MaritaPalace

3 Cara Menaikkan Grit Level di Bidang Blogging

menaikkan grit level di bidang blogging
Sebelum membagikan 3 caraku menaikkan grit level di bidang blogging, aku mau tanya dulu ke teman-teman kongkow, sudah tahukah apa itu grit?

Waktu pertama kali membaca kata GRIT di daftar tema ODOP ISB, aku mengernyitkan kening. Kupikir grit itu sebuah istilah yang merupakan singkatan dari beberapa kata. Ternyata bukan.

Grit merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Angela Duckworth lewat bukunya berjudul sama. Buku tersebut diterbitkan oleh Penguin Random House pada 2017. Duckworth merupakan seorang profesor psikologi dari Universitas Pennsylvania. Dia sangat tertarik dengan hal-hal terkait pengembangan karakter. Perempuan cerdas ini percaya bahwa kesuksesan seseorang tidak sekadar terletak pada bakat dan IQ yang dimilikinya.

Nah, biar teman-teman punya bayangan tentang apa itu grit dan hal-hal terkait, cuzz simak dulu yuk video ini:



Apa Itu GRIT?

Setelah tahu bahwa grit bukanlah sebuah singkatan, aku buru-buru membuka kamus Oxfordku. Aha, ternyata grit memiliki makna berikut ini:
  1. small loose particles of stone or sand.
  2. courage and resolve; strength of character.
  3. move with or make a grating sound.
Nah, setelah melihat video di atas, teman-teman kongkow pasti bisa mengetahui makna grit yang paling dekat dengan bahasan kita hari ini yaitu di poin kedua. Yaitu keberanian dan ketetapan hati; kekuatan karakter, atau bisa juga dimaknai dengan ketabahan atau kekuatan dalam menjalani sesuatu.
arti kata grit
Menurut Duckworth, ketabahan adalah karakter seseorang untuk mampu bertahan dan berjuang di setiap tantangan yang dihadapinya. Aku jadi ingat tentang PR karakter yang kubangun saat masih menjadi hexagonia, aku memilih untuk mengembangkan karakter endurance yang kalau dipikir-pikir nggak jauh berbeda dengan grit.

Rumus untuk membangun grit ala Duckworth yaitu;
GRIT = Passion + Perseverance
Bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi orang yang tabah dan kuat, kita membutuhkan gairah, kesukaan, antusiasme, semangat atau keinginan yang harus dikolaborasikan dengan sifat tekun, gigih dan kemauan yang keras. 
tips dan cara menumbuhkan grit
Minat dan gairah yang menyala-nyala tanpa disertai dengan kegigihan dan ketekunan tidak akan mampu membuat kita bertahan dan tabah dalam menjalani proses yang sedang kita lalui. Misalnya nih, dalam bidang blogging. Kita punya minat dan keingintahuan yang besar pada bidang ini, tapi jika tidak diimbangi dengan tekun belajar dan update wawasan, serta konsisten mengisi blog dengan artikel-artikel baru dan original, tentu saja kita akan mudah nglokro dan tidak tahan lama menjadi seorang blogger.

Sama halnya dengan iman yang ada naik turunnya. Grit pun tidak bersifat statis. Hari ini mungkin grit level kita di bidang blogging masih di angka 2 atau 3, tetapi bisa saja dengan memperbanyak latihan kita bisa menaikkan levelnya hingga ke angka 10.

Level grit bisa saja turun jika kita sedang kurang percaya diri atau mengalami kebosanan. Maka sebagaimana iman, kita harus menjaga agar levelnya tidak turun terlalu banyak.

4 Ciri-ciri Grit

Mengetahui 4 ciri grit, aku jadi teringat dengan materi-materi yang kudapatkan saat mengikuti matrikulasi Institut Ibu Profesional, khususnya materi ketujuh - kesepuluh.
4 tanda yang ditemui di dalam grit

1. Kesukaan

Hal pertama yang menjadi ciri dari grit yaitu kesukaan. Untuk bisa tabah dan berani menghadapi jatuh bangun dalam setiap prosesnya, kita membutuhkan rasa suka pada aktivitas tersebut. Selaras dengan unsur 4E talent mapping yang diperkenalkan oleh Abah Rama, bahwasanya kita akan lebih produktif jika memulai dari sebuah aktivitas yang disukai.

Misal nih, kita pengen jadi koki, akan lebih mudah mencapainya jika kita memang sudah suka memasak terlebih dahulu. Dalam menentukan aktivitas kesukaan ini, pastikan untuk memiliki unsur Easy dan Enjoy. Yaitu sesuatu yang mudah dilakukan dan kita sangat menikmati aktivitas tersebut.

Pada saat matrikulasi, aku diminta untuk membuat kuadran aktivitas dan mengklasifikasi manakah kegiatan-kegiatan yang aku suka dan bisa, aku suka dan tidak bisa, aku tidak suka dan bisa serta aku tidak suka dan tidak bisa.

Setelah mengklasifikasikan kegiatan-kegiatan tersebut, aku menemukan bahwa kegiatan yang aku suka dan bisa adalah menulis. Itulah yang kemudian menjadi fokusku sejak beberapa tahun lalu. Selain mengikuti beberapa proyek antologi, blogging menjadi perhatian utamaku di bidang tulis-menulis.

Selain membuat kuadran aktivitas, aku juga diminta untuk menemukan bakatku. Kalau teman-teman kongkow merasa belum menemukan bakat alias potensi yang dimiliki, bisa deh coba akses temubakat.com dan isi beberapa pertanyaan di sana. Nanti akan keluar hasil perkiraan dari tes yang kita lakukan.

Dari jurnal NHW #7 beberapa tahun lalu, inilah Strength Typology-ku:
MARITA SURYA NINGYAS, anda adalah orang yang senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik, banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya, analitis, teliti & suka mengumpulkan informasi, analitis dan senang berkomunikasi, senang mengkomunikasi ideanya, suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur, senang memotivasi dengan berbagai cara ada yang melalui sifat periangnya ada yang melalui sifat empatinya ada juga karena selalu ingin memajukan orang lain, senang menghayal tentang apa yang mungkin terjadi jauh ke masa depan. (source; www.temubakat.com)
Terlihat dari hasil tes tersebut, aku memiliki beberapa kekuatan yang memang dibutuhkan oleh seorang penulis, antara lain senang menyampaikan informasi, berimajinasi, visioner, dan menuliskan artikel. Namun bagaimanakah kekuatan tersebut bisa berfungsi secara maksimal? Kita lanjut ke ciri grit nomor 2!

2. Practice

Jadi ingat zaman sekolah dulu, di ujung buku tulis yang kubeli selalu ada beberapa quote tercetak. Salah satunya practice makes perfect.

Jika di ciri pertama kita sudah menggali potensi dan aktivitas kesukaan, saatnya kita memaksimalkan potensi tersebut. Caranya tentu saja dengan banyak berlatih. Kegiatan yang kita nikmati dan mudah lakukan belum tentu mencapai hasil yang excellent, jika kita tidak gigih berlatih.

Selaras dengan rangkaian 4E dalam talent mapping, setelah easy dan enjoy, maka sebuah aktivitas bisa dikatakan sebagai bakat jika kita mau memacu diri untuk terus berlatih agar excellent dan kemudian bisa earn something dari aktivitas tersebut.

Orang yang memiliki grit, maka akan siap berlelah-lelah dengan latihan dan proses yang ada. Termasuk dalam hal blogging, jika ingin bisa jadi blogger yang baik dan mumpuni, tentunya kita nggak boleh lelah berlatih menulis yang baik agar enak dan nyaman dibaca, serta juga tetap bersemangat mempelajari teknis-teknis terbaru terkait blogging.

3. Tujuan

Ciri yang ketiga ini mengingatkanku pada misi spesifik hidup yang kususun dalam NHW 8 matrikulasi IIP batch #4. Kalau kubaca ulang postingan tersebut, alhamdulillah sampai sekarang masih relevan dan terus berproses. Ada beberapa yang sudah terlihat hasilnya. Namun ada pula satu goal yang belum kumulai, wkwk.

4. Harapan

Poin keempat dalam ciri grit mengingatkanku tentang social venture yang pernah kubagikan dalam NHW 9 MIIP #4. Passion yang dibarengi dengan rasa empati akan menghasilkan harapan untuk bisa menjadi agen perubahan. Dan ternyata harapan tersebut adalah bagian yang tak bisa lepas dari grit.

Seberapa penting sih tujuan dan harapan dalam membentuk grit di dalam diri? Jelas penting banget! Tujuan akan menjadi tolok ukur seberapa tabah kita mencapainya. Jika dalam batas waktu yang sudah ditentukan tujuan-tujuan tersebut ternyata tak jua tercapai, bisa jadi kita masih kurang usaha dalam mencapainya.

Sedangkan harapan adalah yang akan menjadi penguat bagi diri kita saat mengalami kegagalan. Dengan membaca kembali harapan yang pernah kita susun, kita akan kembali bangkit dan mencari cara lain untuk bisa mencapai tujuan dan mewujudkan harapan.

Bakat dan Usaha

Membicarakan hubungan antara bakat dan usaha, manakah yang lebih penting, Duckworth membuat rumus berikut ini:
Bakat x Usaha = Skill
Maksudnya yaitu bakat yang dibarengi dengan usaha dan kerja keras yang berkali-kali akan bisa menghasilkan skill/ kemampuan. Melihat hal ini aku jadi ingat dengan Bunga Citra Lestari, ingatkah suaranya pertama kali terjun di bidang musik? Nggak enak-enak banget. Namun lihat sekarang, dia sudah menjadi salah satu diva yang diakui di Indonesia, suaranya pun semakin enak didengar.

Kalau di bidang blogging, aku jadi ingat dengan mbak Jihan Mawaddah. Ngeblognya sih belum lama, tetapi usahanya dalam meningkatkan kapasitas bloggingnya luar biasa. Maka tak heran jika kini doi menjuarai banyak lomba blog. Kualitas blognya pun tak perlu diragukan lagi.
kaitan antara bakat dan usaha
Tidak hanya itu, Angela Duckworth juga menyampaikan rumus berikut;
Skill x Usaha = Produktivitas
Skill yang dibarengi dengan usaha berkali lipat akan menghasilkan produktivitas yang unggul. Contoh mudahnya nih, setelah kita memaksimalkan bakat menulis ditambah dengan latihan berulangkali, akhirnya kita punya kemampuan blogging yang cukup baik.

Kalau kita sudah merasa cukup dengan hal tersebut, bisa jadi kita hanya akan ngeblog saat ada tawaran job. Namun ketika kita merasa standar blogging harus terus dinaikkan, kita akan terus rajin update blog, ada atau tidak ada tawaran job. Semua
Usaha mampu membuat seseorang melakukan sebuah aktivitas yang sedang ditekuni terus menerus. Dibutuhkan kegigihan dan daya juang yang tinggi agar kita bisa menguasai suatu bidang.

Cara Menaikkan Grit Level di Bidang Blogging

Seperti yang sudah sempat aku singgung di atas bahwa grit level seseorang bisa naik turun. Menurut Duckworthagar grit level bisa naik dibutuhkan parenting, tempat berlatih dan culture.

Nah, buat teman-teman kongkow yang saat ini sedang menggeluti bidang blogging dan merasa perlu menaikkan grit level di bidang ini, kuy praktekkan 3 hal ini:
menaikkan level ketabahan dan kekuatan hati

1. Mengikuti Kelas Blogging

Poin pertama ini masuk ke dalam tahap parenting. Parenting ini bukan hanya sekadar pengasuhan orangtua ke anak, tetapi juga meliputi segala perilaku dalam mengembangkan orang lain. Di sini maksudnya kita membutukan edukasi dan motivasi dari orang lain agar grit pada bidang yang kita tekuni bisa naik level.

Setidaknya ada dua orang yang bisa kita jadikan sebagai motivator atau guru dalam sebuah bidang. Nah, terkait dengan parenting dalam bidang blogging, aku memilih untuk mengikuti kelas-kelas blogging agar wawasanku di bidang ini terus update dan berkembang. So, buat teman-teman yang punya info kelas blogging, boleh lah ya colek aku.

Tahun lalu aku sudah ikut ISB Course, KGB dan Growth Marathon, semoga tahun ini punya kesempatan untuk belajar di kelas-kelas blogging lainnya.

2. Berlatih dan Konsisten Update

Cara kedua untuk menaikkan level grit yaitu dengan menciptakan tempat berlatih. Sebagai seorang blogger, tentu saja tempat latihannya ya di blog sendiri. Maka aku menjadikan berlatih menulis dan konsisten update blog sebagai teknik kedua dalam proses meningkatkan grit level.

Spesifiknya yaitu dengan membuat kelas blogging bagi pemula, karena tanpa sadar dengan berbagi kita juga otomatis belajar. Selain itu aku juga membuat blog plan agar bisa update lebih konsisten.

3. Bergabung dengan Komunitas Blogging

Hal ketiga dalam tahapan meningkatkan grit level yaitu budaya. Nilai-nilai yang dianut sebuah organisasi atau komunitas bisa meningkatkan grit level seseorang, maka bergabunglah dengan komunitas yang tepat.

Sudah sejak 2016, aku bergabung di beberapa komunitas blogger. Namun aku terus mencari komunitas-komunitas lainnya. Karena menurutku beda komunitas, selalu punya ruh yang berbeda, dan tentu saja ada banyak ilmu lain yang bisa kudapatkan.

Pada awal tahun ini aku bergabung dengan Indonesian Content Creator dan alhamdulillah challenge yang diadakannya bisa membuatku konsisten update blog hingga hari ini.

Nah, itulah cara-caraku dalam menaikkan grit level di bidang blogging. Kalau teman-teman kongkow punya keinginan untuk menaikkan grit level di bidang apa nih? Mau dong dibisikin tipsnya juga, pals!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email