header marita’s palace

5+4 Tanda Harus Bercerai, Adakah Cirinya di Keluargamu?

Konten [Tampil]
tanda harus bercerai dalam pernikahan
Tanda harus bercerai bisa jadi muncul tanpa mengenal seberapa lama pernikahan kita. Ada yang baru menikah beberapa bulan, tanda tersebut sudah hadir. Namun ada pula yang pernikahannya terlihat sempurna dan sudah berlangsung belasan atau puluhan tahun, indikasi harus terjadi perceraian baru terjadi.

Tentu saja siapa sih yang menginginkan perceraian? Bahkan dalam agama Islam, perceraian adalah salah satu hal yang dibenci oleh Allah. Namun apakah kita harus mempertahankan pernikahan ketika bara api terus membara. Atau malah adem ayem tanpa ada percikan-percikan cinta.

Jadi, kapan waktu yang tepat untuk memutuskan bercerai?

5 Ciri Suami Ingin Bercerai

Coba cek di rumah teman-teman kongkow masing-masing, apakah 5 tanda ini muncul dalam diri suami? Jika iya, mungkin kalian perlu bertemu dengan konselor pernikahan yang bisa membantu mengatasi permasalahan keluarga.

Tak baik bukan jika terlalu gegabah memutuskan perceraian? Sebagaimana kita memikirkan masak-masak ketika akan menikah, begitu juga saat ada pikiran untuk berpisah.

1. Tidak Lagi Bisa Diajak Berkomunikasi

Banyak sekali teman-teman kongkow yang curhat betapa susahnya berkomunikasi dengan suami. Tentu saja ini nggak bisa dijadikan alasan utama ya, pals. Sebelum buru-buru memutuskan bercerai, tentu harus dianalisa dulu, selama ini gagal komunikasi karena apa.

Apakah sama-sama nggak mau menundukkan ego masing-masing? Ataukah belum mengenal satu sama lain? Sudahkah mencoba mengenal bahasa cinta pasangan? Sudahkah mencoba mencari penengah ketika kebuntuan terus hadir?

Jika semua usaha sudah dilakukan secara maksimal, dan tidak juga mencapai titik temu. Mungkin perpisahan adalah jalan terbaik untuk semuanya.

2. Melakukan KDRT

Banyak yang masih bisa bertahan meski komunikasi buntu, bagaimana dengan KDRT? Tak sedikit juga lo para perempuan yang tetap mempertahankan posisinya sebagai istri, meski berkali-kali dianiaya oleh suami.
Ya, nggak bisa judging, memang semua kembali ke pilihan masing-masing. Namun, aku pernah bertanya pada salah seorang ustazah, jika sebuah pernikahan sudah terlampau banyak mudharatnya, tidak masalah jika harus diakhiri.

Apakah kalian harus rela terus-terusan jadi saksak tinju bagi suami? Kalian layak dicintai, pals. Khilaf hanya akan terjadi sekali, jika terus-menerus dilakukan itu adalah habit. Apa jadinya pula jika anak terus melihat KDRT di rumah?

Oh ya, KDRT ini tak hanya fisik ya. KDRT dalam bentuk psikis pun sama bahayanya. Tak memberikan ruang untuk bicara, berdiskusi, selalu menindas dan tidak mendukung istri untuk eksplorasi skill dan knowledge. Suami memang pemimpin, tapi bukan berarti menutup ruang bicara untuk istri. Suami yang tahu ilmunya, pasti tahu bagaimana memuliakan istri.

3. Meninggalkan Rumah Tanpa Kabar

Ada suami yang hobinya kabur dari rumah saat ada masalah? Bahkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan tak memberikan kabar? Lepas diri dari tanggungjawab sebagai keluarga. Jika dilakukan terus-menerus, apakah baik untuk jalannya sebuah keluarga? Ini rumah tangga lo, bukan kos-kosan, hehe.

4. Tidak Memberikan Nafkah

Sudah kabur-kaburan, eh nggak ngasih nafkah pula. Jadi sebenarnya niat jadi suami nggak ya? Beda cerita jika pasangan mengkomunikasikan baik-baik, misal terkena PHK atau ada masalah keuangan di usahanya. Sebagai istri yang baik jika diajak diskusi, pasti bisa support dan bantu kesusahan suami.
Namun jika tidak ada komunikasi, kabur dari rumah dan nafkah saja tidak diberi, hmm… aku nggak bisa bayangkan sih posisi tersebut. Adakah di antara kalian yang mengalami, pals?

5. Selingkuh

Awalnya cuma saling kirim pesan iseng, lama-lama ketemuan. Ujung-ujungnya menjalin hubungan di belakang istri. Sekali, dua kali dimaafkan, kira-kira bakal keterusan atau menuju pertobatan. Dari pengalamanku sih, kalau dilakukan lebih dari sekali, keknya nggak ada obat deh. Mending tinggalin aja.
ciri suami ingin bercerai

4 Tanda Harus Bercerai

Jika 5 ciri di atas sudah ditemukan dalam diri suami, tapi teman-teman kongkow tetap mau mencoba bertahan, ya nggak apa-apa coba. Mempertahankan pernikahan adalah salah satu bentuk jihad dalam berkeluarga. Tak menutup kemungkinan kok suami bisa berubah dan pernikahan bisa diteruskan.

Hanya saja ketika 4 hal ini muncul melengkapi 5 ciri di atas, mungkin bisa jadi pertimbangan lanjutan.

1. Cekcok Tanpa Titik Temu

Berusaha berkomunikasi tapi malah berantem terus, ada yang seperti ini? Aku pernah sih mengalaminya, hanya saja kami sama-sama sadar untuk memperbaiki keadaan. Pertanyaannya, di pernikahan teman-teman gimana? Apakah ada kesadaran untuk saling memperbaiki?

Jika dirasa ngobrol berdua sudah nggak ada ujungnya, ada baiknya jika kita mencari penengah yang bisa bersikap adil. Tidak memihak salah satu di antara suami atau istri. Akan lebih baik lagi jika kita mencari bantuan profesional, seperti konselor pernikahan. Sehingga benar-benar adil dan mendapat solusi yang terbaik.

2. Visi Misi Keluarga Tak Lagi Sama

Memang penting ya visi misi keluarga dalam pernikahan? Tentu saja, ini layaknya road map untuk pernikahan. Mau dibawa ke mana keluarga kita. Jika antara suami dan istri, visi misinya terbentang jauh, akan sulit mencapai ujung yang sama.

Istrinya udah niat berhijrah, suaminya masih suka hura-hura. Istrinya udah mau belajar parenting, suaminya masih suka nongkrong nggak ingat waktu. Tentu saja masih ada kesempatan untuk adanya perubahan. Hanya teman kongkow yang tahu kapan puncaknya.

3. Sama-sama Cuek

Ketika pernikahan hanya sekadar formalitas demi menyelamatkan nama dan wibawa. Namun sebenarnya sudah tak ada lagi ikatan cinta di antara keduanya. Kering. Akankah baik diteruskan? Sementara satu sama lain tak ada keinginan untuk membicarakan masa depan keluarga.

4. Tak Ada Lagi Keinginan untuk Bersama

Komunikasi buntu, cinta kering, setiap ketemu cekcok melulu, surganya di mana kalau seperti ini terus ya, pals? Sudah mencari penengah dan konselor tetap nggak ada titik temu. The choice is yours, apakah mau lanjut atau cukup sampai di sini.

Bagaimana Jika Ingin Bercerai Tapi Kasihan Anak?

Anak biasanya menjadi pertimbangan ketika pasangan punya keinginan bercerai. Banyak perempuan memilih bertahan demi anak karena takut anaknya jadi kehilangan sosok bapak. Takut anaknya diolok-olok masyarakat sekitar karena memiliki keluarga yang tidak sempurna.
ingin bercerai tapi kasihan anak
Lalu apakah benar bertahan demi anak adalah hal yang baik? Apakah anak yang terus-terusan melihat kedua orang tuanya bertengkar akan baik-baik saja? Melihat ayahnya melakukan KDRT ke ibunya setiap malam, akankah baik untuk psikologisnya? Apakah baik ketika anak harus menerima fakta bahwa ayahnya mencintai perempuan lain, dan itu bukan ibunya?

Aku adalah salah satu saksi hidup pernikahan yang dipaksakan bertahan karena katanya memikirkan anak. Sungguh sebuah hal yang berat menjalaninya. Tumbuh jadi pribadi yang tak percaya diri, selalu insecure, selalu susah ber-positive thinking. Dan untuk bisa benar-benar bangkit dan berkawan dengan inner child butuh waktu yang tak sebentar.

Jadi ketika ada tanda harus bercerai muncul dalam pernikahan teman-teman kongkow, sudah sampai di titik akut, lebih baik jangan gunakan anak sebagai alasan bertahan. Sesungguhnya anak-anak akan tetap terluka. Bahkan bisa jadi dampaknya akan jauh lebih besar. 
Bercerai atau tidak, anak akan tetap menjadi korban jika kedua orang tuanya tetap mengedepankan ego dalam menjalankan rumah tangga. Terus-menerus mendengar pertikaian setiap harinya pun melahirkan luka yang tak kecil. Sesekali, duduklah berdua dengan pasangan dan dengarkan kata hati anak-anak. 
Anak bisa tetap menerima perceraian ketika orang tuanya melakukan pilihan tersebut dengan pikiran yang matang. Keduanya tetap bisa co-parenting dan tak perlu saling menjelek-jelekkan satu sama lain. Ingat lo, ada bekas istri atau suami, tapi nggak ada bekas anak.

Bertahanlah jika kalian sama-sama mau saling mempertahankan. Saling di sini artinya keduanya, baik suami ataupun istri, sama-sama mengusahakan pernikahan anak agar lebih baik lagi. Cari cara untuk menyelamatkan kapal yang hampir karam. Entah menemui konselor, ustaz/ ustazah, atau mengikuti kelas-kelas bersama yang bisa menghangatkan kembali hubungan.

Akhir kata, tentu saja aku berharap keluarga dan pernikahan teman-teman kongkow semuanya selalu adem ayem, rukun dan sehidup sesurga. Semoga tak perlu ada tanda harus bercerai hadir dalam rumah tangga kalian. Selamat saling mencintai, pals!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

16 comments

  1. Aamiin. Semoga setiap pasangan yang telah menikah, kehidupan rumah tangganya adem ayem, rukun dan sehidup sesurga.

    Rasulullah SAW sudah bersabda: "Sesuatu yang halal tapi dibenci Allah adalah perceraian" karena dampaknya adalah mafsadah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, halal tapi dibenci. Banyak yang menjadikan hadits itu sebagai pegangan bertahan. Sedihnya jika akhirnya mencoba bertahan tapi tidak berusaha memperbaiki kerusakan yang ada, ujung-ujungnya anak juga yang jadi korban :)

      Delete
  2. Saya kalau baca tentang perceraian selalu sedih dan terenyuh. Saya melihatnya dari sudut pandang anak, apalagi kalau anak-anaknya masih kecil dan belum tahu apa-apa. Lalu harus memilih ikut emaknya atau bapaknya.

    Karena yang saya lihat, tidak banyak orangtua yang dewasa dan bijak dalam perceraian. Ego masing-masingnya masih tinggi. Boro-boro mikirin bagaimana pengasuhan anak ke depan, yang ada malah saling menjelekkan.

    Semoga badai apa pun dalam rumah tangga bisa dijalani dengan hati tabah, serta diberikan yang terbaik oleh Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai anak, saya justru pernah memohon kepada ibu saya untuk bercerai, hehe. Tapi ibu memilih bertahan dan saya harus menerima keputusan beliau. Hanya saja ternyata dampaknya saat saya dewasa luar biasa juga... makanya bercerai atau tidak, selalu ada dampak ke anak-anak.

      Makanya kalau memang memilih bertahan, segera cari cara untuk memperbaiki kerusakan yang sudah ada, jangan malah terus dibiarkan berlarut-larut dan menghasilkan keburukan-keburukan lainnya.

      Delete
  3. Kalau ada bahasa cerai rasanya ngena banget. Jangan sampai, jangan sampai keluarga kita memiliki tanda-tanda begitu. Semoga keluarga kita selalu harmonis.

    ReplyDelete
  4. waah..perlu banget nih dicermati bagi suami-istri tentang kondisi saat ini..dan setuju dg pernyataan bahwa jika menemukan tanda2 ini, lamgsung ke.konsultan pernikahan saja.. Mudah2an semua dapat dikomunikasikan dg baik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yess betul, jangan langsung ambil keputusan dalam kondisi emosi. Lebih banyak mudharatnya.

      Delete
  5. bercerai memang diperbolehkan secara agama, namun juga termasuk yang dibenci Tuhan ya mbak
    bercerai kadang bisa menimbulkan banyak dampak bagi anak, tapi terkadang bercerai adalah jalan keluar terbaik
    kembali kepada kondisi masing masing keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak, betul. Ada kalanya bercerai menjadi jalan keluar terbaik dan dampak traumanya ke anak bisa diatasi lebih dini daripada pernikahan yang dipertahankan, tapi bertikai terus-menerus. Melihat kedua orangtua bertengkar terus juga membawa dampak psikologis yang kurang baik ke anak-anak.

      Delete
  6. ya bagaimana.. mau ga mau harus dilakukan. Kalau saya bercerai kemarin murni karena seringnya cekcok tanpa titik temu yang pada akhirnya sama sama memutuskan jika bercerai adalah langkah yang lebih baik. Semoga saja semua mendapatkan kebahagiaannya masin masing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lebih setuju seperti itu sih kak. Daripada memaksa bertahan tapi terus-terusan bertikai, apalagi kalau sudah ada anak dan anak melihat pertikaian itu, dampaknya nggak baik juga buat anak. Rasa sakitnya bisa melahirkan luka menganga sampai si anak gede.

      Delete
  7. Memutuskan bercerai atau tidak pasti adalah keputusan yang sama-sama berat. Tetapi sebelum sampai kesana, mungkin perlu pertimbangan dari pihak ketiga (konselor) untuk membantu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tapi kalau ndak cocok ya jangan dipaksa. Masih panjang hidup di depan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yess, betul kak. Berat pasti dan banyak sekali pertimbangannya.

      Delete
  8. Walau sulit tapi kalau sudah berada di titik di mana tidak bisa lagi dipertahankan, ya mau ga mau perceraian yang dipilih.

    ReplyDelete
  9. Kalau kami sudah sepakat untuk berpisah kalau ada yang selingkuh. Tapi selingkuhnya main fisik. Karena kalau sudah main fisik maka sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Selain itu, KDRT pasti jadi pertimbangan untuk berpisah. Meskipun pada beberapa orang tetap mempertahankan rumah tangganya.

    ReplyDelete

Post a Comment