Mendung di Sembungharjo (2)



Bagian 2 - Ada Apa dengan Firda?


Interogasi dimulai. Firda yang selama ini dikenal sebagai sosok perempuan dengan mulut berbisa kini hanya mampu terdiam. Badannya gemetar. Ia mempermainkan jari-jemari, menghilangkan rasa gugup dan ketakutan yang menyerang. Sungguh ia sama sekali tak menyangka bisa terseret dalam sebuah kasus pembunuhan.

Mulutnya memang berbisa. Bahkan kalau seluruh warga Kampung Sembungharjo ditanyai siapa saja pernah tersakiti karena perkataan Firda, mungkin hampir semuanya akan mengacungkan jari. Sosok Firda tidak tinggi, badannya kecil dan cukup ideal untuk ukuran usianya. Namun sekali mulutnya bersuara, dari ujung ke ujung kampung bisa mendengarnya.

Petugas dengan badan yang tegap dan kumis lebat di hadapan Firda semakin menciutkan nyalinya. Otaknya benar-benar tak bisa berpikir saat itu. Berharap suaminya hadir di sini dan bisa memberikan perlindungan. “Sekali lagi kamu buat masalah dengan orang, aku tak mau lagi bantu kamu. Jangan pernah lagi bikin aku malu!” Kalimat tegas suaminya beberapa bulan lalu tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga. Menyadarkan Firda pada satu hal, bahwa sepertinya hari itu ia harus bertarung sendiri.

“Bu Firda, Anda kenal dengan Dara?”

Firda mengangguk perlahan. Kali ini di benaknya terbayang sosok gadis berkulit hitam yang setiap hari membuat kesabarannya habis. Masih diingatnya dengan jelas percakapan terakhirnya dengan Dara. Kalau tak salah ingat tiga hari lalu. Ya, benar. Pagi itu seperti biasa penuh dengan kesibukan. Begitu juga seluruh warga Kampung Sembungharjo. Ada yang sibuk mempersiapkan anak-anaknya sekolah. Ada yang sibuk mengantarkan suaminya pergi bekerja hingga di depan gerbang rumah. Ada pula yang sedang sibuk menawar harga sayuran yang dijajakan oleh tukang sayur keliling.

“Aku tuh wes emoh (nggak mau lagi) mendengar omongan ibu ya! Selalu aku sing diseneni (yang dimarahi), selalu aku yang disalahkan. Males aku di rumah. Mau minggat saja rasanya.”




Sudah jadi rahasia umum di Kampung Sembungharjo ketidakakuran Dara dengan ibu dan kakak perempuannya. Teriakan-teriakan Dara sudah menjadi makanan sehari-hari. Perilaku Dara yang seringkali keterlaluan hanya dianggap angin lalu oleh hampir semua warga. Antara cuek atau sudah malas menanggapi. Mau menegur, tapi bukan urusan mereka. Jadilah perilaku tak lazim Dara telah menjadi kelaziman. Namun tidak buat Firda, menurutnya Dara harus dibumihanguskan.

“Heh, kamu tuh nggak punya kerjaan lain to? Pagi, siang, sore, malam… kerjaannya kok padu (bertengkar) terus. Kalau nggak sama ibumu, sama mbakmu. Berisik tahu nggak? Mau padu terserah, tapi nggak usah sampai banting pintu dan teriak-teriak sampai orang sekampung dengar!”

Dara yang mendengar omelan Firda hanya melengos. Terdengar suara yang dipelankan, “Cerewet…” Firda yang mendengar makian Dara kepadanya segera menarik baju Dara, “Ngomong apa kowe (kamu)? Mbok pikir kamu nggak cerewet? Cerewetmu meneh ki mengganggu orang sekampung. Mereka cuma berani ngomong di belakang, karena nggak enak sama mbakmu! Kamu tuh cuma numpang, tapi kerjaannya bikin ribut setiap hari. Minggat saja beneran, nggak bakal ada yang nyariin kamu!”

Bu Sumi, ibunya Dara tergopoh-gopoh keluar rumah ketika mendengar anaknya diomeli Firda. Ditariknya tangan Dara dan dipaksanya masuk ke dalam rumah. Bu Sumi tidak menghiraukan kehadiran Firda. Ini bukan kali pertama perempuan bermulut bisa itu melabrak Dara. Bahkan setahun lalu Bu Sumi pernah menghadapi ocehan Firda secara langsung. Nggak tanggung-tanggung, sampai didatangkan Ketua RT, Pak Dadan, sebagai mediator. Semenjak itu Bu Sumi tidak mau lagi berurusan dengan Firda. Walau kalau harus jujur, ocehan perempuan yang nyelekit (menyakitkan hati) itu kadang ada benarnya juga. Namun seburuk-buruknya Dara tetaplah anak yang harus dijaga dan dilindungi.

Post a Comment

0 Comments