Ilma Hidayati, Berkabar Lewat Razinisme dari The Windy CIty

Konten [Tampil]
profil ilma hidayati
Perbedaan waktu 12 jam tak menyurutkan semangat mbak Ilma Hidayati untuk mengikuti materi-materi yang ada di Blogspedia Coaching Batch #2. Ya, akhirnya setelah maju mundur cantik, batch #2 dari kelas blogging ala-ala akhirnya kuselenggarakan juga. Alhamdulillah sudah memasuki materi keempat.

Jika di batch #1 yang lalu aku sempat mengulas profil dari mbak Daffara Kinanthi, kali ini sosok spesial yang mendapat kesempatan untuk diulas di blog ini adalah ibu muda asal Pemalang. Lo, asal Pemalang, kok bisa beda waktu 12 jam? Penasaran ya? Yuk, kepoin ceritaku tentang mbak Ilma lebih lanjut.

Siapakah Ilma Hidayati?

Ilma Hidayati Purnomo adalah nama yang disematkan oleh kedua orangtuanya. Namun oleh sang suami, ia mendapat panggilan kesayangan, “Il”. Ibu muda yang kini berusia 27 tahun ini lahir di Pemalang, pada tanggal 4 Juni.

Saat ini mbak Ilma tinggal di kota yang terkenal dengan sebutan The Windy City. Konon saat musim dingin tiba, angin yang berhembus sangat dingin hingga mampu menusuk tulang-tulang. Ada yang tahukah di manakah kota tersebut?

Aiih, pintar sekali teman-teman kongkow ini. Yup, bener banget. Mbak Ilma saat ini tinggal di Chicago untuk mendampingi sang suami yang sedang menyelesaikan PhD-nya di bidang Computer Science, The University of Chicago.
siapakah ilma hidayati
Duh, envy banget sama pasangan muda ini. Masih 27 tahun sudah kaya pengalaman. Fyi, ini bukanlah kali pertama mbak Ilma berpetualang ke luar negeri bersama sang suami. Sebagaimana yang diceritakan oleh mbak Ilma, dua bulan setelah mereka menikah, sang suami yang bernama Daniar Heri Kurniawan mendapat kesempatan untuk magang di CERN, Swiss.

Mbak Ilma bersama suami sempat tinggal di sana sekitar dua bulan. Oleh sang suami yang penyuka tantangan, mbak Ilma diajak jalan-jalan ke kota lainnya di Eropa dengan budget minimal. Bahkan pernah sampai di Paris tengah malam, padahal mereka belum pesen penginapan. Kondisi saat itu sedang gerimis, akhirnya mereka berteduh di pinggiran gedung sambil menunggu ada masjid yang buka. Wah, benar-benar pengalaman yang tak terlupakan pastinya ya?

Saat ini mbak Ilma sudah dianugerahi dua buah hati. Anak pertamanya yang kini berusia 3 tahun memiliki nama Razin. Anak keduanya bernama Zayn. Saat ini usianya masih 9 bulan. Hebat ya, punya dua anak balita dan hidup jauh dari orangtua di perantauan. Salut!

Pada saat tugas kedua di Blogspedia Coaching, aku sempat meminta para peserta menuliskan portfolionya. Mbak Ilma bilang dirinya belum punya prestasi apa-apa. Katanya, kerja kantoran pun belum pernah karena sebulan setelah lulus kuliah langsung diajak menikah oleh sang suami.

Namun, menurutku prestasi mbak Ilma luar biasa lo! Nggak percaya? Cuzz lanjutin dong bacanya, pals.

Dari Flyingpuss, Medium hingga Razinisme

Kenapa aku bilang mbak Ilma Hidayati ini merendah? Pertama, dia bilang nggak punya prestasi apa-apa, tapi dia sudah kenal blog sejak 2008. Lah, itu kan udah lama banget. Aku pun kenal blog juga di tahun segitu lo.

Hanya saja mbak Ilma lebih keren. Kenapa coba? Di tahun tersebut doi masih duduk di kelas 2 SMP! Lah aku waktu 2 SMP, kayanya baru kenalan sama Wordstar deh. Mana ngerti blog itu makanan apa, wkwk.

Mbak Ilma bercerita, saat itu ia mendapat materi TIK untuk membuat blog di Joomla. Namun kemudian malah iseng belajar membuat blog di blogspot. Menurut pengakuannya, blog pertama yang diberi nama Ilma’s dan beralamatkan di flyingpuss.blogspot.com tersebut isinya campur aduk, kebanyakan curhat dan suka berbalas komentar dengan mantan, eaa.

Aku sempat menelusuri kronologis di blog tersebut, banyak juga lo postingannya. Ada cerita saat masih alay, hingga bertumbuh dewasa dan menjadi catatan belajar bahasa Arab dan merajut. Aah, blog pertama memang selalu punya kesan istimewa ya?

Titik itulah yang kemudian membuat mbak Ilma menyadari bahwa dirinya suka menyalurkan cerita lewat tulisan. Ketika akhirnya harus mengikuti suami ke Swiss dan kemudian ke Chicago, ia kemudian membuat blog lainnya. Kali ini ia membuatnya di platform Medium. Di blog tersebut, doi banyak mengabadikan pengalamannya saat tinggal di negeri orang.

Bahkan ada satu postingan yang berjudul “Ditolak Visa Schengen. Duh!” yang sempat viral pada zamannya. Pernah merajai page satu Google selama beberapa waktu. Sebuah prestasi yang keren lo ini! Aku aja punya akun Medium, tapi nggak pernah posting, wkwk.
prestasi mbak ilma
Medium ternyata masih tak cukup memuaskan mbak Ilma, ia mulai tertarik untuk mengikuti dua proyek antologi. Antologi pertama berjudul My Strength. Diterbitkan oleh One Peach Media pada tahun 2019. Di antologi ini, mbak Ilma menceritakan perjuangannya saat menyelesaikan kuliah di jurusan yang ternyata nggak cocok. Yah, walau akhirnya berbuah manis.

Gimana nggak berbuah manis? Karena berkuliah di Jurusan Teknik Elektro ITB, akhirnya mbak Ilma bisa ketemu dengan sang kekasih hati yang kini jadi suami tercinta. Eaaa.

Jejak Kata Bulan Juni yang diterbitkan pada tahun 2020 adalah proyek antologinya yang kedua. Buku ini merupakan kumpulan karya dari penulis favorit event 30 Hari Menulis yang diadakan oleh grup FB Nulis Aja Dulu. Ada 2 tulisan mbak Ilma lo di buku ini. Yang pertama tentang mitos ari-ari kucing. Yang kedua cerita fiksi pendek. Hmm, sepertinya menarik.

Nah, di Blogspedia Coaching batch #2, ada tugas di mana para peserta harus mendesain blognya dari awal. Dari memilih judul beserta filosofinya, niche yang ditargetkan, meta deskripsi hingga bayangan header dan logonya.

Setelah berpikir cukup keras, mbak Ilma akhirnya memutuskan untuk membangun blog baru. Katanya Flyingpuss biar jadi kenangan saja. Terlalu sayang mau mengganti nama blog pertama tersebut. Lagipula nantinya mbak Ilma ingin fokus berbagi tentang parenting, traveling, resep-resep sederhana, tutorial, mainan anak, edukasi, bahasa asing dan juga pengalaman selama tinggal di negeri orang.
blog razinisme
Ditetapkanlah Razinisme menjadi nama baru untuk blog ketiganya. Pasti penasaran kan apa maksud dari nama tersebut? Kok ada isme-ismenya, aliran baru apa ini? Hehehe.

Tenang, pals. Razinisme itu sebenarnya bermakna Razin is Me. Kalau teman-teman masih ingat, di awal tadi sudah kuceritakan kalau Razin adalah nama anak pertamanya mbak Ilma. Nah, blog baru ini sengaja mengadopsi nama sang buah hati sebagai bentuk cinta kepadanya.
Jadi intinya, nanti blog ini akan seolah-olah punya anakku, padahal yang mengelola adalah ibunya. Mudah-mudahan blog ini bisa langgeng ke depannya, deh. Beneran pingin punya blog yang aktif, update, bagus, informatif, bisa jadi hiburan buat orang lain dan buatku juga. - Mbak Ilma
Yuk, kita aminkan bareng-bareng harapan mbak Ilma untuk Razinisme.

Blog Razinisme yang memiliki tagline Sharing Our Family’s Stories ini juga memiliki filosofi yang nggak main-main lo. Mbak Ilma mengartikannya sebagai "Sebuah paham ke-Razin-an". Hal itu dikarenakan mbak ibu muda ini ingin lebih memahami Razin dan dunianya. Mbak Ilma ingin menjadi orang tua yang tidak berjarak dengan anak-anaknya. Berharap bisa terus menjadi tempat paling nyaman bagi anak-anak untuk berbagi cerita. So, sweet kan?

Makanya jangan remehkan perempuan berdaster. Sekalinya merangkai kata, etdaah langsung jadi pujangga kelas dunia.

Target mbak Ilma lewat Razinisme cukup sederhana. Ingin mengabadikan kenangan sendiri. Namun kalau ke depannya bisa dimonetisasi, ya alhamdulillah. Anggap saja itu bonus. Hal paling utama, mbak Ilma ingin tulisannya bisa bermanfaat.
Aku pingin ada yang aku tinggalkan setelah aku meninggal. Mudah-mudahan tulisan yang bermanfaat jadi amal buat aku juga. - Mbak Ilma.
Selain pengen bisa fokus ngeblog, mbak Ilma juga bercita-cita pengen menerbitkan buku solo. Di buku itu nantinya akan bercerita tentang pengalamannya ke luar negeri saat awal menikah. Wah, pasti menarik sih. Aku bakal jadi pembeli pertama deh.

Saat aku bertanya pada mbak Ilma bagaimana caranya membagi waktu antara menulis, mengasuh anak, mengurus suami dan mengerjakan urusan domestik. Mbak Ilma dengan tegas menyatakan bahwa ada skala prioritas yang harus dijalankan. Urusan suami dan anak harus beres terlebih dahulu, lalu urusan biologis diri sendiri dituntaskan, baru deh bisa fokus ngeblog.
Sementara ini aku ngurus blog pas subuh, jam setengah 4 pagi. Terus jam 6 mulai nyiapin masakan. Kebetulan anak-anak biasanya baru pada bangun jam 8. Terus anak-anak baru tidur jam 10 malem karena jam segitu baru waktu Isya di Chicago. Kadang nyicil bikin draft di notes HP pas anak melek. Gitu aja sih, masih curi-curi waktu.
Sekeren ini lo, mbak Ilma bilang nggak berprestasi. Padahal jadi ibu muda dan tetap bisa punya waktu untuk dirinya sendiri kan juga sebuah prestasi yang luar biasa ya? Apalagi tinggal di negeri orang yang jauh dari orangtua dan saudara. Amazing!

Suka Duka Tinggal di Luar Negeri dan Tips Spesial dari Mbak Ilma

Sebagai orang yang belum pernah jalan-jalan ke luar negeri, aku selalu kepo sama orang yang tinggal di negeri orang. Tentu saja pertanyaan mainstream, apa sih suka dukanya tinggal di luar negeri. Kata mbak Ilma, sukanya sih tinggal di luar negeri tuh banyak banget bantuan dari pemerintah, misal asuransi kesehatan dan bantuan makanan. 

Bahkan waktu melahirkan anak kedua, mbak Ilma bisa melahirkan gratis di RS yang kualitasnya bagus banget. Saking enaknya pengalaman melahirkan di RS Chicago, katanya sampai pengen ngelahirin lagi lo, wkwk.

Alhamdulillah, di Chicago juga nggak pernah mendapat perlakukan rasis. Di sana orang-orangnya beragam dan sangat welcome. Malah beberapa ibu suka dengan gamis yang selalu dikenakan mbak Ilma.

Di satu sisi tentu saja ada dukanya dong. Salah satunya yaitu kangen masakan Indonesia. Makanan di Chicago nggak ada yang sekaya bumbu di Indonesia. Selain itu jarang makanan sehat. Makanan halal pun sangat mahal harganya.
tinggal di negeri orang
Selain itu sejak pindah ke US bulan September 2019, mbak Ilma sama sekali belum pernah pulang, apalagi ada pandemi. Jadilah semakin merasa kangen dengan kangen keluarga. Soalnya dulu pas anak pertama masih bayi, dibantu ngurus oleh banyak orang karena waktu itu tinggal di rumah mertua. Sekarang mau nggak mau, semuanya harus diurus sendiri.

Dulu ada yang masakin dan bantuin jagain anak. Sekarang masak pun sambil jagain anak wkwk. Hebat, mandiri! Kangennya juga semakin terasa waktu ramadhan dan idul fitri tiba. Di Chicago, momen-momen itu terasa sepi.

Yang lebih bikin deg-degan adalah The Windy City punya tingkat kriminalitas yang cukup tinggi. Penjambretan dan penembakan sering terjadi. Senjata api legal di kota ini. Makanya mbak Ilma kalau udah gelap, nggak berani jalan-jalan ke luar. Hmm, ngeri juga ya?

Nah, buat teman-teman kongkow yang masih jomblo atau hendak beranjak ke pelaminan, dan mungkin one day bakal menemani sang belahan jiwa sekolah atau bekerja di luar negeri, mbak Ilma memberikan beberapa tips nih. Dicatat yaks!
  • Bisa masak masakan Indonesia. Karena di negeri orang nggak bakalan ada orang jualan soto wkwk.
  • Pintar mengelola keuangan. Apa-apa serba mahal kan kalau di luar negeri.
  • Sebaiknya bisa bahasa setempat untuk mempermudah komunikasi. Biar gampang kalau mau belanja atau nganter anak sekolah.
  • Mandiri. Harus berani ke mana-mana sendiri naik moda transportasi umum. Bisa ngurus apply dokumen sendiri.
  • Yang paling penting, harus terbiasa ngurus rumah sendiri. Soalnya di sini nggak ada pembantu. Pengasuh anak memang ada, tapi hitungan bayarannya perjam. Bisa jebol tabungan deh.
Gimana masih tertarik untuk tinggal di luar negeri, hmm kalau aku kayanya mau liburan aja deh ke luar negerinya, wkwk. Angkat tangan kalau harus masak setiap hari.

Nah, buat yang mau kenal lebih dekat dengan mbak Ilma, cuzz bisa langsung tengok:
Medium: https://medium.com/@ilmahidayati
Ilma’s: https://flyingpuss.blogspot.com/
Youtube Channel: Razin dan Zayn, di sini bakal banyak tips-tips buat yang mau apply Phd di luar negeri, jangan lupa subscribe, gaess.
Instagram: @kn.co, yang merupakan singkatan dari knitting dan crochet. Dua teknik merajut yang pernah dipelajari oleh mbak Ilma.
Dan tentunya jangan lupa untuk main-main ke Razinisme karena di sana mbak Ilma Hidayati bakal lebih sering berkabar cerita-cerita serunya dari The Windy City. Mau tahu kan pasti seseru apa? Semoga senang ya kenalan dengan teman baruku ini. See ya, pals!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

6 comments

  1. Sepanjang ini tulisannya dan aku gak berhenti baca dari awal sampe akhir, bahasanyanringan banget, Mudah-mudahan one day bisa nulis sejago coach yang bikin pembaca gak mau berpaling sedetikpin kalo belum kelar baca tulisannya. Amiinnn....

    Mbak ilma tuh keren banget menurutku, being a mom and doing many things as a mom is cool... Aku selalu iri dengan emak2 berdaster yang blogging ... Semangat semuanya 😍πŸ’ͺ

    ReplyDelete
  2. Sepanjang ini masih nyaman di mata nyaman di lambung, eh nyaman di proses otak :D. Semoga bisa semengalir ini aku nulisnya aamiin :')
    Untuk Kak Ilma keren sekali pengalamannya. Sepertinya pribadinya sangat ramah dan rendah hati. Pintar membagi waktu dan yang pasti cepat belajar dengan perubahan keadaan. Saya salut, Kak Ilma :'D. Semoga tetap semangat membuat konten edukasinya dan sukses terus :D.

    ReplyDelete
  3. Bahasanya mengalir banget coach. Baca ini auto tahan napas. Seperti comment rekan2 lain, aku juga pingin oneday bisa nulis gini :'') bismillah.

    Buat mbak Ilma, jujurly aku selalu kagum sama orang yang bisa survive merantau ke LN. Akupun pingin :') liburan juga nggak apa2 deh (aamiin yg kenceng). Menurutku merantau ke LN tantangannya luarbiasa sih. Apalagi dengan 2 anak. Prestasi banget. Sehat2 mba Ilmi sekeluarga di chicago :)

    ReplyDelete
  4. Mba Marita, aku terharu :') Seneng bangeeet dibuatin artikel oleh seorang bloger yang udah pro sekelas Mba Marita. Beda jam terbang, hasil tulisannya emang beda ya. Meskipun panjang artikelnya tapi bahasanya ngalir dan enak diikutin sampai akhir. Mohon bimbingannya terus coach. Semoga tugas kali ini aku masih bisa lolos huhu

    ReplyDelete
  5. Wah aku tuh selalu exited dengan ibu muda walaupun fulltime mother tp penuh dengan prestasi + suka nulis pula, daaaah gituu tinggal mandiri di LN wah paket komplit, dulu aku suka kebawa mimpi bsa tinggal di Belanda looh dengan 4 musimnya gegara nonton pilem hehhehe. Salut smaa Mb Ilma dgn pengalamannya ini pasti segudang kisah pengen dia bagi di blognya. Tetep sehat dan keep survive di negeri orang ya mbak.

    Naaah untuk tulisan mbak marita ini, mmmm boleh ga sih tambah 1 lagi artikel blog temen yg aku BW jd artikel favorit hehehe ... Ini sih dah ga diragukan lg, mastah bener² mastah, pengen jago kaya mbak marita nulis runtun, enak di baca, ngalir, asik dan ga pengen berhenti bacanya. Asli ini sih bkn lg 100% tp sampai ga bsa mau ksh brp % buat nilai artikelnya. Plissss jadiin aku anak biar bisa di ajarin ngeblog terus πŸ₯ΊπŸ₯Ί

    ReplyDelete
  6. Buah karya mbak Marita emang unik, ada hal baru yang kupelajari dari setiap kata yang dituliskan. Maha Allah, keren² ya pengalaman menulisnya mbak ILMA....kapan ya aku bia keluar negeri (jadi berandai²)

    ReplyDelete

Post a Comment