MaritaPalace

Gilang Maulani: Penulis Muda Berbakat Calon Mantu Idaman

profil gilang maulani, sang penulis muda berbakat
Sudah pernah mendengar nama Gilang Maulani? Jangan mengaku pembaca setia blog ini kalau kalian nggak ngerti nama tersebut ya. Buat yang sudah baca artikel tentang BRTnetwork, seharusnya begitu mendengar nama tersebut, setidaknya kalian sudah merasa familiar dong. 

Di artikel tersebut kan aku pernah berbagi tips fotografi dari sosok perempuan muda cantik nan berbakat ini. Iyess, bener banget, mbak yang nama tenarnya Gemaulani itu lo! Alhamdulillah kalau masih ingat, berarti kalian benar-benar pembaca setiaku, pals. Hehe.

Postingan kali ini masih dalam episode kenal lebih dekat dengan para coach dari kelas Growthing. Setelah belajar banyak hal dari mbak Monica Anggen dan mas Pewe, kali ini saatnya kita todongkan pertanyaan kepada mbak Ge.

7 Hal Tentang Gilang Maulani

Para coach kelas Growthing ini memang banyak menggugah rasa penasaran, jadi ya wajar kalau ada saja pertanyaan yang kuajukan kepada mereka. Sama halnya ke coach lainnya, aku pun mengajukan 7 pertanyaan kepada mbak Ge. Mau tahu 7 pertanyaan yang kuajukan kepadanya? Hayuuk…

fakta tentang gemaulani

1. Awal Mula Menulis

Buat yang sudah membaca artikelku sebelumnya yang mengulas secara singkat mbak Ge, pasti kalian tahu dong kalau mbak Ge ini sudah punya 1 buku solo dan 20an buku Antologi. Nah, kalau sama penulis tuh kepoku pasti nggak kreatif. Aku selalu penasaran awal mula mereka tertarik di dunia tulis-menulis, begitu juga dengan mbak Ge.

Sebagaiman penulis lainnya, mbak Ge sudah suka menulis sejak SD. Meski saat itu baru dalam level menulis diary. Sementara untuk tahapan menulis cerita, mbak Ge memulainya sejak SMP. Bahkan doi pernah membuat naskah drama sendiri untuk kelasnya, dan ditampilkan saat kelulusan. Daebaak!
Yang membuat saya tertarik ke dunia literasi karena awalnya ingin mengutarakan apa yang saya rasakan tapi secara tidak langsung, karena saya anaknya pemalu. Jadi saya selipkan (pemikiran tersebut) pada tokoh yang saya ciptakan.
Itulah pernyataan yang disampaikan mbak Ge waktu aku menanyakan tentang alasannya menyukai dunia literasi. Buat pegiat literasi, ada yang punya alasan sama dengan mbak cantik ini nggak?

2. Dukungan dan Pola Pengasuhan Orang Tua

Fyi, usia mbak Ge saat ini 27 tahun dan karyanya seperti yang kusebutkan di poin pertama. Banyak kan? Aku aja seusia mbak Ge baru mulai nyemplung di dunia penulisan, wkwk.

Melihat anak muda yang sudah mengenal passion-nya dengan baik selalu menggugah penasaranku bagaimana sih pola asuh orangtuanya di rumah. Maklum sebagai orangtua, aku kan juga ingin anakku sejak usia muda sudah tahu siapa dirinya dan pengen jadi apa gitu. Ya kali ada yang bisa ditiru dari pola asuh orangtuanya mbak Ge.

Nah, menurut mbak Gilang Maulani, bisa dibilang orangtuanya tidak berperan dan memfasilitasi secara langsung. Bahkan sampai saat ini bapak mbak Ge tidak tahu apa yang doi kerjakan. Namun jika ada yang berperan secara tidak langsung, maka  lebih ke mamanya.

Mbak Ge bercerita kalau sang mama sejak kecil memberikannya buku diary yang banyak, lalu sering membacakan cerita sebelum tidur. Selain itu mamanya juga memberikan bahan bacaan yang sudah tidak terpakai dari sekolahnya. Eeeh, sang mama guru ya ternyata? Toss dulu kita mbak Ge…

Dari kebiasaan yang dibangun sang mama inilah menjadi semacam stimulus bagi mbak Ge berimajinasi untuk menjadi penulis dan punya buku sendiri yang mejeng di toko buku. Katanya impian melihat buku sendiri mejeng di toko buku sampai saat ini belum kesampaian. Yuk, kita doakan mbak Ge biar impiannya segera terwujud. Aamiin.

3. Wejangan Dari Anak Muda Untuk Anak Muda

Di luar sana banyak anak muda yang masih belum paham potensinya apa, nggak tahu harus berkarir/ berkarya di bidang apa. Bahkan kadang jurusan kuliah pun diarahkan/ dipilihkan orangtuanya. Aku jadi kepengen mbak Gemaulani berbagi tips tentang menggali potensi dan bagaimana mengembangkannya. Ya, siapa tahu ada anak muda atau orangtuanya anak muda yang baca blog ini, biar bisa terinspirasi gitu.

Komentar pertama yang diajukan mbak Ge terkait pertanyaan ku ini;
Wah ini pertanyaan berat, karena saya sendiri suka dunia merangkai kata ini sejak kecil, jadi lebih ke saya menuruti apa yang saya sukai, dan bisa saya lakukan tanpa beban.
Aah, jadi intinya menemukan potensi adalah dengan mencari hal-hal yang disukai, pals. Kuy, yang merasa belum tahu passion dan mau berkarya di bidang apa, tanya ke dalam diri sendiri apa sih yang benar-benar disukai dan bikin mata berbinar.

Berikut tips lengkap dari mbak Ge:
  • Mengumpulkan semua hal atau kegiatan yang disukai (yang positif ya maksudnya, dalam artian tidak berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain)
  • Dari kegiatan-kegiatan tersebut, dipilih lagi. Mana yang paling disukai dan bisa dikerjakan/dilakukan tanpa beban. Jadi sekalipun pilihannya itu menemui jalan yang terjal, berliku-liku, banyak tantangannya, kita bakal tetap enjoy aja untuk terus mencari jalan keluar dalam menghadapi tantangan tersebut. Selain itu dari dalam hati juga pikiran pun jadi semacam ada dorongan "saya sudah pilih jalan ini, saya harus buktikan kalau saya bisa walaupun orang lain tidak mempercayainya."
  • Agar berkembang, jangan berhenti untuk terus mempelajari bidang yang akhirnya dipilih.
  • Menjalin networking dengan cara mencoba berbaur dengan teman/ orang yang satu lingkungan supaya ilmu tentang potensi yang dipilih semakin banyak. Seperti misalnya milih jadi blogger, sebagai pemula otomatis kalau ingin berkembang dan bisa menghasilkan uang jajan dari blognya, tentu harus ketemu dengan komunitas yang berisikan blogger juga. Jadi bisa belajar lebih lanjut dengan yang sudah punya pengalaman.
Gimana mantap kan tipsnya? Cuzz dipraktekin, pals… jangan cuma dibaca.. okeh?

4. Penulis Fiksi vs Blogger

Sebagaimana pertanyaan yang kuajukan kepada mbak Monica Anggen, aku pun menanyai mbak Ge hal yang sama. Yaitu jika harus memilih salah satu, ingin lebih dikenal sebagai seorang penulis atau blogger?
Pilihan yang berat sungguh. Saya suka keduanya. Tapi one day, saya ingin lebih dikenal sebagai penulis fiksi dibandingkan blogger. Alasannya biar menjadi rahasia saya sendiri :)
Nah lo, alasannya rahasia. Yawda deh, kita hargai kerahasiaan tersebut ya, pals. Intinya mbak Ge lebih senang dan nyaman dengan brandingnya sebagai seorang penulis fiksi. Semoga sukses dengan pilihannya ya mbak.

fakta tentang mbak ge

5. Mengatasi Writer’s Block ala Mbak Gilang Maulani

Sebuah kondisi yang tak bisa dihindarkan, ada kalanya seorang penulis mengalami stuck dengan tulisan atau apapun yang sedang dikerjakan. Ketika mengalami hal tersebut, inilah yang biasa dilakukan oleh mbak Ge:
  • Menghentikan kegiatan menulis dan melakukan kegiatan lain supaya kembali fresh dan hati merasa lebih bahagia.  Contoh kegiatan lainnya; nonton film/drama kesukaan, membaca buku, coret-coret kertas, mewarnai buku bergambar (doodle) untuk orang dewasa, dll.
  • Menggali ide dari aktivitas alternatif di atas.
  • Iseng buka medsos dan mencari yang sedang trending.
  • Nendengarkan musik dan membaca artikel dari web atau blog orang.
Saat ide bermunculan setelah melakukan rangkaian aktivitas di atas, mbak Ge tak lupa untuk mencatat walau eksekusinya belum tentu saat itu juga.

6. Mbak Ge dan Fotografi

Passion-nya di dunia literasi tapi juga belajar fotografi, aku jadi penasaran apa yang melatarbelakangi mbak Gilang tertarik pada fotografi. Ternyata ia mulai jatuh cinta pada dunia memotret sejak masuk Poltek. Awalnya tertular oleh teman di kelas dan kebetulan mereka satu kost gitu. 

Hanya saja pada saat itu sekadar cekrak-cekrek dengan ponsel yang belum smartphone dan kadang mencoba kamera digital atau DSLR milik teman lain dari unit kegiatan mahasiswa.

Mbak Ge tertarik pada fotografi karena ternyata proses mengabadikan sesuatu lewat kamera itu seru. Bahwa mengabadikan momen ternyata tak hanya lewat tulisan, tapi dilengkapi juga dengan gambarnya. Selain itu, dari beberapa situasi yang mbak Ge abadikan gambarnya, biasanya membantunya untuk lebih bersyukur dan akhirnya bisa membuat kalimat dengan energi positif dalam rangka menyemangati diri sendiri.

Jadi bisa disimpulkan bahwa ketertarikan mbak Ge pada dunia fotografi bukan karena berhubungan dengan dunia blogging saja. Ternyata ada filosofi yang lebih dalam ya, pals. Hebat lo!

7. Impian yang Belum Tercapai

Terkait dengan impian yang belum tercapai, mbak Ge menuturkan bahwa sampai detik ini ia senang dengan apa yang dijalani. Mbak Ge berkata kalau ia jadi belajar banyak hal, punya pengalaman seru juga. Bisa dibilang ia tidak pernah kepikiran bisa ada di posisi saat ini.

Namun sebagai manusia biasa yang banyak maunya, kata doi, tentu saja ia punya impian pekerjaan yang sampai saat ini belum tercapai. Sewajarnya anak muda, mbak Ge juga pengen punya pekerjaan yang penghasilannya stabil, jam kerjanya pasti, dan terlihat nyata oleh orang-orang di sekitar.

Alasannya pun sederhana, agar ia tidak perlu bingung ketika orang-orang tersebut bertanya mbak Ge kerja apa dan di mana. Kata mbak Ge, sampai ada yang mengasihani orangtuanya hanya karena selama ini doi terlihat hanya diam di rumah dan mengurung diri di kamar. 

akun media sosial gilang maulani
Etdaah, hari gini masih ada aja yang nggak ngerti kalau berdiam diri di rumah itu bisa menghasilkan, wkwk. Tetap semangat ya mbak Ge, aku pun di awal-awal resign dari kerja kantoran dan memilih kerja dari rumah, banyak yang mengasihani. Alhamdulillah sekarang sudah mulai terbuka kalau bekerja dan berkarya itu nggak melulu harus di kantor.

Begitulah secuil obrolanku dengan mbak Gilang Maulani, semoga bermanfaat untuk mengobarkan semangat di dalam diri kita untuk terus berkarya dan berkreativitas ya, pals. Sampai jumpa di obrolanku berikutnya! Penasaran nggak aku bakal ngobrol sama orang keren mana lagi?
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email