header marita’s palace

5 Cara Berpikir Positif agar Hati Tenang dan Damai

23 comments
Konten [Tampil]
5 cara berpikir positif ala maritaningtyas.com
Memiliki hati tenang dan damai adalah impian semua orang. Untuk bisa memilikinya, menurutku kita perlu mempelajari cara berpikir positif. Terdengar dan terlihat mudah. Namun nyatanya berpikir positif harus diupayakan dan dibiasakan.

Sekarang ini banyak yang menyalahartikan bahwa berpikir positif adalah hal yang terlampau dibuat-dibuat. Bahkan ada yang bilang kalau terlalu banyak thinking positively, justru cenderung bisa jadi toxic di dalam diri. Padahal jika kita mengetahui kekuatan berpikir positif, ketakutan semacam itu tak perlu terjadi.

Ini 5 Cara Berpikir Positif Ala maritaningtyas.com

Tentunya agar mampu menghasilkan ketenangan dan kedamaian di dalam hati, kita perlu mengetahui cara berpikir positif yang tepat. Mungkin teman-teman kongkow pun sudah banyak membaca artikel sejenis dengan beragam tips dan trik yang tak jauh berbeda. Namun kali ini, aku ingin berbagi tips untuk membangun pikiran positif yang telah kupraktekkan sendiri.

1. Acceptance

Sekitar dua hari lalu aku menonton 6 video seri di YouTube channel milik Bunga Citra Lestari (BCL). Seperti yang kita tahu, BCL mengalami pukulan terbesar dalam hidupnya karena kepergian Ashraff, sang suami tercinta, pada Februari tahun lalu.

Dalam video-video tersebut, Daniel Mananta sebagai sang pewawancara mampu menggali kedalaman hati BCL dengan sangat baik. Cuzz tonton deh, ada banyak cerita yang akan mampu mengaduk perasaan sekaligus memberikan kita motivating insight. Salah satunya untuk membangun pikiran positif.

BCL berkisah alasan di balik ia tak histeris dan meraung-raung saat Ashraff berpulang karena ia telah belajar tentang acceptance jauh sebelum kejadian tersebut. Ia mempelajari ilmu tersebut dari Reza Gunawan. Makanya meski mengagetkan dan merasa shock, bahkan sempat berbulan-bulan merasa seperti mengawang-awang, ia menerima kejadian tersebut dengan segenap jiwanya.
Allah tak akan menguji hambaNya melebihi kekuatan diri kita. Ashraff tak akan pergi jika tak yakin aku mampu menjaga diriku dan anakku.
Dua kalimat itu beberapa kali diucapkan BCL dengan penuh keyakinan. Dua kalimat tersebut pula yang menjadi penguat saat pertahanannya kembali melemah. Dua kalimat yang menjadi sumber pikiran positifnya untuk menjalani hari-hari ke depan.

Hal ini sejalan dengan apa yang pernah kupelajari terkait kesehatan mental. Bahwa sebelum menuju ke hal-hal besar lainnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan rasa penerimaan (acceptance) di dalam diri.

Menerima bahwa di dalam hidup memang tak selalu berisi senyum dan tawa, ada pula tangis dan air mata. Jika kita berani menerima perasaan senang dan gembira, maka kita juga harus berani menerima perasaan terluka, sakit, marah dan emosi negatif lainnya.

Karena sejatinya manusia dikatakan utuh saat bisa merasakan emosi positif dan negatif. Berpikir positif tidak lantas mengabaikan rasa sedih, kecewa dan jengkel yang ada di hati. Justru dengan terlebih dulu menerima emosi-emosi negatif yang muncul, kita bisa membangun pikiran positif dengan lebih tepat dan bijak.
acceptance life quote
Maka jika saat ini, teman-teman kongkow merasa terus gagal berpikiran positif. Coba gali di dalam diri. Sudahkah mencoba untuk menerima segala rasa yang hadir di dalam hati, baik itu emosi positif dan negatif? Atau justru selama ini terus menolak emosi-emosi negatif karena takut menjadi racun di dalam jiwa?

Pernah kutuliskan dalam artikelku tentang proses membasuh luka pengasuhan, bahwasanya rasa atau emosi adalah salah satu bentuk titipan Allah. Untuk menjaga titipanNya, kita harus mengelolanya dengan benar. Bagaimana kita mampu mengelola rasa dengan benar, jika terus menolak hadirnya rasa tersebut?

Btw, menghadirkan acceptance di dalam diri juga merupakan salah satu cara self love lo. Menerima diri lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan adalah cara terbaik dalam menumbuhkan pikiran positif.

So, jangan pernah takut dengan segala emosi yang muncul. Biarkan rasa itu mengalir dan terimalah kehadirannya. Alirkan hingga kita benar-benar lega. Setelahnya baru kita kembali membangun kekuatan.

2. Gratitude

Tak akan muncul rasa syukur, saat kita belum berhasil mencapai acceptance di dalam hidup. Kita akan terus merasa kurang dan tak lengkap. Akhirnya hidup akan jauh dari rasa tenang dan damai karena terus dikejar-kejar dengan perasaan kurang.
life quote tentang bersyukur
Maka jika kita ingin mampu menghadirkan syukur dengan paripurna, langkah awal di nomor satu jangan pernah dilewatkan. Terima dulu segala pahit, manis, dan asam kehidupan yang telah dilewati. Penerimaan tersebut yang akan membawa kita pada rasa syukur berlipat.

3. Stop Playing Victim

Seringnya kegagalan kita dalam membangun positive thinking dikarenakan terus-terusan keukeuh menjadi korban. Mental korban inilah yang harus kita putuskan mata rantainya.

Contoh cara berpikir positif dalam kehidupan sehari-hari dengan mengubah mental korban menjadi mental pejuang adalah sebagai berikut:
Aku tumbuh menjadi sosok yang emosional karena dibesarkan oleh kedua orangtua yang terus bertikai.
Jika itu pikiran yang terus tertanam di dalam jiwa, kita akan terus-terusan terjebak sebagai pribadi yang terluka karena pengasuhan yang tak tepat. Padahal orangtua mana yang dengan sengaja ingin menancap luka di hati anak-anaknya? Aku yakin tak ada.
mental korban ubah jadi mental pejuang
Pikiran tersebut seakan menjadi pernyataan bahwa kita adalah korban dari kekurangan orangtua. Maka kenapa tak ubah saja pikiran tersebut menjadi seperti ini;
Aku menerima masa laluku. Kedua orangtua yang terus bertikai memang menyesakkan dadaku. Namun saat ini aku sedang bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih bijak mengelola emosi.
Salah satu yang kupelajari dari Bincang Pulih beberapa bulan lalu, bahwa untuk sembuh dari rasa sakit dan luka adalah tanggungjawab diri sendiri. Jadi terus-menerus menyalahkan pihak lain atas luka yang menancap di hati tidak akan membuat kita lekas pulih, justru senantiasa membuat kita terus terpuruk.

4. Life is So Short, Pals!

Setelah kita mampu melewati tahap penerimaan, bersyukur dan mengubah mental korban menjadi pejuang, saatnya kita menyadari betapa hidup terlampau singkat untuk terus diisi dengan ratapan, penyesalan dan ketakutan.
quote about life
Pernah menonton drakor It’s Okay To Not Be Okay (IOTNBO)? Cerita dari ketiga tokoh utamanya bisa menjadi pengingat betapa terlampau lama menjebak diri dalam ketakutan, kekhawatiran, dan segala macam pikiran negatif yang tidak dialirkan dengan tepat, hanya akan membuat kita hidup tanpa arah. Kita akan merasa waktu berlalu dengan cepat dan masih stuck di titik yang sama.

Maka segera sadarkan diri kita untuk menjalani hidup dengan lebih berarti. Kehidupan di dunia itu singkat, pals. Hanya untuk mampir ngombe kalau kata orang Jawa. Alirkan segala ketakutan dan kekhawatiran tersebut. Percayalah selama kita mampu menerima, bersyukur dan menjadi pejuang, everything will be okay meski hidup tak selalu okay. Kita punya Allah di atas segalanya kan?

5. Move On

Cara pamungkas untuk berpikir positif adalah dengan terus bergerak. Kita bisa belajar (lagi-lagi dari drama IOTNBO), bagaimana ketiga tokoh utama pada akhirnya berani mendobrak segala rasa takut, trauma dan was-was di dalam diri.

Begitu mereka mampu ‘membuka kotak’ yang selama ini ditutup rapat-rapat, barulah mereka tahu bagaimana menemukan solusi atas masalah-masalah hidup yang dihadapi. Terkungkung pada rasa khawatir hanya akan membuat kita terus terjebak pada ruang kosong tanpa melakukan apapun.
tetap hidup dengan bergerak
Maka setelah mampu menyadari betapa singkatnya waktu yang kita miliki, bergeraklah, pals. Karena tanda manusia itu benar-benar hidup adalah dengan melakukan pergerakan. Dan hidup itu tentang melangkah ke depan, bukan sekadar jalan di tempat apalagi terus-terusan terikat dengan masa lalu yang telah usang.

Sesekali jalan di tempat dan menengok ke belakang, tak masalah. Selama kita melakukannya dalam rangka pencarian hikmah, bukan untuk meratapi dan menimbun ketakutan tanpa dialirkan. Setelah kita telah mampu menemukan hikmahnya, kembalilah bergerak ke depan. Segera akan kita ketahui betapa waktu terlampau sempit untuk dihabiskan dalam rasa takut dan khawatir.

Pikiran positif dan optimisme akan muncul saat kita telah berani menerima segala rasa dan peristiwa, bersyukur dengan segala ketetapan takdir, berhenti bermental korban, menyadari singkatnya hidup dan berani bergerak dari batasan yang kita buat sendiri. Sudah siap menjemput pikiran positif dan optimisme tersebut?

5 hal di atas tentu saja sudah kulakukan dengan segala ups and downs-nya. Ada kalanya berhasil dengan sekali tarikan nafas, ada kalanya aku butuh usaha lebih. Memang butuh latihan berulang kali agar pikiran positif senantiasa terbangun di dalam diri.
how to think positiively
Dulu membangun pikiran positif juga terasa sulit buatku. Namun kini setelah merasakan betapa banyaknya manfaat berpikir positif yang telah kudapatkan, kakiku semakin ringan melangkah setiap harinya.

Dari yang sebelumnya pernah merasa tak yakin bisa memiliki anak karena terus mengalami flek dan keguguran berulang, alhamdulillah kini aku telah memiliki dua orang anak yang sehat dan ceria. Jikalau bukan karena terus belajar berpikir positif, mungkin aku sudah menyerah ikhtiar dan terus tersungkur dalam segala insecurity issues.

Bahkan aku telah menuangkan kisah inspiratif tentang manfaat berpikir positif pada salah satu proyek antologiku. Tak hanya satu, aku menuliskan tiga kisah di buku tersebut. Aku tak akan mungkin masih bisa berdiri tegak di muka bumi ini jikalau tanpa ada keyakinan dan pikiran positif di dalam diri.

Semoga 5 cara berpikir positif di atas bermanfaat juga buat kalian, pals. Jika dirasa teman-teman kongkow masih butuh referensi lainnya tentang how to think positively, mungkin cara berpikir positif dalam Islam yang pernah kutulis sebelumnya bisa lebih menguatkan. Selamat mencoba and keep fighting!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

23 comments

  1. setuju banget. kalau aku terkadang menurunkan ekspektasi. misalnya harusnya ABC tapi kok emntok masih AbB, ya sudah gitu dulu aja heheh

    ReplyDelete
  2. Menarik sekali mbak ulasannya..

    ReplyDelete
  3. sama mbak, dulu aku juga berpikir rasanya pikiran ini kok banyak toxicnya dan isinya nethink yang berkepanjangan. karena isinya keraguan dan nggak percayaan juga
    sekarang pelan pelan berusaha untuk bisa stay positive terus

    ReplyDelete
  4. Dulu kalo bapaku ngamuk aku gendong adiku keluar rumah mba, lari ke tetangg. Hiks, aku sampe trauma sama bapaku. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah selalu, terima ka sih mba tipsnya memberikanku makin harus memperbaiki diri

    ReplyDelete
  5. Terima kasih tips2 kerennya, mba. Aku setuju sekali bahwa penerimaan adalah dasar dari semuanya..

    ReplyDelete
  6. Untuk sampe ke fase acceptance itu butuh waktu cukup lama ya mbak tiap orang beda2 juga tp klo udah di fase acceptance rasanya lebih mudah utk melewati fase lainnya sampe akhirnya move on

    ReplyDelete
  7. Ngena banget ini tips-tipsnya.
    Selalu kedepankan positive mind set dan terus menerus belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  8. Suka banget baca ini, menyemangati banget..iyaa ikhlas menerima ketetapan Allah tanpa tapi, dan yakin ada sesuatu yang indah dibalik rencana Allah..

    ReplyDelete
  9. Ya, kita memang harus yakin bahwa segala sesuatu terjadi bukan tanpa sebab. Acceptance nih awal dari semua rasa syukur dan munculnya kebiasaan untuk berpikir positif.

    ReplyDelete
  10. MasyaAllah.... Terima kasih Mbak Ririt... :)

    Butuh waktu lama dan proses yang sedikit-sedikit untuk bisa sampai menerima sampai move on. Menikmati proses itu rasanya hati lebih lapang dibanding dulu

    ReplyDelete
  11. Huhuhu PR saya banyak banget, karena saya bahkan baru belajar dan up and down di poin 1, menerima.

    Saya sampai coba beberapa cara, dari mengalihkan, tapi memang kayaknya belum bisa menerima sepenuhnya jadinya hanya teralih sementara.

    Namun satu hal yang pasti, memang untuk menerima itu butuh waktu dan niat.
    Nggak bisa semudah membalikan tangan.

    Seperti BCL, dia butuh setahun sampai akhirnya dia bisa lebih tenang diajak membicarakan hal itu.
    Dan yang pasti dia bisa lebih cepat karena dukungan banyak pihak.

    Juga niat nih yang penting.
    Kalau saya mencoba dengan pakai goal, jadi goal itu yang saya pegang ketika saya nggak kuat dan pengen down lagi.

    Alhamdulillah, meski masih sering down, saya nggak lama-lama down, dan selalu cepat naik lagi.

    Semoga seiring waktu, saya bisa berdamai dan menerima diri saya seutuhnya, sehingga saya tidak lagi bergantung pada orang lain, karena yang bisa membahagiakan saya ya saya sendiri, bukan orang lain :)

    Makasih sharingnya Mbaaaa, means a lot buat saya :*

    ReplyDelete
  12. Setuju bahwa kita harus mau menerima dulu. Aku pernah punya rasa minder akan sesuatu, lalu aku pelan2 mulai menerima, oh ini kekuranganku aku terima dan aku mengakui tapi tetap berusaha untuk bs lebih baik, akhirnya aku udah ga ngerasa minder lagi akan hal itu

    ReplyDelete
  13. Aku nonton juga video nya BCL yang ada 6 seri, salut banget ya dengan penerimaan dia. Menerima kehilangan, apalagi orang yang paling dicintai pasti susah. Kalo aku baru kehilangan Simbah dan sedih banget sampai pengen bermimpi ketemu. Ada beberapa bulan baru bisa menerima kepergian Simbah putri dulu

    ReplyDelete
  14. Kujadikan quotes hari ini ya coach, "Jika kita berani menerima perasaan senang dan gembira, maka kita juga harus berani menerima perasaan terluka, sakit, marah dan emosi negatif lainnya."

    Emang butuh latihan berulang untuk menanamkan pikiran positif, aku pun dulu sampai ikut training therapy mental otak kanan. Dan memang luar biasa manisnya kalau pikiran positif udah tertanam.

    ReplyDelete
  15. PR besar saya adalah masalah acceptance, mendengar bagaimana penuturan BCL saja tak terbayangkan bagaimana menghandle emosi ketika kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Terima kasih coach untuk artikelnya, belajar banget untuk terus mengasah diri berpikir positif

    ReplyDelete
  16. This true.
    Sikap positif yang kadang susah untuk dibangun, kurasa bisa terlihat dengan tips2 ajaib ini.
    Terima kasih coach

    ReplyDelete
  17. Belum sanggup mba nonton videonya BCL :)
    Btw aku masih belajar untuk nggak playing victim, kadang berhasil kadang kala keluar lagi hal itu :")

    ReplyDelete
  18. Kadang secara teori, kita sudah paham tahap demi tahap ini. Tapi dalam prakteknya, subhanallah... Itulah sebab Rasulullah bilang,"Sabar itu ada pada hantaman yang pertama."
    Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk selalu bisa berpikir positif.

    ReplyDelete
  19. Masih harus banyak belajar lagi ini tentang cara berpikir positif.
    Kadang saat mau menerapkan dalam kehidupan nyata terasa sulit dan payah rasanya. Mungkin harus pelan2 ya, sambil mengingatkan diri sendiri aja

    ReplyDelete
  20. Belajar acceptance ini lumayan lama. Malah sampai sekarang kalau iman lagi goyang. Kadang acceptance yang sudah mulai terbiasa pun suka berubah jadi negatif lagi. Alhamdulillah, dikasih kesempatan buat nulis di blog. Kalau lagi down, hiburannya ya nulis. Meski jarang² wkwk

    ReplyDelete
  21. aku juga nonton videonya mbak. masyaa allah ya, pertama-tama memang harus acceptance dulu tapi bahkan kata sederhana ini pun masih berat dilakukan. di salah satu bagian diri, masih ada yg suka pengen nanya 'kenapa harus gini ?' :(

    ReplyDelete
  22. Benar ih, dulu saat mendapatkan kejadian yang menggoncang diri. Lumayan lama untuk penerimaan, bahkan aku selalu merasa bahwa aku ini korban hehe
    Seiring berjalannya waktu alhamdulillah sudah bisa move on. Meski dalam perjalanan tidak lah mudah untuk berpikir positif.

    ReplyDelete
  23. Ini PR besarku sih mbak, kadang pikiran kemana2 mikirnya. Mungkin lebih ke pencemas sih kalo aku, btw proses buat berpikir positif juga butuh waktu

    ReplyDelete

Post a Comment