. Tak habis pikir dengan tindakan Firda. 

“Tapi saya yakin Dara dan anaknya nggak apa-apa, Pak. Buktinya pas saya pulang dari jemput anak bungsu saya, Pandu sudah main-main sama anak tetangga yang lain. Berarti kan ibunya anak itu juga nggak kenapa-kenapa.” Firda membela dirinya sekuat tenaga. Ia yakin dengan sangat perbuatan isengnya tak mencelakai orang lain.



“Ini pisau ibu? Kami menemukannya di pinggir sungai saat menyisir lokasi ditemukannya potongan-potongan mayat Dara tadi pagi.” Reserse berkumis lebat itu menunjukkan pisau dengan ukuran besar, bergagang kayu dengan warna cokelat. Firda mengenalinya. Itu benar pisau miliknya. Ia biasa memakai pisau itu untuk memotong daging. Bagaimana bisa ada di pinggir kali dan sampai di tangan reserse?

Firda mencoba mengingat hal-hal apa saja yang dilakukannya selama tiga hari ini. Tapi sungguh tak ada satu pun rekaman di otaknya tentang pembunuhan. Lagi pula ia tak seberani itu, sungguh. Mulutnya saja yang pedas, namun ia tak segila itu. Reserse semakin menyudutkannya dengan banyak pertanyaan. Dan entah kenapa ia tak sanggup menyangkal. Karena setiap kali ia menyanggahnya, reserse punya bukti-bukti lain yang semakin membuatnya semakin terpojok.

Kepala Firda sakit mendengar rentetan pertanyaan reserse yang tak ada habisnya. Air matanya tumpah. Suaminya tak kunjung datang, sepertinya benar-benar tak mau lagi berurusan dengannya. Pikirannya melayang kepada anak-anaknya. Bagaimana nanti si sulung kalau pulang dari luar kota tak menemui ibunya, si tengah dan si bungsu yang tak pernah jauh darinya. Lalu pikirannya melayang-layang, tergambar tatapan-tatapan sinis para tetangganya. Beberapa di antaranya terbahak melihat kekalahannya. 

Firda semakin sempoyongan. Ia tak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Apa jangan-jangan benar ia yang membunuh Dara? Sungguh ia tak ingat apa-apa lagi. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, tiba-tiba ia ingat sepotong adegan. “Bu, saya boleh pinjam pisau dagingnya? Mau masak rawon, tapi kok nggak punya pisau yang landhep (tajam).” Tergambar olehnya sesosok perempuan muda dengan kerudung birunya yang rapi. Senyum khasnya yang ramah. Perempuan itu….

Tubuh Firda semakin gemetar. Kini bukan hanya kepalanya yang sakit. Dadanya pun kini begitu sakit. Ia tak kuat menahannya. Tak lama kemudian, Firda jatuh tersungkur ke lantai ruang interogasi.

Post a Comment

0 Comments